Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
64.Kematian Sang Putri dan Raja


__ADS_3

"Nabari-chan. " Haruko mendatangi Nabari yang terus merenung. Dia mengingat terus perkataan Aoi kemarin setelah mereka diobati oleh Haruko dan dokter di balai kesehatan desa pelangi.


"Aku dengar dia akan terus kembali dari masa lalu jika dia mati. Itu benar, iya itu benar, iya kan... " Aoi memeluk Nabari. "Lepaskanb kenapa kau memelukku? "


"Dengar Naba, Aoi hanya bisa melakukan itu lima kali dan ini akhirnya. " Tubuh Nabari melemas.


"Haruko-san, ku bilang aku sudah eneg dengan takoyaki. "


"Kata Aoi-san..."


"Ahh, aku jadi ingin ramem dan eskrim coklat! " Nabari terkesiap karena Haruko membuka bungkus takoyaki iti dan memakannya sekaligus. "Eh? Haru... "


"Akwuwubbsdhdhdhhabsksm." Nabari hanya menganga dan mengangguk.


"Uhm, bibi yang disampingku. Apa kau melihatnya pergi kemana? "


Haruko menelan makanannya. "Kenapa tidak kau cari, bukankah kau bisa mendeteksi orang?"


Nabari mengeluarkan sesuatu dari kaos kakinya. "Aku tidak menempelkan ini. " Logam kecil berbentuk bulat pipih berwarna hitam. Eh, alat deteksi?


"Kau fikir aku mencari dengan kekuatanku? Tidak, tidak! "


Haruko menghela nafas. "Nona itu bilang dia ingin menemui seseorang dan ditemani Aoi-san. "


"Hooo. "


"Mereka lama sekali. "


"Kenapa kau ingin mereka cepat kembali? Padahal ini wakti yang pas untuk berkencan. Attttctxchch!" Haruko mencubit pipi Nabari yang menggembung seperti bakpau.


"Sudahlah, aku harus bekerja. Bukan kau saja pasienku. " Haruko pergi dari ruangan itu.


***


Ikuta masih terus mencari keberadaan Nabari. Fubuki masih menutupi hal ini dari atasannya, dia dan Kaoh masih menyelidiki tentang rekaman video itu. Apakah real atau editan.


Ditempat lain, pria itu datang ke markas Han shuji tapi tidak ada wanita itu dimanapun. Pria itu mencari serum yang dia cari sendiri. Dia menemukan satu suntikan dengan cairan yang berwarna kebiruan, menyuntikkannya ke tangan kirinya.


"Aneh, kekuatan pria itu... "


***


"Izanami."


"Tamao. Apa yamg membuatmu datang ke tempatku? Kenapa dengan lenganmu? "


Tamao melirik lenganmya yang terluka. "Lupakan tentang ini. Apa kau mengetahui tentang Suzuki Daigo? "


"Beliau sudah lama meninggal, kau juga tahu itu. "


Tamao menceritakan bahwa Daigo masih hidup dan kembali muda, dia yang melukainya dan juga Nabari. Dia juga yang telah membunuh Tora.


"Tora ma... ti?" Tamao membenarkannya. Dia menceritakan apa yang dia dengar dari Aoi tentang rahasia Tora selama ini.


Disisi lain, Aoi bersembunyi ditempat lain karena tidak ingin menganggu pembicaraan kedua kakaknya.


;***


Dibalai kesehatan, Haruko kembali ke ruangan Nabari dirawat setelah selesai dengan pekerjaannya. Tetapi bocah itu telah pergi dari sana.


Haruko memegangi kedua pinganngnya. "Ya ampun."


"Ada apa? " Tanya Aoi dan Tamao yang baru datang.


Haruko memperlihatkan ranjang Nabari yang sudah kosong dan berantakan. "Dia kabur? " Tanya Tamao.

__ADS_1


"Bukan kabur, tapi pergi. " Sela Aoi.


"Sama saja! "


"Kenapa kalian berdua jadi bertengkar?!" Teriakan Haruko membungkam mereka hingga tertegun. "Tamao-san, ini waktunya mengganti perban ayo sini. "


"Iya. "


Nabari terus mencoba menghubungi Tomoe lewat batinnya, tapi tidak ada respon sama sekali. Padahal dia baru saja tidak mempercayai kata-katanya tadi pagi sebelum Haruko menemuinya.


Nabari mempercepat langkahnya ke markas bangau putih. Dia telah tiba disana, saat masuk dia hanya melihat anak-anak itu.


"Dimana Momo? "


"Dia masih bersekolah. " Jawab Isabel. "Tumben sekali. "


"Ah!, Inikan hari Rabu, dia pasti sedang les bahasa inggris. " Sambung Githa.


"Ma... maksudku Takeo juga tidak datang? " Mereka menggeleng. "Lalu, dimana Kak Rui?"


"Aku disini. " Nabari membalikkan tubuhnya. "wangi sekali."


"Tentu, aku mandi setiap hari dua hari sekali. "


"Kau menyindirku? "


"Tidak... "


"Kakak, ada yang harus ku bicarakan padamu di... "


"Kalau begitu, ayo ke kamarku. "


Rui membawa Nabari ke kamarnya yang sederhana. "Kau baru pertama kali ya. "


"Ya. "


"Ada apa? "


"Sebutanmu lucu. Ya, itu pasti seru. "


"Benarkan. "


"Tapi, Nabari... Tugas kita belum selesai. "


"Kau telah mengetahuinya ya. "


"Uhm. Karena aku bisa melihat semua yang sedang terjadi." Rui memiliki kemampuam yamg dapat mengetahui segala jenis kejadian yang sedamg terjadi saat ini dari seluruh dunia.


Pada awalnya dia sangat membenci kekuatannya. Tapi, sejak Nabari bilang bahawa Tomoe juga begitu. Dia sedikit terhibur.


"Lalu, apa kau sudah mengetahui apa yang ingin ku sampaikan selanjutnya? "


"Maaf, tapi aku bukan pembaca fikiran. "


"Sampaikan ini padanya, karena aku telah menjadi buronan. Untuk mengakhiri yang akan terjadi..."


***


"Kau sungguh akan melakukan itu, kakak?"


Tamao tak menjawab.


"Aoi, sampaikan terimakasihku pada gadis iti dan warga desa. Dan... "


"Soal dia kan? Aku yang akan mengurusnya."

__ADS_1


Tengah malam Izanami pergi seorang diri untuk melakukan rencananya. Setelah dia menemui Izanami.


"Tidak mungkin! "


"Itu semua telah terjadi. Nami, bunuh aku lalu bersembunyilah bersama keluargamu secepat mungkin."


"Kau fikir itu mudah? "


"Aku akan... " Izanami terkesiap mendengar itu."


Tamao pergi ke rumahnya, ke tempat dia dilahirkan dan dibesarkan hingga mati. "Kau datang menemuiku, Taochan. "


"Sudah lama sekali dengan nama itu. " Orcha tersenyum kecil.


"Kau pasti sudah tahu. Aku tidak akan mundur, meski kau akan melawan. "


Orcha berdiri tegap ditempatnya mengangkat kedua tangannya sejajar ke samping. "Apa yang bisa kau lakukan kepada pria tua yang lemah? "


"Lemah? Apa kau... Huh, jadi begitu. Aku akan melakukannya sekarang. Gaaahhhh! " Orcha tertegun. Tamao bukan menusuk atau mencabiknya, tetapi hanya menekan dadanya sangat keras.


"Karena kau kakek biasa yang lemah. " Tamao menyeringai. Dia pun pergi.


Tiga puluh menit kemudian, dia ditemukan pingsan dan dibawa kerumah sakit. Dia didiagnosa mengalami serangan jantung dan juga memiliki kanker di livernya.


Kata-kata itu pun terngiang. "Kau akan menjemputnya secara perlahan. " Orcha tertawa sendiri. Dia diam-diam keluar dan pulang kerumah, lalu menyalakan briket dikamarnya setelah menghancurkan gua mata air bulan yang selama ini dia pakai untuk segala ritualnya.


Disisi lain, Tamao telah menemuinya. "Cepatlah. " Pinta Tamao.


Izanami mengeluarkan pistol dengan isi peluru yang dapat menyerap dan mengeluarkan kekuatan psikisnya. Dia menembak jantung Tamao dengan tepat Sasaran.


"Aku menyayangimu, saudari. Terimakasih, tolong jaga Na... "


Izanami menitikkan air matanya dan tangannya lemah, kata-kata terakhir yang dia dengar memang memuakkan.


"Tomoe-san, benar-benar menghilang aku yakin itu. " celetus Rui. "Aku belum memberitahukannya, aku harus mengatakannya nanti. "


Tiba-tiba, reaksi Nabari berubah. Nabari melihat sosok Tamao didalam batinnya.


"Sepertinya wanita tua itu telah pergi lebih dulu. "


"Bi... bi. "


"Jangan memasang wajah seperti itu. Aku akan memberikannya padamu juga, aku tidak seegois ayahmu. Itu saja, sampai jumpa! "


"Tunggu! "


"Ada apa lagi? Sudah kubilang jangan...."


Nabari menahan tangisannya. "Apa aku harus terus merahasiakannya? "


"Tentu. Itu rahasia seumur hidupmu. "


"Terimakasih. " Nabari tersenyum lebar. "Apa boleh... " Tamao menerimanya. Mereka berpelukan, dan Tamao menghilang secara perlahan. "Jaga dirimu. "


Nabari kembali ketubuhnya. "Sudah bertemu? " Nabari mengangguk. "Pasti berat jika selalu... "


"Tapi itu harus ku terima, karena sebentar lagi kau akan mengambilnya, iyakan? "


Keesokan paginya , Orcha telah ditemukan meninggal dikamarnya. Dan beberapa orang bawahannya pin mati karena gua air mata hancur.


Kaoh, Arylin dan Izanami memimpin acara kremasi yang langsung diadakan secara tertutup hanya dari kalangan klan mereka saja. Ini adalah permintaan Izanami.


Hingga satu minggu telah berlalu...


"Nyonya, masih belum kembali? " Tanya Fubuki.

__ADS_1


"Belum. Bahkan kami tidak diberitahu mereka kemana. Tapi, memang beristirahat itu penting. Apalagi saat ini, Nana..."


"Kau benar. Apalagi mereka itu ahli menghilangkan jejak. "


__ADS_2