
"Kau akan mati. "
Fubuki mengendalikan pasir itu, dan tanpa sadar Nabari telah ditusuk tepat di jantungnya. Nabari memuntahkan darah dari dalam mulutnya. Tubuhnya kaku tak bisa bergerak.
"Kau harus ikut bersamaku ke neraka! "
Hari itu telah gelap karena mereka telah bertarung selama lima jam. Perlahan tubuh Nabari terjatuh ke tanah.
Fubuki merasakan sesuatu datang ke arah mereka. "Apa it... "
Nabari tersenyum kecil.
DUARGH!!
Meteroid itu jatuh tepat ke tempat mereka berdiri. Semua diluluh lantahkan olehnya. Angin yang berhembus sangat kencang membuka pintu diantara pasir dan debu yang berterbangan untuk kembali jatuh.
"Uhuk!, Uhuk! " Fubuki sadar setelah pingsan selama lima belas menit. Dia berusaha bangkit dengan tubuhnya dan melihat Nabari yang sedang berdiri terdiam dibalik bayangan.
Seorang wanita muncul dari balik badai pasir yang menghalangi pandangan matanya. Dia menengadahkan wajahnya ke langit dan membuatnya tubuhnya membeku ketika dia melihat bulan yang memerah.
Cahaya-cahaya bagai bintang jatuh terbang meluncur dan jatuh ditarik kedalam tubuh wanita misterius itu.
Jeritan demi jeritan terngiang-ngiang didalam, membuat kepalanya begitu sakit.
Setelah Fubuki mengelap kedua matanya, dia terbelalak dengan kehadiran seorang wanita yang terbang ke arahnya memegang wajah Fubuki lalu mencium bibirnya.
Tubuh Fubuki melemas seperti ditarik sari kehidupannya. Setelah wanita itu melepasnya, tubuh Fubuki memberontak.
"Argkhgh!!" Fubuki berteriak sakit. Kedua tangan dan kaki Fubuki membesar dan meledak.
Wanita itu hanya melihat dengan tatapan kosong. Dia memandang bulan diatas kepalanya, lalu terbang dengan rambut panjang yang membalut punggungnya.
Berdiri membelakangi bulan menarik semua cahaya itu. Dia menghela nafas dan kembali turun.
Fubuki tergeletak tak sadarkan diri. Fubuki menoleh ke wanita yang duduk disebuah batu yang terus memandangi bulan merah itu.
"Ka...u de... wi To... moe... kan? " Tomoe menoleh kebelakang.
"Aku bukan dewa ataupun dewi. " Fubuki tersenyum meledek.
Tomoe kembali menatap bulan lagi.
"Aku mengalah, lagipula kau pun akan pergi bersamaku. Tch! "
Rembulan merah berubah menjadi biru terang.
"Sudah saatnya ya. " Sahut Fubuki dengan suara lemas.
Matahari mulai memunculkan sinarnya. Fubuki terkekeh. "Kita akan segera mati. " Dia melirik ketubuhnya yang mulai meluruh.
__ADS_1
Beberapa anak dan gadis bertudung berdatangan. Mereka memangkalkan tubuh mereka memberi hormat. "Yang mulia, serahkan kepada kami. "
Wanita itu menoleh dengan deraian air mata.
"Sia... pa kalian? " Mereka tak menghiraukan pertanyaan Fubuki.
Bulan telah tertelan oleh bumi yang redup menerang menerbangkan sang mentari secara pelan ke permukaan.
Wanita itu memagangi wajah anak lelaki yang tertidur itu. Dia mencium kening anak itu, lalu menempelkan dahinya ke dahi anak itu.
"Selamat tinggal. Terima... kasih. "
***
lima puluh lima detik sebelumnya...
"Yang mulia, kami akan memulainya."
"Kalian siapa? " Tanya Fubuki yang berada dibelakang mereka. Orang-orang itu tak menjawab dan terus menghiraukannya.
Hingga beberapa orang anak kecil, mereka bekerja sama mengangkat dan memindahkannya dengan telekinesis.
"Hei, kalian apakan aku? " Seorang gadis menengadahkan kedua telapak tangannya ke atas, dan munculah sebuah simbol di dada Fubuki.
Simbol itu juga muncul di dada Tomoe dan bulan itu. Tomoe mengangkat tangannya, melayangkan tubuhnya lalu menghilang.
Mereka menangkap tubuh Nabari yang terjatuh dari langit menggunakan awan dan kapas yang disatukan menjadi sebuah kasur yang besar.
Dia senang walaupun dia berhasil disegel oleh mereka dan Tomoe bersama dengan seluruh kekuatan psikis yang ada didunia, dia senang bahwa bocah itu akan segera mati bersamanya. Karena, Nabari pun telah kehilangan jantungnya.
Namun, ia dibuat sedikit terkejut dengan gerakan tubuh Nabari yang menoleh ke arahnya, menatapnya dan mulai berbicara.
Para gadis dan anak-anak mundur agar tak menghalangi percakapan mereka. "Kau akan pergi bersamaku, tapi anak ini tidak. " Suara wanita keluar dari jasad Nabari.
Fubuki terperangah ketika melihatnya. Dia tersenyum kecil memandang ke arah langit. "Jadi aku kalah ya. "
Tubuhnya sedikit demi sedikit melebur, menghilang jadi debu. Terbang tertiup langit dan menghilang bersama sang rembulan. Bahkan Meteroid yang jatuh semalam ikut menghilang.
Lautan yang terbelah kembali menyatu, bumi yang retak menyatu dengan sendirinya. Hewan-hewan menjadi tenang, tumbuhan kembali hidup. Dan langit kembali dengan cerah.
Orang-orang terbangun dari mimpi mereka, beberapa orang yang menyaksikan fenomena alam itu telah pulang tanpa berkata-kata.
Suara pria itu masih terdengar di telinga Amano. "Sejak kapan? "
Amano mengingat kejadian itu sambil menatap anak itu. Pertemuan pertamanya dengan Nabari tiga tahun yang lalu. Dan semua rencana mereka.
Amano pergi meninggalkan tempat itu , sedangkan anak-anak itu bekerjasama membawa dia kembali kerumahnya.
Kelompok bertudung itu menyimpan Nabari di depan yang tiba-tiba muncul didepan Azami yang masih berada dikantornya.
__ADS_1
Azami tersentak karena dia melihat tubuh manusia yang tiba-tiba terjatuh dihadapannya. Sontal dia bangkit dari tempat duduknya dan memeriksa.
"Naba?!"
Anak-anak dan para gadis bertudung itu pun berkumpul di sebuah tempat yang penuh kenangan bagi mereka. Mereka memindahkan kemampuan mereka ke batu-batu kecil itu hingga menghilang ,lalu membakar semua batu itu kedalam api abadi yang sudah menyala ditempat itu sejak lama.
Ini adalah pesan terakhir Nabari. Rencana yang telah mereka buat, semua skenario itu.
Amano membuang benda ditangannya ke sebuah sungai yang deras dan dalam. Dia melemparkannya dari atas jembatan.
Amano yang telah ditunggu oleh beberapa orang pun mengikuti mereka dan pergi. Hawa yang damai mungkin akan terjadi.
Aoi yang telah mulai pulih setelah amputasi tengah dalam pemeriksaan. Dia ditangkap atas kasus penipuan, perjudian dan membantu *******. Namun, karena tubuhnya yamg telah cacat hukumannya di peringan ketika dipengadilan.
Tiga bulan yang telah berjalan ini membuat Aoi dijatuhi hukuman penjara tiga belas tahun dan akan selalu diawasi dua puluh empat jam. Ditempatkan di penjara yang berbentuk rumah untuk para terdakwa disabilitas.
Tiga bulan ini juga para siswa kelas dua dan satu telah menjalani ujian dan naik kelas. Dan, mereka yang telah menyelesaikan masa SMA nya telah pergi ke dunia masing-masing.
"Baru saja tiga bulan udah ada reuni. " Kento menggaruk kepala belakangnya.
"Soalnya kita sekalian menjenguknya. " Sahut Yui.
Ketika mereka sedang berjalan, Shiren dan Suichi melambaikan tangan kepada mereka dari seberang.
"Woy! "
Setelah berkumpul bersama tanpa adanya a atau b , mereka pun secara bergantian untuk melihatnya.
"Benarkah itu akan dilakukan? " Tanya Shiroi. Azami mengiyakan. "Kaoh dan keluargaku... Kami telah rela untuk kehilangan satu orang anggota keluarga kami lagi. "
Nana terus melihat Nabari yang masih dalam keadaan koma, dengan alat pernafasan dan banyak alat dan selang lainnya.
Haruko yang baru datang memeluknya dari belakang membuat Nana terperanjat. "Haruko-san. " Wanita itu tersenyum manis.
"Akankah kita dapat memutar waktu? Sayangnya sudah tidak ada lagi esper. "
***
Seorang pria yang menutup wajahnya dengan sebuah kain dan terus berjalan tanpa alas kaki bertelanjang dada terus berjalan bersama tongkat kayu yang dia pegang.
Saat dirinya akan menuju ke ujung jurang untuk melompat pergi, banyak orang yang menghalanginya.
"Kami tidak akan membiarkanmu. "
***
Dari hutan yang gelap di negeri antah berantah, wanita itu keluar dengan tubuh yang lemas.
"Hei, anda siapa? kenapa? " Tanya seorang pria yang lewat.
__ADS_1
Wanita itu terjatuh lunglai dan si pria menangkapnya. "Hei?! " Wanita itu pingsan sambil tersenyum.
...-SEASON 1 TAMAT-...