
Setelah tiga hari Nabari tersekap, tiba-tiba dengan tidak sadar dia kabur dengan teleportasinya. Setelah dia mengalahkan Roh Aoi dan Shiroi yang sedang membantunya, karena Nabari terlihat kesakitan dibagian kepalanya. Nabari bilang, dia seperti dikuasasi oleh sesuatu.
Nabari kabur dan mengalami perubahan. Dia seperti dikendalikan oleh kepribadian lain. Dia datang ke penjara intel dengan tubuh orang lain. Turun bagai cahaya surgawi yang terang ke tempat para esper dan pemakai alat esper yang disekap oleh pemerintah.
ARGH!
"A-pa it... Haa! " Sou salah seorang pemakai alat esper berteriak ketika ia bangun.
"Ada apa, Sou?" Tanya Will dan Naan. Sou menunjuk ke depannya. Semua pun histeris, mereka melihat para esper satu persatu tumbang bahkan ada yang mengering seperti batang pohon dan berbau busuk.
Wanita cahaya itu menoleh ke arah mereka dengan tangisan yang tak bersuara, lalu mereka pun tertidur. Wanita itu pergi terbang keluar seperti asap.
Setelah jarak 300 meter, dia terjatuh ke tanah karena dadanya terasa sakit dan sesak nafas. Wanita itu menangis, lalu dia melihat uluran tangan kecil.
Dia mengangkat wajahnya, dia melihat seorang gadis kecil berkacamata yang menutupi wajahnya dengan tudung jaketnya yang berwarna biru.
"Wahai dewi kami, kami telah menunggu lama. "
"Dewi! " Banyak gadis kecil bermunculan dan juga beberapa bocah. Bahkan ada remaja juga. Mungkin mereka semua sekitar berjumlah tiga puluh orang jika dijumlahkan bersama.
"Aku bukan dewi kalian. "
Seorang wanita datang diantara mereka dengan baju serba putih, berparas cantik berambut hitam panjang dan lurus.
"Ikut aku, kami akan membantumu. Kau sedang sakit kan? "
"Kau tabib? "
"Sekarang kami disebut dokter. "
Kehebohan telah terjadi di penjara, Fubuki datang untuk memeriksa dan melaporkannya kepada Kaoh karena kemungkinan ini ulah seorang esper.
***
"Ini tempat kami. "
"Kenapa orang zaman kalian masih tinggal di gu... " Wanita itu terbelalak walau itu gua tapi didalamnya sangat mewah dan modern. Banyak fasilitas yang bisa dipakai.
"Ini adalah persembunyian kami. Kami aman disini. Ah, sebelum itu mari kita periksa kea... "
"Tidak perlu. "
"Eh? "
"Aku hanya sedang sedih. " Dokter itu tersenyum. "Jadi kau telah mengakuinya. " Wanita itu menoleh.
"Tadinya aku yang akan memberitahumu. " Dokter itu tekekeh kecil.
"Kau dokter Namida Rui. "
"Ya, kau benar. "
"Apa kau tidak punya sopan santun? Bagaimana pun aku ini berabad-abad lebih tua darimu. "
Rui membungkukkan badannya. "Maaf. "
"Hei. "
"Ada apa? "
__ADS_1
"Apa kau tidak bisa melihat? " Rui tersenyum. "Ini sejak lahir. "
Rui mengantarkannya kedalam, ke sebuah aula yang luas dengan banyak lilin yang menyala. Ini satu-satunya ruangan yang gelap dan hanya diterangi oleh lilin dan obor.
"Kenapa disini tidak dipakai yang disebut listrik? "
"Rupanya kau suka teknologi. " celetus Rui.
"Karena dulu tidak ada. Itu seperti memudahkan kita dalam segala hal. "
"Itu benar. Tapi, teknologi juga bisa menghambat kita. "
"Benarkah? "
"Uhm, banyak faktor. Seperti kita akan ketergantungan dan sulit untuk mengembangkan potensi diri dan menjadi egois juga individualis. Tapi manfaat nya juga banyak, jadi setengah-setengah. "
"Merepotkan juga. Tapi soal egois dan individualis, tidak ada teknologi pun itu sama.Karena manusia banyak yang serakah. "
"Benar juga. Semoga kita bukan salah satunya. "
"Aku tidak yakin. "
"Wakil ketua sudah datang, aku akan pergi. "
"Maksudmu gadis in... " Gadis yang menolongnya tadi datang menghampirinya. Memegang tangannya. "Tolong lihatlah kami. "
Para anak-anak dan remaja yang memakai jubah hitam itu mengeluarkan alat esper mereka. Memperlihatkan kemampuan psikis mereka dari alat itu. Alat itu?
"Itu adalah sebuah penemuan baru, sebenarnya kami mencurinya dari orang jahat agar dapat menyelematkan orang yang membutuhkan. Alat itu mengambil energi esper dan menjadi senjata bagi kami. "
"Kau bilang, kalian membantu orang lain. Lalu, kenapa kaliam disini?"
"Toga Momo, jadi ketua kalian dimana? "
"Aku disini. " Semua pun berhenti, lalu duduk rapi di antara sisi jalan yang dilalui orang misterius itu.
"Kau ketua... Ugh! " Wanita itu memegang kepalanya yang sakit. Dia sudah bangun? Nabari setengah terbangun, dia melihat ke depannya.
"Mae-kun... " Wanita itu pun pingsan. Dia terbangun diatas ranjang, disisinya Rui sedang tersenyum sambil menatap kosong.
"Rui. "
"Yang mulia, kau sudah sadar? "
"Apa yang terjadi padaku? "
"Kau pingsan. "
"Mae, siapa dia? "
"Ketua maksudmu. Pasti Nabari terkejut karena melihatnya jadi dia terbangun sebentar. "
"Sejak kapan kalian tau aku akan bangkit didalam tubuh bocah ini?"
"Sejak lama. Karena sejak dia bayi, Bibi Tamao dan Bibi Tsubomi sudah meninggal dialah yang cocok untukmu, iyakan? "
"Kenapa seyakin itu ?"
Rui tersenyum. "Karena aku sudah mengenalinya sejak dia masih dalam kandungan, tapi dia tidak mengenaliku. "
__ADS_1
"Siapa kau sebenarnya, Rui? "
"Aku adalah... "
Dua puluh tahun yang lalu, Izanami dikaruniai putri yang terlahir buta dan putra yang terlahir tanpa jantung. Setelah sepeninggal putranya yang sakit itu, tinggalah putrinya seorang diri.
Karena dianggap aib keluarga, dia pun menyembunyikan putrinya. Sebeluknya Izanami telah mengalami keguguran sebanyak dua kali.
Dia sangat menyanyangi putrinya itu, tetai dia juga membencinya. Putrinya tumbuh menjadi wanita yang cantik berwajah mirip dengannya dan juga Azami dengan rambut hitam seperti azami, lurus seperti Izanami.
Tapi gadis itu merasa dia seperti diasingkan, dia pun sering mendapat perundungan. Tetapi, otaknya sangat cerdas. Dua belas tahun yang lalu, saat dia tengah menyelamatkan bayi Nanami yang baru dua tahun dan Nabari yang baru setahun, dia hanyut tenggelam di sungai.
"Nama asliku adalah Hitsuziaki Rui, putri dari Hitsuziaki Izanami. Aku mengalami kecelakaan dan menghilang. Tidak ada yang menemukanku dan menganggapku sudah tiada. "
"Jadi kau juga. "
"Uhm, kita kekuarga. "
"Lalu, lelaki itu? Mae? "
"Dia hanyalah murid sekolah biasa. "
"Kemana dia? "
"Dia harus bersekolah. "
Kuchisawa mengangkat tasnya ke pundak untuk menjahili Lucas yang ada dibelakangnya, karena dia berencana untuk menggetkan kuchisawa.
Tas itu bertabrakan dengan wajahnya. "Aduh!" seru Lucas. Kuchisawa terkekeh. "Bagaimana? "
"Mae, kau ini ya. " Mereka saling menggoda temannya dan tertawa.
***
"Tujuan kami adalah ingin membantu semua dan juga dirimu. Kami tau, kau datang untuk tujuan itukan? Jadi, kami ingin meminta kepadamu jadikanlah kami alatmu dan setelah itu kau boleh melakukannya. Beritahulah Nabari. "
"Kenapa harus memberitahunya, ini tugasku. "
"Hitsuziaki Tomoe, kau harus bekerja sama dengan Nabari karena sebelum ini selesai kau akan menghilang. Ini pesan dari ketua dan wakil. ketua. "
"Itu benar! " Momo datang dengan berjalan tegap. "Kami mohon bantuanmu. Sekarang, kau boleh pergi sesukamu. Ini pakaian dan kartu kredit untukmu."
"Kartu? "
"Kau ingin merasakan kehidupan modern diluar kan?"
Tomoe berjalan cantik dengan baju casualnya, menuruni bis dan masuk kesebuah toko kue dan pastry.
"Apa itu terlihat enak. " Dia pun masuk dan membeli beberapa untuk dia coba didalam. Setelah itu, dia pun melihat vanyak aksesoris indah dan baju-baju trendy. Dia membeli semuanya.
Tomoe membawa banyak tas belanjaan yang berisikan barang-barang untuknya dan beberapa untuk tim bangau putih. "Pasti mereka akan senang! "
Ditengah jalan, dia merasakan hawa yang menekannya untuk kembali dan membangunkan Nabari. Dia menjatuhkan tubuh serta semua barangnya.
Ketika terbangun, Nabari tengah berada diantara Tora dan Tamao. Setelah dia menceritakan semuanya, beserta Aoi yang mengalami koma, Tomoe muncul kembali, dan mereka pun mengikatnya karena tubuh keduanya menyatu dan mengamuk.
"Tidak apa-apa meninggalkannya sendiri? "
"Ikatan itu kuat, itu segel. Sekarang ini mereka tengah bertemu. Ayo, mungkin Aoi sudah dienkripsi oleh ayahmu. Mari kita temui mereka. "
__ADS_1