Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
40.Runyam


__ADS_3

Tubuhku tidak bisa bergerak. "Beristirahatlah dengan tenang, aku tidak akan membunuhmu. " Goda Aoi pada Yahiko.


"Tapi kau seperti akan membuatku mati. " Celetus Yahiko.


"Dasar Psikopat. " Sindir Arylin.


"Aku bukan psikopat, tahu! " Aoi yang mengeyel. "Hah, dia sudah pergi meninggalkan aku yang ingin memeluknya. "


"Jijik. " Seketika semangat Aoi jadi turun mendengar kata pedas dari Arylin.


Entah mengapa itu mengalir begitu saja, padahal selama ini dia selalu takut pada Aoi. Arylin pun tidak menyadarinya.


"Kalian memang keluarga yang kompak. " Sela Yahiko yang masih duduk di sofa itu. "Terimakasih pujiannya."


"Tidak itu... "


"Dia bukan keluarga kami, dia telah diusir!" Tegas Arylin. "Ehh? "


"Jahat. " Aoi merengek.


"Katakan kemana dia pergi."


"Sebenarnya kami telah membuat rencana. " Aoi menceritakan rencananya yang menyuruh Nabari untuk bertukar tubuh dengan tangan kanannya untuk mengecoh Karazaki. Bahkan Aoi pun meminta bantuan sambil memohon pada Izanami.


Awalnya Izanami menolak mentah-mentah dan itu sudah pasti akan terjadi. Namun, Nabari membeberkan rencana Karazaki dan rencana melindungi keluarga Chovez dan ada pengkhianatan diantaranya. Akhirnya dia pun setuju dan rencana itu berjalan.


"Aku penasaran kenapa kau bersikeras, Aoi? " Tanya Izanami. "Aku juga. Setelah itu apa aku bisa benar-benar mengalahkannya? "


"Aku hanya ingin membantu keponakan kesayanganku. " Goda Aoi sambil aba-aba akan mencium bocah didepannya itu. "Najis." Aoi murung dikatai begitu. "Ya kau fikir saja, aku ini anak laki-laki!" Protes Nabari.


Izanami mengehela nafas. "Berhentilah main-main!" PLAK! Izanami menampar keduanya.


"Baik. "


"Jadi?"


"Kalau kau ingin mengalahkannya, kau harus menemukan tubuh aslinya yang disembunyikan oleh Han Shuji karena semua itu hanya klon. Atchtah! " Aoi memegangi pipinya yang bengkak, meringis sakit.


"Klon? " Nabari dan Izanami bersamaan. "Kau masih sangat kuat ya ka... Ah, Karazaki yang kalian kenal hanyalah klon dari seseorang. "


"Siapa? "


"Sasaki. "Celetus Nabari. "Apa? "


"Iyakan, Aoi. " Aoi tersenyum lebar. "Seperti yang telah kuduga, kau memang anak jenius seperti Tsubomi. "


"Benarkah? " Aoi mengiyakan. Nabari sumringah seperti anak kecil.


"Bisakah kalian serius? "


"Ya. "


"Tapi itu tidak mungkin, dia hanyalah pria dalam sejarah. "


"Kakak, ini sebabnya kau harus membaca komik, novel seperti noveltoon dan mangatoon dan menonton film fantasi. "


"Uhm, uhm, karakter nya ada yang keluar menjadi nyata! " Sambung Nabari. "Ya, itu betul! " Kalian ini. Izanami memegang dahinya.


***

__ADS_1


"Apa katamu? Dia ditangkap? Kalau begitu aku akan pergi menyu... "


"Sebaiknya kau tidak pergi ,Arylin-nyan."


"Apa? "


"Sebaiknya kau menyelamatkan Tsubomi dan putrinya Azami. "


"Apa yang terjadi pada Nana? "


Aoi melirik tajam ke Arylin membisikan sesuatu dari mulutnya. "Kau harus memberitahu Kaoh soal ini, dan kau harus cepat... " Arylin pun pergi dengan cepat.


"Apa tidak ada satu pun yang tidak ingin tinggal lama bersamaku dan berpelukan? "


"Aku masih disini bersamamu. " Sela Yahiko. "Aku tidak mau berpelukan denganmu. " Aoi mengangkat sebelah bahunya. Pria ini menyebalkan. Yahiko tersenyum masam.


"Ah, aku akan segera menyembuhkanmu tapi kau harus mengerjakan sesuatu yang kusuruh setelahnya. "


"Apa itu? "


"Kau akan segera tahu. "


***


"Kakak... "


"Pak kepala lihatlah ini! " Hana masuk dengan terburu-buru dan langsung menyalakan TV. Disana muncul berita yang membuat suasana semakin runyam.


"Kami adalah esper, kalian para manusia rendahan haruslah tunduk pada kami. Karena kekuatan kami mutlak! " "Kami takut, tolonglah pemerintah untuk menghentikan semua ini. "


Disana juga diberitakan bahwa para polisi dan tentara yang telah disuruh pemerintah telah mulai bergerak.


"Apa yang kalian lakukan disana? "


"Kami tidak bisa memakai kekuatan kami tadi! " Teriak Shiren dari bawah. "Aku akan membawa mereka ke dalam. "


Arylin pun telah kembali bersama dua murid itu. "Apa yang terjadi? " Tanya Lichita.


"Di depan sekolah kita telah banyak orang datang dari luar pulau untuk berunjuk rasa. " celetus Kouta.


Kring! Kring!


Suara ponsel milik Kaoh berbunyi, itu dari Azami. "Azami? " Kaoh menerima panggilan itu. Arylin ikut mendengarkan dari samping Kaoh bersama Lichita.


"Dengar, Tsubomi telah terbunuh dan Kuchisawa terluka parah. Dan kkkami... " Tiba-tiba panggilan itu terputus.


"Halo, Azami, hei kau masih disana? "


"Teleponnya terputus. Aku akan kesana! " Seru Arylin. "Tunggu, Shiren-kun dan Kouta-kun ikutlah dengan Arylin. "


"Baik! " Mereka bertiga pun pergi ke tempat Azami dan yang lainnya.


"Lalu, mari kita sambut hangat mereka yang ada di depan. "


***


"Ini tidak mungkin. " Nana menundukkan kepalanya. Izanami terus memandangi tubuh kaku Tsubomi. Tch! Dia sangat kesal dengan ini.


"Maafkan aku karena tidak bisa menyelematkannya padahal aku, erghk! " Luka Kuchisawa kembali terbuka.

__ADS_1


"Mae-kun. "


"Kuchisawa, sebaiknya jangan banyak bergerak dulu. Ini bukan salahmu. Bahkan kami pun bisa dibuat kewalahan dengan gas tidur itu." Siapa sebenarnya orang itu?


"Itu. " Izanami terbelalak setelah lama memandangi mayat Tsubomi. Dia melihat sebuah simbol yang dia kenal.


Azami menghampirinya setelah mengobati Kuchisawa. "Kau mengetahui sesuatu? "


"Tanda itu... " Azami mencari tanda yang dibicarakan istrinya namun disana tidak ada tanda apapun. "Dimana? "


"Kau tidak melihatnya? "


"Aku melihatnya. " Nana berdiri dari duduknya. "Simbol lima elemen kan? "


"Nana. Ya, kau benar. "


"Apa yang kaliam bi... " Azami tercengang setelah melihat simbol yang sama. Padahal tadi tidak ada disitu.


"Aku tadi mau bilang, tapi ragu. " Izabami dan Azami menoleh ke Nana bersamaan. "Itu apa, ibu? "


"Itu, simbol dari kekuatan milik Hitsuziaki Tora sang dewa dari keluarga sisi. "


"Paman Tora? "


"Kami datang! " Arylin mendatangi mereka yang masih sedikit berkabung. "Mae-kun, kau terluka? "


Kuchisawa terkekeh. "Maaf selalu merepotkan kalian. " Arylin kemudian menghampiri Tsubomi yang telah terbaring. Dia menundukkan kepala dan memberi penghormatan terakhir. Aku akan membawa Nabari kembali. Aku janji.


"Arylin. " Arylin membelokkan pandangannya ke Izanami. "Kau melihat itu bukan? "


"Melihat a... " Mata Arylin membesar setelah melihat tanda Tora disana. "Ini..." Izanami mengiyakan. "Tidak mungkin. "


"Kenapa dia melakukan ini? " Tanya Nana. "Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya orang itu fikirkan. "


"Azami Sensei, kami sudah mengumpulkan obat-obatan, p3k, kantung infus, kantung darah dan peralatan lainnya yang tersisa. " Ucap Shiren. "Baguslah. "


"Tapi... Alat-alat steril tidak lengkap. kita tidak bisa mengoperasinya sekarang. "


"Aku bisa mengoperasinya dengan alat seadanya tapi aku butuh bantuan. "


"Aku akan membantu. " Izanami menggulungkan lengan bajunya.


"Tabung oksigen habis. " Nafas Kouta tersengal-sengal saat kembali.


"Kita lakukan dengan baik saja. " Mereka harus mengoperasi salah satu pasien yang terkena serangan jantung karena pendarahan di bilik jantung.


Operasi itu pun berjalan dengan baik dan sangat lama sehingga pasien bisa dioperasi. Tiba-tiba Kuchisawa berteriak kesakitan, lukanya terbuka lebar dan dia mengalamai takikardia sehingga harus operasi juga.


***


Karazaki yang sedang bersiul sembari menyirami tanaman kaktus mininya itu akan disergap dari belakang. Tentu dia dapat menghalaunya.


"Kau cukup berani, bocah. Tidak, sebenarnya kau bocah pirangkan, Nabari. " Kanazawa menyeringai.


"Kau pintar, Pak Tua. " Suara bocah itu telah berubah. "Aku sudah lebih tua darimu. "


Nabari melayang mendekati lubang telinga Karazaki. "Dimana tempatmu? "


"Egkh! " Pisau itu telah menancap di urat nadi Karazaki.

__ADS_1


__ADS_2