
"Kalian akan melakukannya kan? " Nana, Kuchisawa, Nishimiya dan Ichi menyembunyikan rasa gugup mereka.
"Kalian fikir aku tidak tahu. "
"Apa maksudmu? " Tanya Morita pada Lamia.
"Apa mungkin... " Sambung Dunki Shen.
"Hei, kenapa kalian meninggalkanku! Dasar sok persahabatan! " Protes Lamia, membuat semua temannya terkejut. "Ehh? "
"Lamia-chan, anu aku... maksudku kami tidak bermaksud begitu kok. " Ichi menggaruk kepalanya.
"Jangan bawa-bawa aku. " Nana melirik tajam Ichi. Ichi pun membuang mata.
"Lalu, bagaimana rencananya? " Tanya Nishimiya.
"Rencana apa? " Tubuh semua orang langsung bergidik merinding, bulu kuduk mereka berdiri. Mereka perlahan menoleh ke lawang pintu dan benar saja Kyile telah mematung disana. "Apa yang kalian rencanakan? "
"Anu, itu..."
"Hah?!"
Mereka pun keceplosan bahwa mereka berencana mencari keberadaan Nabari.
"Kalian fikir bisa menyelamatkannya? "
"Tidak, kami tidak menyelematkannya. " Celetus Kuchisawa. Eh? "Iyakan, teman-teman." Mereka mengiyakannya.
"Dia itu tidak perlu diselamatkan. " Sambung Nana. "Ekhm, aku setuju. " Ucap Shen.
Kyile menghela nafas. "Kalian!"
"Ya."
"Aku ikut. " Ehh!
***
"Ini hasilnya. " Misaki menyidorkan secarik amplop besar yang berisikan hasil biopsi darah yang kemarin dia ambil.
"Ada tiga orang yang tercatat dari hasil pemeriksaan darah tersebut. Seseorang yang tidak dapat dikenali, lalu milik Nabari dan yang satunya... "
"Yang satunya? " Tanya Kaoh dan Arylin.
"Adalah milik Aoi. " Apa? "Aku tidak tahu dia adalah musuh atau kawan. " Jadi dia itu... Batin Arylin.
"Kawan? Apa dia menyelematkannya lagi? " Kaoh mengerutkan dahinya.
"Lagi katamu? " Kaoh mengannguk. "Dia telah beberapa menyelematkan anak itu setelah menyerang, dia juga beberapa kali membuatkan sebuah rencana untuk anak itu."
"Ini membingungkan."
"Kau benar. "
" Apa rencana dia sebenarnya? "
"Tidak ada yang tahu jalan fikirnya, dia dan orang itu mereka sama. "
***
"Membosankan! Hei, apa aku boleh kabur sekarang? " Nabari menutup majalah yang telah ia baca tiga kali.
"Mana ada orang mau kabur bilang-bilang."
"Orangnya disini."
Aoi memasang wajah datar dan menatap Nabari yang berwajah datar. "Hah. "
"Aku sudah membaca semua buku dan majalah yang kau bawa. "
"Kau belum mengerjakan TTS nya. "
__ADS_1
"Ogah! " Aoi terkekeh. Nabari memanjangkan bibirnya sedetik.
"Mau bermain? "
"Bukankah selama ini kau sudah mempermainkanku. Apa tidak lelah? "
"Ahh, ahh, aku sangat lelah sampai-sampai aku ingin berendam di pemandian air panas. Kau mau ikut? "
"Ti..."
"Wah, wah, wah, sepertinya kita kedatangan tamu. " Wanita itu dengan angkuhnya memberi salam. "Halo. "
"Siapa dia? "
Dua jam sebelumnya...
"Aku ikut. "
"Eh?? "
"Apa maksud anda, sensei? "
"Apa IQ kalian 0,5 ?"
Kuchisawa dan Nana berpaling kepada gerakan kaki Kyile. "Ke... napa aku mengantuk se... " Morita jatuh dan tertidur. "Kuzuchan? " Disusul dengan yang lainnya. Kyile pun pergi setelah menidurkan mereka semua.
"Halo, Aoi."
"Kau?"
"Tenanglah aku akan menyelamatkanmu, Nabari-kun. " Ehh?
"Heuheu. Kau tidak cocok menjadi anggun,Yakuze."
"Ahh. Aoi kau keterlaluan." Yakuze menyeringai.
"D.. dia berubah? " Dokter dan para perawat panik dan terkejut, kecuali satu orang. Satu orang itu berjalan membuka ikatan rambutnya, mengeluarkan benda yang berada dalam sakunya.
"Haruko-san, itu ap... " Haruko bergerak cepat dan telah berada di ranjang Nabari, menyanderanya disana.
"Haruko-san? "
"Jangan bergerak atau anak ini terluka! " Tiba-tiba semua staff disana mengeluarkan benda yang sama.
"Ya ampun. " Yakuze dan Aoi mengangkat kedua tangannya, dan mereka pun tertangkap.
Mereka dipindahkan ke sebuah ruangan yang terpisah tidak jauh dari balai kesehatan. Disana terlihat kepala desa dan beberapa orang juga.
Mereka menangkap kedua pria itu, megikat mereka dan menyekapnya. Sedangkan Nabari, ia masih berada diruang perawatan dan diawasi ketat.
"Hei, Yakuze. Uhm, kau tidak berubah sama sekali. "
"Apa? "
"Harus diledek dulu baru bicara, dasar! "
Mereka pun saling berdiam diri kembali, lalu Aoi memulai pembicaraan lagi. "Kau berniat menyelematkannya atau membawaku? "
Ikuta tetap membisu. Dia tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Aoi. "Menyebalkan sekali, kau sungguh menyebalkan. "
"Kau banyak bicara sekarang. "
"Benarkah? Mungkin karena aku mengkhawatirkannya. "
"Dia tidak perlu... "
"Apanya yang tidak perlu, Sensei? "
***
Sebuah ruangan yang bertuliskan kelas 2-1 alias kelas A tingkat dua. Kelas yang biasanya paling berisik kini sangat hening.
__ADS_1
Para murid tertidur dimejanya masing-masing kecuali Kuchisawa. Dia hanya berpura-pura agar dapat menjalankan rencananya.
Kuchisawa berdiri dari tempatnya mendekati jendela kelasnya yang berada dilantai tiga gedung sekolah. Dia membuka jendela itu.
"Apa gunanya pintu? " Kuchisawa terhenti dengan pertanyaan itu yang berasal dari Lamia yang sedang duduk angkuh.
"Kau juga ya, Maekun. " Nishimiya dan Ichi juga Nana telah berdiri dibelakangnya.
Kuchisawa tersenyum lebar. "Jadi cuma segini? "
"Kuzuki dan Shen tidak dapat diandalkan. " Lamia melipat kedua tangannya. "Siapa katamu? " Morita terbangun.
"Ohoho, aku yang akan menyelamatkan tuan muda. " Shen membuka kipasnya.
Tiba-tiba tanah bergetar ketika mereka telah keluar kelas lewat jendela. Ketika mereka mendaratkan diri di lapangan sekolah tanah tiba-tiba saja bergetar.
"Kyile Sensei. "
"Tak akan kubiarkan kalian pergi. " Kyile mengeluarkan pecutnya.
***
"Haruko-san. "
"Apa kau memerlukan sesuatu? "
"Apa kalian esper? "
"pertanyaan itu, sepertinya terbalik. "
"Kalian mendapatkan benda itu dari mana? "
Haruko tersenyum kecil. Dia membuka baju Nabari untuk mengganti perban dan memeriksa lukanya. "Jahitannya bagus, aku akan memberinya obat merah lagi dan mengganti perbannya. Jangan banyak bergerak. "
"Baik. Haruko-san, kenapa kau masih merawatku? "
"Itu adalah tugas kami sebagai perawat dan dokter. Soal kekuatan kami... " Haruko yang telah selesai mengobati Nabari, membuka kaos tangannya. Mengangkat telunjuk kanannya dan menempelkannya ke bibir Nabari.
Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Nabari. "Rahasia. " Bisiknya.
"Apa yang kalian lakukan disini? "
"Seharusnya kau bertanya, apa yamg mereka sedang lakukan. " Ikuta tergugah dengan jawaban Nana.
"Kami akan melepaskan kalian. " Ichi dan Nana pun melepaskan ikatan mereka.
Disisi lain, Morita, Lamia dan Shen Si Trio Kwek Kwek. Mereka sedang menghadapi para orang-orang desa. "Mengalahkan tanpa melukai melelahkan, lebih baik aku terus bertarung saja dengan Kyile Sensei. " celetus Lamia.
"Ohoho, seharusnya tadi kami tinggal saja. "
"Aku tidak akan membiarkan kalian pergi. " Kyile mengeluarkan pecutnya menyerang para siswanya.
Kyile membuat mereka terpecah belah, pertarungan sengit antara kelas 2A melawan gurunya. Hingga mereka kewalahan.
"Heuh, kalian tidak bi... " Kuchisawa menepuk pundak Kyile, itu tidak dapat dia sadari. Cepatnya! Batin Kyile.
Ini? Kyile menyeringai, lalu dia mengacungkan senjatanya memutarnya dan melepasnya. Lalu dia pun menggerakan tanah yang dipijakinya. "Totsuki! "
"Ketahuan."
"Ini gara-gara dia!" Protes Lamia yang mengingat kisah sebelumnya.
"Ohoho, kau terlalu percaya diri."
"Tawamu itu menganggu. "
"Berhentilah mengoceh dan bantu aku! " Kenapa juga Shen tertawanya jadi begitu ya? Ah, sudahlah! Morita sedang diserbu para warga desa dari anak-anak hingga orang tua. Apa mereka ini? Sial!
"Kyaa! " Seorang staf berteriak. Semua orang didalam sibuk untuk melawan penyusup yang datang kerumah sakit itu.
"Apa kau seorang pasien? "
__ADS_1