
Lee mengubah kuku-kukunya menjadi api dan berlari ke arah mereka. Namun, dia terjatuh karena tidak sengaja menendang pergelangan kaki Kuchisawa yang secara kebetulan muncul dihadapannya. "Argh! " Saat Lee akan terbangun lagi, Kuchisawa bergerak membuatnya pingsan.
Gin membesarkan mata kecilnya, melihat dengan tenang. orang-orang itu berdatangan satu persatu. Namun semua berhasil dikalahkan oleh Kuchisawa seorang diri.
"Luar biasa!" Lufy yang berdiri di pojok bersama Kiyoshi terpukau dengan kekuatan Kuchisawa.
"Umm, tapi kenapa tidak menyisakannya untukku? aku juga ingin! " Lufy menyentuh kursi taman hingga kursi itu melayang.
"Lufy Senpai, bisa kau turunkan itu? " Lufy menutup mulutnya dengan kedua tangan, dia terkejut sendiri. Dia pun menurunkan kursi itu sambil terkekeh. "Maaf. "
Kuchisawa kaget karena tidak menyadari pergerakan Gin yang akhirnya menyandera Kiyoshi, dia memitingnya longgar dari belakang. Cepatnya! Gumam Kuchisawa dalam hati. Kuchisawa tersenyum puas.
Kiyoshi terpaku dalam genggaman Gin. Lufy melangkah mundur karena terkejut, dahinya mulai basah. Dia mewaspadai pergerakan Gin.
"Kau tahu?" Gin mendengarkan celotehan Kuchisawa. Kiyoshi yang berada dalam genggamannya sedang bersiap untuk menyerang balik. "Kau menangkap orang yang salah. " Kecurigaan Gin terlambat untuknya, Kiyoshi memeras tangan Gin dengan posisi akan membantingnya. Namun karena pergerakan Gin yang cepat, Kiyoshi hanya dapat memutar tulang lengannya saja.
Gin tersenyum kecil dan tetap tenang. Lufy bersiap ingin menyentuh Gin dengan kekuatannya. Tetapi Gin terlalu cepat, bahkan serangan lanjutan dari Kiyoshi pun tidak mengenainya.
Kuchisawa dan Gin pun adu kecepatan dan jotos mereka. Saking cepatnya Kiyoshi dan Lufy merasa kesal karena tidak dapat mengikuti mereka.
Hingga Kuchisawa memberi isyarat kepada mereka, namun Gin menyadarinya. "Takkan kubiarkan. " Gin bergerak menuju Kiyoshi yang telah mengeluarkan pisau tumpulnya dan Lufy yang menerbangkan tong sampah dengan kekuatan gravitasi miliknya.
Serangan Lufy meleset. Gin menyerang Kiyoshi dengan memeras tangannya yang memegang pisau hingga ke tulang-tulang hingga pisau itu terjatuh . "Argh! " Kiyoshi meringis sakit. Tapi itu adalah salah satu tipuan. Dia telah menyiapkan pisau di tangan satunya dan menusukkannya ke Gin, namun hanya membuat sedikit goresan.
"Kau fikir pisau tumpul seperti itu akan mempan untukku?" Bisik Gin ke telinga Kiyoshi.
"Tapi ini mempan untukmu. " Kuchisawa yang telah berada dibelakangnya memukul lehernya. Gin melepaskan genggamannya. Kiyoshi pun dibawa Kuchisawa ke tempat Lufy berada.
Gin yang terkena jebakan Kuchisawa melangkah mundur, dia tidak menyadari bahwa sesuatu telah disiapkan untuknya. Lufy membuat pijakan Gin tiada gravitasi. Tubuh Gin terjatuh menempel di tanah, dia sulit untuk bangun. Lufy melempar suatu benda di sekitarnya mengenai wajah tampan Gin dan membuat Gin pingsan.
Setelah beberapa lama akhirnya dia sadar, Gin mendapati dirinya sudah dalam keadaan terikat. Kuchisawa datang menghampirinya. "Dimana boss mu." Gin hanya terkekeh. "Hah, memusingkan!" Kuchisawa menggaruk kepalanya.
"Senpai biar aku saja. " Kiyoshi berdiam di sebelahnya Gin. Gin mengangkat sebelah alisnya. Apa yang dia lakukan? dalam batinnya. Kiyoshi mendengarkan melodi nafas Gin dan mencuri ingatannya. Jangan-jangan?! Gin yang baru sadar, dia berusaha mengosongkan fikirannya namun terlambat. Dia merasa itu berhasil, tetapi tanpa dia sadar Kiyoshi sudah mengetahuinya.
"Ayo senpai. " Ajak Kiyoshi. Lufy telah bersiap di belakangnya. Gin terbelalak, dia akhirnya sadar dan merasa sangat kesal bahkan ikatan yang ada di tubuhnya terikat begitu kuat. Ini seperti kekuatan gadis itu. Dia merasa tubuhnya sangat berat ke bawah.
Kuchisawa memegangi mereka, membawanya dengan teleportasi ke markas para penyerang itu.
__ADS_1
Sementara itu, di tempat Kaoh. Mereka telah berkumpul untuk membicarakan hal yang telah terjadi sebelumnya.
"Kaoh benarkah dia telah melakukan itu? " Kaoh membenarkan pertanyaan pak tua itu. "Sangat disayangkan, tapi itu benar adanya. "
Pak tua itu menggebrak meja dengan tinjunya. "Apa yang dia fikirkan dengan melakukan tindakan gegabah seperti itu, haa?! Ini salahmu terlalu membebaskannya! " Kaoh membisu.
"Itu dia lakukan mungkin karena terdesak. " Araumi menyela. "Araumi kau hanya membela karena dia putrimu kan?" Pak tua itu berbicara dengan nada tinggi. Perdebatan pun muncul di antara mereka.
"Aku pun merasa begitu. " Sambung Lichita sembari melirik ke arah suaminya yang berada di kursi yang lain. "Kalian sekeluarga sama saja! Hei Nona Izanami, apa kau juga akan ikut membelanya? "
Izanami menutup mulutnya. "Kali ini aku akan setuju denganmu, Tuan Tsuchiya. " Tsuchiya merileksasikan tubuhnya ke dada kursi. "Begitu ya. Dengar itu! " Dia menunjuk Kaoh.
"Dia harus di hukum. " Izanami dengan suara menggodanya. "Iya benar! " Beberapa orang setuju tetapi sebagian lagi tidak. Adapun yang bersifat netral.
Tetapi hasil menunjukan bahwa jawaban lebih condong ke hukuman. Mau tidak mau Kaoh harus menerima hasilnya, begitu pula Arylin. Karena mereka harus menghukun sang adik yang telah membunuh salah satu bawahan kelompok hiu biru.
"Segera bawa dia kemari! " Seru Tsuchiya.
Tiba-tiba seseorang datang yang telah ditunggi-tunggu Azami. Dia adalah Ikuta Yakuze sang mata-mata ganda dan juga seorang guru.
"Maaf aku menyela."
"Kau sudah terlambat.. " Sambung Izanami.
"Tapi bukankab kita harus mendengarnya terlebih dahulu? " Izanami menatap sinis ke arah suaminya yang ada di hadapanya.
"Ya, itu benar. " Sambung Araumi.
"Bicaralah.." Suruh Kaoh.
Ikuta pun menyampaikan hasil investigasinya. "Jangan menghukumnya dulu."
"Apa? Kau... " Tsuchiya menghentikan amukanya ketika semua menatapnya dingin.
"Kasus kali ini berkaitan dengan kembalinya mereka. " Semua terkejut dan memandang ke arah Ikuta. "Maksudmu orang itu? " Ikuta mengiyakan. "Dia sekarang bergabung bersama kelompok ******* Black Saphire, tentu kelompok-kelompok kecil yang telah membuat keributan adalah salah satu bawahan mereka. "
"Black Saphire katamu? " Azami menyentuh jambangnya. "Ya. "
__ADS_1
"Tidak mungkin ini berkaitan. " Tsuchiya yang berkeringat. "Lalu Black Saphire, itu apa? "
"Anda tidak tahu? " Tanya Azami. Tsuchiya menggeleng. "Tidak. "
"Aku sangat terkejut anda tidak mengetahui itu. heuheueheu. " Izanami tertawa kecil.
"Black Saphire adalah kelompok ******* yang menyaingi yakuza, tetapi anggotanya semua adalah esper. " Jelas Arylin.
"Jadi kau mau bilang kalau anak itu telah mengetahuinya?" Izanami membuka kioasnya dan mengipas wajahnya.
"Ya, nyonya."
"Sudah kuduga. " Gumam Kaoh. "Tuan Kaoh." Lichita khawatir mendengar itu.
"Ikuta, apa Yuka berada dengan kelompok hiu biru atau dia... "
****
Di China.
Kelompok Kuchisawa telah tiba di markas hiu biru, Kuchisawa masuk secara terang-terangan sedangkan dua lainya diam-diam mencari Yuka.
"Siapa kau? " Beberapa orang ribut menyambut kedatangan Kuchisawa. "Aku? Ahh aku hanya numpang lewat. " Satu persatu para keroco itu dikalahkan. Salah satu dibiarkan lari, dia menyusul ke tempat boss nya berada.
Sementara itu Kiyoshi dan Lufy masih mencari keberadaan Yuka masuk lebih jauh ke dalam. Kiyoshi mendengar suara lirih dari barat mereka. "Kesana! " bisiknya ke Lufy. Mereka pun menuju asal suara itu, dan benar saja Yuka ada di sudut sebuah ruangan gelap terikat dan terrsumpal mulutnya.
"Yuka-chan! " Lufy berlari ke arahnya. Dia melepaskan sumpalan di mulut Yuka dan membuka ikatannya. "Lufy? " Lufy mengangguk.
"Senpai, kau baik-baik saja? " Tanya Kiyoshi dengan suara pelan. "Ya. Terima kasih. "
"Kau bisa berdiri, Senpai? "
"Sepertinya tidak, kakiku sangat sakit. "
"Aku gendong! " Lufy yang bersemangat. "Haah?"
"Sudah jangan protes! "
__ADS_1
"Apa kalian bisa tenang? " Kiyoshi mengingatkan mereka.
Lufy menggendong Yuka di punggungnya. Mereka akan segera keluar dari sana, namun sesuatu membuat mereka membeku. Membuat bulu kuduk mereka berdiri. "Kalian mau kemana? "