
Karazaki terkekeh. "Kehehe, kau fikir aku akan memberitahu.. Umm, apa?! " Nabari menyeringai dalam tetesan darah Karazaki.
Darah-darah itu berubah menjadi bau busuk hitam, menjadi cairan yang berasap dan berbau zat kimia.
"Padahal aku baru saja mencuci, Hah." Nabari membuang nafas.
Tubuh Tsubomi yang telah membeku pucat itu pun disimpan dalam peti lalu segera dikremasi dan abunya disimpan di tempat paling rahasia dengan sebuah segel yang tidak dapat dibuka oleh siapapun.
"Apa benar tidak apa-apa, bukankah dia juga harus melihatnya? "
"Kurasa dia belum mengetahui ini. "
Beberapa murid saling berbisik membicarakan kehadiran bocah pembuat onar itu, kecuali para teman dekat. Mereka hanya termangu dalam balutan kain hitam.
Malam sebelumnya setelah Kaoh membereskan semua kekacauan disekolahnya, dia kedatangan lagi beberapa tamu penting. Bahkan sang pemimpin klan yang telah lama tidak memunculkan dirinya.
"Kalian fikir dapat menyembunyikan apapun dariku? "
"Maaf, Kakek."
"Aduduh, kalian memang masih bocah."
Mereka pun datang untuk segera membereskan masalah di tempat Azami. Semua memberi hormat pada kakek tua itu. Kehadirannya membuat Izanami begitu terkejut.
"Segera bakar dia! "
***
Satu hari sebelumnya, saat itu telah banyak beberapa warga sipil yang datang sekedar bertamu.
"Mari kita sambut mereka. " Kaoh disusul Hana, Sana dan didampingi juga oleh Lichita keluar menghadap para tamu spesial.
"Itu dia!" Serentak mereka berteriak. "Sebelumnya, maaf apa perlu kalian kemari? " Tanya Sana, tetapi orang-orang itu malah melemparinya. Kaoh menyuruhnya untuk mundur dan menahan diri.
"Tenanglah, tenanglah. " Kaoh sambil tersenyum. "Bagaimana kami bisa tenang? Ya! " Dalam hati Kaoh, mereka bisa masuk dari mana?
Tiba-tiba dia mendapat sebuah pesan lewat telepati. "Ada orang dalam. "
"Jika aku boleh menjelaskan sebagai warga sipil juga... " Lichita mengajukan diri. "Aku mempercayai suamiku dan juga teman-temanku disini, kami bukanlah orang jahat, kami akan melindungi kalian dari mereka yang jahat. Jadi, tolong percayalah. "
"Kau fikir kami akan percaya? Ya, kami tidak percaya! " Mereka semakin ricuh. Namun, ketika kericuhan itu mulai semakin memuncak hal yang tepat datang. Shiroi dan beberapa petinggi lainnya datang membuat semua terdiam dan menenangkan beberapa pemberontak.
"Fyuh, kami terselamatkan. Terimakasih! " Fubuki dan yang lainnya mengiyakan. "Tidak perlu sungkan. "
"Fubuki-san, apa yang sebenarnya telah terjadi? Bukankah semua telah... "
__ADS_1
Lalu ayah Lichita menghentikannya, dia menjawab. "Ini bukan seluruhnya salahmu, kami juga tidak memperhatikan itu. "
"Sepertinya Karazaki ini orang yang picik tapi... "
"Tapi dia bukanlah orang yang pintar. " Izanami yang baru datang menyela. "Bibi. Izanami-san. "
Izanami duduk tepat didepan Kaoh. "Kau sudah tahukan? " Dia menatapnya tajam.
"Apa maksudmu? "
"Kau belum memberi tahu mereka? Hitsuziaki Nabari telah dibawa oleh Karazaki untuk mencari tubuh aslinya. "
Semua sontak terkejut. "Tubuh asli? " celetus Fubuki. "karazaki yang kita lihat adalah palsu, semuanya. " Mereka semua terbelalak.
"Bibi. "
"Uhm? "
"Lalu, bagaimana dengan Tuan Chovez? Apa kau tidak akan memberi tahu kami? " Dasar bocah picik! Batin Izanami.
***
Mayat Tsubomi telah dikremasi. Semua telah memberi penghormatan, hingga akhirnya abu itu hanya dibawa oleh ketua klan dan beberapa orang-orangnya untuk disembunyikan.
Semua pembuat rusuh disekolah telah diamankan oleh pihak Shiroi. Kuchisawa masih terbaring ditempat Azami. "Sudah dimakamkam? "
"Begitu. Apa yang akan terjadi bila dia tahu nanti ya? "
Disisi lain sebuah pegunungan. Seorang pria yang sedang duduk didalam perkemahan kecil mandirinya. Dia sedang memanaskan air dengan kompor serbaguna untuk membuat cup ramen.
Dia kedatangan tamu tak diundang kedalam keheningannya. Pria itu muncul dari balik secercak sinar mentari yang terhalang pepohonan.
"Oy, membuat ramen? " Tora tak menjawab celotehan singkat itu. Aoi semakin mendekatinya, lalu dia duduk di depan Tora.
"Kenapa kau membunuhnya? " Tora menyodorkan satu cup ramen buatannya. Aoi menyeruput mie itu. "Jawablwah, panas!"
"Heu, kau selalu lemah dengan makanan panas."
"Jangan perlakukan aku seperti bocah! Aku ini sudah tua! "
"Dia itu sudah mati, jadi aku tidak membunuhnya. "
"Tidak, tidak... Kau telah membunuhnya dua kali. Heu, bukankah ada yang lebih berbahaya?"
Mereka saling diam sejenak untuk menikmati makanan mereka hingga hidung mereka berair.
__ADS_1
"Biar aku tanya... " Aoi pun mengangkat wajahnya. "Apa kau berani melakukannya? "
***
Nabari memasuki sebuah gua dia berjalan masuk, lalu menuruni tangga yang ada didepannya. Nabari mulai melihat banyak tabung-tabung manusia dan alat penelitian lainnya.
Nabari yakin itu adalah harta karun yang dia cari. Dia melihat satu lorong diujung sana, terlihat gelap. Dia memasuki ruangan itu dengan harapan bertemu Sasaki namun betapa dia terkejut, dia melihat itu telah terbangun dan membuatnya jatuh ke bumi tertahan dan tak bisa bergerak.
Wanita itu terus melihat bocah itu, anak yang selama ini dia benci. Tabung kaca itu retak dan terberai. Wanita itu dengan cepat pergi kehadapan bocah itu, lalu mencekiknya.
"Mati!"
Saat wanita itu akan mencekiknya, terdengar sebuah tepuk tangan dam tawa renyah. Pria itu keluar dari balik dinding.
"Sungguh pemandangan indah! " Wanita itu tertegun melepas cengkramannya kepada Nabari dan menarik bocah itu ke belakangnya.
"Tidak mungkin! " Itu membuat Nabari bingung. Apa ini?
"Kau kenapa kau hidup? "
"Seharusnya itu pertanyaanku. " Balas Sasaki. Tamao semakin meremas Nabari yang berada dibelakangnya. "Bukankah kau ingin membunuhnya? "
"Apa rencanamu, Sasaki? "
Sasaki tersenyum kecil. Dia menghela nafas. "Aku memang pantas hidup karena aku bukan mayat berjalan sepertimu. Ah, apa kau masih ada penyesalan tentang itu?"
Tamao melempar Nabari ke ujung dinding gua menahannya disana. Dia bertarung melawan Sasaki. Tamao mengeluarkan kabuy, lalu menyerang Sasaki dari balik kabut itu.
Sasaki menerima banyak serangan, namun hasilnya nihil. Dia sama sekali tidak terluka dengan serangan fisik. Tamao mulai menumbuhkan banyak akar berduri dari tubuh Sasaki.
Sasaki mulai jatuh dan meringis, tapi dia juga bisa menyerang balik. Sasaki mengeluarkan minyak bumi dari tubuhnya, lalu membakarnya dengan api yang dia kobarkan merambat ke arah Tamao melewati tanaman yang terhubung antar tubuh mereka.
Tamao memotong akar-akar itu dan berpindah ke sisi lain Sasaki. Pertarungan itu berlangsung seri, bahkan Nabari tak dapat mengikutinya. Tubuhnya pun masih terkunci.
Sial! Siapa sebenarnya mereka itu? Nabari berusaha lepas, namun kekuatannya seperti terkunci. Apa dia?
Sasaki mengeluarkan klon miliknya dan Tamao membunuh semuanya. Sasaki pun memakai cara itu, dia mengeluarkan klon-klon yang terbuat dari Tamao meski belum sempurna tapi itu membuat dia sedikit kewalahan.
"Jadi, ini maksudmu. " Tamao mulai kelelahan. Saat itu karena dia lengah, dia terkena jebakan Sasaki. Tanah yang dipijakinya gemetar lalu terbelah. Dan ketika Tamao akan terbang, sesuatu menarik dari bawah bumi. Saat itu Tamao pun melukai Sasaki hingga muncul. sebuah simbol kutukan di tubuhnya.
Tamao melirik ke arah Nabari yang sedang sibuk berusaha melepaskan diri. "Nabari? " Tanpa sadar dia tengah berada diantara petinggi dan Kaoh yang sedang melakukan pertemuan.
Dia melirik ke sekelilingnya. Nabari kebingungan. Aku bisa bergerak? Kaoh menghampirinya, lalu menggendongnya.
"Kakanda? "
__ADS_1
"Diamlah, nanti lukamu membesar. " Luka? Betapa terkejut Nabari yang melihat dirinya telah terluka.
Apa yang...