Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
17. Dua Burung Yang Terselubung Di Dalam Sangkar. (Part 1)


__ADS_3

Nabari berhenti di depan sebuah rumah bertingkat dua. "Ini dia. " Nabari memeriksa kembali note yang ada di tangannya.


"Jadi, anak-anak itu tinggal disini?" Tanya Dunki shen. "Ya. " Nabari memasukkan note itu ke sakunya. "Kalau begitu, aku mengandalkan kalian. " Nabari menghilang.


"Dia pergi?! " Morita berkoar. "Putri, ayo ki... " Ya ampun aku harus bagaimana? Morita merasa gundah saat melihat kedua tuan putri di belakangnya tidak mau saling bertatapan.


Dunki Shen memencet bel rumah itu. "Siapa? " Tanya seseorang dari dalam. Wanita setengah baya itu membuka pintu rumahnya. "Pucat, giliranmu. "


"Jangan panggil aku pucat! "


Wanita itu menutup setengah wajah bawahnya. "Halo! " Sapa Lamia.


"Halo! Eh, Rudy, Rudy, kesini dulu ada tamu! "


Seorang Pria berkulit sawo matang keluar mendatanginya. "Ada apa, bu? "


"Ini... " Rudy tertegun melihat pemandangan yang ditunjuk oleh ibunya. "Ibu ndak mengerti, mau bilang apa. "


Rudy pun memulai percakapan dengan mereka. "Halo, perkenalkan saya Rudy."


"Halo, Mr. Rudy. Saya Beirn chovez Lamia senang berkenalan dengan anda. "


"Iya, miss Beirn. "


"Panggil Lamia saja. Ah saya datang dengan teman-teman saya. "


"Kalau begitu, mari kita masuk!"


"Apa yang dia katakan? " Bisik Morita ke Dunki Shen. "Sepertinya dia menyuruh kita masuk ke rumahnya. "


"Ikuti aku!" Lamia berjalan di depan mereka dengan orang-orang pemilik rumah itu.


"Benarkan? " Bisik Dunki Shen.


"Kau pintar juga. " Dunki terkesima dengan pujian Morita dan membuatnya tertawa malu.


"Silahkan duduk. "


"Thank you. " Lamia dan kedua temannya pun duduk di kursi panjang sederhana yang terbuat dari anyaman bambu. "


"Maaf, rumah kami hanya seperti ini. Saya harap kalian betah. Ini ada sedikit cemilan. " Rudy dan ibunya menyajikan teh hangat dan beberapa cemilan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


"Maaf merepotkan. "


"Tentu saja tidak. "


Apa itu? Waah! Morita terpikat oleh salah satu cemilan yang ada di meja. Ketika dia akan mengambilnya, Lamia menepuk tangannya keras. "Aw! "


"Kau ini! Maaf atas ketidaksopananya. " Rudy dan ibunya terkekeh. "Tidak masalah, silahkan di makan. "


"Kau boleh memakannya. " Morita mengambil cemilan yang membuatnya terpana. Itu adalah Klepon. Sedangkan Lamia dan Dunki Shen sengan kesopanan mereka, mereka meminum secangkir teh hangat itu.


"Ini manis? " Tanya Lamia yang sedikit terkejut dengan rasanya.


"Ya, ini adalah teh manis. Kami memasukan sedikit gula ke dalamnya. Apa kau tidak suka?"


"Terlalu manis. " Celetuk Dunki Shen.


"Dia bilang terlalu manis untuknya, tapi aku baik-baik saja. Aku suka!"

__ADS_1


"Katanya, mereka suka. " Rudy berbisik pasa ibunya. "Syukurlah kalau begitu. "


"Enaknyaa! " Morita terkesima dengan rasa kue yang kenyal-kenyal itu. "Seperti mochi dengan sirup mapel dan kelapa!"


Rudy dan ibunya memperhatikan Morita yang sumringah dengan seksama. "Dia bilang dia menyukainya. " Lamia menjelaskan apa yang dikatakan oleh Morita. "Apa didalamnya adalah sirup mapel? "


"Ah bukan, itu gula merah. " Mendengar itu Lamia terkesima dan menyampaikan itu pada Morita. "Jadi ini gula merah. "


"Aku juga ingin mencobanya. " Dunki Shen mengambil satu buah Klepon dan memakannya. Matanya membesar saat Klepon meledak dengan lembut di mulutnya. Lamia pun ikut mencicipinya. "Enak sekali. Luar biasa! "


"Terimakasih. "


Setelah mencicipi beberapa cemilan yang ada, Lamia mulai membicarakan misi sebenarnya mereka. Rudy membenarkan dan ia bilang bahwa ialah orang yang mengirimi pesan kepada Kaoh.


"Suami kakak saya kabur saat dia tengah mengandung, dan itu membuat keadaanya memburuk. Saat kedua anaknya lahir, dia hanya bertahan satu minggu dan akhirnya meninggal. " Jelas Rudy. Ibu Rudy termenung duduk disebelahnya.


"Bisa kami bertemu mereka? "


****


Tiga belas tahun yang lalu. Saat itu Aminah tengah mengandung kedua anak pertamanya, tetapi disela itu sang suami meninggalkannya. Hal itu membuatnya sangat depresi ketika itu. Dia pun bingung harus melakukan apa sendirian di kota orang, jauh dari keluarganya.


Aminah mencoba hidup sendiri mengontrak di tempat orang lain, lalu bekerja sebagai tukang masak, mencuci dan menyetrika. Hingga pada usia kehamilan memasuki usia 8 bulan dia divonis mengidap tumor di rahimnya. Namun dia berjuang melawan itu demi melahirkan kedua anaknya.


Tetapi semakin hari keadaannya semakin menurun, para tetangga membantunya menghubungi keluarga Aminah yang berada di kampung Halamannya.


Setelah itu, Aminah dibawa pulang oleh keluarganya dan melahirkan anak kembarnya di kampung halaman. Dan setelah satu minggu dia pun meninggal dunia.


Tidak ada yang aneh pada awalnya. Memang si kembar sering menangis, tapi mereka dikir itu normal. Hingga mereka masuk kw taman kanak-kanak, tingkah mereka sedikit mulai berubah. Mereka semakin tertutup, hingga sering berhalusinasi. Hingga saat masuk ke bangku SMP mereka memutuskan untuk berhenti bersekolah dan hanya ingin dirumah.


Sang Nenek dan keluarga lainnya mencoba berbicara, namun mereka tidak mau menjelaskan alasannya jadi mereka fikir kalau kedua anak itu telah di rundung.


Rudy pelan-pelan mendekati mereka dari hati ke hati. Akhirnya mereka mengakui semuanya, bahwa mereka dapat melihat apa yang tidak dapat orang lain lihat.


Ya begitulah, jadi aku mengandalkanmu!


Nabari baru selesai membaca pesan dari Kaoh.


****


"Kami ingin bertemu dengan mereka. "


"Saya akan mengantar kalian kesana. " Lamia dan yang lainnya mengikuti Rudy dari belakang. "Kamar mereka ada di atas. " Mereka menaiki anak tangga yang cukup sempit untuk di lalui.


"Ini kamarnya, masuk saja. " Lamia mengirim kode ke Morita dan Dunki Shen untuk mengikutinya. "Permisi."


"Iya? " Jawab seorang gadis manis yang sedang duduk menulis. Gadis itu berdiri dan tertegun. "Halo! " Sapa mereka pada gadis itu.


"Halo."


"De, kemana mas Aiman? " Tanya Rudy pada gadis itu. "Tadi keluar, om tidak lihat? " Rudy menampar keningnya.


"Apa ada masalah? " Tanya Lamia pada Rudy. Morita berbisik. "Lihatlah, gadis itu hanya sendiri. " Lamia pun mengerti maksud mereka.


"Apa saudaramu sedang pergi? " Gadis itu mengangguk.


Lalu dengan tiba-tiba mereka mendengar keributan dari luar hingga ibu Rudy pun berteriak dari lantai bawah memanggil Rudy.


Beberapa menit sebelumnya. Nabari sedang bersantai di dahan pohon yang berada di sekitar rumah itu. Disana banyak pepohonan rindang berdiri.

__ADS_1


Tiba-tiba seseorang tak sengaja melempar batu dan mengenai wajahnya san membuat tubuh Nabari oleng dan terjatuh.


GUBRAK!


Dia terjatuh sangat keras, membuat Aiman terkejut dan segera mencari tahu asal dentuman itu.


Tak jauh dari tempat nya dia mekihat Nbari yang tersungkur disana. "Apa yang kamu lakukan disana, Nabari? " Suara yang sesikit berat itu memandanginya dengan pandangan dingin.


"Kenapa melempar batu padaku?! "


"Aku tidak melemparkan itu padamu, salahmu yang bersembunyi seperti itu."


Mereka pun saling adu mulut tak henti-hentinya hingga terdengar oleh orang-orang rumah.


"Ada apa ini?" Rudy yang berlari dari dalam rumah diikuti yang lainnya. "Nak Nabari? " Rudy langsung berlari ke arah Nabari dan memeluknya membuat Aiman kesal karena cemburu. Ehh?


"Pak Guru, apa kabar? "


"Baik, kamu bagaimana? "


"Tunggu kalian sudah saling mengenal? Dan kau bisa berbahasa mereka?"


"Betul Lamia, Nabari sudah sering kesini. " Lamia memandangi Nabari dengan sinis. Dia berbicara lewat tatapannya. Awas kau!


"Jadi mereka teman-temanmu? " Lamia, Morita dan Dunki Shen tercengang mendengar Aiman berbicara dalam bahasa Jepang.


" Kau?" Morita mendekati Aiman. "Kakakku dan aku sudah diajari oleh Kak Nabari. " Sambung Amanda. "Kau juga? "


"Maaf, saya tidak mengerti apa yang kalian bicarakan." Rudy menyela.


"Aiman cuma tanya tentang temanku. " Nabari meluruskan.


Rudy dan ibunya menyuruh kami masuk kerumah, begitu pun Nabari. Mereka berkumpul di ruang tamu rumah itu.


"Nak Nabari sudah lama ndak ketemu, ya. "


"Iya, nenek apa kabar? "


"Baik. "


"Syukurlah. "


Lamia dan yang lainnya hanya mendengarkan mereka berbicara meski tidak mengerti. Mereka memilih untuk kembali menikmati cemilan diatas meja.


"Namamu Amanda kan, dan kau Aiman." Dunki Shen menyimpan cangkirnya. "Kenapa jika kalian sudah mengenal Nabari, kenapa kalian tidak ikut bersamanya? Pastinya itu akan lebih aman kan. "


Aiman memukul lengan kursi yang dudukinya. "Itu bukan urusanmu! " Aiman pergi meninggalkan mereka. "Aiman.."


"Tidak apa-apa, tidak usah menyusulnya. Maad telah membuat keributan. " Dunki Shen menunduk. Eh ternyata kau juga bisa bahasa inggris, aku jadi merasa tak berguna. Morita melahap cemilanya.


"Tidak. Harusnya kami yang minta maaf. Maaf atas sikapnya yang kurang baik. "


"Tidak perlu meminta maaf."


"Lalu, Pak guru kenapa bapak mengirimi kakak saya pesan itu? "


"Sudah beberapa minggu kami merasa diikuti seseorang, dan dua hari yang lalu kami mendapatkan teror dari seorang esper. Saya langsung mengingat Nabari saat itu dan menghubungi surel yang pernah kamu berikan. " Jelas Rudy dalam bahasa inggris.


Disisi lain, Morita hanya terpelanga pelongo mendengarkan mereka saling berbicara hingga akhirnya Amanda memberi tahukannya.

__ADS_1


__ADS_2