
Kento meringis kesakitan karena lukanya belum tertutup sepenuhnya, badannya pun babak belur.
"Apa kau lukamu masih terbuka?"
Kento terkekeh. "Ya. "
Aoyama melihat ke sekelilingnya namun masih gelap. Lalu, Kento mengeluh dia membuang nafas. "Kenapa bisa tertangkap sepeti ini! "
"Kento. "
"Ya? "
"Ada yang datang. "
Seorang pria memapahkan kakinya, terdengar hingga telinga para tahanan itu. Kento dan Aoyama menghening.
"что? Они спанман!" Pria itu menyimpan nampan yang berisi makanan dan minuman.
"Apa yang dia bicarakan?" Kento menelan ludahnya melihat makanan itu. "Kau dan Nishimiya itu sama. " Celetus Aoyama.
"Apanya yang sama? " Aoyama tidak menjawab dan melepas ikatannya, memgambil makanan itu.
"Dia mengira kita masih tidur. Ini, kau lapar bukan? " Aoyama menyodorkan makanan itu ke Kento.
"Sejak kapan kau... "
"Sudahlah makan dulu. "
"Abhw. " Aoyama menyumpalkan makanan itu ke mulut Kento.
***
"Nabari! " Seseorang berteriak terbang ke hadapannya. Nabari menghampirinya yang baru setengaj jalan. "Ayo."
Mereka pun pergi ke tempat Beirn Chovez berada. "Tuan muda, kau datang? Mereka... "
__ADS_1
"Aku tahu. "
"Lalu harus bagaimana? "
Nabari menolehkan wajahnya menatap Chovez. "Aku lapar, mau makan. " Ehh? Bocah dibelakangnya menepuk jidat. Semua payan dan orang-orang disana pun menyegir masam.
"Daito, siapkan makanan! "
"Baik, pa!"
"Tuan muda, silahkan duduk disini untuk menunggu. " Chovez mempersilakan Nabari untuk duduk.
Dia pun duduk lalu menggoyang-goyangkan kedua kakinya yang melayang karena kursi yang ia duduki lebih tinggi darinya.
"Anu... " chovez menegakkan wajahnya.
"Apa itu singa? " Nabari menunjuk lajangan kepala hewan yang tertempel di dinding.
"Ahhaha itu... Ya, itu kepala singa yang... "
Ekgrh!
"Papanya Layla. " Panggil Nabari. "Lamia, bukan Layla. " Bisik Kanazawa.
"Papa Layla! " Euhh.
"Ahahaha tak apa, ya,ya,ya?"
"Ayo kita bermain petak umpet. " Nabari memiringkan wajahnya.
EHH!!
***
"Aku yang akan mencari mereka."
__ADS_1
"Kau yakin? " Kaoh meregangkan tubuhnya. "Kau pasti lelah. "
"Sejak kapan kau mempedulikanku?" Arylin memakai penutup wajahnya.
"Aku selalu mengkhawatirkan adik-adikkyuu! " TCh! "Aku pergi!"
"Tunggyu, Ayiyin! " Arylin pergi meninggalkan kakaknya itu. Dasar pria itu!
***
"Kento. " Aoyama menengadahkan benda kecil ditangannya kehadapan Kento.
"Sejak kapan kau..." Tanpa berbicara Aoyama melepaskan rantai yang membelenggu Kento dengan kunci itu.
"Ayo kita keluar. "
Aoyama membawa kento pergi dari sekapan itu. Mereka tiba disebuah desa tak berpenghuni.
"Tutup wajahmu!"
"Eh? " Tiba-tiba angin angin itu menusuk perih ke dalam kulit, udara disini telah terkontaminasi oleh zat berbahaya dari nuklir.
"Aoyama, kenapa ke tempat i..." belum selesai Kento bicara seorang wanita dengan penutup wajah datang untuk menutupi wajah dan tubuh mereka dengan pakaian instant yang dia bawa, lalu membawa mereka pergi.
Mereka pun tiba di sebuah rumah sakit yang usang. Disana Mile telah menunggu bersama yang lainnya.
"Nona Isane, tolong. " Mile membawa kedua bocah itu ke dalam untuk memeriksa keadaan mereka.
"Aryl, lalu kau bagaimana? " seorang pria memdatanginya. "Aku tidak apa-apa. "
"Ayah, apa ayahku baik-baik saja? " Masih disisi lain rumah sakit keluarga Azami. Kuchisawa menepuk pundak Nana.
"Aku yakin dia akan baik-baik saja. " Tsubomi melirik mereka dari jauh sembari memeriksa para pasien dan perawat yang terluka.
Azami masih bertarung dengan Karazaki, Api dan darah saling bertarung. Ular dan naga saling berhadapan. pertarungan yang sengit. Namun, mereka imbang. Hingga seseorang datang
__ADS_1