Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
62. Kematian Tora


__ADS_3

"Kau tidak ingin tahu tentang kematian ayahmu?. " Nabari berhenti melangkah dan menolehkan wajahnya.


"Jadi kalian punya kesepakatan ya, kau dan ratu. " Kuchisawa berdiri dari sofanya.


"Katakan. "


"Dia mati karena menyelamatkan aku satu bulan sebelum aku dibawa ke kediaman keluargamu."


Saat itu Takeo yang telah diberi nama Kuchisawa Maeta selalu bersama dengan Tora. Mereka berkelana ke berbagai negara, dan dia dijadikan murid oleh Tora. Dilatih kekuatan psikis dan fisik.


Ketika usianya menginjak lima tahun dua belas bulan, mereka baru saja tiba dari pasar berbelanja besar untuk ulang tahunnya besok.


"Kita akan makan besar, untuk ulang tahunmu besok. "


"Yeay!"


Ulang tahun itu adalah disaat mereka bertemu, waktu yang ditepatkan oleh ayah angkatnya Tora.


"Ayah, apa ini daging kambing? " Tora mengannguk.


"Kau senang? "


"Uhm! "


"Kita masukkam frezer dulu, besok kita akan memasak dan memakannya dipesta ulang tahunmu. "


Keesokan harinya..


Pesta itu dimulai. Pesta kecil hanya untuk mereka berdua. Tora menyalakan lilin yang berada disisi steak kambing sebagai kue ulang tahun. Ditemani dengan berbagai sayuran, mozarella dan susu hangat.


Setelah pesta itu berlangsung, ketika mereka sedang menikmati makanan mereka. Tora menyimpan pisau dan garpunya kesisi piring.


"Maeta. " Kuchisawa mengangkat wajahnya. "Saatnya aku memberitahukannya padamu. "


Kuchisawa menatapnya polos sambil terus memakang steak kambing itu. "Maeta, saatnya kau bertemu kakak dan adikmu. "


"Aku punya saudara? "


"Ya. Kau bilang ingin punya adikkan? " Kuchisawa mengangguk. "Tapi, tidak mau kakak. "


"Kenapa? "


"Mereka suka memerintah. " Tora terkekeh.Dia mengecak-ngacak rambut Kuchisawa.


Saat suasana bahagia itu berlangsung, terdengar suara ketukan lintu yang sangat keras. Orang-orang itu berteriak.


"Bukalah! " Tora membuka pintu itu, dan dia terpental karena dipukul para tamu itu. Membuat Kuchisawa turun dari mejanya.


Dia berlari ke arah Tora dengan wajah belepotan. "Ayah! " Dia memegang pundak Tora.


"Kau putranya? " Kuchisawa takut saat menoleh, badannya gemetar.


"Kalian bisa makan enak, tapi tidak bayar hutang! " Tora terua dipukuli oleh mereka dan tidak diberi kesempatan bicara.


Para penagih hutang itu memang sering datang tapi tak sampai memukuli. Kuchisawa berusaha menghentikan mereka tapi dia malah didorong, itu membuat Tora marah.


tak sadar dia mengambik pisau dimeja seakan akan menusuk para penagih itu, tapi dia hentikan karena mereka bukan esper. Apalagi dibelakangnya, Kuchisawa melihat dengan tatapan ketakutan.


Karena Tora berhenti, mereka memukul Tora dengan keras. Tak sengaja membuat pisau itu menusuk leher Tora hingga mati.


Melihat Tora terkujur ke lantai dengan darah yang bercucuran, para penagih itu pun kabur karena takut disalahi.


Kuchisawa yang melihat itu menjatuhkan tubuhnya didepan jasad Tora yang memucat. Dia terus meringkuk disana tanpa minum dan makan selama berhari-hari. Beruntung dia masih hidup hingga saat dia sudah diujung tanduk seseorang datang menyelamatkan dirinya.


Pria itu membawa Kuchisawa ke tempatnya. Setelah dirawat selama tiga hari karena kurang makan dan minum, Kuchisawa pun sadar. Dia terbangun dan melihat Aoi disebelahnya.


"Kau mengingatku? "


"Siapa? "


"Hah. Aku akan memanggil suster untuk menyuapimu makan. " Kuchisawa menahan Aoi dengan memegangi tangannya. "Ada apa? "

__ADS_1


"Apa kau kakakku? "


"Bukan. "


"Kau akan mengantarku? "


"Tidak. Ayahmu yang harus mengantarmu. "


"Ayah, dimana ayah? "


"Dia mati. Kau lupa? Argh! "


"Kenapa kau mengatakan itu! " Protes Mai. Dia memukul kepala Aoi


"Itu kenyataan. "


"Ish! " Mai menyeggol keras aoi. "Pergilah, serahkan padaku! "


"Setelah itu, Mai-san merawatku dengan baik. Setelah satu bulan disana, saat aku mencari Aoi aku dihadapkan dengan peristiwa aneh dalam hidupku. Aku melihat orang mati didepanku, apa itu mimpi? Aku fikir begitu. Tapi..."


"A... yah? "


"Peluk aku. " Kuchisawa berjalan lamban mendatangi Tora. Dia memeluknya dan Tora membalas pelukannya.


"Ayah masih hidup? "


"Tidak, aku sudah mati. " Mendengar itu Kuchisawa setengah pingsan. "Apa?! "


Tora menertawainya. "Kenapa hantu tertawa? "


"Hantu? Mungkin seperti itu. "


"Eh? Kau beneran hidup? Tapi, apa hantu bisa cukur jenggot dan kumis?"


"Tidak, bukan seperti itu. Aku adalah Tora dari masa lalu, Tora di masa ini sebelum mati memberiku pesan dan aku pun datang memenuhi janjiku. Ayo kita kesana sekarang?"


"Masa lalu?"


"Saat itu dia pun menceritakan identitas sebenarnya, mulai dari nama dan keluarga. Dia juga bilang, kalau Aoi adalah orang yang menyelematkanku. Dia membawaku kepadamu. Dia juga mengatakan kalau dia sudah pernah mati berkali-kali dan kembali hidup. Ya ampun, seperti Orochimaru saja. Merepotkan bukan? "


"Terimakasih sudah bercerita. " Nabari pun menghilang dari pandangannya.


Dia berjalan memasuki sebuah gua yang dangkal dengan banyak alat penelitian disana. Para penjaga itu dibuat tertidur olehnya.


"jadi ini. "


"Kau percaya sekarang? "


"Ini merepotkan. Kita harus segera mengetahui rencana dia yang sebenarnya. "


"Baiklah. "


Tomoe dan Nabari saling berkomunikasi dalam batin mereka.


Sehari sebelum festival digelar . Nabari datang menemui Fubuki. Fubuki yang baru masuk dikejutkan dengan keberadaan Nabari di ruangannya .


"Nabari? "


"Fubuki-san, aku ingin membuat permintaan. "


***


Arylin datang dengan terburu-buru, masuk ke aula. Semua berantakan, tapi mereka semua baik-baik saja. Arylin lega dan kangsung memeluk Lichita.


"Arylchan, kau sendiri? Dimana Mae-kun? "


"Syukurlah... Syukurlah kalian baik-baik saja. " Lichita membalas pelukan itu.


"Kami tidak terluka."


"Kok aku nga dipeyuk? " Goda Kaoh.

__ADS_1


Arylin mengacuhkannya. Kaoh menunduk sedih. Lichita hanya tertawa kecil melihat kelakuan mereka.


"Sebenarnya ada ap... " Kuchisawa datang dengan nafas yang tersengal-sengal. "Syukur...lah kalian... baik... baik... saja. "


"Mae, kau berlari? " Nishimiya dam teman-teman kelasnya yang lain menghampirinya.


"Ini minum dulu. " Amanda memberi dia sebotol air mineral .


"Terimakasih. kekuatanku bwlum pulih, dan Arylin-san... " Mereka semua melihat je arahnya.


"Adik, mereka melihat kearahmu. " Bisik Kaoh. Urat dahi Arylin menegang.


"Apa yang terjadi? "


"Mereka meledak. " Fubuki menyela. Arylin membungkuk memberi salam. "Meledak? "


Fubuki dan yang lainnya mengangguk. "Kenapa bisa? "


Totsuki datang menyela. "Mungkin mereka adalah alat esper berbentuk manusia dan agar membungkam mereka... "


"Mereka membunuh alat yang sekali pakai, contohnya dengan meledakkan mereka. " Sambung Kaoh. "Benar bukan? " Totsuki mengiyakan.


"Sepertinya ini ada kaitannya dengan kematian kakakku. "


"Totsuki. "


"Kita harus menyelidikinya."


"Jangan terburu-buru, kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. " Kaoh khawatir jika akan ada korban lagi dari pihaknya.


"Tapi yang lebih penting adalah siapa anak-anak yang menyelamatkan kita tadi? " Sela Lichita.


"Anak-anak? " Tanya Arylin.


"Mereka memakai alat esper." Jawab Fubuki.


"Apa? " Saat sedang berfikir, Arylin teringat perkataan Kuchisawa tadi. "Mereka akan baik-baik saja. "


"Mae! "


"Hm, ada apa dengannya? "


Arylin menarik Kuchisawa dan mencengkeram kerah bajunya. "Apa yang kau maksud tadi adalah ada anak-anak yang akan datang menyelamatkan mereka? "


"Mae, apa itu benar? " Tanya Nishimiya.


"Dari mana kau tahu itu? " Tanya Yui.


"Itu... "


***


"Mereka telah bergerak, Nene. " Mendengar itu rasanya jengkel sekali. Tapi ini kenyataan. Menyebalkan!


"Jadi, apa rencanamu selanjutnya Nene Naba?"


"Jangan menyatukan nama kami! " Protes mereka kepada Aoi.


"Mau bagaimana lagi, kalian adalah dua orang dalam satu tubuh. " Tora menepuk pundak Aoi.


"Sebaiknya kita bersiap. " Tora membawa Aoi keluar.


"Hah.. Aku punya adik dan mantan yang bodoh. " Gumam Tamao.


"Kau masih menyukai Tora? "


"Kau siapa? Siapa yang bertanya padaku? "


Sepertinya reaksinya akan berbeda jika tahu siapa kita saat ini. [Kalau begitu kita pergi saja. ]


Nabari, maksudku Tomoe. Ah aku tidak tahu! Pokoknya mereka pun pergi meninggalkan Tamao.

__ADS_1


Author pun bingung. Xixixixxi. Nabari dan Tomoe menertawai author.


__ADS_2