Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
27. Pengakuan


__ADS_3

"Benarkah? Kau mengertikan apa maksud perkataanmu itu? " Mirazawa menegakkan tubuhnya ditempat duduk.


"Saya mengatakan yang sebenarnya telah terjadi. Sayalah yang melakukan teror kepada para murid yang telah melakukan perundungan, dan juga memanfaatkan Kiriyama Suzuki. Saya melakukan itu semua. "


BRAG!


Mirazawa memukul mejanya dengan keras, doa sontak berdiri dengan wajah marah. "Apa kau sedang mempermainkanku? "


"Saya tidak sedang memper... "


"Nyonya Mirazawa... Nyonya, cobalah lihat ini! " Tarawaki berlari cepat menyodorkan sebuah ponsel yang sedang memutar sebuah video kepada Mirazawa.


"Ini... "


"Betul, saya telah membuat video pengakuan agar semua orang mengetahuinya. "


"Kouta, kau mengerti apa yang kau lakukan ini akan... "


"Saya sangat mengerti maksud anda. "


"Kouta... "


"Memang rencana saya juga untuk membuat orang itu berhenti bermimpi terlalu panjang. " Kouta memasang tatapan yang dingin dan sangat tajam.


Tiga hari setelah kejadian itu terjadi, Kouta telah diam-diam pindah ke SMA Hanabari sedangkan Suzuki telah kembali pulang dan kembali ke SMA Arisagawa.


"Kenapa mereka masih saja membahas soal itu? Padahal disini ada kau Suzuki, apa mereka tidak mengerti perasaan orang lain? Aku akan... "


Suzuki menghentikan langkah temannya itu. "Biarkan saja. "


"Tapi... "


Suzuki tersenyum lebar. "Aku baik-baik saja. "


"Kau... "


Kiriyama menggebrak mejanya, dia tak sadar jika rambutnya berantakan. Dia sangat frustasi dan geram akan kelakuan anaknya.


"Sudah kuduga, seharusnya aku menyelamatkanmu saja saat itu Mayumi, bukan anak iblis itu! Dia, dia benar-benar mengacaukan semuanya!"


Kouta duduk diatas sebuah tangki air yang berada di atap sekolah itu, menatap langit dengan tatapan kesedihan. Seorang pria muncul di bawahnya.


"Kau disitu? "


Mendengar suara yang dia kenal itu Kouta langsung turun ke bawah. "Senpai. Ada apa? "


"Disini tempatku membaca." Aoyama menyaku tangannya, lalu mengeluarkan sebuah buku saku berwarna hitam bertuliskan, Bagaimana cara mengetahui ekspresi seseorang.


"Ehh, kau membaca buku seperti itu ya!"


Aoyama membacanya dengan tenang. Dia tidak menghiraukan Kouta yang terlihat penasaran, berdiri didepannya.


"Apa sedang ada wanita yang kau sukai? "


Pertanyaan itu membuat bulu kuduk dilehernya gugup, wajahnya memucat seperti ayam beku. Aoyama berpura-pura fokus mebaca.


"Tidak ada. " Aoyama berlagak dingin.


"Apa jangan-jangan kau menyukai pri.."


PG!

__ADS_1


Aoyama memukul mulut Kouta dengan bukunya, lalu melepasnya.


"Sakitnya, kau tidak punya belas kasihan?"


"Bukankah kau juga sama? "


Kouta tersenyum kecil, lalu tertawa renyah. "Benar juga. Ah, aku jadi merindukan Nanachan! "


Tiba-tiba saja Nana menghentikan pekerjaannya. "Nanachan, kau tidak apa-apa? " Tanya Sana. Nana merasa bulu kuduknya mau terlepas. Seram.


***


Pintu itu terbuka dan mengeluarkan asap yang sedikit demi sedikit menjadi tebal. Nabari waswas dengan itu. Wanita yang memakai masker gas segera berlari ke arahnya, lalu memakaikan masker gas yang dia bawa.


Karena tangannya terborgol, Nabari cukup menurutinya. Wanita itu menggendong Nabari pergi keluar dari tempat itu. Dia terus berlari ke depan tanpa melihat ke belakang.


Akhirnya mereka dapat keluar dari tempat itu, namun wanita itu belum melepaskan gendongannya. Dia masih berlari memasuki hutan untuk menghindari para drone yang mengejarnya.


Hingga mereka berada ditengah hutan yang benar-benar tidak memiliki sinyal. Dia masuk membawa Nabari masuk kedalam sebuah gua.


Wanita itu melepas mesin yang mengikat Nabari dan membuangnya kedalam genangan air yang cukup dalam. Dia juga melepaskan masker miliknya dan milik Nabari, lalu menenggelamkannya juga.


"Nabarichan. " Tsubomi mengelus wajah Nabari yang terlihat begitu lemas. "Ini, makanlah." Tsubomi menyuapinya dua kapsul berwarna merah dan satu buah pisang, lalu memberinya minum.


"Kenapa kau menyelamatkanku?" Nabari berbicara dengan nada lemas.


"Aku sudah bilang kan, bahwa aku akan membawamu keluar dari sana."


"Kena..." Tsubomi menempelkan telunjuknya dibibir Nabari.


"Jangan banyak bicara, sebaiknya kau membawa kita pergi menemui kakak-kakakmu. Apa kau bisa? "


Nabari mengangguk lemas, dia perlahan menggenggam tangan Tsubomi dan berteleportasi.


"Nabari? " Kurosoba mendatangi mereka. Tsubomi sedikit terkejut dengan kedatangan Kurosoba karena dia tidak menyadari keberadaannya.


"Kau guru disini? "


"Anda siapa? Kenapa dia bersamamu? "


"Cepat bawa dia ke Hitsuziaki Kaoh! "


Kurosoba membawa Nabari untuk membantu Tsubomi, dia terus melirik wanita itu untuk mengawasinya.


"Tidak usah mengawasiku, aku tidak akan kabur kemana-mana? " Kurosoba semakin bingung dengan apa yang telah terjadi didepan matanya. Dari mana asal jas putih itu?


"Nabari? Itu Nabari kan? " Morita yang terkejit saat melewati Kurosoba dan Tsubomi.


"Kenapa guru bisa membawanya? Dan siapa wanita itu?" Sambung Lamia.


Dunki yang berada diantara mereka hanya berdiri membisu. Tuan muda. Gumam dalam hatinya.


"Kenapa kita kesini? "


"Sebaiknya kita bawa ke UKS dulu!" Sial, kenapa harus di jam istirahat seperti ini?


Banyak murid yang melihat pemandangan itu. Mereka terkejut dengan pemandangan yang dilihat mereka. "Nabari, kau... " Mereka saling membicarakannya satu sama lain.


***


"Keadaannya baik-baik saja. " Mile melepas stetoskopnya.

__ADS_1


"Aku sudah memberinya vitamin penambah darah dan gizi. " Tsubomi menyela.


"Isane, bagaimana dengan semua informasi itu. Apa kau sudah mengumpulkannya? "


"Aku telah menyuruhnya mengirimkan kepada orang itu. "


Kurosoba yang mendengar itu langsung menyela. pembicaraan mereka. "Apa yang kalian bicarakan? Kalian sudah mengenal?"


"Danzu, apa kau telah melupakanku? "


Kurosoba langsung terbelalak, dia menatap Tsubomi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Saat dia telah sadar, sontak dia melangkah mundur karena sangat terkejut.


"Tidak mungkin! Sensei, kau..." Dia tidak dapat berkata-kata lagi.


Suara pintu mulai terbuka. Lichita menutup mulutnya sangat terkejut. "Tuan... " Kaoh melirik Lichita mengiyakannya.


"Bibi. "


"Tuan muda. "


"Sebaiknya kita pindah kerumahku. Ikuta, tolong bawa Nabari."


"Baik. "


"Kurosoba, tolong urus anak-anak. Dan kau, Mile ikutlah bersama kami!"


"Baik, Tuan. " Mile tidak dapat menolak suruhan itu.


Mereka telah tiba di kediaman Kaoh. Ikuta membaringkan Nabari dikamar Eurasia. "Apa yang terjadi? "


"Tuan putri, Tuan dan Nyonya menyurihmu untuk tetap mengawasinya. "


"Baiklah. "


Mereka berkumpul diruang kerja milik Kaoh. "Sudah lama sekali. " Tsubomi mengitari pemandangan rumah tua itu, dia teringat kenangan lama.


"Duduklah. "


"Aku akan menemani Eurasia dan Nabari dikamarnya. " Lichita pun pergi ke kamar Eurasia.


"Kalau begitu, ayo kita mulai. "


"Bukankah kau sedang menunggu satu orang lagi? Ah, sepertinya dia telah disini. "


Arylin berjalan perlahan menuju tempat berkumpulnya orang-orang. Tsubomi menoleh ke wajah Arylin yang sontak jadi mematung.


"Tidak mungkin! " Arylin menjatuhkan dirinya ke lantai. Tsubomi bangkit menghampirinya. "Nona muda. " Tsubomi membuka penutup wajah Arylin dan mengelus lukanya.


"Arylin, kau telah tumbuh menjadi cantik. " Mendengar itu Arylin menghempaskan pegangan Tsubomi dari wajahnya.


Dia berdiri dari sana, begitu juga Tsubomi. Arylin memasang kembali penutup wajahnya. Tsubomi kembali kehadapan Kaoh.


"Langsung saja, aku akan bertanya... "


"Aku akan menjawab sebelum itu. Kau mengenal Han shuji bukan? Dia ada kaotannya dengan kasus kali ini, dia dan penemuan..."


"Bukan itu yang ingin aku tanyakan."


"Lalu?"


"Kenapa kau masih hidup? " Tsubomi menyeringai membalas tatapan dingin Kaoh dan juga Arylin.

__ADS_1


"Tampaknya kalian masih membenciku. Tapi, itu pertanyaan yang bagus. "


__ADS_2