Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
77. Rui


__ADS_3

"Sial! " Lawliet memukul meja didepannya.


"Aku akan membunuhnya..aku akan membunuhnya.. " Gumam Wiles.


Elize menghela nafas pendek. "Oroi, buatlah mereka tenang. "


"Kenapa tidak kau saja. "


***


"Apa belum ada cara untuk ikut campur dengan permainan itu? " Tanya Fubuki.


"Sayang sekali, untuk kita yang bukan esper itu mustahil." Sahut Izanami.


"Maaf terlambat. " Kaoh masuk kedalam ruangan itu dan duduk dikursinya.


"Bagaimana keadaan disana? " Tanya Izanami.


"Para muridku sudah mulai memulih dan aku menyuruh mereka untuk beristirahat, kecuali..."


Tsuchiya dan Suichi berdiri didepan sebuah dinding berkaca yang dibaliknya terbaring seorang gadis yang masih koma.


"Hari ini dia akan dioperasi. " celetus Kaoh.


"Jadi dia telah bertemu dengan orangtuanya?" Kaoh mengiyakan pertanyaan Izanami.


Shiren dibawa dan dimasukan ke ruang operasi. Semua tengah menunggu. Azami memimpin operasi ini untuk mengeluarkan remah-remah kristal yang terbelenggu di dalam jantungnya.


Dua puluh jam operasi itu berjalan, Azami telah menyelesaikan tugasnya. Dia melihat kedua orangtua Shiren yang bertanya untuk memastikan. Operasi itu berjalan lancar, disana juga ada kayuki dari lab riset pengembangan dibawah keluarga Azami.


Dia menjadi assisten Azami agar kristal yang didapat itu bisa menjadi bahan penelitian mereka.


Azami juga melihat beberapa teman Shiren yang tertidur disana. Setelah orangtuanya mendapat penjelasan, Azami pun pergi.


Shiren dipindahkan ke ruangan lain untuk menunggu kesadarannya.


Disisi lain, rapat memperdebatkan permainan maut yang tengah berlangsung telah selesai. Mereka masih lega karena warga sipil tidak termasuk dalam game ini.


Kaoh mengangkat ponselnya yang berdering. "Ya? "


"Telah selesai dengan lancar. " Jawab Azami dari sebrang.


"Apa belum sadar?"


"Belum."


Mereka menyudahi percakapan itu.


"Uhuk.. Uhuk....Uhuk! " Kanazawa menurunkan dirinya kehadapan Nabari.


"Nabari! "


Nabari memegang lengan Kanazawa. "Yuri. "


"Apa kau bisa menahannya hingga waktu itu tiba? "


"Aku berharap begitu."


***


Arylin berjalan mengikuti langkah Rui yang ada didepannya. Dia memandangi wanita itu yang berjalan biasa dengan riang gembira.


Arylin mempercepat langkahnya menyusul saudarinya itu. "Kak Rui. " Rui menghentikan langkahnya, lalu menolehkan wajahnya ke letak suara hentakan kaki yang ia dengar.


"Ada apa, Arylin? "


Arylin termenung sebentar. "Apa kau tidak takut? "


"Takut? Terhadap apa? "

__ADS_1


"Gelang itu... " Rui mengangkat tangannya, menurunkan wajahnya, melihat gelang yang terpasang dipergelangan tangannya.


"Ahh ini? " Dia mengangkat tangannya ke depan wajah Arylin. "Kenapa kau begitu mengkhawatirkan benda ini? Kalian bersaudara, tapi kau dan Kaoh kalian sama sekali tidak cocok dengannya. "


Arylin mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa kau bicara seperti itu? "


Rui memegang masing-masing tangannya sendiri dibawah punggungnya. Dia sedikit mengayunkan tubuhnya ke kanan dan kiri sambil berjalan zig zag, seperti anak kecil berusia lima tahun.


"Kalian... Uhm... "


Arylin terus mengikutinya dari belakang, dan tiba-tiba dia berhenti dengan mendadak membuat Arylin harus mengerem dirinya.


Rui membalikkan tubuhnya menghadap Arylin dengan tatapan yang salah. "Sepertinya kita sudah saling berhadapan. "


"Kak Rui. "


"Kenapa kalian tidak mencoba memahaminya sekali lagi? "


Ucapan yang membekas dikepala dan jantung wanita berambut pirang itu. Ia memandangi wajah wanita berambut coklat didepannya.


Rui membalikkan tubuhnya kembali kedepan. "Ayo kita berangkat, Arylin. Aku sudah tidak sabar untuk menonton film terbaru dibioskop. " Dia tertawa renyah.


"Ah! " Rui menghentikan Arylin yang tidak akan berkomentar apapun, tapi ia tahu bahwa saudarinya itu akan menggodanya begitu. "Walau aku tidak bisa melihat, tapi tuhan masih memberiku kedua telinga dam anggota tubuh yang sehat. "


Senyum itu membuat Arylin terenyuh. Bahkan orang sepertinya dapat lebih baik daripada manusia yang lebih sempurna darinya.


Wanita itu tidak takut apapun dan tidak mengharap lebih untuk apapun. Dia mengalir bagai air yang jernih. Tidak keruh, tidak meluruh.


"Arylchan, ayo cepat! Ahh, Karen aku lapar gimana kalau mampir dulu makan sushi?"


"Uhm, baiklah. "


***


"Sudah selesai? " Shuji menjawab pertanyaan Fubuki dengan hasilnya. Dia membuka tudung yang menutupi benda itu. "Ini. "


Rui dan Arylin telah selesai menonton bioskop. Rui terlihat sangat senang dan wajahnya merona. "Seru sekali filmnya, aku juga mau ikut beraks seperti.. chiyat! Shyut! "


Arylin menganga melihat Rui yang beraksi dengan gerakan-gerakan superhero yang selalu ia tonton saat kecil. Kenapa ia tahu semua gerakan itu?


Rui mendekati Arylin. "Aku suda tahu semua gerakan itu. " D-dia... Rui tersenyum jahil.


Kento mendatangi Yui yang sedang berbaring dikasur pasien. "Padahal sehat walafiat. " Kento menempelkan kedua tangannya dibelakang kepalanya.


Yui asik membaca buku yang dia pegang. "Kau tidak akan mengerti asiknya ini. "


"Jadi pasien? "


"Sudah kubilang kau tidak akan mengerti."


"Seperti biasa, kau tidak suka menjelaskannya padaku tapi... " Yui melirik Kento yang duduk disebelahnya, disisi kasur.


"Tapi aku sangat memahamimu. Buku baru bukan? " Kento berbisik.


Yui tersenyum simpul. "Apa kau kesini hanya untuk mengangguku?"


"Kau masih ngambek kan karena kalah dariku?"


"Tidak juga. "


"Uhmm? "


Tiba-tiba, tirai terbuka keras dengan paksa. "Totsuki? " Tanya Kento. "Ada apa? "


Totsuki tidak berkata apapun, hingga akhirnya dia duduk dikursi yang menyenderkan dirinya ke dinding. Dia mengambil. kursi itu dan mendudukinya. Totsuki duduk disamping kedua temannya.


"Shiren sudah bangun. "


"Benarkah? Wah, syukurlah. " Sahut Kento.

__ADS_1


"Tapi tidak boleh kesana dulu kan? " Sambung Yui. Totsuki melipat tangannya dan mengangguk.


"Yui, apa kau merasakannya juga?" Yui menutup bukunya dan melirik Totsuki.


"Ehh, apa...apa yang kalian rasakan? "


Yui memangku buku itu di pahanya yang terkubur oleh selimut berwarna biru. "Dia tidal mengambil hingga ke intinya. "


"Benar. "


Kaoh menutup telponnya dan kembali ke Fubuki. "Gadis itu sudah sadar? " Tanya Fubuki.


"Benar. "


"Uhm, itu bagus. " Sambung Shunji. Kaoh meliriknya sinis.


"Apa kau yakin ini bisa? "


"Tentu saja. "


***


"Sepertinya mereka telah berhasil mengambilnya dan membawanya untuk riset itu. "


"Begitu ya. "


"Ini seperti yang kau perkirakan, tuan muda."


Nabari berdiri. "Aku akan pergi ke tempat Mr. Chovez. "


"Baik. "


***


"Jadi, kau menang dengan cara licik itu." Sindir Totsuki.


"Itu bukan licik, tapi trik. "


"Trik yang berguna, sepertinya penyumbat telinga itu cukup bagus hingga membuat kau menjadi tuli. " Sahut Yui.


Kento terkekeh. "Kau menyukainya? "


"Tidak. "


Totsuki menganga, lalu menghela nafas. "Apa kalian sepasang keka... "


"Tidak! " Totsuki tersenyum lebar.


Disisi lain, Eurasia yang sudah membaik keadaannya bersama Nana terus memperhatikan gerak gerik Lichita yang terlihat begitu khawatir.


Tetapi mereka tidak ingin menganggunya. "Apa itu akan benar-benar terjadi? " Nana bertanya pada dirinya sendiri.


"Aku tidak akan membiarkannya. " Sahut Eurasia.


Arylin menemani Rui yang ingin pergi ke mall untuk berkeliling dan berbelanja. "Kapan kita pulang? "


"Kau sudah lelah hanya dengan begini? " Rui memegang kedua pinggangnya.


Arylin nampak terlihat lelah, terdengar dari tempo nafasnya. "Ini waktu luangku! Mungkin saja nanti tidak bisa. "


"Kenapa kau bicara be... "


Terdengar suara teriakan dari seorang wanita. Mendengar itu mereka berdua langsung mendatangi sumber suara itu. Arylin yang menggandeng Rui berhenti didepan sekumpulan manusia.


"permisi, aku Hitzuziaki Arylin! " Mendengar itu semua orang menepi memberi jalan untuknya. Arylin menggandeng Rui untuk melihat apa yang terjadi.


Terlihat seorang wanita yang terbunuh dengan cara tak biasa, dia juga melihat tanda yang tak biasa. "Itukan... "


"Arylin, ada apa? "

__ADS_1


__ADS_2