
Halo! Halo! Halo! Permainan maut babak ketiga akan segera dimulai dalam tiga puluh menit lagi!
"Langsung ke babak ketiga ya. " Gumam Ikuta.
Permainan ketiga ini berjudul Pankration . Peraturan permainan ini adalah satu lawan satu, boleh melakukan kekerasan apapun tetapi tidak boleh ada satu tetes darah pun yang keluar dan tidak boleh ada yang mati.
Jadi, jangan sampai mati. "Merepotkan. " Gumam Yui.
"Oh, kau bisa merasa begitu juga." Sindir kento.
Pertarungan ini akan dibagi ke beberapa babak hingga babak final. Pertandingan pertama adalah...
Uhmm, sebelum itu aku ada pengumuman. Karena alergi Eurasia masih belum sembuh dan Nishimiya oburi juga belum pulih, maka mereka dikatakan gugur.
Ohh, ada satu hal lagi. Kanazawa Yuriko dan Hitsuziaki Nabari telah mengundurkan diri. Semua orang tercengang.
"Kenapa mereka kabur? Apa mereka takut melawan kami atau... "
Oroi mendengar gumaman Elize. Ia menepuk bahu wanita itu. "Jangan fikir macam-macam."
"Hump? Tumben lembut. "
Dalam tiga puluh menit kedepan kalian bisa berisitirahat, ada makanan dan minuman yang telah kami sediakan. Dan, tentu saja tidak ada racun apapun disana.
Tetaplah hidup!
"Kubus yang cukup berisik. " Sindir Asumuri.
Di sisi lain ruang permainan itu berlangsung, orang-orang yang sebelumnya telah kalah penasaran dengan game tersebut karena ini sangat menjadi kejutan bagi mereka.
Kaoh dan Lichita datang me rumah sakit untuk melihat keadaan Shiren yang belum sadar.
"Bagaimana? " Tanya Kaoh pada Azami.
"Aku telah menemukan satu pecahan kecil Berlian yang hidup. "
"Hidup? Apa maksudmu dia membesar dengan perlahan? "
"Dia tidak memperbesar tetapi, dia memperbanyak dan ukurannya lebih kecil. Sekarang baru ada delapan anak, kita harus segera mengoperasinya kalau tidak... "
Azami membuka foto hasil ronsen dan CT scan dan menjelaskan detailnya.
"Aku belum mendapat jawaban dari orang tuanya, karena mereka dilarang untuk menemuinya sementara ini. "
"Mereka sangat bersikeras. "
***
"Kau yakin tidak mengikutinya, kau tidak usah mengikuti aku dalam segala bidang. Kau bukan bidak ataupun bayanganku. "
Kanazawa berdiri disamping Nabari. "Ini keyakinanku. Aku malas bertarung. "
Nabari mengupil. "Sudah kubilang jangan lakukan itu! " Protes Kanazawa.
"Sudah kubilang aku bukan tuan putri! " Seru Nabari.
"Ah, benar juga kau laki-laki. Aku... " Kanazawa melangkah jauh menjauhi Nabari.
"Kenapa kau cari gara-gara denganku. "
"Tidak. Tidak sama sekali. "
__ADS_1
"Iya dua ratus persen. "
"Maaf. "
"Hump!" Ya, dia ngambek.
***
Pertandingan pertama dimulai! Peserta pertama yang harus saling beradu adalah Kurosoba Danzu vs Ikuta Yakuze!
"Pertarungan pertama langsung... " Lamia melipat kedua tangannya.
"Wah, ini menarik. " Gumam Kurosoba yang sedang berjalan memasuki arena pertaruangan.
Dia masuk dan berhenti. Berdiri berhadapan dengan Ikuta yang tetap berwajah datar dan dingin, namun beberapa detik ia menunjukan senyum sisinya yang langka untuk dilihat.
"Sepertinya kau sangat ingin menghajarku, Yakuze. "
Tanpa ada jawaban Ikuta langsung menyerang Kurosoba dengan tekanan fikiran psikisnya. Tekanan kuat itu terasa oleh Kurosoba, tetapi tidak mempengaruhinya sedikit pun.
Ikuta lalu berteleportasi dan menyerang Kurosoba dengan ilmu bela dirinya. Kurosoba juga melawan dengan kekuatan bela dirinya.
Peserta yang lain dan orang-orang yang berada dalam permainan itu sangat serius menonton pertandingan itu. Pertarungan yang sangat menakjubkan dari kedua agem rahasia dan kedua guru ini.
Mereka memadukan kemuatan fisik merrka dengan kekuatan Psycokinesis mereka. Tekanan yang terasa hingga ke penjuru tempat.
Di tempat lain, Nabari menonton pertarungan itu bersama Kanazawa ditemani Sebastian.
"Menurutmu siapa yang akan menang? " Tanya Kanazawa.
"Tidak ada. "
"Heh? Jangan bercanda. "
Pertarungan telah berlangsung hingga lima belas menit. Di akhir pertarungan mereka, Kurosoba dan Ikuta melancarkan serangan terakhir mereka.
Mereka saling memukul wajah. Saat itu suatu getaran dan tekanan udara yang bercamour berkecamuk dengan terik matahari yang panas terasa ke seluruh area.
Kurosoba dan Ikuta sama-sama terjatuh lemas dengan wajah buruk rupa mereka yang sama bengkaknya. Mereka sama-sama mengenggam sebuah barang ditangan mereka, lalu terkapar lemas.
Hasil pertarungan ini menggemparkan sejagad area permainan. Tetapi, ada beberala dari mereka yang juga mengira dari dua perkiraan mereka. Tapi Nabari sudah mengetahuinya sejak awal.
"Kau benar. " Celetus Kanazawa.
Nabari bangkit dari tempat duduknya, mengangkat tudungnya lalu menyakui kedua tangannya. "Akan pergi."
"Ya. "
Sebastian menundukkan wajahnya, memegang dadanya dengan satu tangan dan satu tangan yang lain dia simoan diantara kedua pinggangnya.
"Seb, sampaikan pada paman tolong perbagus jariangan wirelessnya karena itu lambat." Nabari pun pergi.
"Baik, Tuan. "
"Ya ampun...Hei, kau jangan terus merepotkan orang. "
"Aku hanya memberi saran. "
Pertandingan pertama yang seimbang dan sangat ku benci telah berakhir. Kita masuk ke pertandingan kedua, datang dari sisi kiri ada Miyamoto Yui melawan sisi kanan Kuchisawa Kento.
"Wah, wah, kenyataan ini menjadi kenyataan. " Keluh Kento.
__ADS_1
Yui memasuki arena tanpa beban, berbeda dengan Kento yang tidak mau repot-repot untuk bertanding. "Kenapa aku tidak ikut mereka mengundurkan diri saja ya.."
Kento dan Yui telah berhadapan. Ledakan pertanda dimulainya pertandingan telah berteriak.
Yui mengatifkan kekuatannya, semua alat yang bersuara melengking berteriak menusuk telinga semua orang sehingga mereka menutupnya dengan paksa.
"Keras sekali.. " Gumam Lamia. Sepuluh detik berlalu, asal suara itu telah mati tertusuk oleh tulang-tulang Kento.
Kento meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. "Kau mau merusak kuping semua orang? "
"Akhirnya kau serius. " Yui tersenyum kecil. Kento menghela nafas pendek. "Dasar. "
Pertarungan serius mereka baru saja dimulai. Kento terus memanjangkan tulangnya dan bertumbuh dengan cepat, melepaskannya dan melemparnya kepada Yui.
Yui dapat menangkis setiap serangannya dan juga menghindari sisanya. Dia semakin melangkah mundur menjauhi Kento.
Ini berbahaya, tapi jika mendekat pun... Yui melempar tekanan suara melalui gelombang radio elektromagnetik untuk menekan rekannya itu mundur.
Dia juga mengeluarkan lengkingan melalui udara di sekitar Kento, tetapi tidak mempengaruhinya.
Sebenarnya, Yui dapat mendengar lamgkah kaki dan nafas seseorang seperti suara yang mengalir di udara. Tapi Kento, hanya langkah kaki Kento yang tidak dapat dia prediksi.
Kento berjalan maju mendekati temannya itu. Yui mulai mengetahui niat Kento, dia menghentikan serangannya dan melompat mundur. Saat itulah niat Kento terlaksanakan.
Kento menyeringai. Yui tercengang. Tubuh Yui terasa melemas seperti kehausan. Pemenangnya adalah Kuchisawa Kento.
"Jadi itu rencanamu. "
Saat Yui melompat ke belakang, disaat itulah Kento memegangnya, lalu memanjangkan tangannya dengan menumbuhkan tulangnya hingga berkali lipat untuk mengenai Yui dan mengambil kemampuannya.
"Maaf tapi aku tak boleh kalah sekarang. " Yui terkekeh. Kento mengulurkan tangannya membantu Yui bangun.
Langsung ke pertandingan selanjutnya. babak ketiga permainan prankation ini akan ada Olabisi bast dari sisi kanan dan disisi kiri adalah Elize.
"Halo, gadis manis. " Ola langsung menyerang Elize dengan pasirnya. "sungguh tak sopan. " Elize ingin mengkristalkan pasir-pasir itu tetapi kristalnya malah terkubur dalam pasir.
Setelah Ola mengubur wanita itu demgan pasirnya ,dia berlari membawa alat itu untuk mencuri. Namun, betapa dia terkejut bahwa Elize muncul tepat didepan matanya telah mengkristalisasikan setengah tubuh bawahnya dan Ola pun kalah.
Dalam pertandingan selanjutnya, Asumuri dihadapkan dengan Yuan. Gadis itu telah bersiap sembari memegang sarung pedang yang selalu dia kaitkan dia pinganngnya.
Tiba-tiba Asumuri mengangkat tangannya. "Aku menyerah! "
"Ehh? "
"Aku mundur. " Dengan itu, Yuan pun jadi pemenangnya.
Asumuri kembali ke tempatnya bersama Lamia. Dia menghela nafas pendek. "Kau ini. " Keluhnya. Asumuri lalu berbaring disebuah bangku panjang yang ada disana.
Oroi vs Lamia. Ini akan menjadi pertarungan epik selanjutnya. Lamia langsung mengaktifkan Psycokinesisnya membuat lawannya berhalusinasi dan mengacaukan fikirannya.
Setelah Oroi terlihat putus asa hingga menjatuhkan dirinya, tiba-tiba dia berdiri dengan sendirinya membuat Lamia tertegun.
"Apa sudah selesai? Aku sudah menerima semuanya. "
"A... apa? "
"Sekarang giliranku. " Oroi mengeluarkan roda nasibnya, berputar melawan arah jam. Menentukan kekalahan mutlak Lamia. Tanla menyentuhnya, kekuatan gadis itu terserap ke alat yang ada dikantung pemuda itu.
Pertarungan akhir adalah Lawliet yang melawan Shen. Mereka bertarung dengam sengit. Es dan uap , pertandingan ini membuat satu area menjadi sesak dan dingin.
Pada akhirnya, shen mengkristalisasikan uap itu dengan esnya. Pemenang pertandingan akhir adalah Dunki Shen.
__ADS_1
Karena hari sudah mulai menggelap, pertandingan diakhiri. Dan babak penentuan ,yaitu babak final akan diadakan dilaim hari. Itu akan disampaikan nanti.