
Satu minggu yang lalu di sebuah sekolah
JBK!
Kutabaki dan teman-temannya mendorong Suzuki ke pagar besi di atap sekolah. "Sudah kubilang jangan berbohong! "
"Aku mengatakan yang sebenarnya." Tubuhnya ketakutan setengah mati.
"Jangan main-main dengan..."
PUK!
Kaleng soda itu mengenai kepala Kutabaki. "Oy, gumpalan otot berhentilah! " Seorang bocah kurus melemparkan kaleng minuman itu ke Kutabaki.
"Berani beraninya kau pada Bang Kuta! " Seru Mayuri. "Ayo kita hajar! " sambung Iwari.
Kouta menjulurkan lidahnya mengejek. Dia berlari dikejar kedua anak badung itu. Karai berputar mengelilingi tempat itu, hingga membuat Mayuri dan Iwari kelelahan.
Kutabaki yang melihatnya geram dan mulai mendatangi mereka. Karai pun tertangkap Kutabaki, namun dia malah tersenyum lebar membuat yang lain bingung .
Suzuki yang melihat Kutabaki membuat Karai babak belur meremas kepalannya. Maafkan aku!
Tetapi, hal tak terduga terjadi. Tiba-tiba Kutabaki terjatuh dan mematung, semua orang terkejut dengan itu. "Bang Kuta? Oy, Bang Kuta!" Iwari dan Mayuri mencoba menyadarkannya.
Disisi lain Suzuki melangkah bisu membangunkan Karai yang terbaring lemah dengan wajah lebamnya.
"Thank you, Suzuki. "
Suzuki menggelengkan kepalanya. "Maaf. "
"Tidak perlu khawatir, ini sih tidak seberapa. "Karai terkekeh kesakitan karena mukanya yang penyok.
"Sebaiknya kita pergi dulu dari sini. " Suzuki mengangkat Karai, lalu memapahnya pergi.
"Maaf ya, jadi merepotkanmu. "
Dua hari kemudian. "Ada misi untuk kalian." Kaoh yang sedang asik bermain kartu dengan Lichita.
Aoyama, Nana, Nishimiya, Lucas dan Kento dikumpulkan bersama dalam kelompok gabungan.
"Misinya apa? " Tanya Kento.
"Aku dengar di Osaka ada sebuah tragedi di sekolah dan beberapa tempat perbelanjaan, betulkan Pak kepala? "
"Kau benar, Kento."
"Tragedi? "
"Katanya ada beberapa murid yang tiba-tiba tejatuh, pencurian hingga ada yang melihat hantu... " Kento menggelitik jari-jarinya.
"Pokoknya kalian pergilah untuk menyelidikinya. Gyaah! " Kaoh melempar kartu ditangannya, memasang wajah yang pucat. Lichita menertawainya. "Kau kalah lagi, Kaoh-san. "
"Yaa, kau memang hebat !"
"Uhm, kurasa kita harus segera pergi dari sini." Bisik Lucas. Semua menggangguk.
****
Masa kini.
Kelompok Aoyama telah tiba di sebuah gedung berpenakan Sekolah Menengah Arisagawa .
__ADS_1
"Jadi, apa yang akan kita lakukan?" Lucas yang sibuk dengan Hotdog nya.
"Lu, apa kau tidak bisa berhenti makan? " Nana mencubit pipi Lucas yang penuh. "Ababawbababba. "
"Pak kepala telah mempersiapkannya, mulai besok kita akan menjadi murid pindahan. "
Aoyama menyampaikan rencananya bersama Nana yang telah disiapkan, mereka pun berpisah dan datang sendiri-sendiri keesokan harinya.
Pagi itu begitu cerah, bunga sakura yang tertiup angin menerbangkan sisi rambut Nana. Matanya kelilipan, dia menggosok matanya dengan tangan kanan.
Seorang pria menyodorkan sapu tangan bermotif bunga seruni padanya.
"Jika kau mau. "
"Ah, terimakasih."
"Perkenalkan namaku Baira Kouta panggil saja Kouta. Kau murid baru ya? " Nana mengangkat kedua matanya. "Kenapa tahu? "
"Aku baru melihat gadis secantikmu. " Kouta tersenyum padanya. Nana memberinya senyuman masam, membuat Kouta terkekeh. "Maaf bila aku tidak sopan. "
"Aku akan mengembalikannya nanti, akan ku cuci dulu terimakasih. " Nana menundukan kepalanya .
"Mohon bantuannya! Oya, namamu siapa? " Nana mengibaskan rambutnya. "Kau akan segera mengetahuinya. " Kouta mengerutkan dahinya. Nana melirik ke arah Kouta. "Aku merasa kita akan sekelas. "
Ternyata tebakannya benar. Kouta duduk tegap dimejanya. "Ini adalah murid baru di kelas kita. "
"Cantik ya. " Banyak orang saling berbisik .
Guru itu menepuk tangannya satu kali. "Diam! Silahkan perkenalkan namamu. "
"Terimakasih. Perkenalkan nama saya Amano Nana, mohon bantuannya! " Dia melirik ke arah Kouta yang sedang tersenyum padanya.
Nana duduk di meja itu tepat di sebelah pria sapu tangan. "Nana, kau tepat sasaran. " goda Kouta. Ya, dia mengacuhkanku.
"Ayo kita mulai pelajarannya! "
"Kouta, bangunkan aku jika selesai pelajarannya ya. " Suruh Karai yang ada dibelakangnya.
"Karai, jangan begitu! " Suzuki menyela.
"Baiklah!" Jawab Kouta. "Kouta, kau juga!"
Di kelas yang lain aoyama, lucas dan yang lainnya melaksanakan peran murid pindahan dengan baik. Lucas dan Nishimiya berada di kelas yang sama.
****
Disaat waktu istirahat tiba. "Benarkah kalian kembar? " Nishimiya dan Lucas mengangguk.
"Ehhh?!"
"Kwenapawa kwalian twidak plecaya cyekwalyii! "
"Lebih baik kau kunyah dulu makanan di mulutmu itu. " Nishimiya menepuk pundak Lucas.
"Guru juga berwajah bingung saat menjelaskannya tadi. " Kok dia bisa ngerti ucapan Lucas?
"Awwwwbbnmmmkkwwwww."
"Kubilang kunyah dulu! "
"Ya, kalian tidak mirip. " Dia itu apa bisa baca fikiran? Jangan-jangan dia esper?! Tidak mungkin!
__ADS_1
"Kalian Sawamori bersaudarakan? "
"Ya. "
Bocah itu mendekatkan wajahnya melirik satu persatu, menganalisa kemiripan diantara si kembar. "Sama sekali tidak mirip."
"Itu karena kami bukan kembar identik. " Lucas yang masih memenuhi mulutnya dengan makanan, mengiyakan ucapan Nishimiya.
"Yuki mirip ibu kami yang orang inggris dan aku mirip ayahku yang orang jepang. " Sambung Nishimiya.
"Uhmmm, kalau begitu aku Sagara Daiji. " Daiji menyodorkan tangannya. Dia berjabatan dengan si kembar.
"Aku Terui Ao!" Aku akan mengawasimu. Nishimiya mengecilkan matanya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu ? "
"Kau tampan. " Kenapa aku malah bilang gitu?! Batinnya berteriak. "Ibuku juga bilang begitu! " Aku bohong bodoh!
Di atap gedung sekolah , Aoyama duduk meneduh setelah mengelilingi setiap sudut gedung itu.
Seorang pria datang menyapanya. "Sudah mendapatkannya? "
"Hanya hal kecil. "
"Begitu ya. Wah, anginnya segar!"
****
Dinding serba putih itu masih mengurung Nabari saat pagi ini membuka matanya. Dia duduk menyenderkan punggungnya ke tembok.
Sial! Nabari meninju tembok disampingnya. Pintu kamar itu terbuka, Tsubomi datang dengan wajah murungnya.
Nabari membuang wajah. "Apa yang kau inginkan?" Tsubomi dengan langkah kesal mendatangi anaknya itu.
Nabari terkejut dengan pelukan Tsubomi. "Tunggu sebentar lagi. " Bisiknya. Nabari yang geram berusaha melepaskan pelukan itu, namun tubuhnya masih tak bertenaga bahkan dia telah disuntikan obat yang membuat dia tidak dapat mengeluarkan kekuatannya.
"Aku akan mengeluarkanmu, jadi bersabarlah! "
"Kau..." Tsubomi mencium bibir Nabari, membuat wajah Nabari memerah seperti api. Tsubomi pun keluar dari ruangan itu.
Di depan pintu ruangan Kaoh, Eurasia menguping pembicaraan yang lain dari luar.
"Ini memang aneh, tidak seperti biasanya dia pergi sangat lama. " Tidak, tidak, itu sih biasa bukan? Eurasia yang masih menguping.
Tiba-tiba, dia merasakan udara yang berhembus ke lehernya. Saat dia menolehkan wajahnya, seseorang telah menyeringai padanya. "Eurisia! "
"Selamat pagi, Kyile sensei." Eurasia terkekeh
Kyile pun mengangkat tubuh Eurasia dan menggendongnya. "Ayo kembali ke kelas! "
Dengan wajah murung dia mengalah. "Baik, Sensei. "
"Dia tidak melaporkan apapun sejak kemarin, apa yang dilakukan anak itu? Kalau pulang akan ku cabik-cabik dia! " Arylin mengangkat cakarnya.
"Jangan syeram-syeram begitu dong! "
"Ini gara-gara kakak yang terlalu membebaskannya! "
"Maaf kalau begitu. "
Malam itu adalah malam malam yang sepi hantu yang tampak mulai terlihat.
__ADS_1