
Malam itu bulan terlihat lebih biru dari biasanya. Langit begitu sepi, semua orang saling bersinggungan.
Mata biru yang mengabu dan memerah nyala. Angin mengenai kedua sisi wajahnya, mengayunkan ujung-ujung rambutnya.
"Sedang apa kau diatas sana? " Kanazawa melihat Nabari yang duduk di dahan pohon itu.
"Bulan purnama. "
Kanazawa menyusulnya naik, berdiri diantara dahan besar di pohon satunya. "Kau vampir atau Manusia serigala? "
"Aku... "
"Kau? "
"Aku lapar." Kanazawa hampir terjatuh. "Kau ini. "
"Yuri, aku benar-benar lapar. " mata Nabari berlinang air mata . Kelopak mata bawahnya menghitam. Wajahnya pucat.
Kanazawa menjetikkan jarinya. Dengan ajaib, ditangannya muncul dua bungkus onigiri yang membuat air liur Nabari menetes.
Kanazawa menyodorkan makanan itu, dan Nabari mengambilnya satu. "Onwigwiri bwuawatanmwu memwang wenwak! "
"Makanlah pelan-pelan dan jangan berbicara saat mengunyah."
keesokan paginya..
Kaoh kedatangan tamu yang mengejutkan. Secara mendadak pria berjas dan berkacamata itu datang, lalu duduk dengan santai di sofa yang berada didalam kantor Kaoh.
Pria itu menyenderkan tubuhnya ke muka sofa sambil menyilangkan kakinya. "Tidak ada kopi untukku? "
Kaoh menghela nafas pendek. Dia bangkit dari tempatnya, menuju temoat favoritnya dan membuat kopi.
Kaoh menyajikan secangkir kopi yang ia buat ke depan pria itu. Dia mengekelingking kopi yang dibuat Kaoh dan menyuruputnya.
"Uhmm, enak. "
"Apa yang membuatmu datang jauh-jauh dengan mendadak dari Transylvania? "
Pria itu memajukan tubuhnya, sedikit meringkuk untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Kaoh.
"Urusan serumit ini, kau tidak memberitahuku? "
"Aku sudah memberikan informasi lewat email yang aku kirim. "
"Aku tahu itu tidak semuanya. Dan satu lagi, kenapa harus membunuhnya? "
Pintu ruangan itu terbuka, seorang pria masuk kedalamnya. "Ini bukan urusan orang yang hanya sekedar eksekutif sekolah sepertimu, Nishimiya Kai. "
"Kurokawa Fubuki. Rupanya kau telah besar kepala. " Fubuki tersenyum kecil.
"Bukankah itu kau? "
"Aku sudah lebih dulu menjadi anggota dewan, dan aku adalah seorang jaksa. "
"Sudah, sudah... jangan bertengkar, para tuan. " Kaoh berusaha melerai keduanya. "Ini terpaksa karena... "
"Karena apa? Apa karena dia adik tirimu yang sudah tidak dapat kau kendalikan, Kaoh? "
__ADS_1
Kaoh terdiam. Dia tidak dapat mengelak pertanyaan Kai untuknya. Lalu dia berusaha untuk tetap tenang.
"Ini sudah bukan urusan kalian lagi, karena ia telah menjadi ******* dan buronan negara. Dan mungkin, apa dia yang menyembunyikan raja, ratu dang sang putri yang mungkin telah ia bunuh disuatu tempat? "
"Hacwhi! " Chovez dan Kanazawa berteriak, dan cepat memberi Nabari tisu untuk mengelap ingusnya.
"Ya ampun, apa kau sedang flu? " Tanya Elize.
"Apa kau meracuni makanannya? " Oroi menatap sinis Elize.
"Kenapa kau selalu memfitnahku? "
"Hei, jangan bertengkar! " Semua langsung terdiam setelah Nabari berteriak marah. "Hah. Oya, dimana Lawliet dan Wiles? "
"Anak itu bukan tipe seperti itu. Seharusnya kau menge... Tidak! Kau tidak mengenal adikmu sendiri, karena selama ini kau hanya menggunakannya sebagai alat untukmu kan? "
Kai dan Kaoh saling bertatap tajam. "Terserah kau mau bilang apa, tapi ini adalah keputusan yang sangat berat untukku. "
Dikamarnya Arylin merenung sendiri sembari memasang earphone dikedua telinganya dan mendengarkan musik yang ia putar.
Dia terus mengingat kata-kata Rui dua hari yang lalu. Itu terus terbesit didalam benaknya. Aku harus bagaimana?
Nishimiya sedang asik bermain basket dengan anak-anak yang lain. "Istiraht dulu yuk! " Pinta Kento.
"Aku tidak menyangka mereka telah memakan korban. "
"Iya. "
Nishimiya hanya termenung saat mendengarkan percakapan itu. Tiba-tiba, ada yang memanggil namanya. "Oburi. "
Nishimiya menoleh dan tercengang melihat sosok pria didepanya. "Ayah? " Kai membenarkan kacamatanya.
"Ichi, kau bertambah tinggi. " Kai mengacak-ngacak rambut Ichi. "B-benarkah? "
Kai tersenyum dan mengiyakannya. "Aku baru saja sampai tadi pagi. " Dia melirik ke arah Nishimiya yang terus melamun.
"Boleh aku meminjamnya sebentar? " Kai merangkul Kepala putranya . Dia pun membawa Nishimiya ke sebuah taman untuk duduk dan berbicara.
"Apa yang ingin kau bicarakan? "
Kai menepuk bangku taman itu. "Duduklah. "
Nishimiya duduk disebelah ayahnya. "Oburi. "
"Uhm? "
"Apa kalian siap jika harus membunuhnya? " Nishimiya terbelalak dan menatap Kai. Beberapa jam sebelumnya, saat pertemuannya dengan Kaoh dan Fubuki.
"Dia bukan orang seperi itu, iyakan Kaoh? "
"Biar aku perjelas. " Sahut Fubuki. Kaoh hanya bungkam. "Kelompok itu telah membunuh seorang wanita dipusat perbelanjaan dua hari yang lalu. " Kai langsung tercengang dengan berita itu. "Kenapa kalian tidak memberitahuku? "
Kai mengedipkan kedua matanya, menutupnya selama dua detik. "Oburi. "
Nishimiya langsung bagkit dari duduknya. "Apa yang kau bicarakan?! Kalian beremcana membunuhnya? "
"Ini bukan lagi hanya masalah kita, tetapi seluruh negeri. Mungkin ia akan menjadi ancaman dunia. Jika begitu, akankah kalian masih mempercayainya ?"
__ADS_1
"Tentu saja! " Mereka menoleh ke arah belakang mereka. Nana dan Ichi telah ada disana, berjalan mendatangi mereka.
"Karena tidak mungkin itu ulahnya. " Ujar Nana.
"Nanamin. "
Kai tersenyum kecil. Dia berdiri dari tempatnya, menyakui kedua tangannya. "Itu bagus."
"Ehh? "
"A-apa yang dimaksud paman?! " Kai menertawai Ichi sambil mengacak-ngacak rambutnya. "Kau tidak berubah ya, Ichi. Nanami-chan, aku serahkan mereka padamu. "
Kai berjalan menjauhi mereka. "Paman. "
"Ayah,kau mau kemana? "
"Aku masih ada urusan. Maaf telah mengganggu waktu kalian."
***
"Jadi Nishimiya Kai telah datang ya, ini sesuai dengan dugaanmu. " Chovez melirik ke arah Nabari. "Apa yang akan kau lakukan sekarang? "
Paman. Nabari bangun dari tempat duduknya. "Kita cari mereka, Oroi. "
"Baik, tuan."
Aku tidak percaya, bahwa aku lengah. Tch! Nabari menggigit ujung bibir bawahnya.
Dia pergi dengan tatapan kemarahan.
Ditempat lain, Lawliet dan Wiles berdiri diatas sebuah gedung memperhatikan semua yang ada dibawahnya.
"Mereka seperti semut, aku ingin segera menginjak mereka. "
Shiroi mendatangi tempat kejadian kedua terjadinya pembunuhan. "Sekarang seorang pria."
Shiroi telah membawa jasad itu untuk di autopsi. Setelah hasilnya keluar dia mendatangi Kaoh dan yang lainnya dalam sebuah rapat pertemuan.
"Pria ini mati dalam waktu yang bersamaan dengan wanita yang sebelumnya. " Jelas Shiroi. "Dua hari yang lalu. "
"Siapa yang menemukan mayatnya?" Tanya Araumi.
"Seorang pemulung, dia menemukan mayat itu didalam tempat Sampah. "
"Ini bukan pembunuhan esperkan? " Sambung Kai.
"Ini pembunuhan biasa, tetapi setiap korban yang telah mereka bunuh akan diberi tanda simbol kelompok itu dengan sebuah besi yang panas. Itu terbukti dari kulit mereka yang terbakar dibagian itu. "
Kai menempelkan dagunya ke kedua tangannya yang digenggam. "Ada kemungkinan tersangka telah dikhianati oleh pengikutnya sendiri. "
"Kau masih seyakin itu, Nishimiya Kai. " Fubuki meliriknya sinis.
"Bukan, tapi aku tidak mempercayai siapapun disini. " Kai berdiri.
"Kau mau kemana? " tanya Fubuki.
"Aku harus segera kembali, aku tidak mau ketinggalan pesawat. Jadi, maaf aku tidak bisa mengikuti hingga akhir. " Kai membungkukkan tubuhnya.
__ADS_1
"Baiklah. " Araumi menjawab. Kai keluar dari ruangan itu, namun berhenti dimuka pintu. "Satu lagi, aku berfirasat akan banyak yang menghalangi kalian. "
Nishimiya Kai