
"Mereka tertangkap? "
"Begitulah. "
"Tapi, kenapa putra ki... Putraku menangkapnya juga? " Tora menggeleng. "Lalu? "
"Sepertinya kita harus melakukannya sendiri."
Di tempat yang jauh...
Nabari bangun dengan terengap-engap, dia tidak percaya dengan yang ada didalam mimpinya.
"Hei, Naba, kau tidak apa-apa? "
"Berhentilah membuatku yang baru bangun masuk kedalam mimpi lagi."
"Mau bagaimana lagi, untuk saat ini aku hanya dapat melakukan ini. "
Nabari membuang nafas. Dia pun memblokir paksa kekuatan itu, dan keluar dari sana. Terbangun, berdiri membalik ke arah Aoi yang ada di ruang kaca sebelahnya.
"Aku akan segera keluar dari sini. "
***
Peti itu masuk tertutupi tanah, isak tangis mewarnai acara ini. Semua kepala menunduk. Dua menjadi satu. Dia pergi untuk selamanya.
Waktu sarapan telah tiba, makanan datang secara cuma-cuma. Mereka mengirimkannya dengan teleportasi yang dipadukan dengan telekinesis.
"Maaf, aku tidak akan membagikannya padamu. "
"Roh itu tidak makan. "
Saat Nabari dan Roh Aoi sedang bercanda gurau, mereka mendengar langkah tiga kaki seperti mengetuk lantai. Aoi segera membatalkan kemampuannya. Mungkin akan terasa. Batin Nabari.
Lelaki itu berhenti tepat dihadapan Nabari yang sedang menguyah makanannya. "Maaf, tapi aku harus menghilangkan kesedapan makanmu. Dia sudah dimakamkan. "
Nabari hanya terdiam dengan sisa makanan di rahang kirinya. Nabari melanjutkan pekerjaannya. "Enak! " Kuchisawa tersenyum kecil. "Aku tidak bisa menghentikanmu. "
"Bagaimana dengannya? "
"Dia membeku. "
Nabari telah menghabiskan sarapannya yang datang terlambat. Setelah dia menghabiskan minumannya juga, dia menghadap Kuchisawa.
"Mae. "
"Uhm? "
"Aku akan membunuhmu. "
***
"Apa dia merengek terus? " Kaoh yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Tidak. Baru saja Kuchisawa pergi setelah menemuinya. "
"Maeta-kun? "
Kyile mengangguk. "Sepertinya dia memberitahu perihal itu. Kalau begitu aku harus pergi ke kelas, Arylin telah menggantikanku. "
"Hmm. " Kaoh yang masih sibuk dengan pekerjaan kantornya. Kyile keluar meninggalkannya.
Selamat tinggal kakak. Nabari tertidur dalam pengawasan Arylin lewat cctv. Terlihat Maname dan Mile datang untuk memeriksa keadaan Aoi yang masih dalam keadaan koma.
Bersama Shiroi dan beberapa bawahannya. "Mereka sudah datang. " Arylin menyantap beberapa makanan ringan yang ada disebelah monitor.
"Tekanan darahnya sudah normal." Celetus Maname.
Mile terdiam menatap Aoi. "Mile-san?"
__ADS_1
"Aoi, jangan berpura-pura lagi. " Maname ikut menoleh.
"Dia memang koma. " Mereka menoleh ke arah Nabari. "Rohnya tidak bisa masuk. "
"Apa maksudmu?"
"Yang bisa mengenskripsinya hanyalah ketua klan, Hitsuziaki Orcha. "
"Maksudmu, kekuatannya tidak dapat dikendalikan? "
"Sepertinya mereka memakai alat esper yang dapat menyedot energi psikis dari tubuh seseorang, karena itu gagal itu membuat kedua belah pihak menjadi tak terkendali meski mereka mati sekalipun energinya masih tetap ada. "
"Maksudmu seperti hantu gentayangan?" Nabari mengangguk.
"Kenapa kau mengetahuinya? " Tanya Shiroi dengan tegas. Kurasa dia masih kesal. Yah, itu jelas.
"Orang itu memberitahu aku. " Dia menunjuk Aoi. "Akus sudah bosan dia membuatku tertidur untuk bermimpi tentangnya. "
Mile menahan tawa. "Sensei. "
"Maaf. Jadi begitu ya, aku akan laporkan pada Pak Kepala. Maname, bereskan sisanya. "
"Baik. "
"Reitsu, antarkan dokter Maname. "
"Baik, pa! "
"Nah, sekarang mari kita bicara, Nabari. "
Mile bersama Reitsu datang ke kantor Kaoh dan menceritakan semua yang dikatakan Nabari padanya. "Uhm, ini akan sulit. "
Tiba-tiba suara seorang wanita menyela pembicaraannya. "Biar aku saja. " Arylin tengah berada dilawang jendela.
"Sudah kubilang lewat pintu.. "
***
"Apa yang sedang kau la... tidak, kemana saja kau selama ini?" Shiroi berdiri tepat diantara pembatas mereka.
"Paman mencurigaku? "
"Bukan be... tapi... "
"Aku dibawa Aoi, tapi dia tiba-tiba meninggalkanku jadi aku mencarinya. Saat sampai disana itu telah terjadi. Kenapa kakakku memberi perintah sampai ke negara lain, tidak biasanya? "
"Ini karena kau sudah lama menghilang. Uhm, tapi benarkah kau... " Shiroi melihat bocah itu memiringkan wajahnya. "Itu suruhan intel pemerintah."
"Jadi Fubuki dan Yakuze dibalik itu? "
"Tidak, bukan. Sudah beberapa lama ini kita telah diketahui orang-orang karena... " Shiroi menceritakan semua kejadian tentang esper, warga sipil, pemerintah dan alat esper, juga dicurigainya sekelompok organisasi tersembunyi.
"Esper penyerang telah ditangkap dibawah pengawasan mereka. Beberapa orang yang memakai alat esper juga telah ditangkap, tapi pengedarnya.. "
"Aku mengerti. " Pembicaraannya terhenti, karena Nabari seketika merasa sesak setelah mendengar suara seorang wanita yang berbisik padanya. Matanya mengitari semua tempat disekelilingnya.
"Ada apa, Nabari? "
"Aku mendengar suara wanita. Apa kakakku ada disini atau bibi Iza... " Nabari terjatuh sembari memegang kepalanya.
"Nabari?!"
Dia merasa sangat sakit dibagian kepalanya bahkan Aoi yang melihat tidak dapat membawa Nabari kedunianya.
Aoi pun membawa Shiroi. Shiroi awalnya kebingungan, namun setelah dia melihat Aoi dihadapannya ia pun mengerti.
"Shiroi."
"Aoi. "
__ADS_1
"Kau tidak pernah berubah, selalu tidak sopan. Aku tidak bisa membawanya, seperti ada yang menghalangiku. "
"Maksudmu, ada yang merasukinya? " Aoi mengangguk. "Jadi bantu aku. "
Disisi lain, Arylin yang telah digantikan Mile pun pergi ke kediaman Keluarga besar. Dia menemui Orcha yang sedang bersantai meracik teh kesukaanya.
"Kau datang. "
Arylin menurunkan tubuhnya, duduk memberi hormat. "Kakek, paman Aoi... "
***
DBR!
Aoi dan Shiroi terpental. Kekuatan chaotikinesisnya tidak berhasil meski telah dipadukan dengan oneirokinesis milik Aoi.
"Kekuatan macam apa itu."
Sirine berbunyi, tanda keamanan teloh dibobol. "Dia menghilang? "
"Kau sudah jadi polisi, tapi tetep bodoh. "
"Apa? Jadi dia kabur! "
"Kalau seperti itu, dia akan melakukannya sejak awal. "
"Aku keluar... "
"Sstt! Ada yang datang. " Aoi bersembunyi dibalik bayang-bayang. Shiroi membenarkan pakaiannya.
"Baru datang, ada kekacauan. " Shiroi membungkuk memberi salam, lalu menyuruh bawahannya yang berada diluar untuk bersiaga.
"Jadi, Aoi didalam sana? "
"Iya. " Kaoh datang dengan cepat. "Saya akan membukakannya. "
"Aoi, jangan pura-pura bersembunyi. " Aoi pun membawa ayahnya masuk kedunianya. "Masih benci badut. "
"Bukan benci, tapi suka. "
"Hm. "
"Mohon bantuanmu. " Qoi membungkukkan badannya.
Orcha mulai melakukan enskripsi pada tubuh Aoi untuk menyatukan rohnya dengan tubuhnya kembali.
Sementara itu, Arylin pamit untuk mengejar Nabari setelah mendengar penjelasan dari Shiroi. "Seperti dirasuki oleh sesuatu yang kuat. " Firasat mereka menjadi buruk.
Arylin terburu-buru untuk pergi mengejarnya. Kaoh bersama Shiroi tetap berada disisi Orcha.
"Nabari. " Tiba-tiba ada seseorang yang mencegat Arylin ditengah perjalanan.
"Aku akan ikut denganmu. "
"Yakuze. "
***
Han shuji menyeringai bangga, bahwa penemuannya berhasil dengan sempurna kali ini. "Anda sungguh hebat! " Shuji bertepuk tangan.
Pria itu membereskan tubuhnya dan pakaiannya. "Bersihkan. "
"Baik, tuan. "
Shuji melirik ke sisa-sisa potongan tubuh Sasaki yang telah mati. Tubuhnya tercabik-cabik pecah setelah kekuatannya diserap secara keseluruhan.
"Luar biasa." Gumamnya. "Cepat bereskan! Aku harus pergi ke suatu tempat."
"Baik, sensei. "
__ADS_1