Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
84. Kisah Kelam Anak Malang


__ADS_3

"Dasar pembunuh! " Tangan itu terus memukuli anak malang itu hingga sekujur tubuhnya lebam dan membengkak.


"Gara-gara dirimu... Gara-gara kau Erika mati. Heueheueheu.. " Pria itu terus menangis sambil menyiksa anak semata wayangnya.


"Jika kau tidak lahir, dia akan hidup! " Anak itu menahan sesaknya kehidupan. Dia merasa kosong dan ingin menghilang.


Waktu terus berulang, ayah anak itu terus menyalahkannya atas kematian istrinya. Ibu dari sang anak. Dia terus memukul anak itu hingga suatu saat dia tak sengaja menghindari pukulan ayahnya, membuat ayahnya yang sedang mabuk itu oleng dan menumpahkan sisa-sisa minumannya.


Pria itu bangkit berjalan, lalu dia terpeleset hingga memecahkan botol yang ia pegang. Tubuhnya tersungkur dan tengkurap dilantai.


Anak itu melihat cairan merah itu melebar kebagian kakinya. Dia mendekati ayahnya, lalu mencolek dan menggoyang-goyangkan tubuh ayahnya. Namun pria itu tidak pernah bangun. "Dia mabuk. " Gumam anak itu.


Tiga hari, lima hari, tujuh hari hingga sepuluh hari dia menunggu ayahnya bangun. Namun, ayahnya malah bau berbau busuk. "Ayah, mandi sana. " Suruh anak itu.


Dia tak mengerti akan kematian. Hingga dia mengetahui bahwa pintu tak terkunci. Anak berusia lima tahun itu keluar untuk pertama kalinya.


Dia memberanikan diri untuk keluar. Anak itu menoleh memeriksa ayahnya. "Masih tidur. " Dia pun keluar. Betapa senangnya dia, matanya berbinar dan membulat besar.


Langit biru, awan putih, rumout dan pohon yang hijau dengan benda berwarna-warni lainnya. Anak itu berjalan dan berlari riang.


Orang-orang melihatnya sinis dan menutup wajah mereka kepada anak yang tak terurus itu. Anak itu melupakan misi awalnya. Hingga seorang pria bertopi mendekatinya.


"Kau sendirian? "


Anak itu menggelengkan kepalanya. "Ayah tidur dirumah. " Lelaki itu mencium bau busuk dari tubuh anak itu.


"Boleh aku bertemu dengannya. " Dengan ragu anak itu mengizinkan. Anak itu memiliki ingatan yang tajam untuk anak seusianya yang mungkin akan tersesat dan tak tahu jalan pulang, namun ini berbeda.


Anak itu menggandeng tangan si pria dan menggiringnya ke rumahnya. Disana sudah banyak orang berkumpul karena mencium bau busuk.


"Permisi, ada apa? "


"Anda siapa? "


"Aku mengantarkan anak ini pulang, katanya ini rumahnya. "


"Pemilik rumah ini mati. "


Mendengar kata itu, bocah itu berlari kearah tetanggannya itu. "Mati? "


"Ya. Apa ayahmu sudah begitu sejak lama? "


Tidak menjawab pertanyaan itu, dia masuk dengan mata yang berair. Dia menangis menggoyang-goyangkan tubuh ayahnya sambil memanngil namanya.


Polisi datang, namun anak itu tidak mau berpisah. Dia tidak menuruti siapapun hingga pria topi itu datang dan menggendongnya.


"Dia tidak akan bangun lagi. Jadi, mulai sekarang aku yang akan jadi ayahmu. " Anak itu berhenti menangis.


Setelah orang-orang membawa jasad itu. Sang pria bertopi membawa anak itu ke hotelnya. Dia membersihkan tubuh anak itu dan tertegun dengan seluruh luka lebam disekujur tubuhnya.


"Pria itu yang melakukannya? "


"Pria? Ayah? "


"Akulah ayahmu. Pria itu hanya pria yang menyiksamukan? "

__ADS_1


"Dia penculik? " Pria itu mengiyakan. Anak itu memeluknya. "Aku senang ketemu ayah lagi. "


"Namaku Daigo, kau ingat? "


"Daigo. "


"Uhm, kau ingat namamu? " Dia menggeleng.


"Namamu adalah Wiles. Wiles Dorman. "


Anak itu tersenyum lebar. Daigo mengajarkan anak itu baca tulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Dia juga mengajarkan berbagai bela diri, menembak, hingga membunuh.


Mengajarkannya menjadi seorang mata-mata dan pembunuh bayaran. Menjelaskan padanya jika kekuatan, kekuasan dan uang adalah segalanya.


Saat dihari ulang tahun ke sepuluhnya, Wiles terbangun didalam sebuah tabung berair. Dia melihat banyak sekali orang yang memakai jas putih.


sebelum dia menjadi bahan penelitian, dia sudah banyak membunuh sebagai pembunuh bayaran rahasia serta mata-mata yang sangat muda.


Ketika pria bernama Daigo itu menghilang dia bekerja sana-sini menawarkan dirinya. Hingga dia dibuat tidak sadarkan diri oleh seseorang dan terbangun didalam tabung.


Selama dua tahun dia terus terbangun dan tidur didalam sana. Suatu hari, dia mendengar banyak sekali keributan dan pertarungan yang membuat darahnya bergejolak.


Dia membuka matanya, mendapatkan dirinya telah bebas dipelukan seorang anak laki-laki.


***


"24x27... sama den.. ngan. "


"Delapan puluh lima! " Seru Wiles.


"Salah. " Nabari membuat anak itu mengingat masa lalu kelamnya hingga mentalnya kesakitan.


"dua. "


"Salah. "


"Penemu listrik. "


"Einstein. "


"Salah. "


Mental Wiles semakin kacau. Kenapa dia menjawab dengan salah terus? Lawliet terbelalak melihat anak itu yang begitu tersiksa.


"Sia... pa yang menjadi ra... ja. "


"Ku... chi... sawa... Ken..." Lawliet terbelalak, dia tak dapat bernafas melihat darah yang menciprat ke wajahnya.


Wiles dengan senyuman lebarnya menggelinding terpisah dari tubuhnya.


Nabari teringat kata-kata terakhir anak itu. "Terimakasih ayah, kakak. "


"Kenapa kau?! " Nabari melirik tajam. "Sekarang giliranmu." Lawliet berusaha untuk melepaskan diri.


Darah itu masih terus memancurkan merahnya. "Dasar monster. " Nabari tersenyum kecil.

__ADS_1


***


"Wiles, kau mau hadiah apa hari ini? "


"Hadiah lagi? Ayah, kau terlalu bolos. " Daigo tertawa renyah. "Nilai sekolahmu tinggi bukan? Matematika itu sulit lho, apalagi kau masih tujuh tahun.."


"Aku... "


"Hmm? "


"Aku... ingin makan makanan pinggir jalan. "


"Itu saja? "


"Ya. "


***


Nabari memutar ulang sebuah video didalam kepala Lawliet. "Kau fikir akan berdampak padaku? Ini hanyalah masa lalu. "


"Jika tidak ada masa lalu, kau tidak akan ada. Nah, katakan padaku siapa Dorman Daigo... tidak Asazaki Daigo, apa dia masih hidup? "


Nabari mengingat pertemuan pertamanya saat dia menghancurkan sebuah tempat penelitian manusia ilegal di Preston.


Salah satu anak yang selamat dan menjadi esper adalah seorang anak lelaki berambut hitam yang membuka matanya dan langsung tersenyum padanya.


"Hei, kau baik-baik saja? "


"kakak, can..tik se... kali. "


"Aku laki-laki, bodoh! " Anak itu terkekeh. "Berisik sekali. "


Nabari mengangkat tubuhnya dan membawa anak itu ke tempatnya. Memberinya makanan yang ia sukai.


"Waaa, enak sekali! Jadi ini makanan jepang? Kenapa ayah tidak pernah membelikanku?! "


"Ayah? "


Wiles menghentikan makannya. "Sebenarnya, dia ayah angkatku.. " Bocah itu menceritakan kisah masa lalunya pada Nabari.


"Aneh ya, padahal kita baru kenal dan bertemu. Maaf ya, membuat suasananya jadi muram. " Nabari mengelus dan mengacak-ngacak rambut hitam itu.


"Jangan meminta maaf, tapi bilang terimakasih. "


Wiles mengangkat wajahnya, memandangi sisi wajah Nabari yang sempurna. "Terimakasih telah menyelematkanku, kakak. " Nabari membalas senyuman itu.


"Aku mau keluar dulu bentar, kalau ada apa-apa telepon saja pake ponsel itu. " Nabari menunjuk ponsel yang tergeletak diatas meja disebelah ranjang Wiles.


"Makanan juga masih banyak, makan saja kalau masih lapar. "


Saat Nabari akan keluar untuk pergi. "Kakak. "


"Uhm. "


"Kalau aku ingat-ingat, kalian mirip. Kau dan ayahku. Uhm... Kalau tidak salah dia keturunan jepang. "

__ADS_1


"Gitu ya. "


Nabari menahan tangisannya. "Kakak, mohon kabulkan sekarang. " Dia mencengkeram kedua tangannya.


__ADS_2