Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
56. Epilog


__ADS_3

Helikopter itu mendarat tepat diatas markas baru mereka. "Ini sungguhan? " Tora menepuk pundak Aoi. "Benar. "


"Ehh? Kau mencuri para kolegaku kan? "


"Sudahlah masuk saja! " Suruh Tamao.


"Ya ampun, apa yang merasukimu kakak? "


***


Kaoh telah kembali dan menerima laporan bahwa Aoi kabur ,tetapi tidak ada satupun yang tahu kebenarannya.


"Lalu, apa yang dilakukan kakek? "


"Aku disuruh keluar sebelum itu, apa Ketua... "


"Tidak mungkin. " Kaoh menyanggah praduga Shiroi.


Kaoh pun membuat sebuah pengumuman tentang kejadian di penjara rahasia intel dan juga pengejaran pelaku, Nabari dan Aoi.


"Untuk pelaku itu kalau bisa kita harus membunuhnya. " Semua terkesiap. "Ini perintah!"


Di ujung ruangan, Arylin mengkhawatirkan kakaknya itu bersama Lichita. "Apakah ini akan baik-baik saja? "


"Entahlah. " Arylin melipat kedua tangannya.


***


"Oy...Oy... Oy... Oy! " Nabari menggerakkan light stick menyala yang dipegang dikedua tangannya.


"Idol? " Aoi tertegun.


"Putramu... " Tora mengangkat kedua bahunya.


Nabari melirik dan melihat Aoi, dia pin memberhentikan video itu dan menghampiri Aoi. "Hei, paman yang hobi lihat bikini dari mana saja kau? "


"Anu...Na.. Aw! " Tamao menampar Aoi.


"Kenapa kau menamparnya? "


"Kenapa kau menamparku? Itukan karena aku normal. "


"Diam! Kau juga, berhentilah menonton idol! "


"Sorry, ma'am." Tamao mengerutkan dahinya. "Kau pasti akan menyukai idol juga setelah melihat ini! " Nabari memperlihatkan sebuah video musik idol pria yang mempesona.


"Bagaimana? Kau suka kan, iya kan? Hehehhe... "


"Ti... Tidak! Biasa saja. "


"Uhm, benarkah? Setelah melihat ini, lihatlah otot perutnya yang absolut. " Wajah Tamao memerah. Didalam hatinya, kenapa jaman sekarang anak muda begini? Tapi... Dia melirik ke para idol itu lagi.


"Cukup. " Tora mengambil tablet yamg dipegang Nabari dan menutupnya, lalu diambilnya.


"Uhm, ayah cemburu kan? "


"Tidak. "


"Bena.. Wbh?" Tora membungkam mulut Nabari dan menahan tubuhnya.


"Sebaiknya kita buat rencana lagi. "


Disisi lain..


"Awbababbabahhaubdhrbsnkkskskbdvbdnd."


Nabari masih dibungkam, lalu Tora menotok lehernya hingga pingsan.


"Hei, kau kasar juga. "


"Bukankah kau juga sama. "


Mereka berhenti berseteru setelah melihat Tamao yang melamun. "Tamao. "

__ADS_1


Tamao terbangun setelah mendengar suara Tora. "Ayo kita buat rencana, uhm sebaiknya bawa dia dulu. " Tamao menunjuk Nabari.


"Biar aku yang bawa. " Aoi mengangkat tubuh Nabari ke pundaknya. "Kau sehat rupanya. "


"Jangan bicara begitu kepada yang baru sembuh dioperasi.."


***


"Tidak kusangka dia akan kabur. "


"Tidak, tidak, dia bisa melakukannya. "


Semua kelas saling berbisik dan berisik. "Semua membicarakan Nabari. " Keluh Nishimiya.


"Ayolah, pasti ada alasannya. " Ichi datang merangkulnya.


Suara pengumuman muncul dari speaker. "kalian para esper! "


Mendengar itu Yui hanya menyengir sambil menggaruk kepalanya. Dia itu. Dalam batinnya.


"Aku tahu kaliam sedang ketakutan kan, huh! Tenang! Kita akan meporak porandakan tempat ini dengan festival musim panas... "


"Apa maksudnya porak poranda? " Kaoh menempelkan dagunya ke meja.


Satu jam sebelum. itu. Sana datang mendobrak pintu kantor Kaoh. "Lolicon! "


"Jangan panggil aku lolicon! "


"Ukhm. Pak lolicon. " Kaoh menghela nafas. "Ada apa? "


"Jangan marah. Aku ada usul agar ketegangan yamg merenggakan persatuan ini dapat dihancurkan. " Sana mengepalkan tinjunya dan mengangkat kedepan wajahnya dengam serius.


"Apa itu? "


"Festival musim panas. " Sana menjrlaskan rencananya dengam detail.


"Huh, apa aku salah menyetujuinya? Huh. "


Dia turun dengam percaya diri, tetapi setelah itu tubuhnya bergetar ketika melihat Hana disana. Dia berlari ke tempat Hana lalu memeluk, dan menjatuhkan tubuhnya ke Hana.


"Hanaya... "


"Uhm."


"Aku malu! Heuuu. " Sana merengek. Kau malu setelah semua itu? Lalu aku harus apa. Sana terus menangis dipelukannya.


"Sana senpai selalu bersemangat ya." celetus Amanda.


Mereka pun mulai persiapan festival sekolah untuk dua minggu yang akan datang.


***


Pagi itu begitu cerah seakan matahari akan turun tertidur ditanah. Anak balita itu berjalan menyusuri lantai tatami dirumah tradisional itu.


Dia bersenandung sambil berjalan layaknya tentara yang baris berbaris. Gadis kecil dengan rambut pendek yang pirang itu berhenti didepan sebuah ruangan.


Berdiri didepan pintu yangvsedikit terbuka. Mengintip dengan satu mata.


"Lagi! lagi! " Dia melihat Arylin yang sedamg berlatih kendo didalam sana. Arylin nampak sangat lelah dan bekerja keras.


"Na... chan! " Anak itu bergidik seram, dia berlari kecil menjauhi sumber panggilan itu. Namun, dia tetap tertangkap.


"Mau kemana kau, wahai boneka kecilku? " Kaoh terkekeh.


"Cuma mau jalan-jalan kaya tentara. "


"Uhm, benarkah? " Nabari mengangguk.


"Yosh! " Kaoh mengangkat gadis kecil itu dan menggendongnya di kedua pundaknya. "Kita naik pesawat! " Kaoh berlari menerbangkan Nabari.


Anak itu menganga, matanya berbinar dan membesar. Dia senang dapat melihat pemandangan yamg lebih jelas.


Arylin berhenti, keringatnya telah mengucur seperti air terjun.

__ADS_1


"Kita sudahi saja, besok kau harus berlatih kick boxing kan."


"Iya, bibi. "


Orcha membuka pintu ruangan itu. "Ohkun! "


"Dia tidak ada disini. "


"Apa?! "


***


Bruk!


Kaoh menubruk seseorang didepannya. Dia langsung menurunkan Nabari dan membuatnya membungkuk bersama. "Maafkan aku. "


Nabari mengintip ke atas. "Ayah! " Dia berteriak riang, mengangkat tangannya.


Kaoh tercengang, dia kaget bahwa orang yang dia tabrak adalah ayahnya yang masih dia benci.


Tora mengangkat dan menggendong Nabari. "Kau memakaikannya baju perempuan lagi, Ohkun."


"Maafkan aku. "


"Kau memang suka menjahili adikmu. "


"Maaf. "


"Ayah, janggutmu! "


"Waa, Naba jangan menarik janggut ayah... Lihat dia sakit! "


Tora menahan sakit ketika janggutnya dijambak. Kaoh mengambil Nabari kecil dan menggendongnya.


Tora mengelus dagunya yang memerah. "Kenapa wajah ayah itu berantakan? " Wajah Kaoh memucat memberanikan diri melirik Tora.


Tora menunduk termenung, mentalnya turun.


"I... itu namanya janggut. Lelaki harus memilikinya ketika dewasa karena itu adalah tanda kedewasaan!"


"Waaa,, apa kakak juga akan menumbuhkannya? " Kaoh mengiyakan.


"Janji? " Nabari memasang wajah usil. "Ya. "


"Benarkah?"


"Ya! "


"Awas kalau tidak aku akan membunuhmu. " Dia membuat mental Kaoh turun.


Anakku... Dalam batin Tora. Dia menghela nafas pendek.


"Ohkun! " Bulu kuduknya berdiri dia menolehkan wajahnya ke belakang.


"Ka... ka... kakek. "


"Pelajaranmu belum selesai! "


"Kakak kabur lagi? Ya ampun. " Nabari melipat kedua tangannya.


"Malah gak membelaku?! "


Orcha menarik belakang baju Kaoh untuk kembali ke ruangan Orcha. "Ayo kembali. " Nabari yang melihat itu tertawa renyah.


Tora memgangkat tubuh anak balita berusia empat tahun itu. Dia mendekap anak itu. "Ayo kita jalan-jalan. "


Dari balik dinding-dinding kayu yang saling membatasi itu. Seorang gadis kecil melihat dengan sinis semua orang.


Dia mencengkeram kedua tangannya dengan keras. Izanami melihat itu dari seberang. Dia memperhatikan gadis yang penuh dendam itu.


Gadis kecil itu pun menyaku celananya dan memutupi wajahnya dengan masker.


Angin berhembus kencang memberhentikan langkah Arylin ,dia menengadah ke arah menara disana. Dia seakan melihat suatu sosok hitam yang terpancar matahari

__ADS_1


__ADS_2