
"Pergilah! " Aoi menyuruh Nabari yang sangat kelelahan itu untuk pergi, dia membantunya untuk menahan lawan.
Empat puluh lima menit sebelumnya, Sasaki datang menemui Nabari yang tidak hanya untuk sekedar menyapa saja. Mereka bertarung dengan gesit. Mereka selalu imbang, namun yang dikesalkan adalah fakta bahwa Sasaki dapat bergenerasi dengan cepat.
Waktu telah bergulir dengan lama. Nabari mulai kelelahan, itu karena perutnya telah tertusuk tanpa sepengetahuan lawan sebelumnya. Jadi itu mengenainya.
Ada yang menangkal serangan Sasaki dengan cepat. Pria itu adalah Aoi. "Pergilah, Naba! "
"Tap... "
"Pergilah! " Nabari pun pergi dengan telerportasinya.
Sasaki menyeringai. "Hitsuziaki Aoi. "
"Kau mengenalku? Uhm, tapi aku tidak." Aoi menjetikkan jarinya. Dia membawa Sasaki kedunia mimpi.
***
Nabari hanya dapat berteleportasi ke dalam rumah Kaoh saja, namun dia merasa sedikit lega setelah melihat sang ayah Araumi baik-baik saja.
Dia tersenyum dalam sakitnya, nafasnya semakin tidak karuan. Darahnya terus keluar.
Saat Nabari bertahan selama lima belas menit, akhirnya dia mulai tidak sadarkan diri dengan diakhiri dengan namanya sendiri.
Pertarungan didunia mimpi antara Aoi dengan Sasaki berlanjut. Sasaki masuk kedalam mimpinya dan melihat orang-orang yang dia kenal dahulu.
Sialan, mengapa dia mengetahui ini? Dalam batinnya. Sasaki melihat masa kecilnya yang terus dipukuli oleh ayahnya karena dia menyalahkan Sasaki yang membuat ibunya mati ketika ia lahir.
"Mengapa, kau harus hidup?" Saat itu Sasaki adalah bocah lemah, namun ia ingat kalau sekarang dia...
"Ergh! " Bocah itu berubah menjadi sadis menusuk pria separuh baya itu. "Kau fikir aku ingin terlahir? "
Sasaki keluar dari rumah itu, kini ia menjadi seorang remaja. Dia mencuri banyak makanan dan juga uang, sehingga dia banyak dipukuli.
Fatamorgana itu pun hanya sementara untuknya, Sasaki membunuh semua orang yang memukulinya dan di akhir dia terlempar ke sebuah tempat yang tidak asing baginya.
Itu saat dia menusuk sang raja dan mengakhiri hidupnya saat ia tersadar agar terbebas dari kekuatan Aoi. Tapi, dia malah ada ditengah-tengah pertarungannya dengan sang ratu.
Dia berhasil mengalahkan ratu seperti lima ratus tahun yang lalu, dan ia ingat dengan sang putri yang akan menyegelnya menggantikan ibunya.
Sasaki bersiap untuk menyerang sang putri, namun dia amat terkejut melihat sang putri yang telah berlumuran darah dan mati. Dia pun baru menyadari jika ada tangan yang menembus jantungnya.
Sasaki menoleh kebelakang, hanya satu tangan yang melayang seperti hantu. Karavan itu muncul memainkan musiknya. Para badut menari kegirangan.
Tch! Sasaki mendesis. Dia menarik tangan itu membuat jantungnya terlepas. Aoi sedikit terlempar dari sana. "Dia bunuh diri? Tidak, dia... " Aoi melihat ke sekelilingnya, tidak ada Sasaki dimanapun. Ia kabur. "Tapi dia pasti terluka. "
Aoi berdiri dan teringat akan keponakannya, dia berpindag ke tempat Nabari dan memanggil namanya. Tetapi, Nabari tidak sadarkan diri.
Aoi membawa Nabari ke sebuah rumah sakit kecil di sebuah desa, tempat wanita itu berada. Disana Haruko baru saja datang dan memberitahu para tetua dan kepala desa perihal hasil autopsi.
Mereka pun sedang bersiap dengan kedatangan para korban di keesokan hari nanti. Mereka bersiap untuk acara pemakaman para korban itu.
Aoi berteriak. "Dimana Haruko? "
"Hei, siapa kau? Jangan berteriak di... "
"Panggil Asakami Haruko. " Tatapan itu membuat bulu kuduk pria gemuk itu berdiri, dia pun berlari keluar ke tempat Haruko berada.
"Siapa anda? " Sosok pria berkacamata keluar dari satu ruangan. "Kau tidak perlu tahu. " Ptia itu membetulkan kacamatanya.
__ADS_1
"Dia terluka? Biat aku... " Aoi menolaknya. "Kau gila? Dia bisa mati kalau tidak diobat... "
"Meski kau dokter, kau tidak bisa apa-apa. "
"Apa? " pria itu dibuat tertidur oleh Aoi. Hanya dalam sepuluh menit Haruko pun datamg bersama pria gemuk.
"Keluar kau. " Pria gemuk itu pun menurutinya.
"Kenapa kau mengusir... Dokter? Aoa yang kau lakukan padanya? "
"Aku tidak punya waktu, cepat sembuhkan dia."
"Nabari? Kenapa di... "
"Jangan banyak tanya. "
"Tapi aku... "
"Dengan kekuatanmu. " Bisik Aoi. Haruko terkejut mendengarnya. "Bukankah kau? "
"aku hanya mengambil kemampuan teleportasimu saja, tapi penyembuhanmu tidak. " Dia mendorong Haruko kesisi ranjang tempat Aoi menyimpan Nabari. "Tolong! " Aoi membungkukkan tubuhnya memohon pada wanita itu.
Karena, diluka Nabari ada sesuatu yang menjalar ditubuhnya seperti kutukan yang dapat membuat kekuatan esper jadi tidak terkontrol. Dan hanya Asakami Haruko lah yang dapat mematahkannya.
"Apa kau mau dia mati, orang yang kau kagumi? Kalau aku tidak sudi kehilangan dirinya! "
Haruko pun menuruti perkataan itu, dia mulai mengeluarkan kekuatannya. Dia menemukan pusat kutukan itu, dan berusaha untuk menghilangkannya.
Aoi membantu Haruko, dia mentransfer chi miliknya ke Haruko. Berharap akan kesadaran Nabari.
Tubuh Nabari berubah menjadi keunguan, membuat Haruko semakin takug begitu pun Aoi. Namun, pria itu menguatkan hati. "Tetaplah fokus! Dia tidak akan mati semudah itu. "
"Haru...ko-san, kenapa kau? "
"Jangan bicara dulu, Naba! "
"A... oi? "
"Aoi-san, kenapa lukanya tidak tertutup?"
"Obati dengan cara dokter. "
"Tapi kau membuatnya tertidur pulas. "
"Bukankah kau perawat? Kenapa tanya-tanya terus! " Kenapa mereka bertengkar? Nabari lelah melihat pertengkaran kecil mereka. Dia pun tak sadar jika tertawa.
"Kenapa dia tertawa? " Aoi dan Haruko berhenti bertengkar karena Nabari yang tiba-tiba tertawa sendiri.
PLAK!
"Apa yang kau lakukan, wanita bodoh?! "
"Dia berhenti tertawa kan. "
"Jangan ditampar juga, berengsek! Bagaimana kalau dia benar-benar mati? "
GBUG!
Hidung Aoi mimisan, wajahnya mendapatkan tanda tangan dari perawat itu hingga terjatuh dan setengah pingsan. "Diamlah. "
__ADS_1
Haruko membangunkan sang dokter dengan menampar kedua pipinya. "Kenapa kau memukuli wajahku? "
"Kenapa anda tidur saat ada pasien yang barus diobati? "
"Ehh? " Pria berkacamata itu menoleh ke arah Nabari yang terluka. "Apa? " Dia pun segera bangun dan merapikan diri, bersiap untuk mengobati.
"Kenapa kau tidak melakukannya, Perawat Asakami? "
"Dia mengalami pendarahan yang mengakibatkan tachicardia. dia harus dioperasi!"
"Baiklah, siapkan alatnya. Kita lakukan disini! Uhm, dia siapa? " Pria itu menunjuk Aoi yang terbaring dilantai. "Haruskah kita menolongnya? "
"Ahhahah, sepertinya dia pingsan melihat putranya terluka. " Bisik Haruko. "Dimana yang lain? " tanya dokter.
"Saya tidak tahu. "
"Sialan, kemana mereka? Sudahlah, kita lakukan operasi dulu. Biar... kan dulu dia. Tidak apa-apakan? " Bisik dokter. Haruko mengangguk iya.
Haruko membantu dokter itu untuk mengoperasi Nabari yang mengalami pendarahan hingga kurang lebih satu jam, lalu Haruko menjahit lukanya menutupnya dengan alkohol dan perban. Nabari juga diinfus dan diberikan oksigen.
"Sebaiknya kau bangunkan dia. " Suruh sang dokter.
"Kenapa tidak anda saja. "
"Bukankah kau... "
"kalian sesama pria. "
"Pria akan bangun kalau wani... Ah, baiklah. Hei, hei, pak, anakmu sudah... "
"Apa dia sudah sadar? "
"Kagetnya." Aoi masih meremas baju dokter dan terus menatapinya. "Dia sudah diobati tapi belum sa... "
"Aoi-san, dia sudah sadar. "
***
Di waktu yang sama dengan pertarungan Sasaki dan Nabari, kemunculan ketua klan membuat mereka tak dapat berkata-kata. Ini adalah hal yang langka dan terjadi saat kematian Tsubomi.
Kakek tua itu menunjuk putrinya Izanami dan menantunya untuk membakar habis Tsubomi dan menyurih mereka untuk memasukkannya kedalam guci penyegelan.
"Bukankah sebaiknya kita menunggu anak-anak dulu? "
"Lebih cepat lebih baik." Perintahnya adalah mutlak. Bahkan Nana dan kuchisawa yamg menyaksikan dibuat terbungkam.
Abu Tsubomi dibawa olehnya dan para bawahannya, dan hanya Izanami yang pergi bersama mereka. Nampaknya kedatangan Kaoh dan Arylin sudah terlambat.
"Maafkan aku. " Azami menepuk pundak keduanya.
"Ini bukan salahmu. Aku akan menjelaskannya secara perlahan. " Kaoh melirik ke arah Nana dan Kuchisawa.
Di waktu yang sama juga, Tora telah mengetahui pengulangan waktu itu. Dia baru saja datang ke tendanya, namun dia berbalik arah.
Dia masuk kedalam sana, dan benar saja dia melihat wanita yang ia kenali. Dari seberang Tamao menatapanya dengan penuh kebencian. Sebelum Tamao menyerang, Tora melangkah terlebih dahulu.
Itu membuat Tamao terkejut dan sontak mempertahankan diri, namun Tora bukan berada didepannya tapi dibelakang. Dia telah berada dipundak Tora.
"Lepaskan! " Tapi dia tidak mendapatkan tenaga untuk melawan. "Kau harus segera diobati."
__ADS_1
"