Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
63.Selamat tinggal, ayah.


__ADS_3

Fubuki cepat-cepat pergi ke ruangannya setelah kembali dari SMA Hanabari. Nabari dimana aku harus mencarinya? "Aku disini. "


"Kau sudah mengetahui ini? " Fubuki menggeprak mejanya. "Aku sudah berjanji tak mengatakan apapun pada mereka, giliranmu untuk berkata yang sebenarnya! "


"Tidakkah, kau terlalu terburu-buru? "


"Apa? "


"Tuan! " Seseorang datang ke ruangan Fubuki. Fubuki melirik ke belakang, Nabari sudah menghilang.


"Ada apa? " Petugas itu memperlihatkan sebuah rekaman cctv di penjara intel. Fubuki terbelalak kerika melihat kebenaran itu.


Nabari telah kembali ke tempat mereka. "Anda dari mana saja? "


"Bibi, ini aku. Aw! Kenapa bibi selalu menjewerku? " Nabari mengelus telinga kanannya yang memerah.


"Aku sudah menyuruh orangku untuk mengirimkannya kepada Fubuki. "


"Dia sedang melihatnya."


"Kau yakin, Naba? "


"Aoi, bukankah ini juga kemauanmu? Menghancurkan klan Hitsuziaki? " Aoi melipat kedua tangannya, dan menatap Nabari dengan senyum sinis.


"Ayo kita pergi. "


Di SMA Hanabari, mereka telah selesai memulangkan para tamu undangan dari warga sipil dibantu oleh para pihak berwenang.


"Aku tidak melihat Yuriko, tadi dia masih disini. " Celetus Eurasia dan Fleur.


Lamia yang mendengar itu langsung teringat kejadiam tadi pagi sebelum bel masuk sekolah, sebelum festival dimulai. Terakhir kali...


"Beirn, kau sedang memikirkan apa? " Tanya Lucas.


"Lu, tidakkah kau merasa aneh? "


"Aneh? "


"Ini seperti sufah direncanakan. "


"Itu pasti, kalauntidak ada didalam rencana mereka. Mereka tidak akan datang kesini. " Celetuk Asumuri. "Benarkan, udon?"


"Ya, senpai!" Mereka berdua...


Di markas Han shuji. "Ya ampun, kalian kerjanya tidur terus! Hei bangun... Tuan akan segera datang! "


"Aku sudah datang."


"Tuan... "


"Biarkan mereka. Beri aku serum lagi. "


"Baik, Tuan. "


Seorang mata-mata salah satu dari kelompok ******* datang melapor.


"Mereka semua mati. "


"Jadi, rencana gagal. "


Fubuki merenung lama, memikirkan akan bagaimana. Dia langsung menelpon Kaoh untuk bertemu secara empat mata, dan Kaoh menyetujuinya.


Mereka pun bertemu di cafe belakang untuk membicarakan hal itu. Fubuki memperlihatkan kiriman rekaman itu. "Aku juga kaget sama sepertimu, Kaoh. "


"Fubuki-san, siapa yang mengirim ini?"


"Aku menyuruh Yakuze untuk mencari tahu. "


"Lalu? "


"Seorang hacker suruhan chovez. "


"Tuan chovez katamu!"


Fubuki mengangguk. "Aku juga telah mengetahui keberadaannya sekarang. Tapi, yang masih jadi pertanyaan adalah kenapa dia kabur ketika kita ingin melindunginya?"

__ADS_1


"Aku juga sudah menyuruh Yakuze untuk mencari keberadaan Nabari dan juga Aoi. Tidak masalah bukan? "


"Ya, kita harus menemukannya lebih dahulu sebelum dia tahu. "


Di resort yang mahal ,pria itu bersantai dengan merend diri dengan air hangat. "Jadi anak itu ya, temukan dia sebelum mereka. "


"Baik, Tuan."


Kaoh dan Fubuki masih berbincang di kafe itu. "Lalu, jika dia telah mengetahuinya dan kau harus membunuh adikmu sendiri. Bagaimana? "


"Berarti kita harus lebih dahulu menemukannya. "


***


"Aku akan pergi. Kalian tidak boleh ketahuan hingga waktunya tiba. " Aoi, Tora dan Tamao menurutinya.


"Kita jadi bawahannya. " Aoi melirik kakaknya dan Tora.


Saat Tora juga akan pergi, tiba-tiba Tamao meringis membuat Tora dan Aoi berbalik ke arahnya.


Nabari berdiam disebuah taman yang berada dipuncak bukit yang dulu dia selalu datangi saat bersama teman-temannya.


"Anjing pemerintah nampaknya telah datang. Kau memang lebih pro padanya ya daripada kakakku, Ikuta Sensei. "


"Nabari. "


Ikuta dan Nabari pun saling bertarung satu sama lain. Nabari terus menerus menyerang dan menghindar. Meski Nabari menguasai semua teknik psikis, tetapi Ikuta lebih kuat darinya.


Ikuta berhasil mengalahkannya. Nabari terjatuh ke tanah. Ketika Ikuta akan menghampiri Nabari untuk menangkapnya, Tomoe keluar membuat Ikuta terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Iku sayang. " Tomoe melayang ke wajahnya memegangnya dengan lembut, lalu berbisik. "Tertidurlah. "


Saat Ichi membuka pintu kamar asramanya, tidak sengaja dia mengenai sesuatu dan saat dia lihat ternyata Yakuze tengah tergeletak didepan pintunya.


"Sensei?! " Teriakan Ichi membangunkannya.


"Ehh?" Gumamnya yang setengah sadar.


"Apa yang guru lakukan disini? Kenapa tidur disitu?"


Ichi membuka pintunya saat Yakuze telah bergeser. Dia berbisik kepada gurunya itu. "Kenapa guru todur disitu? "


"Kenapa jadi berbisik? "


"Guru menyuruhku untuk tidak berteriak!"


"Ya, ya, aku mengerti. "


"Hei, tempat siapa tadi? " Tanya Tomoe. "Tenang saja, itu teman baikku. "


"Guru, katakan. "


"Aku juga tidak tahu, aku tidak mengingatnya. "


"Sepertinya kau mabuk."


"Sudahlah, nanti kau terlambat ke sekolah. "


"Benar juga. " Ichi berlari dengan cepat meninggalkan Ikuta.


Ikuta masih memikirkannya, seingatnya kemarin dia sedang mencari Nabari. Oya, aku harus segera menemukannya sebelum mereka.


****


Langkah Tora dan aoi yang saling bersebrangan terhenti setelah mendengar jeritan Tamao yang meringis kesakitan. Refleks mereka berbalik melihatnya, Tamao telah tertembak ditangannya.


"Per... gi. "


"Kakak!" "Tamao! "


Orang itu menembak ke arah Tora dan aoi, namin mereka berhasil menangkisnya menghentikan pergerakan peluru itu .


Karena tidal bisa menembak mereka, dia berusaha umtuk menembak kembali Tamao. Namum, Tamao mengetahuinya dan pergi mencekik orang itu.


Namun, lebih banyak yang datang menodongkan senjata disekeliling mereka.

__ADS_1


Tomoe menidurkan mereka yang menyandera Aoi, Tora dan Tamao yang terluka. Kecuali satu orang.


Pria itu bertepuk tangan. "Aku langsung datang setelah menerima laporan, ternyata jackpot yang aku dapatkan. "


"Siapa kau?" Tanya Nabari.


"Keluarga Hitsuziaki, kalian adalah hartaku. Itu katanya, jadi aku tidak akan membunuh kalian."


"Siapa yang kau maksud? " Tanya Tamao. Tora dan Aoi mencurigai sesuatu. Aura menekan datang.


Nabari, dia. Aku tahu.


"Aku. "


Tamao terkejut melihat wajah itu. "Kau masih hidup? "


"Bukankah kau juga, nak Tamao. Kita tampak lebih mudakan. " Pria itu tertawa.


Nabari menyerang pria itu. Dan Aoi menahan yang satunya lagi , sedangkan Tora mengobati Tamao. Mereka bertarung dan Aoi menang.


"Tidak berguna. " Pria yang Aoi lawan berubah jadi debu. Apa? Disisi lain, Nabari terlihat keteteran.


Nene, berapa lama la... Tidak mereka sadari, pria itu telah berada dekat dengannya dan berbisik. "Kau tidak akan bisa kekuar, Tomoe-san. " Pria itu menekan tubuh Nabari lalu mendorongnya jauh ke belakang sehingga dia terpental.


"Naba!" Saat Aoi akan menolong, pria itu menahannya. Pertarungan mereka berlangsung dengan hebat. Kecepatannya , dan kekuatan ini.


"Aoi, hati-hati...Dia bisa mengambil energi tubuhmu! " Apa?


"Kau banyak bicara."


DBUK!


Tora terpental jauh, tapi waktu terulang. Tora bisa menghindari serangan itu. Aoi dan Tora bekerja sama. Tamao juga diam-diam membantu . "Sebenarnya aku tidak mau memakai ini, tapi apa boleh buat! " Jasad pria di sampingnya itu dia hidupkan dan gerakan sesuai keinginannya.


Necrokinesis adalah kemampuan untuk memanipulasi gerakan mayat seakan dia adalah mahluk hidup.


Tamao menyerang dengan kekuatan es yang dimiliki pria itu . Nabari juga terbangun dengan tubuh Tomoe, tapi itu tidak berhasil dan kembali jadi Nabari.


"Apa boleh buat. " Nabari memakai kemampuan umbrakinesisnya untuk mengikat bayangan dia dan bayangan pria itu agar tidak dapat bergerak.


"Aoi, Tora, bibi cepat bunuh dia! " Tetapi semua rencana itu gagal. Ketika pria itu menyerang dengan bayangan tak terlihatnya kesemua arah. Aoi hanya dapat menyelamatkan Tamao dan Nabari membunuh mereka.


Tapi, saat Nabari berbalik, Tora tepat berada didekatnya dengan perut yang tertusuk oleh lengan yang memanjang dari pria itu. Tora memuntahkan darah


"Tora. " Aoi dan Tamao yang berada diseberang tidak percaya.


Pria itu melepaskan tangamnya yang menembus tubuh Tora. "Tora? "


Tora tersenyum. "Syukurlah kau baik-baik saja. "


"Kenapa kau... " Perlahan tubuh Tora menghilang. "Maafkan... aku. " Dia benar-benar menghilang. "Ayah! "


Pria itu akan menyerang nabari, namun dia terhenti seperti kesakitan. Sial, kurang serum!


Dengan cepat Aoi membawa kabur Nabari dan Tamao dari tempat itu dan meledakkan tempat itu bersama pria itu.


Mereka tiba di tempat Haruko. "Aoi-san... Nabari-chan?"


"Haruko, obati nabari dan kakakku."


"Ada apa? "


"Dokter, nona ini pasien."


"Nona cantik ini? "


"Tanganya terluka, cepat! "


"Baiklah. "


***


Pria itu keluar hidup-hidup dari reruntuhan markas Tora. Dia pun pergi ke tempat Han shuji.


Orcha yang sedang berdoa dirumahnya kedatangan tamu. "Kau benar-benar mati, Tora? "

__ADS_1


"Kau akan segera menyusulku. " Tora pin menghilang.


__ADS_2