
"Sepertinya aku sangat beruntung hari ini. " Celetus Karazaki. Dia menyeringai kepada Azami.
"Aku dapat membunuh ikan besar terlebih dahulu sebelum membunuh anaknya, Bwahahahah! "
Api biru menyambar tubuh Karazaki. "Takkan kubiarkan. " Api itu sama sekali tidak membakarnya. Ombal darah berwarna merah gelap melindungi sekujur tubuh Karazaki.
Darah melangkah turun membuka setengah wajah Karazaki secara lamban. "Tara! " Karazaki menyombong.
"Tenyata hanya segini kekuatan dari Raja api biru?"
Kurang lebih dua puluh tahun yang lalu, seorang bocah yang tengah berulang tahun di tahun kesepuluhnya berduka. Dia mendapat kabar ketika di sekolah bahwa kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas.
Disana polisi menemukan bagian-bagian dari mainan dan kue ulang tahun. Dadanya terbelilit, wajahnya jatuh dan bersembunyi. Sungguh anak yang malang, kata para tamu pelayat.
Seorang pria tua memayunginya, berseragam pelayan bangsawan. "Tuan muda, nanti anda flu. " Saat itu hujan turun sangat deras. Demi sedikit peti-peti itu datang ke liang lahat.
Isak tangis, keheningan, kebisuan, bahkan kerunyaman bercampur aduk bahkan silih menindih.
Anak sepuluh tahun itu menonton tanah yang menutupi kedua orangtuanya. Dia dipayungi pria tua memamerkan rangkaian lily laba-laba merah itu di depan nisan ayah ibunya.
Satu persatu orang-orang menghilang dari punggung si anak. "Tuan muda, mobil telah siap. "
"Robert, bisakah kita pulang jalan kaki? " Robert tertawa renyah, dia berfikir seberapa jauh dia harus menngendong bocah manja itu. Seketika tawanya terhenti ketika melihat raut mata yang kosong dari anak itu.
"Tuan muda, aku ini mungkin sudah tua tetapi aku masihlah kuat. " Wajah anak itu langsung sumringah. Robert tau dalam hatinya bahwa anak itu sedang ketakutan. Namun, dia tidak seharusnya untuk terus dimanja.
Robert menengadahkan punggungnya ke anak itu. Anak itu pun menaiki punggung tua itu dengan hati-hati.
Mereka berjalan ditengah rintik air mata langit. Robert berjalan lamban, dan bocah itu menyender dalam kehangatan. Diikuti dua orang dari belakang disisi trotoar. Dan mobil yang melaju di jalanan.
"Robert..."
"Ya, tuan? " Tidak ada jawaban dari anak yang memeluk punggung rentanya.
Robert melirik ke belakang. Dia melihat bocah itu tertidur dalam gendonganya, Robert menyimpulkan senyum dari wajahnya.
Setelah jauh berjalan, mereka pun tiba di depan sebuah rumah besar yang hampir tak berpenghuni karena kematian sang pemilik. Pada akhirnya kepemilikan jatuh pada bocah tidur itu.
__ADS_1
Robert memindahkan bocah itu ke tempat tidurnya. Dia menatap sekejap bocah itu, menyelimutinya lalu mengaganti lampu ke mode tidur dan pergi.
Mata itu terbuka dengan tertegun. Dia terbangun disebuah hamparan hijau yang basah, melihat mobil yang dinaiki orang tuanya hancur lebur bersama mobil lainnya.
Anak itu berteriak. "Berhenti!" sebelum itu terjadi, namun tidak ada yang mendengar dan mereka tetap bertabrakan antara satu, dua dan empat mobil.
Anak itu juga terbelalak dengan pemandangan yang tak biasa. Lalu api berkobar, dan dia berteriak dalam diam.
Robert sedikit berlari, namun dia sangat terkesiap melihat kamar bocah itu luluh lantah seperti terbakar dengan si bocah yang kedua matanya kosong sambil terduduk.
Robert melihat masih ada percikan api dibawah ranjang tidur sang bocah, dia langsung sigap menggendong anak itu hingga lengan dan pahanya sedikit terbakar. Namun Robert tidak merasakan apapun.
Akhirnya bocah itu terbangun didalam dekapan Robert dikamarnya, dia terlihat bingung dengan luka-luka yang dimiliki pria tua itu. Membuat Robert terbangun.
"Ah, tuan muda maaf atas kelancangan... " Robert langsung meringis. Azami yang menatap pria itu dengan kosong. Tiba-tiba mengeluarkan sebulat air dari tangannya untuk mengobati Robert.
Pria tua tertegun. "Tuan? " Tapi Azami tidak mempedulikan itu. Sejak kapan dia...? Dalam hati Robert.
Bertahun-tahun kemudian. Kini bocah yang bernama Azami itu telah berusia dua puluh tahun. Dia berdiri di taman menyimari bunga-bunga.
"Tuan, mereka akan segera datang. " Robert melaporkan kedatangan satu keluarga yang tak kalah termukaka.
Terlihat sebuah keluarga yang glamor memperkenalkan diri padanya. Azami hanya memasang wajah datar. Dia tahu mereka adalah sekawan orang itu.
"Jadi, apakah ini akan jadi pesta yang mengejutkan? " Tanya Rough begitu sumringah.
"Aku tidak sabar lagi! Sayang, aku akan memuaskanmu. " Bisik Arianne menggoda Azami.
Malam pesta itu pun telah datang, Azami meminum apapun yang diberi dan memakan makanan didepannya tanpa berfikir. Mereka fikir rencana mereka akan berhasil, namun dugaan yang salah.
Senjata makan tuan, mereka pun tertidur pulas. Lalu Azami pergi meninggalkan mereka ke tempat yang hanya dia ketahui dan satu orang lagi. Robert datang dari balik bayang-bayang.
"Tuan. "
"Robert. "
Robert terkekeh singkat. "Sudah ku duga anda telah mengetahuinya. Apa saya boleh bertanya? " Azami mengiyakan. "Kenapa anda baru bergeral sekarang? "
__ADS_1
Azami menguatkan api dari tangan koro dan air dari tangan kanannya, menyatukan menjadi api biru. "Jadi begitu. " Robert tersenyum dan memasang tanda siap.
Api biru menyambar Robert, namun tubuhnya tidak terbakar dan tidak merasakan panas. Robert terheran-heran, dia pun mengangkat wajahnya menatap Azami yang datar.
"Kenapa kau mau mati? Apa kau baru merasa bersalah? "
"Aku tidak... "
"Salah, seharusnya yang aku tanyakan adalah kenapa kau membunuh orang tuaku? "
"Saya fikir anda telah mengetahui alasannya. "
"Robert, siapa kau sebenarnya? " Azami tiba-tiba terbelalak, dia tertegun karena Robert telah berada tepat dibelakangnya.
Saat Robert akan menyuntikkan sesuatu, Azami menyambarkan api disekelilingnya hingga pria tua itu menjauh.
"Jadi itu yang kau lakukan selama ini, apa rencanamu? "
"Dalam medan perang tidak seharusnya banyak bicara, tuan. "
kembali ke masa kini. Azami dan Karazaki masih bertarung dengan sengit. Karazaki bergerak dengan barbar. Menyetang Azami dengan teknik pembunuhnya.
Namun Azami pun bergerak cepat. Pertarungan mereka bagai kilat yang bertubrukan. Azami mengingat pertarungan ini seperti pertarungannya dulu dengan Robert. Dia mulai menikmati pertarungan ini.
Hingga akhirnya, Azami telah mengumpulkan energi tubuhnya dari alam. Mengeluarkan api hitam membakar Karazaki di depannya seperti kepada Robert dulu. Robert dulu dan Karazaki sekarang terbakar oleh api yang hanya padam jika orang yang dibakarnya telah hangus.
Saat api itu padam, dia tidak melihat abu dimanapun. Tetapi dia malah melihat cairan berbau karet dan amoniak. "Ini... "
Tiba-tiba, Karazaki terjatuh dia mulai merasa pusing dan habis tenaga. Saat dia akan semakin terjatuh, matanya membesar karena dia merasakan kelembutan dan kehangatan saat dia mendarat.
Dia melihat ke atas dan disana telah ada wanita yang sedang menatapnya dengan kesal. Azami pun tersenyum lebar. "Kau fikir lucu? " Protes Izanami.
"Putri kita telah selamat dengan yang lainnya, Tsubomi juga."
"Aku tahu."
"Lalu, mana ucapannya? "
__ADS_1
"Kerja yang bagus."