Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
38. Rest


__ADS_3

"Kami datang." Arylin menyodorkan Aoyama dan Kento ke kedua rekannya. Dan mereka pin menidurkan Aoyama dan Kento setelah membuka topeng gas mereka. Memberi mereka oksigen dan menginfus mereka.


"Biar kami yang urus. "


Arylin pun pergi, namun ditahan oleh Yoshino. "Arylin, kau pergi secepat itu? " Arylin tak menjawab. " Apa kau tidak rindu de... "


"Enyahlah. " semangat Yashino dipatahkan oleh wanita yang dia sukai. Arylin menghela nafas.


"Aku harus mencari dia. "


Ekspresi Yoshino berubah menjadi serius. "Tak bisakah kau membiarkan bocah itu saja? "


Arylin menarik kerah baju Yoshino. "Dia itu tidak bisa diandalkan kau tahu! " Nabari yang sedang asyik berendam dengan mainannya setelah satu jam. "Kenapa telingaku jadi dingin, ah aku harus berendam lagi! "


"Apa kulitmu tidak keriput? " Sindir bocah itu pada Nabari. "Aaaaa!!! " Eh?


"Dia selalu, selalu, selalu..! " Yoshino setengah pingsan dalam cengkraman Arylin. Pusing sekali. Wajah Yoshino membiru matanya berputar.


Nana tercengang melihat pemandangan yang sangat aneh didepannya. "A... ay...Ib... " Lidahnya terbata-bata, tubuhnya patah-patah.


Azami menyengir dari balik punggung Izanami. "Aku tidak tahu kau sekuat itu, nona Izanami. " Izanami menurunkan suaminya ke atas kasur kosong di ruangan itu.


"Kau menyindirku?" Sinis Izanami. "Dia tidak se... "


BRKK!


Semua tercengang dengan pukulan Izanami yang membuat sang profesor K.O. "Tsubomi, cepat obati dia. " Tsubomi menghela nafas. "Baiklah. "


Ada apa ini? Batin Nana melonjak. "Aku tidak menyangkanya. " Bisik Kuchisawa.


"sebaiknya kita membantu lagi, ayo bekerja!" Nana meninggalkan Kuchisawa. Bilang saja kau juga terkejut, iyakan Nanami? Kuchisawa tersenyum sendiri.


"Apa kau stress? " Kuchisawa terkejut dengan kehadiran Izanami yang tak disadsri olehnya. "Saya tidak mengerti maksud anda."


"Sebaiknya periksa ke psikolog. " Izanami lergi meninggalkan pria muda itu. Apa?


***


"Bagaimana keadaan mereka? " Kurosoba yang bari datang bersama Ikuta. "Mereka baik-baik saja. " Jawab Maname.

__ADS_1


"Mereka sedang makan siang dan menonton TV. " sambung Yoshino sembari menggaruki kepalanya.


"Uhm, dimana Arylin? " Tanya Kurosoba yang baru sadar dengan ketidakadaanya Arylin . "Benar juga. " Sambung Ikuta.


"Dia pergi. " Ikuta dan Kurosoba mengerti arto tatapan anak muda itu. "Begitu ya. "


"Jadi? "


"Itu adalah salah satu markas mereka, namun disana juga dia tidak ada. "


"Sial! Aku sudah tidak kuat! " Yoshino mengeluh.


"Memangnya kau yang kerja?! "


"Eh kenapa Maname marah-marah? Rmang aku kerja keras kok. " Tch! Desis Maname.


"Ehh, ehh, apa kau juga kelelahan? Biat aku pi..."


GBUG!


Tanda lima jari telah mendarat di wajah Yoshino dengan cat berwarna merah terang. "Sakitnya.. "


***


Apa dia sedang stress?


Nafas Nabari tersengal-sengal, dia sangat marah pada penulis. Maaf tapi itu hanyalah kiasan, apa kau tidak mengerti?


"Apa itu seperti lukisan? "


Ternyata karakter utama ini bodoh. "Hei, hei, hei, kau yang menciptakanku bodoh." "..."


"Ah sudahlah."


"Nabari?" Kanazawa menarik telinga Nabari. "Apa yang kau lakukan? " Marahnya.


"Pasti karena kelamaan berendam."


Nabari menghela nafas. "Apa mereka bergerak lagi?" Kanazawa menyakui tangannya. "Kau mengejekku?"

__ADS_1


"Aku bertanya, kok. "


"Mereka selalu bergerak. " Kanazawa melirik ke belakangnya ke arah Nabari.


Disisi lain Arylin yang penuh emosi mendatangi jejak Nabari yamg berakhir di sebuah rumah sederhana di tepi sungai yang indah. Yahiko yang baru saja mau membuka matanya terkejut dengan kedatangan Arylin yang menarik tubuhnya.


"Dimana Nabari? katakan! "


"Ehh?"


"Ce... "


"Tunggu, Arylin-chan." Arylin melepaskan cengkramannya, badannya membeku seketika setelah mendengar suara itu.


"Jangan galak pada seseorang yamg sedang terluka dong, Arylin-nyan." Arylin memberanikan diri untuk menoleh.


"Ao...i? " Aoi tersenyum lembut kepada keponakannya itu. "Kau sudah dewasa dan semakim cantik. " Aoi mengelus rambut pirang Arylin. "Kau sangat mirip dengan kakak. Ah, aku tidak boleh menangis, iyakan Arylin-chan?


"Kenapa ka... "


"Nabari sudah pergi lagi, dia hanya menitipkan wanita itu padaku. Ahh, padahal aku masih ingin menggendongnya.."


Kenapa bulu kudukku berdiri? Siapa itu? Nabari menoleh ke belakang dengan cepat. "Nabari, ada apa? "


"Tidak ada apa-apa. "


"Arylin-nyan..."


"Maaf menyela, tapi kalian siapa? "


Aoi menghampirinya, menempelkan wajahnya di ujung hidung Yahiko. "Sebaiknya kau todak tahu aku si..."


"Dia Aoi dan aku Hitsuziaki Arylin." baru saja aku mau bilang, ya sudahlah mau bagaimana lagi. Dia telah membeberkannya.


"Jadi kalian keluarganya ya." Yahiko terseyum.


"Ya... "


"Orang ini sudah diusir dari keluarga. " celetus Arylin. "Jahatnya!" Manja Aoi.

__ADS_1


"Apa keluarga Merek memang begini?" Gumam Yahiko. "Apa kau bilang? " "Apa katamu? "


"Ah tidak hehe.."


__ADS_2