Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
11. Masa Lalu Kelam Radio Dan Musik


__ADS_3

Tars yang terbangun bersama South merasakan tekanan yang sangat kuat, membuat mereka menjadi putus asa dan depresi. Mereka melihat sekilas masa lalu mereka yang kelam. Itu muncul dari hati yang lemah. Kata Totsuki dalam hatinya.


Ichi yang berada diruangan lain masih bertarung dengan Abyss. Mereka saling mengadu angin mereka. "Kekuatanmu sangat tajam, itu mengagumkan!" Puji Ichi. Abyss tertawa masam.


"Terimakasih. Tapi aku tidak perlu pujianmu! " Abyss melemparkan shuriken, ujung tombak, anak panah, dan benda tajam lainnya yang sangat banyak yang dia buat dari anginnya.


Abyss mengarahkan semua itu ke Ichi, tapi tidak ada satu pun yang dapat menjangkaunya. Karena baru saja setengah langkah semua yang dibuat Abyss lenyap. Dia mengigit gerahamnya. Nafsunya sudah memuncak, kepalanya telah terbakar. Kini dia menyerang dengan membabi buta.


Hingga dia tidak menyadari jika Ichi telah menggengam kepalannya, dan berbisik. "Kau tahu, aku dapat menyerap udara apapun jadi anginku termasuk kekuatanmu. "


Urat nadi Abyss mengeras. "Jangan bercanda! " Dia berusaha memukul Ichi namun Ichi berhasil menghalaunya, dan memelintir lengan Abyss hingga dia berteriak kesakitan. "Argh! " Lalu melemparnya mundur.


Ketika Abyss akan membalas Ichi dengan satu tangan yang tersisa, betapa terkejutnya dia bahwa kekuatannya menghilang. Apa? Dia terkejut hingga ke batinnya.


"Sudah ku bilang aku dapat menyerap kekuatanmu, bukan tapi mengambilnya paksa darimu. "


"Tidak mungkin! " Abyss menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Mentalnya telah membuat tubuhnya kosong. "Kekuatanku? Tidak! " Abyss meringkuk dan menangis. Ichi meninggalkannya sendirian. Dia kembali ke dalam dan melihat suasana pertarungan Totsuki dan Yui bersama musuhnya.


Dia menghiraukannya dan hanya pergi ke tempat Kuchisawa yang sudah setengah sadar. "Mae, ayo kita pulang."


"Ich-chi. " Kuchisawa tidak sadarkan diri. Ichi membawa Kuchisawa di punggungnya, dan pergi dari pertarungan itu.


Tekanan yang diberikan Totsuki masih terasa bahkan hingga ke tempat Karazaki. Ini? Karazaki yang mengetahui siapa itu menyeringai. Dia kini sedang mencari Totsuka yang kembali bersembunyi. "Dimana kau? Heuheheu."


Yui masih memulihkan dirinya. Amour terlihat terjatuh ke tanah dengan tatapan kosong. Sementara itu Sukumori masih bisa berhadapan dengan Totsuki. "Ternyata kau kuat mental juga. " Totsuki tersenyum kecil. "Heu! Mainan anak kecil seperti itu tidak mempan padaku. "


"Kau tidak punya kesedihan ataupun penyesalan. Kau tidak memiliki amarah yang kuat. "


"Heu! Aku tidak peduli semacam itu. Yang penting aku memiliki kekuatan,maka aku dapat menjadi penguasa!"


Totsuki tertawa mendengar itu. "Miyamoto, aku boleh menghabisinya kan? " Yui masih mencoba menyembuhkan luka-lukanya, dia sedikit bisa menggunakan kekuatan pemulihan.


"Jangan sampai mati, Kepala batu!"


Wajah Totsuki berubah muram, dia menggembungkan kedua pipinya. "Tidak seru sama sekali! "


"Ini perintah! Kau mau di hukum Pak kepala! "


"Haah, aku tidak peduli padanya. Sungguh membosankan! "


"Lalu bagaimana dengan Nona Lichita dan Eurasiachan, mereka bisa kecewa padamu nanti. " Yui menyempitkan matanya. Dalam batinnya dia terkekeh puas.


Totsuki mematung, lalu mengangkat sebelah tangannya. "Baiklah. "


BRAG!

__ADS_1


Totsuki memukul wajah Sukumori hingga terlempar mundur. Aku tidak menyadari pergerakannya! Sukumori terbelalak, wajahnya membengkak dan hidungnya berdarah. Dia menutup wajahnya, lalu mengusap darah yang keluar dari hidungnya.


Sukumori menatap sinis Totsuki yang tanpa ekspresi apapun, dan hanya bergumam. "Nona Lichita! Neng Eurasia! " Itu membuat Sukumori jengkel. Tanpa basa basi dia berteleportasi untuk menyerang Totsuki, namun yang terjadi adalah dia malah menyerang dirinya sendiri.


Disisi lain, Yui masih menggoda Totsuki. "Kau pasti membayangkan wajah mereka yang kecewa padamu, apa yang akan mereka katakan jika kau menjadi seorang pembunuh?" Totsuki yang mendengarnya mulai mengeluarkan air mata dari kedua matanya.


Totsuki mulai memanas, tubuhnya menguap terbakar membayangkan apa yang dikatakan Yui. "Tidak! Tidak! " Dia mengacak-ngacak rambut keritingnya.


Apa yang sebenarnya mereka bicarakan! Amour, juga masih belum pulih. Heu, ini kesempatanku! Sukumori menyeringai. Dia mulai maju ke arah Yui untuk menyerangnya. Tapi, lagi-lagi dia menyerang dirinya sendiri.


Amour masih kehilangan kesadarannya, dia masuk jauh ke dalam alam bawah sadarnya. Tubuhnya membeku lemas gemetaran, mengingat masa lalunya.


Sukumori mulai kewalahan karena dia terus mnyakiti dirinya sendiri, walaupun dia berdiam diri tetapi tekanan mental yang walau tidak memengaruhi dirinya masih dapat membuatnya ingin tidak sadarkan diri. Namun dia berusaha menguatkannya, dia sekarang begitu kesal karena seorang bocah dapat membuatnya seperti ini.


"Amour, amour, sadarlah! Tars, South! " Mereka tidak mendengarku, mereka benar-benar menghilang! Sukumori yang mulai panik.


Totsuki menghadapkan tubuhnya ke hadapan Sukumori. "Tidak ada manusia yang tidak memiliki kesedihan, ketakutan, penyesalan dan juga kemarahan. " Totsuki berjalan lunglai ke arah Sukumori. "Bahkan nafsu bisa memakanmu. " Sukumori tidak dapat menggerakan tubuhnya, dia terkejut karena Totsuki sudah berada tepat di belakangnya. "Kau? "


"Kau membosankan. " Tubuh Sukumori merinding. Totsuki berada tepat menempel ke telinga kirinya. Refleks dia berteriak. "Amour! " Itu menyadarkan Amour, namun terlambat. Totsuki memeras wajah Sukumori dan menyeret tubuhnya jauh ke belakang. "Tuan, Gkh!" Tubuh Amour masih terasa sakit.


Amour tercengang melihat tuannya di hajar habis-habisan oleh Totsuki. "Kekuatan macam apa itu? " Amour merasa kesal karena tidak dapat menggerakan kakinya untuk menyelamatkan Sukumori.


"Sekarang ini, kepanikanya telah dimakan oleh Totsuki. " Celetuk Yui.


Totsuki memukul beruntun tubuh Sukumori hingga dia di ambang batas.


Amour yang melihat itu seketika bangkit dan menyerang Totsuki sengan kekuatannya. Dia memainkan biola tubuhnya, menyerang dengan melodi-melodi kesedihan miliknya.


Lagu itu? Amour berhasil menghentikan Totsuki, tapi bukan melukainya hanya membuatnya teringat akan lagu yang pernah dia dengar.


Totsuki membuang tubuh Sukumori ke lantai, lalu berbalik menghampiri Amour yang ada di belakangnya. Amour terus memainkan lagu itu. "Kenapa dia tidak terluka sedikit pun?! " Amour yang semakin panik apalagi Totsuki telah mendekatinya.


"Kau mengetahuinya dari mana? " Totsuki menghentikan langkahnya. Yui menghela nafas lega.


"Ehh? " Amour mengangkat sebelah alisnya. "Kutanya dari mana kau mengetahui lagu itu?! " Tekanan dari Totsuki semakin kuat membuat Amour makin ketakutan. "Kalau tidak menjawab, aku akan membunuhnya." Totsuki menunjuk ke arah Sukumori yang sudah tergeletak tak sadarkan diri.


Yui menepuk punggung Totsuki menyadarkannya. "Itu lagu Nina bobo, semua orang juga tau. Kau tidak mengetahuinya? " Totsuki menunduk. Yui menertawakannya.


BUK!


Totsuki memukul perut Yui. "Sakit, sialan! " Totsuki tidak menghiraukan Yui yang protes padanya. Amour melihat kesempatan dan menyerang mereka, tapi senar di tubuhnya dan bow di tangannya hancur. Dia mengangkat wajahnya, ada dua tatapan sinis mengarah padanya.


"Aku mau tidur. " Totsuki memukul punggung Yui hingga terlempar maju. "Ehh? Gara-gara lagu Nina bobo kau mengantuk? " Totsuki menguap. Yui merasa kesal. "Dasar kepala kopong! " Totsuki tertidur di lantai. "Ehh, malah tidur! " Yui menghela nafas. "Ya sudahlah. "


Amour yang terlihat masih kesakitan, bangkit untuk melawan Yui. "Kalian senang?!" Teriak Amour. "Hmm? "

__ADS_1


"Kalian membuat kami terluka, bahkan membunuh salah satu rekan kami! "


"Bukankah kalian yang duluan menyerang kami dan murid-murid lainnya? Kalian tidak tahu malu menyerang anak-anak seperti itu. " Amour mengigit gusinya. Dia membuat gitar dari perutnya, memainkannya dengan nada sangat tinggi hingga membuat Totsuki yang lagi tidur tidak tahan untuk menutup telinganya.


Lalu, Yui membalasnya dengan mengeluarkan gelombang radio aktifnya. Seisi ruangan riuh dengan bunyi dan gelombang. Benda-benda didalamnya porak poranda.


"Berisik!" Totsuki menyumpal kedua telinganya dan kembali tidur.


"Tidak usah hiraukan dia. Kita bertarung saja! " Yui menjetikkan jarinya memperkuat gelombang di sekitar mereka. Amour tidak dapat menahan pijakannya hingga dia terlempar jauh ke belakang hingga menyentuh dinding, dimana posisi Tars tidak sadarkan diri berada.


Amour telah banyak terluka. Yui menghampirinya yang terduduk lemas. "Dia sangat berharga.. Dia sudah seperti ayahku! itulah tuanku bagiku. " Celetuk Amour.


"Hmm?"


"Kau, kau tidak akan mengetahui bagaimana rasanya hidup menjadi diriku! " Yui hanya menatapnya dingin. "Saat kecil aku di buang orang tuaku, dan aku bertemu dengan tuan Sukumori. Dia membesarkanku, dan dia menerimaku. Kau, kau tidak akan lernah mengalami kesusahan hidup sepertiku! " Amour menangis lirih.


"Kau, Kalian semua jahat! "


"Kau masih anak-anak seperti kami kan? " Amour menatapnya sinis, dan hanya menangis. Dia kemudian mengusap air matanya. "Cepat bunuhlah aku! "


"Kenapa aku harus membunuhmu? "


"Cepat! Lagipula kalian telah membunuh sebelumnya kan? "


"Jangan salah paham! Kami disini tidak membunuh siapapun, lagipula orang yang disana itu masih belum mati. " Apa?


"Aku tidak tahu kenapa kau begitu. Tapi yang harus kau tahu bahwa bukan hangmya hidupmu saja yang menderita, banyak orang yang hidupnya mungkin lebih menderita dari pada kami. "


****


Enam belas tahun yang lalu, lahir seorang bayi laki-laki yang sangat putih dengan rambut coklat terang. Orang tuanya sangatlah bahagia hingga sebelas tahun yang lalu tiba, saat usianya beranjak lima tahun.


Anak itu tidak dapat mendekati siapapin termasuk orang tuanya. Dia mengosongkan kamarnya yang terpisah dari orang tuanya vahkan tanpa penerangan sedikit pun. Jika dia mendekat ke semua alat elektronik, semuanya akan rusak dan itu membuat kedua orangtuanya yang hidup miskin kesusahan.


Akhirnya orang tuanya berencana untuk membuangnya atau menjualnya jika perlu, agar mereka menghasilkan uang. Mendengar desas desus itu, suatu hari seorang pria misterius datang ke rumah mereka. Menawarkan uang yang banyak dan perhiasan mahal kepada orang tuanya untuk menyerahkan anak mereka kepadanya.


Awalnya pria itu hanya berniat menguji si orangtua karena tidak percaya dengan isu, namun penilaianya berubah. Dia merasa kasihan pada anak itu dan membawanya.


Mereka hidup berkelana selama dua tahun, itu membuat anak itu menjadi lebih hidup. Anak itu bernama Asaumi Yui, namun pria itu menggantinya dengan Miyamoto Yui sebagaimana namanya sebagai ayahnya Miyamoto Rin. Tetapi saat usianya tujuh tahun, Rin menitipkannya pada keluarga Araumi untuk dibesarkan.


"Itulah ceritaku. Hingga hari ini orang bernama Miyamoto Rin itu tidak pernah ditemukan, dia seperti hilang di telan bumi."


Amour yang mendengarnya hanya diam menunduk. "Totsuki, bangunlah! " Totsuki membuka matanya dan melepas sumpalan telinganya. "Sudah selesai? "


"Ya." Mereka pin meninggalkan kelompok Sukumori disana. "Kalian mau kemana? Kenapa kalian membiarkan kami?" Yui menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Tugas kami sampai sini, urusan kalian urusan mereka. " Yui dan Totsuki pergi meninggalkan tempat itu.


"Apa? Siapa yang kalian maksud? Hei, Aw! " Amour masih kesakitan.


__ADS_2