
"Bagaimana ini, padahal sudah dekat waktunya tapi malah muncul tragedi ini? Kyaa, kesal sekali! " Sana menjambak ujung rambutnya sendiri.
"Tenanglah, Sana! " Hana membenarkan kacamatanya.
"Hana, kau itu tidak mengerti! "
"Aku mengerti, karena aku adalah wakilmu. "
Nana yang berada diruangan yang sama dengan mereka menghela nafas. "Hingga kapan mereka akan bersikap begitu."
"Senpai, sepertinya yang disana juga... " Kiyoshi menunjuk ke arah Inomiya yang mengacak-ngacak rambutnya. Asap tebal keluar dari otaknya.
Nabari dan Eurasia sedang sibuk membersihkan rumah diawasi Lichita. "Ini gara-gara dirimu! "
"Asiachan, itu rencanamu. " Listrik menyengat diantara mereka.
"Berhentilah bertengkar dan kerjakan. " Tubuh mereka bergidik, bulu kuduk mereka berdiri. Bisikan Lichita memang menyeramkan.
Di televisi sedang menyiarkan berita tentang kejadian misterius yang dihadapi para warga sipil, bahkan membuat polisi kebingungan. Dan membuat Shiroi dan beberapa atasan merasa pusing, karena mereka harus tetap bungkam.
"Sekarang sembunyi-sembunyi, apa nanti akan terang-terangan? " Lichita yang melantur.
"Ibu, itu tidak boleh terjadi."
"Hmm, benar juga. "
Tok! Tok!
"Pak Kepala. "
Hana masuk dan menyimpan beberapa tumpukan berkas di meja Kaoh. Kaoh menjatuhkan keningnya ke meja.
"Ya ampun! "
"Pak kepala, mau saya bantu? "
"Ah, hahahaha... Terimakasih, Hanachan. Aku baik-baik saja. "
"Kalau begitu, saya pamit. "
***
"Kouta, kau sudah siap? " Kento menepuk pundak Kouta.
"Ya. "
"Kalau begitu, Aoyama ayo pergi! "
"Belum waktunya. Ada satu orang lagi yang harus kita tunggu. "
"Si... "
"Yo! Apa kabar kalian semua? " Seorang wanita jangkung berbadan besar dengan dada yang rata datang menghampiri mereka.
"Shiren? " Kento nampak sangat terkejut, itu membuat Shiren tertawa geli.
"Kau tidak berubah ya, Kento. " Siapa dia? Kouta mengangkat sebelah alisnya.
"Anak baru? "
"Perkenalkan saya Baira Kouta. " Kouta membungkukkan badannya.
"Tidak usah sungkan. " Kouta berdiri kembali. "Aku Akiyama Shiren, senang bertemu denganmu, Kouta. "
"Ayo kita pergi. " Tanpa basa basi Aoyama membawa mereka ke tempat yang dituju. Disana Shiroi dan yang lainnya telah menunggu.
Di tempat yang lain pun, telah disebar beberapa kelompok lagi oleh Kaoh untuk mencari dalang kejadian ini.
"Profesor, sepertinya ini ada kaitannya dengan dia. " Tsubomi mendatangi Azami.
__ADS_1
"Aku tahu. "
Nabari melempar lap yang dia pegang. "Selesai!"
"Jangan kau lempar kemana saja, bodoh! "
Nabari baru tersadar, dia langsung mengambil kembali lap itu dengan cepat.
"Apa kalian sudah selesai? "
"Aku tidak membuangnya! " Nabari menutup mulutnya, keceplosan.
"Apa? " Lichita memeluk Nabari dari belakang.
Nabari tidak tahan dengan itu dan dia mulai merengek. Berteriak. "Kakak, tolong aku! "
"Hmm, kenapa telinga tiba-tiba panas? " Kaoh memegang telinganya yang memerah.
Kelompok Aoyama telah tiba di tempat yang dijanjikan Shiroi. Disana juga telah ada Miura bersama Morita, Suichi dan Kuchisawa.
"Karena kami telah berkumpul, mari kita mulai rapatnya. Silahkan tuan Fubuki. "
"Sudah banyak kejadian yang terjadi diantara warga sipil, dari yang menjadi linglung ataupun yang diserang oleh orang-orang tak terlihat. Pada awalnya para korban adalah para kriminal dan berandalan, tapi semakin hari semakin rancu. "
"Telah dipastikan bahwa itu ulah para esper dari yang kulihat. " Shiroi mengepalkan kedua tangannya menempelkannya didagunya.
"Maka dari itu, supaya hal ini tidak semakin jauh kita harus segera mengakhiri ini! "
"Siap! "
Sana mengacak-acak rambutnya, kepalanya penuh dengan asap. Wajahnya memasak bagai daging panggang.
"Sana, Pak Kepala memanggilmu. " Hana berdiri di wajah pintu.
"Lolicon itu menganggu saja! " Sana menggembungkan pipinya.
"Aku mengandalkanmu. "
Sana masuk ke ruangan itu, mendatangi Kaoh yang sedang sibuk mencatat.
"Anda memanggil saya, Pak? "
"Ah Sanachan, ya aku memanggilmu. Aku ingin mendiskusikan perihal festival sekolah. "
Sana meniup poninya. "Apa tidak masalah? Padahal sedang terjadi masalah seperti itu, bukankah akan repot? "
"Tidak. Itu akan berakhir sebelum musim panas. "
"Hm? " Sana mengangkat sebelah alisnya.
"Sekarang mereka telah bergerak untuk mengakhirinya. " Kaoh menyender ke kursinya, menatap langit itu.
***
"Nabari, ini tidak seru! "
"Kau hanya tidak dapat mengerti ceritanya kan? "
Nabari dan Eurasia yang sedang sibuk menonton. Mereka menonton film horor echi favorit Nabari.
Eurasia dengan sengaja mematikan televisi dan dvd itu. "Aaaaa! Kenapa kau memeatikannya? Itu sedang klimak tahu! "
"Membosankan. "
"Kyaaa! "
Di rumah sakit, Azami dan Tsubomi masih sibuk merawat para korban. Lalu, beberapa orang datang menemui mereka.
"Kalian sudah datang. " Azami menyakui kedua tangannya ke jas putih miliknya.
__ADS_1
Mereka membungkuk memberi salam. "Kami akan membantumu, Profesor Azami. "
Nana kaget ketika Azami yang tiba-tiba memegang kedua pipinya dan menekan mereka.
"Kau memang putriku. " Azami tersenyum kecil. Dia melihat putrinya sebagai dirinya yang kaku dan serius.
Nishimiya tertawa kecil menertawai temannya itu. Tapi, Nana memukul punggungnya hingga Nishimiya merasa sakit.
"Gantilah baju kalian dan jangan lupa mencuci tangan, lalu bersiaplah untuk membantu disini. "
"Baik! "
"Nami, bantu Tsubomi disana bersama Maeta. " Tsubomi? "Bantulah membawakan kantung darah dan cairan infus. "
"Baik! "
Tsubomi, siapa dia? Aku rasa pernah mendengar nama itu. Batin Nana. "Nana, kau sudah selesai?" Kuchisawa mengetuk pintu ruangan itu.
"Ya, aku segera keluar! "
Mereka pun masuk ke dalam satu bangsal, disana Tsubomi bersama para perawat sedang memeriksa para pasien.
"Sepertinya nona yang itu." Kuchisawa menunjuk Tsubomi. Nana diikuti Kuchisawa mendatangi wanita itu.
"Permisi, apa anda Dokter Tsubomi? "
"Nanamichan, kau sudah besar ya. " Nana dan Kuchisawa saling menatap. "Anda mengenal saya? "
"Kau anak Tuan Azami dan Nyonya Izanami kan? " Nana mengangguk. "I... ya. "
"Apa kau teman Nanamichan dan juga Nabari? "
"Selamat siang, perkenalkan saya Kuchisawa Maeta. "
"Jadi kau Maekun ya, Nabari selalu membicarakanmu. " Nabari? "Katanya kau selalu menyebalkan. " Tsubomi terkekeh.
"Ehh? "
"Ah, kita lanjutkan pembicaraannya nanti. Bantu aku sekarang. "
Kelompok Aoyama telah bergerak bersama yang lain. Telah ada juga beberapa kelompok yang telah dikirim ke tempat masing-masing.
"Kita akan berjaga malam ini."
"Yosh, jangan ada yang mengacau!" Kouta terpaku pada tubuh besar Shiren. Kekar sekali! Lalu dia melihat tubuhnya yang lebih kurus.
Kouta menepuk pundak Kento. "Hm, ada apa kouta? "
"Dia pria hebat, pasti dia rajin berolahraga. "
"Dia perempuan. "
Apa aku tidak salah dengar? Kouta melirik lagi Shiren yang riang gembira mengobrol dengan Aoyama didepannya. Dia melihat Shiren dari atas ke bawah.
"Kau membohongiku ya! "
"Tidak. Dia memang seratus persen wanita. Tanya saja. " Apaaa?
"Kouta, kau kenapa? " Shiren menghampiri Kouta yang membeku ditempat.
"Ti... Tidak ada apa-apa. "
Kento yang berada dibelakangnya menahan tawa dan tetap bungkam, tetapi Aoyama malah berbicara lantang tentang itu.
"Kau terkejut kalau dia perempuan?"
"Ah... Anu.. "
"Bwahahahhaha! " Shiren tertawa keras. Dia menitikkan air mata kegeliannya. Shiren menepuk punggung Kouta. Lalu merangkulnya dari belakang. "Jadi begitu ya. "
__ADS_1