Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
29. Pertemuan


__ADS_3

Beberapa pria beringas dan bejat sedang membawa Tomoe yang tak sadarkan diri dijalan. Seorang pengelana melihat itu. Pengelana itu adalah ahli beladiri, dia berusaha menyelamatkan Tomoe.


Pengelana itu menyelamatkan Tomoe yang dibawa oleh kelompok itu. Dia menyerang para pria itu, membawa Tomoe dan Pee yang terperangkap didalam tas Tomoe. Pee agak sekarat karena kehabisan nafas.


Pengelana itu membawanya ke sebuah pondok terpencil yang berada di bukit, tempat tinggal sementara Sang Pengelana.


Setelah beberapa waktu Tomoe tertidur dia mulai membuka matanya. Pee telah berdiri di dadanya, berada didepan wajahnya. Menyambut hangat Tomoe.


"Pi, pi, pi!"


"Pee?" Tomoe bangun dari tidurnya. "Ini... "


"Kau sudah sa..." Tomoe menyerang pria itu dengan pisau dari balik lengan bajunya. Namun, pria itu dapat menghindar dan menangkis serangan dari Tomoe.


Dia memutar tangan Tomoe dengan ilmu bela dirinya. Orang ini...


"Sebaiknya kau tetap duduk disana. " Bisik pria itu.


"Pi! " Pee melerai pertengkaran mereka.


Tomoe memasang wajah muram. "Kenapa kau menculik kami? Siapa kau? " Pria itu malah terkekeh.


"Malah tertawa? Yang benar saja! "


"Beginikah caramu memperlakukan orang yang telah menyelamatkanmu?"


Seketika Tomoe teringat kejadian sebelumnya. "Sudah ingat? " Pria itu menyimpan kendi air yang baru dia bawa dari hulu sungai yang tidak jauh dari pondoknya.


"Namaku Son, silahkan tinggal semaumu disini. "


Tomoe membalikkan tubuhnya, berjalan menghampiri Son. "Kenapa kau tau kalau aku akan diculik?"


"Siapa pun akan tahu bila melihat kondisi itu, tapi sayangnya kebanyakan orang adalah pengecut. "


Tomoe menatap Son tajam, tetapi dia melihat Son tidak berbohong. Son tersenyum kecil padanya, namun Tomoe tetap mencurigainya.


"Siapa kau sebenarnya? "


"Bukankah sebaiknya kau memperkenalkan dirimu juga? Maksudku namamu. "


"Tomoe. Aku Tomoe. "


"Baiklah Tomoe, bantu aku mengupas ini. " Son memberinya sekeranjang bombay.


"Ehh? "


Tomoe menghisap ingusnya, menyeka air matanya dengan bajunya. Dia menyodorkan bombay itu kepada Son. "Sudah. "


"Terimakasih. "


"Mau dimasak apa? "


"Hanya untuk simpanan. "


"Apa? Kenapa menyuruhku membuka semua itu jika kau tidak akan memasak? " Son menertawainya.


"Jangan menertawaiku!"


"Tomoe. "


"Hm?"


"Apa kau hantu yang diceritakan orang-orang? " Tomoe mengerutkan dahinya. Apa maksudmu hantu? Dalam batinnya.

__ADS_1


"Apa kau penjaga gua mata air bulan? " Kenapa dia... "Apa kau dapat memberitahuku?"


"Lalu kau mau apa jika aku telah memberitahumu? " Son hanya terdiam. Tomoe menodongkan pisaunya. Tomoe menghajar Son dekat kekuatan yang disembunyikannya, tetapi dia kesal karena terus diklahkan oleh Son. Dia berfikir kenapa dia yang memiliki kekuatan itu bisa dikalahkan dengan orang yang hanya pandai bela diri saja.


"Jika iya, kau mau apa? Takkan kubiarkan kau menghancurkan tempatku! "


Son menangkis serangannya. "Sebaliknya. "


"Sebaliknya? "


"Aku ingin menjadi penjagamu." Son melepas tangkisannya, dan Tomoe menghentikan serangannga. "Biarkan aku menjadi pengawalmu!"


"Apa?"


Son berdiri dan memegang kedua tangan Tomoe. "Apa yang... "


"Aku akan mengajarimu beladiri, pengetahuan dan apapun... "


"Lepaskan a... "


"Atau jadilah ratuku! "


Seketika tubuh Tomoe menjadi kaku. "Ra-ratu? "


Son melepaskan genggamannya. "Biar aku perkenalkan diriku sekali lagi. Aku adalah putra mahkota Kerajaan Singa Timur Son fang! "


"Putra mahkota? "


"Tomoe, jadilah ratuku supaya aku bisa menjagamu. " Tomoe menolak Son mentah-mentah.


"Kau fikir aku mau? Orang asing sepertimulah yang lebih menyeramkan. "


Son tersenyum lebar mendengarkan celotehan Tomoe. "Kenapa tertawa? Aku serius! "


"Itu urusanmu. Jangan libatkan aku dengan masalah keluargamu! Ayo kita pulang, Pee. " Tomoe melangkah keluar pondok. "Sebelumnya, terimakasih telah menyelematkanku. " Tomoe pun menghilang.


***


Satu tahun kemudian, Kakak tiri Son yang bernama Shin menjadi seorang raja. Dia adalah raja yang anarki. Shin berencana ingin menghancurkan mata air bulan dan membunuh Tomoe untuk merebut kekuatannya.


Hari itu pun datang. Tomoe yang sedang asik merendam kakinya sambil bernyanyi, tiba-tiba merasakan getaran yang sangat kuat mengarah ke tempatnya.


Shin dan para pasukannya telah masuk kedalam gua, berhadapan dengan Tomoe.


"Siapa kau?" Shin tertawa keras. "Tidak kusangka legenda itu benar, aku menemukannya! "


Tanpa panjang lebar, Tomoe menyerang Shin. Mereka pun bertarung mati-matian. Namun, titik buta Tomor terbaca. Dadanya telah tertancap panah, dia mengeluarkan darah berwarna biru.


"Jangan sampai mati! " Suruh Shin. Shin mengeluarkan sebuah tali yang bercahaya. Dia melemparkannya ke arah Tomoe dan mengikat lehernya.


Tidak bisa dilepas? Tomoe berusaha melepasnya, tetapi semakin dia menyentuh tali itu tubuhnya semakin lemas.


Disisi lain Son sedang bertarung dengan kelompok pemberontak kerajaan. Dia melihat Shin dan pasukannya pergi ke gua mata air bulan. Dia mengalahkan semua musuh didepannya dam berhasil mengejar Shin.


Tomoe berusaha menyerang dengan kekuatannya yang lain, namun tubuhnya malah semakin melemah. Tiba-tiba seseorang menebas tali itu dengan cepat.


"Kau... " Tomoe dan Shin bersamaan.


"Sialan kau, Son! " Son menghiraukan Shin yang berada di depannya, dan membantu Tomoe melepas sisa tali yang terikat dilehernya.


"Kenapa kau datang? "


"Aku bosan dengan pertanyaanmu. Tidak bisakah kau bilang terimakasih?"

__ADS_1


"Son! Aku akan membunuhmu! "


Pertarungan antar saudara tengah berlangsung. Tomoe hanya diam melihat dia juga diam-diam membuat orang-orang disana membeku. Beberapa terbakar, menjadi debu dan pasir, juga dililit tanaman berambat.


Pertarungan dimenangkan oleh Son dengan kematian Shin. Son mendatangi Tomoe, menyodorkam tangannya. "Butuh bantuan? "


Tomoe menerima tawaran itu. Son tersenyum kecil padanya. Namun, senyuman itu hanya sebentar karena tubuh Son telah tertusuk banyak anak panah yang entah datang dari mana.


"Son! " Son jatuh ke hadapan Tomoe. "Son? " Son menyentuh wajah Tomoe. "Maafkan aku. " Son jatuh tak sadarkan diri. "Son! "


***


Son terbangun empat belas hari kemudian, dia masih merasakan sakit ditubuhnya. Pee berteriak pada Tomoe, dan Tomoe langsung melempar cuciannya.


"Son, kau sudah sadar? "


"Tomoe. Erg!"


"Jangan paksakan dirimu, lukamu belum sepenuhnya tertutup. "


"Kau menyelamatkan aku? " Son terkekeh. "Kenapa tertawa? "


"Aku hanya tidak menyangka hal ini akan terjadi. " Son menatap Tomoe dengan lembut.


"Kau semakin cantik. " Wajah Tomoe memerah seperti buah persik.


"Aku akan membawakanmu makanan, tunggulah! " Tomoe berdiri dengan gugup, dia berjalan cepat dan hampir terjatuh membuat Son yang melihat itu tertawa kecil.


"Ini, makanlah selagi hangat." Tomoe menyodorkan ubi bakar pada Son. "Aku tidak memiliki apapun lagi sain itu. "


"Tidak memiliki apapun atau tidak dapat membuat yang lain? " Goda Son.


Wajah Tomoe berubah menjadi kesal. Son memakan ubi itu sambil melirik Tomoe yang berwajah muram.


"Son. "


"Hm? "


"Apa kau tahu siapa orang yang telah memanahmu? "


"Kau mencurigai sesuatu? "


"Heuh, sepertinya kau tidak mengetahuinya!"


"Begitulah. "


"Sepertinya dia bukan oramg biasa. "


"Daripada memikirkan itu, lebih baik cari cara untuk menyembuhkan aku."


"Aku itu bukan seorang tabib. "


"Memang bukan, tapi kau bisa bukan? Raja telah mati, jadi aku harus segera kembali untuk menjadi raja. "


"Maksudmu aku harus jadi ratumu? "


"Aku tidak bilang begitu, apa kau mulai menyukaiku? "


"Me-menyukaimu? Heuh, siapa sudi? " Son terkekeh keras membuat lukanua terasa sakit lagi. Itu membuat Tomoe yang kesal berubah jadi khawatir.


"Kau tidak..."


Waktu pun bergulir dengan cepat. Son telah menjadi seorang raja dengan ratunya Tomoe. Tomoe kini telah mengandung kedua anak mereka.

__ADS_1


__ADS_2