
Orang-orang itu terkejut karena mereka dibawa paksa oleh kubus waktu.
"Shen?! " Seru Morita. Lamia menahannya. "Lihatlah. " Lamia menyuruh gadis itu melihat keatas mereka. Disana kubus waktu sedang melayang diudara.
"Tuan. "
"Kalian bermainlah, aku dan yuri yang akan mencari mereka. Menangkanlah pertandingan ini. " Nabari memiringkan wajahnya.
Elize dan Oroi jongkok memberi hormat. "Kami mengerti, Tuan. "
"Ehh, tunggu! " Teriak kento. Tubuhnya tertarik oleh sebuah cahaya.
"Sudah mulai ya. " Kento melihat ke arah langit sambil menyakui satu tangannya dan menutup bukunya.
"Permainan dimulai? " Kaoh melonjak dari tempat duduknya.
Semua orang dikumpulkan dalam satu tempat. Bahkan permainan ini dapat dilihat oleh semua peserta yang telah gugur.
Permainan terakhir dari lima peserta, yaitu Bella Yuan, Oroi, Elize, Dunki Shen dan Kuchisawa Kento.
Permainan terakhir adalah permainan pertempuran darah , Perebutan tahta... Dimulai!
"Ehh tidak ada penjelasan? " Kento yang belum saadar dapat dengan refleks menghindari serangan Elize. "Tidak ada penjelasan pun sudah jelas dari apa yang kau lihat! Uhm, kau hebat juga. "
Kento melompat mundur. "Jadi permainan telah dimulai ya. " Yuan menarik katananya.
"Tidak kawan, hanya ada lawan. " Shen menutup kipasnya.
muncul banyak bongkahan es yang tajam keluar dari dalam tanah,membuat mereka semua terbang melompat.
SHYUT!
DKRLING!
Yuan mematahkan bongkahan-bongkahan es itu dengan katananya hingga hancur berkeping-keping.
"Katana tumpul itu... " Sahut Elize.
Dia dapat menebas semuanya, namun es-es itu kembali berdatangan hingga hampir seluruh area menjadi palung es.
Dibangku penonton mereka menyaksikan pertarungan yang mulai sengit. "Ini seperti perang. " Celetus Eurasia. "Uehm, benar. " Sambung Fleur.
"Dua gadis bunga itu bicara sembarangan. " Celetus Totsuki.
"Mungkin mereka mengingat sebuah film. " Lucas terkekeh.
Elize melemparkan kristal-kristal miliknya ke seluruh penjuru. Yuan memutarkan tubuhnya menangkis semua serangan dan memotong semua es yang telah muncul dengan sekali putaran.
Kento juga mulai menyerang dengan tulang-tulang jari tangannya.
"Senpai, sepertinya kau masih menahan diri. " Angin kencang yang dikeluarkan oleh pedang itu berhasil membuat Kento sedikit terdorong.
__ADS_1
Dibelakangnya Elize bersiap untuk menembakan peluru kristalnya. Kento menangkisnya dengan tameng yang terbuat dari tulang-tulang punggung dan rusuknya.
"Oy, Kento senpai mirip Kimimaru ya. " Celetus Asumuri.
"Jangan salah server, woy! " Protes Totsuki.
"Sudah, sudah, jangan bertengkar. " Ichi dan Kouta menengahi. Namun...
BRUG!
Wajah Ichi malah dipukul oleh Totsuki yang kesal. Ahn soo dan Hyunjin yang melihat itu hanya tersenyum geli.
Pertarungan masih berlangsung, semua serangan mereka tak sedikit pun mengenai Oroi. Mereka tak dapat menyingkirkan pria itu dari tempat awalnya. Karena, Oroi memiliki kekuatan yang mengatur nasib baik dan buruk.
Dia masih menggunakan kekuatannya untuk dirinya. Dan hanya melihat pemandangan didepannya, pertandingan antar tiga perempuan dan satu laki-laki.
"Aku mengerti. " Oroi berjalan diatas udara mendatangi Yuan dan dua lainnya yang sedang bertarung sembari melirik kebawah, kearah Shen.
Yuan mulai goyah, dia curiga bahwa dia telah ketahuan. Tetapi, mengejutkan! Semua terkejut dengan serangan Oroi yang mengatur nasib buruk pada Elize.
Oroi menjatuhkan wanita itu dan mengunci kekuatannya. Elize jatuh dan tubuhnya tertusuk satu palung tajam dari es yang ada dibawah tepat didepan mata Shen.
"Kejam sekali. " Gumamnya. Oroi turun dan berdiri diatas bongkahan es yang sebelumnya telah dipotong oleh Yuan.
"Karena dia merepotkan. "
Nana tercengang melihat itu, namun ia berusaha untuk tetap tenang. Nishimiya menyadari itu. Sana merangkul bahu Nana.
Tubuh Elize mulai menghilang bagai sebuah data yang nge-bug. Tubuhnya mulai lenyap sedikit demi sedikit.
Oroi dan Shen saling menatap sinis. "Kau Dunki Shen, kan? "
"Dia memberitahumu. " Shen menurunkan kipasnya dari wajahnya yang ia tutupi.
Oroi telah membuka roda nasib kembali. "Sekarang giliranmu. " Shen mulai berwaspada. Dari atas Yuan akan menyerang, namun Kento menghalanginya.
"Maaf, tapi aku yang akan jadi lawanmu. " Yuan tersenyum kecil. Dia menebaskan pedangnya kesamping. Menghela nafas panjang. "Aku siap menerimanya. "
Yuan dan Kento saling beradu pedang. Kento membuat tangan kanannya menjadi mata pedang dari tulang dan Yuan memanipulasi keadaan, udara, dan ketajaman katananya dengan nafasnya.
"Mereka berisik sekali. " Oroi menengadahkan wajahnya keatas.
"Yuan adalah atlit kendo kebanggaan sekolah kami, tapi kuchisawa senpai juga tidak bisa diremehkan walau dia terlihat seperti itu. "
"Uhm. Kau sedang curhat? "
"Tidak. " Shen meninggikan tumpukan es itu dan lebih menejamkannya. Dia terus memperluas jangkauan penumbuhan palung esnya.
Oroi menggerakan sedikit kelingkingnya. Roda nasib berputar satu detik. Palung-palung es itu menusuk seluruh tubuh Yuan dan Kento.
Namun, gadis itu membuat Oroi tertegun karena dirinya dapat dengan mudah melepaskan diri dan mulai mengatur nafasnya untuk bergenerasi menyembuhkan lubang-lubang ditubuhnya.
__ADS_1
Oroi melirik ke arah Kento yang masih tertusuk oleh es itu, darahnya mulai mengalir. Dengan cepat Yuan menyerang dan mulai mendatanginya.
Dari arah bawah Shen juga melempar tombak-tombak es kepadanya.
"Gadis ini... Dia bisa menyembunyikan... " Dia terkejut dengan kecepatan Yuan. Dia berlari menjauhinya.
Disisi lain, dia juga harus menghindari serangan Shen dari bawah. Oroi mulai bergerak cepat.
Dari tempat Fubuki, para dewan dan eksekutif serta pihak Hanabari menonton pertandingan itu dengan serius.
Mereka mencari celah agar dapat segera menemukan Nabari dan menangkapnya beserta semua anak buahnya.
Shiroi juga menonton dengan tenang ditempatnya. Para dokter yang dijadikan sandera menonton dari tenda kesehatan, sedangkan Azami baru menutup ponselnya dan menonton ke layar yang berada dikubus waktu yang berdiri tepat didepan gedungnya.
Yuan dan Shen mereka sama-sama bersiap untuk menyerang tetapi niat mereka bukan hanya menyerang pria itu tetapi juga yang lainnya. Aku tidak tahu apa yang akan kami dapat jika memenangkan permainan ini...
Tapi, kami ingin segera mengakhiri permainan bodoh ini!
Yuan menebaskan pedangnya setelah menarik nafas dan Shen juga melempar banyak mata pisau yang terbuat dari es tanpa henti-hentinya.
Serangan mereka hanya saling melukai kedua gadis tangguh itu. Tapi, mereka senang saat tahu mereka telah mengalahkan Oroi.
Dan itu membuat mereka lengah.
Tiba-tiba, tubuh Oroi yang terjatuh lemah itu ternyata adalah tubuh Yuan. Dia terbelalak, dia berusaha untuk menggerakkan tubuhnya namun tidak bisa.
Disaat bersamaan, katana miliknya telah lepas dari genggamannya. Katana itu bergerak dengan sendirinya dikendalikan oleh tempo nafas Yuan untuk menusuk Oroi yang berada diatasnya.
Yuan memejamkan matanya.
KBRK !
Saat tubuhnya tertusuk diantara es yang tajam, matanya terbuka. Dia berharap Oroi kalah juga, tapi dia tercengang karena yang berada diatasnya tertusuk oleh katananya adalah Shen yang sedang terbelalak.
Sejak kapan a... ku.
STGRK!
Pisau-pisau yang terbang itu terjatuh menembus seluruh tubuh Yuan yang telah tertusuk diujung palung es.
Tubuh Shen yang telah tertusuk katana milik Yuan pun jatuh ke bawah dengan cepat dan memecahkan sebagian bagian tubuhnya.
Para penonton sangat terkejut. Dada mereka menjadi sesak untuk sementara. "Shen. " Gumam Morita.
Tubuh Arylin gemetar. Lichita memeluknya dari belakang. "Arylchan. "
"Kakak. "
Bella Yuan dan Dunki Shen telah gugur!
"Jadi, itu rencanamu. " Oroi terkesiap.
__ADS_1