Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
87. Identitas Sebenarnya Dorman Daigo


__ADS_3

Visa bernamakan Dorman Daigo telah terferivikasi dan meluncur terbang bersama pesawat menuju kota Preston.


Dia bersantai dalam. pesawat hingga tiba di Ibu kota Inggris dan menaiki kereta ke kota Preston.


Dia memiliki misi untuk mencari esper baru. Tapi, tiga hari dia disana dia tidak menemukan siapapun.


Hingga dia tak sengaja bertabrakan dengan seorang anak lelaki berusia lima tahun saat sedang jalan-jalan .


Dia menyelamatkan anak itu dan mengantarnya pulang, tapi nahas kejadian tak mengenakan terjadi dirumah anak itu.


Sang ayah telah ditemukan tewas karena mabuk berat sehingga kepalanya terluka karena terjatuh ditambah sang anak yang sebatang kara itu terlihat sangat tidak terurus.


Setelah urusannya dengan polisi setempat selesai, dibantu dengan bantuan Izanami. "Kau akan apakan anak itu? "


"Aku akan mengurusnya hingga dia mandiri dan mendapatkan tempat. "


"Padahal lima bulan lagi kau akan menikah."


"Sepertinya akan diundur. " Dorman mengirimi calonnya seuntai surat permohonan maaf . Bukan sang pujaan hati yang marah, tetapi malah calon ayah mertuanya marah.


"Tenanglah ayah, jika dibiarkan anak itu akan kasihan."


"Padahal dia sudah mengangkat anak sebelumnya. "


Dorman membawa anak itu ke hotel tempatnya menginap. Dia akan memandikan anak itu dengan air hangat. Dorman terkejut ketika melihat sekujur tubuh anak itu penuh dengan luka lebam.


"Apa kau sering dipukuli? " Anak itu menunduk dan mengangguk.


Daigo memeluknya, lalu mengelus kepala anak itu. "Aku akan menjadi ayahmu mulai sekarang. Apa kau punya nama? "


Anak itu menggeleng.


Bahkan tidak diberikan sebuah nama.


"Bagaimana dengan wiles?"


"Wiles?"


"Kau menyukainya?" Dia mengannguk. "Mulai sekarang namamu Wiles. Wiles Dorman. "


Sejak saat itu, ayah dan anak itu berpergian bersama. Dorman mengajarkan putranya calistung dan juga berbagai ilmu bela diri dan menembak.


Wiles tumbuh menjadi anak yang jenius. Hingga diusia delapan tahunnya, dia harus berpisah dengan sang ayah karena ada seorang bangsawan yang ingin menjadikannya putra mereka.


Wiles sedih, tetapi karena Daigo berjanji akan menemuinya lagi setelah dia sedikit lebih dewasa. Wiles menjadi lebih terhibur.


Dia menatapi kado terakhir yang diberikan ayahnya dan rasa makanan pinggir jalan yang sebelumnya dia makan. Dorman menghadiahinya sebuah arloji tua sebagai kenang-kenangan.


Mereka berpelukan untuk terakhir kalinya sebelum berpisah. Daigo kembali ke jepang dan menikahi istrinya.


Dua tahun kemudian, tiga hari sebelum ulang tahun ke sepuluhnya. Wiles bersama kedua orangtuanya akan pergi ke sebuah panggung orchestra di Exeter, namun mereka mengalami kecelakaan yang menggulingkan mobil mereka.


Kedua bangsawan itu mati ditempat, sedangkan putra mereka menghilang. Kabar itu terdengar ke telinga Dorman Daigo. Dia mencari-cari keberadaan putranya itu hingga hari ini.


Ketika ia mengetahui anak itu menjadi salah satu dari kelompok *******, dan fakta bahwa para bangsawan itu menjadikannya pembunuh bayaran. Dia sangat frustasi dan kalut.


Wiles terbangun dihari ulang tahunnya disebuah tempat penelitian, didalam tabung manusia.


"Tangkap aku sekarang, Daigo Dorman. " Nabari tersenyum pada Kaoh.


"Naba. "


Nama yang jelek. Oya, anak itu. Sudah kau makamkan?

__ADS_1


Alat penangkap itu akan menembak Nabari, namun secara tiba-tiba...


"Hentika... "


FBUSH!


Eurasia yang menghalanginya tertembak dan mati seketika. "Asia. " Alat itu menembak untuk kedua kalinya kearah Nabari yang membeku.


Fubuki tersenyum kecil, dan merasa puas akan membunuh bocah itu.


"Hentikan! Hentikan! " Pinta Kaoh. Dia mendorong dan menembak Shunji, lalu merebut pengontrol alat itu.


Dia memberhentikan alatt iru dan berlari kearah Eurasia yang sudah terkapar. Kaoh memeluk putrinya sambil menangis ricuh.


Abu berterbangan disekitar mereka. Fubuki mendatangi Kaoh. "Kaoh. "


"Kenapa kau tidak menghentikannya?!"


"Mana tahu dia akan muncul! Lagipula alat itu sulit untuk dihentikan, kau lihatkan shunji telah berusaha mematikannya? "


"Kakak! " Arylin menyusul Lichita yang berlari kearah suami dan putrinya.


"Asia! " Lichita menjatukan tubuhnya didepan mereka. Dia mulai menangis.


Para medis berdatangan. Saat akan berjalan untuk ikut Eurasia. Lichita jatuh pingsan.


Abu itu berpindah kedalam sebuah gua yang memiliki mata air kecil. bocah itu melihat seluruh tubuhnya. "Sudah kuduga tubuhku akan bertindak sendiri. "


***


Telah tiga hari Lichita mengalami koma. Dua hari sebelumnya, saat dia dilarikan kerumah sakit.


Akhirnya Kaoh mengetahui penyakit Lichita. "Kenapa anda tidak memberitahuku selama jni?! " Araumi terdiam. Kaoh akhirnya tahu bahwa Lichita mengidap kanker paru-paru selama dua tahun terakhir. "Kenapa, ayah? "


Araumi memgang kedua pundak Kaoh dari depan dengan tubuh besarnya. "Ohkun, ini adalah permintaan Lita. Dia tidak mau kau dan anak-anak bersedih."


"Asia, bisa kau temani dulu ibumu? Aku mau keluar sebentar. "


"Baik, ayah. "


Kaoh telah mengabaikan seisi dunia, dia tidak mempedulikan apapun. Dia begitu depresi. Kaoh keluar dari gedung rumah sakit menuju belakang, menyalakan cerutunya.


Dia tidak menyadari bahwa ada yang telah membututi dan mengawasinya dari berbagai arah. Dia mengabaikan sekitarnya. Berhalusinasi.


***


Pria itu diam-diam mencari bocah itu, tetapi dia tak menemukannha dimanapun. Aoi memukul dinding disebelahnya. "Sial! "


Aoi kembali berjalan untuk mencari dan akhirnya dia bertemu dengan seorang pelayan. "Sebastian? "


Pelayan itu membungkukkan badannya. "Tuan Aoi, anda datang. " Aoi bingung dengan ucapan pria itu. Apa mereka mencariku?


"Kau mencariku? "


"Ya. Tuan muda menyuruh saya membawa anda. "


"Jadi dia masih hidup... Nabaku hidup? "


"Maaf, tapi yang saya maksud adalah Tuan Chovez. "


Nabari menurunkan wajahnya kedagunya. "Itu sih bukan tuan muda. "


"Anda mengatakan sesuatu? "

__ADS_1


"Tidak. Ayo kita temui dia saja!"


"Baik, Tuan."


***


"Katanya putrinya... "


"Iya, katanya begitu. "


Berita itu telah tersebar dengan cepat. Karena keadaan masih runyam dan Kaoh tidak dapat diandalkan saat ini, maka Izanami dan Araumi yang mengatur. Arylin membantu mereka menggantikan Kaoh dibantu Ikuta, Kyile, Miles dan Kurosoba.


"Apa anak-anak... "


"Kebanyakan dari mereka belum tahu. Aku sudah menyuruh mereka yang tahu untuk merahasiakannya. " Sahut Kyile kepada Arylin.


"Sebelum aku meneruskan ini, Yakuze kau ada dipihak mana? " Semua menoleh dan memandangi Ikuta dengan tatapan tajam dan sinis.


"Kau masih menganggapku sebagai anjing pemerintah? Ya, itu benar. Tetapi, salah jika mengira aku adalah suruhannya."


"Kau menyindir Fubuki? " Sela Miles. "Mirip itu. "


"Kalau begitu, kita harus segera membuat rencana untuk menemukan dia sebelum mereka. Dan, mencari tahu keberadaan yang lainnya. "


***


"Nabari! " Seorang pria tiba-tiba lari mendatanginya. Dia menarik baju Nabari hingga mencekiknya. "Kenapa kau membunuhnya? Kenapa! "


Nabari tetap bungkam dan hanya menatapnya. "Naba... "


GUKHB!


Yota terpental jauh kesamping. "Unghk! "


"Kau terlalu kasar, Yahiko-san. " Wanita itu datang menemuinya.


"Akhirnya ketemu. " Yahiko memegang dan menarik tangan kanan Nabari.


"Dia mengabaikanku. " Nabari menghela nafas pendek.


"Yahi... ko kau... "


Yahiko berteleportasi dan mengangkat tubuh Yota, lalu menamparnya hingga pingsan.


"Huwf, jahat sekali. "


Yahiko menggotong tubuh Yota dipunggungnya. "Awtatatsch!" Dia juga menjewer telinga Nabari.


"Yahiko-san? Yahiko-san... Ke... kenapa kau menjewerku? "


"Pembunuh lebih baik diam. Ayo kita pulang."


"Atattaa, Yahiko-san, ampun! "


***


"Bagaimana sekarang, tuan? Beritanya telah menyenar kemana-mana. "


"Tenanglah, aku sudah mengurusi itu. "


"Lalu, rencana kita? "


"Tetap berjalan. Perihal Kaoh, biarkan saja orang itu. Dia sudah tidak lagi berguna untuk kita. "

__ADS_1


Kaoh masih menunggu Lichita sadar dari komanya bersama putrinya, Eurasia.


Fubuki menggulung lengan bajunya. "Aku yakin dia tidak akan mati semudah itu. "


__ADS_2