
Nabari tampaknya terlambat, ketika pagi dia kembali ke kediaman Shen setelah semalaman mencari jejak Karazaki dan Aoi yang tak dia temukan. Banyak polisi disana, dan yang membuatnya terkejut adalah Arylin dengan lembutnya mengikuti mereka dan dibawa para polisi itu. Tch! "Kakak. "
Arylin dibawa ke kantor polisi terdekat. Dia telah berada di ruang introgasi.
"Arylin. "
"Ya. "
"Kau benar-benar orang jepang ? "
"Ya. "
"Bisa kau membuka maskermu? "
"Maaf, saya tidak bisa. "
"Kenapa? "
"Saya punya penyakit yang harus di sembunyikan ,saya tidak ingin anda tertular." Penyidik itu mengerutkan dahinya. "Semoga anda dapat mengerti, maafkan saya. "
"Baiklah, kalau begitu. Aku akan bertanya tentang hal lain." Penyidik itu menyimpan kertas yang dipegangnya. "Apa yang sedang kau lakukan disana? " Dia menatap sinis Arylin.
"Saya hanya akan berkunjung, tetapi saat disana saya telah menemukan mereka seperti itu."
"Kau yakin? " Penyidik itu meragukan pernyataan Arylin, apalagi dia adalah orang asing. "Kalau boleh tahu, kau berkunjung untuk apa? Kelihatannya kau bukan kalangan atas, jika dibandingkan dengan keluarga Shen. "
Arylin hanya terdiam, penyidik itu terus menatapnya tajam . "Kalau kau tetap diam, kami harus mena... "
"Penyidik Zhu! " Penyidik itu berdiri tercengang melihat banyak sekali orang yang datang. Terlihat ketuanya dan juga asisten nya yang menunduk lemas. "Ketua Lee, Pak Walikota. " Zhu memberi salam.
Arylin terkejut dengan kedatangan Izanami dan Nabari bersama Shiroi. Wali kota Guangzhou menghampiri Zhu dan Arylin.
"Dia adalah putri dari Keluarga Hitsuziaki. Dia adalah putri dari kakak perempuan Nyonya Izanami. "
"Maksud anda dia... " Wali kota mengangguk. "Dia putri pertama Hitsuziaki Iria. " Zhu tercengang mendengar Nama yang keluar dari bibir sang Walikota. Tampaknya keluarga kami memang terkenal. Izanami mengeluh.
Izanami berjalan ke arah mereka memeluk Arylin dari belakang. "Tolong lepaskan keponakanku. " Izanami memberikan senyuman andalannya. Zhu membungkukan tubuhnya. "Maaf atas kelancangan saya. "
"Terimakasih. " Shiroi dan Nabari bernafas lega, namun Arylin merasa tidak puas.
Beberapa menit sebelumnya.
Nabari masih bersembunyi di atas pohon mengawasi kediaman sekitar kediaman keluarga Shen. Ada yang datang! Dia mengenal orang itu. Nabari pun mendekati mereka.
"Paman Yatsutoka sedang apa pa..." Nabari menghentikan perkataanya setelah melihat sosok wanita yang memandanginya sinis. "Bibi Izanami, selamat datang." Nabari memberi salam, san membungkuk cukup lama hingga Izanami pergi. "Shiroi-san, aku akan masuk. "
"Mari ikut dengan kami. " Setelah mereka pergi, Nabari menegakkan kembali tubuhnya. Shun menghampirinya dengan waswas. "Kau darimana saja?! " Bisik Shun, asisten Shiroi.
__ADS_1
"Kak Shun, apa mereka semua mati ?" Dia tahu dari mana, Nabari ini dia gila!
"Ya. " Bisiknya. "Lalu putri Shen? " Nabari meninggikan suaranya. "Sst! " Shun menempelkan telunjuknya. "Jangan keras-keras! " bisiknya. "Maaf. "
"Putrinya Xiao Shen belum di temukan. " Apa dia masih di hutan? Nabari terburu-buru pergi ke dalam hutan untuk memeriksanya dengan teleportasi. "Dia itu! " Shun memajang wajah kesal. "Jangan pakai kekuatanmu di depanku, bodoh! " bisik Shun kesal.
Nabari mencari di setiap sudut hutan itu, namun tidak ada satu pun jejak lain selain bekas api unggun semalam. Tapi tiba-tiba seseorang merasuki mimpinya. Nabari tertidur beberapa detik sambil berdiri. "Nabari, jika kau ingin Putrinya Shen kembali hidup-hidup datanglah padaku. Dia berada..."
Nafas Nabari kembali, dia sedikit sesak setelah mengalami tidur singkat itu. Saat Nabari akan pergi, Izanami dan Shiroi sudah berada di hadapannya. "Kau mau kemana? "
"Paman Yatsutoka. "
"Ikut denganku! " Shiroi mengangkat Nabari ke pundak kanannya, hingga tatapannya terbalik. "Ehh? " Dia memebawa Nabari bersamanya. Shun dan Azeli mendampingi Izanami.
Shiroi memasukan Nabari ke dalam mobilnya, dan shun telah kembali. "Shun, bagaimana nyonya Izanami? "
"Dia sudah pergi bersama walikota. Ehh kau memborgolnya, pak? "
"Ayo, kita juga harus pergi! "
****
Di waktu sekarang.
Arylin bergegas ke hadapan Nabari, dia menarik tubuh adiknya itu. "Kemana saja kau? "
"Ekh-hm. " Nabari dan Arylin berhenti ribut. "Jaga sikap kalian." Izanami menatap dingin mereka. "Maaf. "
"Ayo kita kembali. " Ajak Izanami. "Baik. Nabari, ayo ki..." Saat Arylin membalikkan tubuhnya, Nabari sudah tidak ada disana. "Bocah sialan!"
Semua menoleh ke arah Arylin yang sedang terbakar. Mereka menghela nafas bersamaan. "Arylin, biarkan saja dia."
"Tapi..." Izanami masuk kedalam mobilnya mengajak Arylin sekali lagi. "Ayo kita pulang. " Arylin tidak dapat menolak bibinya itu.
Sejak kecil memanag Arylin sangat takit kepada bibinya, entah mengapa. Padahal Izanami tidak pernah melakukan apapun. Tapi karena aura dan kekuasaannya dia terlihat sangat dingin.
Nabari pergi lagi ke kediaman Shen secara diam-diam, dia menemukan beberapa tanda yang sama bahkan di antara tubuh para korban. Sebelumnya, dia pun menyelinap ke kamar mayat untuk melihat para korban dan yang terparah adalah kondisi Xiao Shen.
Sebenarnya apa yang terjadi. Nabari mengira bahwa Shen bekerja sama dengan Karazaki, tetapi mereka semua malah mati terbunuh.
Aoi, apa yang sebenarnya kau rencanakan?
"Ayah. " Nabari dengan terpaksa menghubungi Tora dengan telephaty. "Putri Shen dan Arataliya itu di bawa mereka, kau tahu itu rencana Aoi. "
"Hmm, dia itu pamanmu."
"Kau harus menyelamatkannya, aku akan bertemu Aoi. "
__ADS_1
"Maaf aku tidak bisa. "
"Hei! Tung... "
"Sampai jumpa." Tch! Dia menutup jalur komunikasiku, dasar Ayah sialan!
Nabari pun pergi meninggalkan rumah Shen mencari jejak Karazaki, sembari mengirim pesan kepada Morita dan Lamia lewat telephaty. "Morita-chan, Layla, pergilah ke gedung bekas markas Hiu biru mereka menyekapnya disana. Aku tidak bisa kesana sekarang, ada sesuatu yang harus aku lakukan terlebih dahulu. Tolonglah!"
****
Sana yang berada satu ruangan dengan Morita dan Lamia berusaha menyadarkan mereka. "Hei, kalian berdua sadarlah! "
Kaoh membangunkan mereka. "Siapa yang menghubungi kalian? "
"Dia orang itu. " Jawab mereka bersamaan. "Orang itu?" Kaoh menduga-duga. "Dia bocah bertudung yang menyelamatkanku. "
"Dia anak bertudung yang menyerang saya. "
Jawaban yang berbeda dari mereka. "Apa yang dia katakan? "
"Dia bilang kalau tuan putri Shen disekap di markas Hiu biru dan menyuruh kami untuk menyelamatkannya. "
Kaoh melepaskan peganganya dari Lamia dan Morita, lalu menyuruh Hana memanggil Ikuta untuk mendampingi para gadis itu ke China.
"Kau memanggilku? "
"Pergilah bersama mereka berdua, ke markas Hiu biru! " Ikuta menuruti perintahnya. "Mungkin Karazaki disana. Berhati-hatilah!" Bisik Kaoh. "Ya. "
Mereka pun pergi bersama Ikuta. Kaoh melihat ke jendela berharap semua akan baik-baik saja. "Ahh, aku rindu tuan putriku. "
****
Nabari telah tiba di sebuah villa kecil yang aestetic ala hawaii, ada seorang oria yang aedang duduk santai meminum secangkir kopi dan hidangan dessert di meja makan yang mungil.
"Duduklah. " Nabari duduk di kursi yang berada di seberang pria itu, mereka berhadapan. Pria itu menikmati makanan penutupnya. "Makanlah, pasti kau lapar bukan? Hm, apa kau mau makan terlbih dahulu? "
"Kenapa kau memanggilku, Aoi? " Aoi berhenti menikmati makananya, mengelap bibirnya dengan tisu. "Kau tidak pernah sopan padaku, aku ini pamanmu. " Nabari diam mematung menatapnya dingin.
Aoi menyandarkan punggungnya ke dada kursi yang ia duduki. "Kau sudah besar, apa kau sadar bahwa kau semakin rupawan? "
Nabari memporak porandakan semua yang tertata di meja makan itu dengan kekuatannya. Dia juga menyerang Aoi dengan kekuatan fikiran dan pengendali anginnya. Namun, Aoi tidak berkutik sedikit pun.
Aoi tersenyum lebar. "Kau semakin kuat juga. "
"Berhenti basa-basinya! Aku tau kau tidak disini. " Aoi tertawa renyah.
"Seperti yang aku harapkan dari Nabari." Aoi menempelkan sikunya di atas meja, menempelkan kedua tangannya dengan dagu.
__ADS_1
"Nabari-chan, ayo ikut bermain bersamaku. "