
Berawal dari lima ratus tahun yang lalu, sebuah keluarga kecil yang begitu miskin. Mereka telah dikaruniai seorang anak perempuan yang begitu cantik, namun setelah beberapa hari yang lalu bayi mungil itu menderita sebuah penyakit yang sulit disembuhkan.
Hitsui dan Tamano sangatlah resah, mereka bahkan tidak mampu mengobati bayi mereka seraya untuk sedikit menahan perkembangan penyakit yang begitu cepat.
Di malam bulan purnama, di musim dingin pertama. Seorang Nenek Tua meronta-ronta didepan tenda tempat tinggal mereka, Nenek Tua itu meminta makanan dan minuman.
Tubuhnya begitu lusuh, matanya sudah mulai mengering diantara keriput wajahnya. "Tolonglah beri saja sedikit, aku sangat haus dan sangat lapar. " Lirih Nenek itu.
"Bagaimana ini, Tuanku? Persediaan untuk musim dingin pun tidak ada, tapi aku kasihan melihatnya. "
Hitsuziaki memegang lembut kedua tangan istrinya. "Kalau begitu kita beri susu gandum saja. " Hitsui menyodorkan segelas susus gandum kepada Nenek Tua itu. "Kami hanya punya ini. "
Nenek itu meneguk minumanannya dengan tergesa-gesa karena dahaga. "Terimakasih. " Dia mengusap sisa susu disudut bibirnya. Namun tiba-tiba Tamano berteriak dari dalam kamar mereka. Sontak Nenek dan Hitsui beranjak kesana.
"Tamano, ada apa? "
"Tuan... " Tamano menangis. Nenek itu lekas menghampiri Sang Bayi yang tertidur pulas dengan wajah yang pucat. "Apa yang kau lakukan... " Tamano menahan suaminya.
"Kau mengira bayimu telah meninggal?" Tamano mengiyakan pernyataan itu.
"Apakah dia baik-baik saja? "
"Dia masih hidup, namun telah semakin sekarat. Apa sudah lama seperti ini? "
Orang tua bayi itu mengiyakan. Nenek pun berdiri. "Ayo bawa dia ke mata air bulan!"
"Mata air bulan katamu? Kau tahu itu kediaman iblis, dilarang kesana! "
"Siapa yang memberitahumu? " Mereka hanya terdiam dan tak menjawab pertanyaan Si Nenek. "Itu hanyalah bualan! Faktanya kerajaan lah yang membatasi itu, karena mereka tahu kalau mata air itu bisa mengobati segala penyakit. Itu adalah karunia Tuhan. "
Hitsui dan Tamano saling bertatap wajah. Hati mereka mulai goyah, mereka setengah percaya dan setengah lagi tidak. Apakah perkataan wanita tua itu benar? Namun, tak ada pilihan lain bagi mereka. Karena mereka ingin bayi mereka sembuh, dan dapat tumbuh dewasa.
Mereka pun bergegas menuju mata air bulan dipandu oleh Nenek itu. Mereka berjalan menyusuri hamparan salju yang menebal, menerjang badai yang dingin.
"Inilah mata air bulan. " Jelas Si Nenek. Tamano dan Hitsui terbelalak. Mereka tak menyangka pemandangannya akan seindah yang terlihat dipelupuk mata mereka. Mereka hanya mengetahui dari cerita yang beredar, bahwa tempat ini menakutkan.
"Cepat bawa dia kesana! "
Setelah mereka sangat dekat dengan sumber mata air itu, Si Nenek memasukkan tubuhnya ke kolam dangkal yang berada didepan mereka.
__ADS_1
"Masukan dia ke dalam air. " Suruh nenek.
"Kau sudah gila ya, cuaca sangat dingin! Bagaimana aku bisa melakukan itu pada bayiku? " Gertak Hitsui.
"Apa kalian mau dia mati? Cepat lakukan sekarang!"
Hitsui dan Tamano melepaskan pakaian Sang Bayi dan memasukkannya kedalam kolam mata air itu.
Tiba-tiba, cahaya yang begitu terang berwarna biru lunar muncul menmbutakan mata. Sosok Nenek itu menghilang, dia berubah menjadi sosok yang sulit dijelaskan. Sosok itu sangat cantik sedang memangku bayi mereka.
Orang tua Si Bayi hanya menganga dan membeku ditempat mereka berdiri. Bayi mereka dibasuh oleh sosok itu dan mulai menangis.
Saat tangisan bayi semakin keras, sosok itu mengembalikan Sang Bayi pada kedua orang tuanya.
Tamano pun membuka matanya, dia terbangun dari mimpinya. Melihat ke sekelilingnya, tetapi itu masih dikamarnya.
Bayi Tomoe menangis hingga membangunkan Sang Ayah. Tamano mengendongnya agar dia berhenti menangis.
"Sepertinya dia telah tertidur lagi. " Tamano mengangguk. "Ya. "
***
Walau dia tidak berpendidikan dia sangat pandai menulis dan membaca dengan sendirinya, dia juga memiliki kemampuan yang tidak dimiliki manusia biasanya.
Namun, itu yang membuat dia menjadi sendirian. Sekarang usianya sepuluh tahun, ibunya telah pergi tiga tahun yang lalu ketika usianya tujuh tahun. Karena penyakit TBC.
Sejak itu ayahnya menjadikannya cenayang untuk menghasilkan uang, banyak yang datang padanya untuk meminta sesuatu dan banyak juga yang ketakutan bahkan dia tak memiliki satu pun teman. Itu membuatnya sangat frustasi.
"Tomoe! Tomoe! Dimana kau? " Tomoe yang mendengar suara ayahnya berlari ke arah hutan dan bersembunyi diantara semak-semak.
"Kembalilah! Kau tidak akan bisa bersembunyi dariku! "
Tiba-tiba, ada seekor laba-laba yang mendekatinya. Tomoe berteriak, melompat keluar sehingga dia ditemukan oleh ayahnya.
Hitsui yang menemukan putrinya, menarik Tomoe dan membawanya pulang. Di rumahnya telah banyak orang berkumpul.
"Ayah aku tidak mau melakukannya lagi. "
Ayahnya tidak mendengarkan kemauan Tomoe. Dia digiring ke sekumpulan orang. Dia dipaksa untuk melakukan apa yang disuruh Hitsui.
__ADS_1
Setelah semua selesai, bahkan ayahnya mabuk-mabukkan. Tomoe merasa kesal, dia belari ke arah mata air bulan. Saat baru tiba di muka gua, Tomoe melihat suatu kilasan balik.
Dia kembali ke rumahnya dan menceritakan semua itu kepada ayahnya, namun Hitsui menganggap itu khayalan Tomoe. "Hahahahaha, bicara apa kau? Jangan berkhayal! Kau tidak pernah mati, ibumu yang penyakitan dan mati. "
Tomoe kembali ke kamarnya, dia merenung hingga terlelap. Keesokannya, Hitsui menyuruh Tomoe menemui temannya. Namun Tomoe sangat terkejut, dia tiba-tiba dapat melihat apa yang akan terjadi padanya.
"Ayah apa kau akan menjualku? "
"Hm, dari mana kau... Ah, hahaha! "
Tomoe menatap Hitsui dengan tajam. "Kenapa kau melihatku seperti itu. Ayo cepat! "
Saat hampir muncul didepan pria itu, Tomoe melepaskan genggaman ayahnya. Hitsui terpelanting, membuat semua terkejut dan berlarian ke dalam.
Tomoe yang terkejut keluar dari jendela belakang, dan berlari ke mata air bulan. Sakamoto mendatangi Hitsui yang terbaring di tanah.
"Tuan, Hitsui? " Sakamoto memeriksa tubuh pria itu. "Dia mati. " Sakamoto memberi tahu warga desa.
Tomoe masuk ke gua itu. Dia melihat pemandangan indah didalam sana. Hingga saat itu, warga desa pun kehilangan mereka.
***
"Hmmm, hangatnya! " Tomoe melenturkan tubuhnya saat bangun tidur. Tomoe sekarang telah menjadi wanita yang sangat cantik, dengan kulit putih, rambut perak sedikit keunguan, dan mata yang memiliki dua warna berbeda.
Dia telah tinggal didalam gua mata air bulan selama seratus tahun. Namun, dia tidak pernah menua dan tidak pula mati.
Seekor burung pipit hinggap dibahunya. "Pee, kau sudah datang? Kalau begitu ayo kita ke kota!"
Tomoe memakai baju pria, memakai topi dan menutup wajahnya pergi bersama Pee ke kota. Dia memang akan kesana untuk menjual kayu bakar dan arang yang telah dia cari dihutan. Dengan itu dia pun dapat berbelanja.
Setelah bekerja biasanya Tomoe akan mengunjungi pasar dan juga tempat makan. Saat dia berada disebuah kedai, seseorang memberi segelas teh camomile padanya.
"Saya tidak memesan ini. "
"Ini pemberian tuan disana. " Seorang pria melambaikan tangan padanya. Padahal dia tidak mengetahui wajahku. Tomoe menundukan kepalanya.
"Terimakasih. " Pelayan itu pun pergi. Tanpa pikir panjang Tomoe yang haus segera meminum teh itu.
Namun, saat dia hendak pulang sesuatu terjadi. Dia merasa sangat mengantuk ketika dijalan hingga akhirnya dia tidak mengingat apapun.
__ADS_1