
Aoyama membawa tubuh kecil Suzuki yang telah dibuat tertidur. "Aku dan Nishi akan kembali ke sekolah. Kento, kau tetap disini bersama mereka! " Aoyama menunjuk Nana dan Lucas.
"Aku paham. " Aoyama pergi dengan telerportasinya. Nana kembali bersama Lucas setelah mengantar Raika dan Umeko ke orang tua mereka yang telah menjemput.
"Jadi, mau bagaimana sekarang? " Kento menggaruk kepalanya. "Aku juga akan pulang, terimakasih telah membantuku. " Tawamori membungkukkan badan bongsornya itu.
"Tidak ada yang menjemputmu? " Tanya Kento. "Aku tinggal sendirian. " Kata Tawamori.
"Mau aku antar? "
"Senpai, sebaiknya kita tidak terlalu terlibat dengan urusan mereka." Nana datang menyela. "Cepatlah pulang dan ingat jangan memberi tahu siapapun!" Suruh Nana.
"Baik!" Tawamori pergi meninggalkan mereka yang masih berada disana. "Nana, kau ini memang keras ya. "
"Sebaiknya kalian juga segera pergi dari sini, aku juga akan pergi. " Nana pergi menggiring tasnya keluar dari sana. Apa besok akan merumit? Nana menggigit bibir bawahnya karena kesal.
Rencana yang dia buat agar mulus dan tidak melibatkan orang sekitar telah pupus, Nana merasa sedikit frustasi dia telah membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Itu akan sangat rumit.
Dia pun teringat kata-kata Nabari yang tidak mau dia dengar ataupun mengingatnya. Sebanyak apapun kau berencana, jika itu bukan jalan seperti jalan yang kau inginkan maka itu tidak akan pernah berhasil. Bweheheh!
"Sial! " Nana kesal saat terbayang senyum lebar Nabari yang begitu polos tetapi juga mengeyel. "Aku jadi ingin memukulnya. "
Sesosok bayang-bayang telah mengawasi mereka dengan seksama. Siapa dia sebenarnya? Orang misterius itu pun pergi dari tempatnya.
"Ya ampun! " Kento memggaruki kepalanya.
"Senpai, sebaiknya kita juga pergi. " Ajak Lucas.
"Ya."
***
"Kurosoba Sensei, apa Pak kepala masih berada di ruangannya? " Aoyama telah tiba di sekolahnya. Dia melihat Kurosoba yang sedang berjalan di koridor kelas satu.
"Sayangnya dia sudah pulang, apa dia orang yang diceritakan itu? " Aoyama mengangguk. "Aku telah menangkapnya. "
"Hah! " Kurosoba menghela nafas. "Kenapa kau membuatnya seperti ini? " Kurosoba memukul kepala Aoyama dengan segulung kertas miliknya.
"Sini biar aku bawa dia ke kamarku, kau akan kembali bukan? " Tidak menunggu lama, Aoyama menyodorkan tubuh Suzuki kepada gurunya itu. "Kalau begitu, aku pergi. "
"Dia itu! " Kurosoba menggendong Suzuki ke kamar asramanya yang berada di gedung belakang sekolah. "Dia berat juga."
Di rumah keluarga Lichita. Meja panjang yang memajang berbagai jenis makanan dan minuman itu tampak begitu indah dan estetik.
"Hahahah, sudah lama sekali aku tidak sebahagia ini! " Araumi minum dengan cepat.
"Anda selalu berlebihan jika saya pulang, kakek." Celetuk Eurasia sembari memamerkan senyum nakalnya. "Itu karena kau cucuku, Hahahha. Ayolah semua, ayo makan lagi!"
"Ayah mertua, mari kita bersulang. " Kaoh mengangkat gelasnya. "Aku juga. " Lichita pun ikut bersulang.
Araumi yang sedang mengiris steak didepannya menghela nafas. "Jika saja dia juga ada disini, maksudku Nabari. " Mendengar itu semua langsung terdiam. Arylin mengeraskan kepalannya. Lichita yang melihat itu mulai mencairkan suasana.
__ADS_1
"Ayah, apa aku boleh menyuapi suamiku? " Goda Lichita. "Menyuapiku? " Kaoh tertegun.
Araumi tertawa lepas. "Hahahah, tentu, tentu, silahkan! " Alih-alih menyuapi Kaoh, Lichita malah menciumnya. Eurasia dan Arylin uang melihatnya menjadi pucat dan masak.
"T-tuan putri, apa yang anda lakukan?"
"Arychan, sudah ku bilang panggil aku kakak! "
Disisi lain Kaoh masih membeku dikursinya. "Aku juga ingin menyuapi cucuku. " Mendengar itu semua jadi terkejut. "Ehhh? "
Araumi tertawa jahil. "Bukan, bukan, aku memang akan menyuapi cucuku dengan daging wagyu yang lembut ini. Ayo buka mulutmu! " Araumi memasuki potongan kecil daging yang menusuk di garpu itu ke mulut cucunya.
"Enak?"
"Enak sekali, kakek. "
"Hahahah, syukurlah, syukurlah! "
***
Pagi ini semua murid SMA Arisagawa dikumpulkan di aula sekolah. Sang Kepala Sekolah, Nyonya Marizawa datang dengan wajah dinginnya.
Dia berdiri di depan semua murid. "Aku dengar semalam ada yang memecahkan cermin di toilet sekolah dan meneror beberapa murid hingga terluka. Ada yang ingin menjelaskan di antara kalian? "
Para murid membisu. "Kemarin merundung, merampas, sekarang meneror? "
BRAK!
"Siapa yang ingin mengaku lebih dahulu sebelum diperiksa?" Tiba-tiba satu orang murid yang datang dari wajah pintu berteriak dan mengangkat tangannya. "Saya! "
"Suzuki? " Bisik Karai yang sangat terkejut diantara barisan para murid. "Apa yang dia katakan? " Kouta menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu. " Mereka mengkhawatirkan temannya.
Saat tengah malam tadi. Suzuki terbangun daei tidurnya, dia sadar bahwa ini bukanlah kamarnya. Dia melihat Kurosoba yang sedang tertidur di kursi kerjanya menghadap ke arahnya.
Suzuki mengeluarkan sebuah pisau kecil dari sakunya untuk menyerang Kurosoba yang sedamg tidur, namun itu berhasil dihalau oleh Kurosoba.
Suzuki terbelalak melihat kepalan Kurosoba mengucurkan tetesan-tetesan darah ditangannya, dia dengan cepat melepaskan pisau itu.
Kurosoba membuang pisau yang mengiris telapak tangannya itu, dia sedikit meringis kesakitan. Suzuki perlahan mundur.
"Kau memang anak yang baik, Suzuki. " Kurosoba membalut lukanya yang telah diobati dengan perban di mejanya.
"Aku tahu kau bukanlah seorang Esper. " Suzuki bersiap untuk memukulnya, namun Kurosoba masih bisa menghadang tinjunya. "Jangan melakukan hal yang sia-sia. "
Kurosoba mempelanting tubuh Suzuki ke tempat tidurnya. "Siapa dalang sebenarnya, katakan padaku. "
"Apa kau memberiku sesuatu sehingga aku tidak bisa menggunakan kekuatanku? " Suzuki berdalih. Kurosoba terkekeh mendengarnya. "Kau tidak pandai berbohong. "
"Aku mengatakan hal yang sebenarnya, Tuan. " Kurosoba membalikkan tubuh Suzuki menghadap ke arahnya, terbaring di kasurnya. Kurosoba menatap mata tajam itu, lalu menghela nafas sekali.
"Hah, sudah kubilang kau itu tidak pandai berbohong. " Suzuki membuang wajah, menggertak geram.
__ADS_1
"Katakan siapa pelakunya, dan aku akan mengantarmu kembali ke sekolah itu. " Suzuki tetap membisu. "Kau tahu, sekarang semua temanmu. Ah tidak, kau hanya punya satu teman kan? Apa kau tidak mau melihatnya dihukum atas perbuatanmu? "
"Apa yang akan kalian lakukan padanya? "
"Akhirnya kau berbicara. " Kurosoba melepaskan gencatannya. Dan duduk dikursinya, dihapadan Suzuki.
"Kepala sekolah kalian itu, dia bisa melakukan apa sajakan? "
"Baiklah, aku akan mengatakan yang sebenarnya. "
***
"Saya! " Suzuki berteriak dan mengangkat tangannya. Dia berjalan menghampiri podium itu. "Saya yang melakukan semua itu, Ibu Kepala sekolah. "
"Benarkah? " Suzuki membungkukkan badannya ke arah Mirazawa, para murid dan keluarga Raika juga Umeko meminta maaf kepada mereka semua.
"Saya akan mengambil hukuman. "
"Kalau begitu ikut aku, Warayashi tolong bubarkan mereka semua. Raika, Umeko, juga Nyonya dan Tuan bisa ikut bersama saya. "
Karai duduk termenung setelah kejadian itu. "Kouta, apa benar dia begitu? " Kouta menepuk bahunya. "Aku juga tidak tahu, tapi kuyakin itu salah paham. "
Satu jam telah berlalu. Suzuki keluar paling terakhir dari ruangan Mirazawa. Pengumuman pun disiarkan. Suzuki di keluarkan dari sekolah karena berusaha melakukan oembalasan dendam kepada orang-orang yang telah merundungnya selama ini.
Karai sangat terkejut dengan itu, dia buri-buru berlari diikuti Kouta. "Karai, tunggu!"
Karai telah berhadapan dengan Suzuki. "Suzuki, rupanya kau disini. Ayo kita kembali ke kelas!" Karai memegang kedua tangan Suzuki.
Namun, Suzuki melepaskan pegangan itu. "Aku harus pergi. "
"Kenapa? "
"Apa kau tak mendengarnya? Pengumuman itu."
"Aku tahu kau berbohong, ayo ceritakan padaku siapa yang melakukan itu. "
BUG!
Suzuki memukul wajah Karai dengan keras. "Apa yang kau lakukan? "
"Suzuki, kenapa kau memukul Karai?"
"Tidak ada yang harus aku bicarakan dengan kalian." Suzuki pergi dengan tatapan dinginnya melewati mereka.
"Jangan bercanda! Aku tahu, aku tahu kau tidak akan pernah melakukan itu! Jadi, jangan pergi." Karai mulai menangisi kepergian sahabatnya itu. "Kenapa? "
Aoyama mendatangi Kurosoba yang baru saja akan beristirahat di belakang sekolah untuk merokok. "Sensei, kenapa kau melepaskan anak itu? "
"Hmm, aku tidak melepaskannya! Hanya saja dia masih berbohong. " Aoyama mengangkat sebelah alisnya. "Sebentar lagi... "
"Aku kembali, Tuan Kurosoba."
__ADS_1