
Pria itu menyeringai dalam kegelapan. Nabari menyambutnya hangat. Pertarungan pun dimulai. Senzo menyerangnya cairan asam yang keluar dari tangannya ke arah Nabari. Nabari bergerak cepat seperti kilat menghindari serangan itu.
"Terpental? " Gumam Senzo. Dia tersenyum kecil. "Kalau begitu! " Cairan asam semakin banyak keluar, tidak hanya dari tangannya tapi juga tubuhnya.
Sebelumnya Nabari telah membuat pelindung yang mengitari tempat mereka sehingga mereka hanya dapat berada disitu, Nabari ingin melindungi yang lain. Para hewan disana termasuk kesayangan Nabari, yaitu Panda.
"Aku akan menghancurkannya! Hyaa! " Senzo mengarahkan serangannya ke pelindung yang dibuat Nabari. Namun betapa terkejutnya dia, pelindung itu tetap berdiri kokoh bahkan tidak tergores sedikit pun.
Senzo merasa kesal, bahkan setelah serangan yang bertubi-tubi darinya itu tak membuat Nabari berkutik. Dia pun mulai membual.
"Kau teman gadis itukan? " Nabari mulai memperhatikannya. "Jadi benar ya. " Senzo terkekeh sendiri. "Gadis itu sangat enak, bahkan aku telah membunuh setengah hidupnya dengan tanganku. Bwahahahhaha! " Senzo tertawa begitu puas.
Melihat Nabari yang tetap tenang dan dingin, dia mengigit gerahamnya sendiri. "Kau membuatku muak! " Senzo menyeringai berlari maju dengan cepat ke arah Nabari yang berdiri bisu ditempat dia berdiri. Dia menyiapkan tangannya dengan memadatkan cairan asam menjadi seperti tombak diujung tangannya. Senzo berencana untuk menusuk Nabari.
"Mati kau!" Suara lolongan Serigala, auman singa dan suara-suara para hewan yang mulai panik itu mulai keluar satu-satu. Burung-burung terbang menjauh dari area sekitar tempat mereka bertarung.
GLAK!
Senzo yang tak bisa lagi bicara karena memuntahkan darah dari mulutnya terkejut melihat tangannya yang masih menjadi tombak dan melihag tubuhnya yang tas menembua tangan Nabari. Dia melirik wajah Nabari yang dingin tanpa ekspresi.
"Sial! " Senzo pun tak sadarkan diri. Nabari melepaskan tangannya mengeluarkannya dari lubang ditubuh Senzo. "Selamat tinggal. " Tubuh Senzo tersungkur ke tanah.
Nabari membersihkan semuanya hingga tak dapat dilihat oleh siapapun. Lalu dia membuka dinding pelindungnya. Dia membuka tudungnya melihat hewan-hewan disekelilingnya yang sedang panik dan ketakutan. Dia mencoba menenangkan mereka dari hati ke hati.
Nabari memejamkan matanya. Mencoba menyentuh hati mereka dan menenangkan mereka. "Maaf telah membuat kalian takut, sekarang sudah tidak apa-apa. " Hewan-hewan itu pun kembali tenang dan tertidur kecuali satu hewan yang berada di belakannya.
Hewan kecil itu mengetuk rumah kacanya membuat Nabari terkejut. Nabari membalikan tubuhnya, terlihat seekor anak panda yang sedang memandanginya.
Nabari mendekati panda kecil itu dan berjongkok menempelkan telapak tangan kanannya ke kaca itu menyentuh tangan kecil itu.
"Kau lebih kuat dariku, kau sangat pemberani, teman kecil." Nabari memejamkan matanya, menundukkan wajahnya.
Panda kecil itu bersuara berbicara dalam bahasanya. Nabari menempelkan telunjuknya di bibirnya. "Sst!" Dan tersenyum. Membuat panda kecil itu ikut tersenyum. "Terimakasih. Sampai jumpa lagi. " Nabari pun menghilang bersama pertarungan itu.
*****
Di dalam perjalanan menuju tempat Mile, Kiyoshi dan Lufy mulai kewalahan membawa Inui. "Kiyoshi, apakah masih jauh?"
"Seharusnya tidak. "
Ketika mereka yang kelelahan itu semakin terburu-buru karena mereka mendengar sesuatu yang mencurigakan, mereka terkejut dengan kedatangan seseorang yang tidak terduga menghentikan langkah mereka.
"Yo! " Pria jangkung itu tersenyum lebar melambaikan tangan kanannya sambil. memasukkan tangan kirinya ke saku celana.
"Kuchisawa? " "Kuchisawa Senpai? " Kiyoshi dan Lufy yang bersamaan .
Kuchisawa menarik Inui ke punggungnya. "Biar aku saja, kalian pasti sudah lelah kan?"
Kiyoshi tersenyum kecil. "Ya dia memang berat. " Kuchisawa terkekeh dengan kata-kata Kiyoshi.
__ADS_1
"Kuchisawa-san, bukankah kau sedang bertugas di tempat lain? Kenapa bisa disini, kau meninggalkan Nana dan Ketua Sana lagi?!" Lufy yang menggebu-gebu.
"Hanaya yang menyuruhku kesini. "
"Ehh? "
"Ayo Ichi dan Mile sensei telah menunggu! "
"Hmm. Ayo Lufy senpai! "
"Ehh, tunggu dulu! "
Kuchisawa membawa mereka pergi dengan telerportasinya ke tempat yang telah dijanjikan.
Mereka telah sampai di sebuah pondok yang terlihat sudah tua. Salah satu pondok pengobatan yang dimiliki kenalan Mile di China. "Mile-san!" Panggil Kuchisawa sembari membaringkan tubuh Inui di salah satu kasur pasien yang ada disana dibantu Kiyoshi dan Lufy.
"Kalian sudah datang?"
"Sensei, tolong Midori dia... "
"Aku tahu. Nabari sudah memberi tahukannya padaku, semuanya. " Tegas Mile.
"Begitu ya. " Mile mengelus kepala Kiyoshi. "Tenanglah aku akan menyembuhkannya. " Mata Kiyoshi berbinar menatap Mile. "Jadi kau bisa menciumnya dengan lantang nanti." Mile menutup sebelah matanya menggoda Kiyoshi.
Wajah Kiyoshi memerah seperti apel yang sudah matang, ditambah semua menertawakannya. Dia menggembungkan pipinya, lalu menghembuskannya. "Cobalah untuk menciumnya " Bisik Mile halus. Membuat Kiyoshi tambah memerah.
Kuchisawa baru sadar jika Ichi tidak terlihat dimanapun di pondok itu. "Mile sensei, Ichi dimana? " Dia bertanya pada Mile yang sibuk mengobati Inui.
"Dia akan segera kembali. "
****
"Nona Maname, apa masih lama? " Ichi mengelap keringatnya yang terjun dari kepala hingga wajah. "Sudah dekat, sebentar lagi tiba. " Perasaan dari tadi bicara begitu terus. Ichi membuang nafas.
Ichi menghela nafas, melunglaikan tubuhnya yang mulai lelah. Dia diajak untuk menemani Maname yang mencari tanaman obat di kaki gunung Huang. "Ini sih sudah melewati kaki gunung. "
"Jangan mengeluh! Lagi pula bahan yang paling pentingnya belum ditemukan. "
****
"Jadi begitu ya. " Kuchisawa duduk menyilangkan kakinya di bangku tunggu.
"Pasti dia akan terus mengeluh. " Sambung Kiyoshi. Lufy mengangguk-anggukan kepalanya tanpa berkata.
Inui mulai membuka matanya sembari menahan perih lukanya. "Mile-sensei."
Mile memberikan senyumam manisnya. "Sudah selesai, kau bisa bangun? " Inui menggerakan tubuhnya perlahan-lahan. "Masih terasa sakit? "
"Sedikit. "
__ADS_1
"Kalau begitu, istirahatlah aku akan mengobatinya lagi. Lukamu belum sepenuhnya tertutup. "
"Padahal dia sudah menjahitnya dengan kasar. " Mile terkekeh mendengarnya.
"Ya, ini sangat berantakan. Butuh waktu untuk merapikannya. Ayo berbaring lagi! "
Mile telah mengobati Inui sepenuhnya, dia keluar mendatangi anak-anak yang lain. Kiyoshi yang melihatnya keluar dari ruangan itu menghampirinya dengan cepat. "Sensei, bagaimana? "
"Dia baik-baik saja, dia sedang beristirahat. "
"Baguslah kalau begitu. " Sela Kuchisawa.
Mile memegang pundaknya Kiyoshi. "Temui dia, dan lakukanlah. " Mile mengedipkan sebelah matanya. Kiyoshi masuk dengan wajah yang memerah membuat Mile tertawa kecil.
"Berhentilah menggodanya, Nona. " Mile mengibas rambutnya. "Sebaiknya kau pergi. "
"Benar juga, jika tidak dia akan berulah. "
****
Ichi yang membawa keranjang tanaman obat dipunggungnsya yang berat itu bernafas tersengal-sengal, namun tidak dengan Maname. "Hah, hah, hah, kenapa dia tidak kelelahan? " Ichi yang memandangi Maname yang sedang berjalan di depannya dengan penglihatan yang mulai kabur.
Jalannya mulai sempoyongan. Dia beberpa kali berusaha memanggil Maname tapi entah mengapa suaranya tak sampai. Dia merasa sangat pusing dan akan terjatuh, namun Kuchisawa telah memapahnya agar dia tidak tumbang. "Maeta? "
"Hmm? " Maname langsung menoleh ke belakang saat merasakan hawa keberadaan yang tidak asing.
"Ichi. " Kuchisawa memapah Ichi. Maname berjalan balik menghampiri mereka. "Lemah! " tukasnya. "Putri, Istirahatlah sebentar, kalau tidak dia akan mati. "
Maname melipat kedua tangannya membuang wajah. "Aku tidak berharap kau datang! "
"Jangan begitu, nanti aku yang akan mengambilkannya di atas sana. " Kuchisawa memapah Ichi dan mengantarnya duduk di bawah pohon.
"Terserah! " Maname berjalan manja seperti anak kecil yang sedang marah.
"Terimakasih. Tunggulah aku akan segera kembali. " Kuchisawa pun pergi menaiki gunung.
"Maaf, Maname-san." Ichi yang masih ngos-ngosan. "Diam lemah! " Ehh?
Di hampir puncak gunung. "Ini dia." Setelah Kuchisawa mendapatkan tanaman herbal yang Maname cari dia kembali pada mereka dan membawa mereka pulang ke pondok.
Nabari keluar dari kebun binatang itu, dia memegangi lehernya dengan ekpresi menahan sakit. "Kenapa nadi leherku terasa panas? " Matanya tercengang, dia tiba-tiba saja teringat dengan sosok Kuchisawa dan ekpresinya berubah.
Dia menggigit kukunya. "Mae, jangan-jangan kau?! " Nabari duduk meringkuk sambil merengek sendirian.
****
Di gedung Asberian. Tars sangat kaget melihat pemandangan yang sangat buruk. Tubuh Senzo telah tergeletak ditanah didepan pintu masuk gedung itu. Sungguh pemandangan tengah malam yang menakutkan.
Tars berlari ke dalam dan melaporkannya pada orang iti bahwa Senzo telah mati.
__ADS_1