Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
31. Awal Mula Cerita


__ADS_3

"Maaf tapi kalian harus diam sekarang. " Eurasia melilit mereka dengan tanaman akar berduri.


"As... umh! " Eurasia menutup mulut Kaoh dan Arylin.


"Bisakah kalian diam sebentar? Dia harus memeriksa beberapa hal pada mayat hidup itu. "


Disisi lain Nabari masih berusaha untuk mencekik Tsubomi, tapi sebelum itu dia hanya berniat untuk bertanya.


"Apa hubungan cerita membosankan itu dengan penculikanku? " Nabari berusaha membuat panik fikiran dan mental wanita itu, namun itu sama sekali tidak mempan. Nabari berusaha menyembunyikan keterkejutannya.


"Nabari... " Tsubomi menahan sakit dari cengkraman Nabari.


"Itu... Tidak ada hubungannya... dengan... mu, tapi ada hubu...ngannya denganku. " Tsubomi yang terbata-bata. "Biar a... ku jelaskan. "


Nabari melepaskan cengkramannya. "Nabari? " Eurasia yang masih mengawasi mereka.


"Ehh?! " Tiba-tiba mereka tertegun dengan perilaku nakal Nabari. Nabari menyender ke tubuh Tsubomi.


"Hangatnya. " Tsubomi pun terkejut dengan apa yang dilakukan anaknya itu. Tsubomi tersenyum jahil. Dia memeluk Nabari dengan keras dan memasukan wajah Nabari ke dalam tubuhnya. "Wah, kau menyukainya. Iyakan?"


"Abbwwbwbbwbew. " Nabari terjebak dalam pelukan itu.


"Ehh, apa yang mereka lakukan? " Gumam Eurasia. Dia melepaskan ikatan yang lainnya.


"Bwah, bwah, hah, kau memang putriku!" Kaoh mengangkat ibu jarinya. Eurasia sedikit membungkukkan tubuhnya memberi salam cara seorang putri. "Sudah seharusnya, ayah. " Eurasia tersenyum kecil.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Dimana Nyonya Lichita? " Protes Arylin.


Tsubomi melepas dekapannya. Nabari menoleh ke wajah Eurasia, mengangkat ibu jarinya. "Hidup. "


Eurasia membuang nafas. "Begitu ya. Dan masalah ibu, dia sedang tidur nyentak sekarang. Hehe..."


Ikuta membuang wajahnya, Kaoh menggaruk kepalanya, dan Arylin hanya ternganga.


"Ya ampun, kalian itu!"


"Tapi itu pertanyaanmu juga kan, ayah? "


"Ya. Seperti itulah! Nah, bibi Tsubomi apa penjelasanmu sekarang? "


Tsubomi menggendong tubuh kecil Nabari. Tidak. Maksudku, dialah yang minta digendong.


"Nabari, berhentilah melakukan sesuka hatimu! " Nabari menoleh ke arah Arylin.


"Kau iri ya, ayunda. Hehehe." Nabari terkekeh.


Arylin menahan kesal, urat-urat di dahinya membesar.


"Tidak apa-apa, dia kan bayiku. " Mana ada bayi sebesar itu! Protes Arylin dalam hati, dia membuang wajahnya.


Ya ampun! Kaoh memegang leher belakangnya.


"Jadi, aku harus mulai darimana ya? " Nabari menempelkan kepalanya dipangkuan Tsubomi.


"Mama, apa yang sebenarnya mereka buat di laboratorium itu? Kenapa aku... Ah, kau disana?"


"Ini bermula sejak sebelum kau terlahir. " Tsubomi mengelus kepala Nabari.


***


Seorang pria kecil berlari ke sebuah kamar berusaha untuk mengintip. Saat itu adalah hari dimana Tamao melahirkan Arylin. Kaoh sangat penasaran, dia sudah tidak sabar untuk melihat adiknya.

__ADS_1


"Kaoh! " Badan Kaoh bergidik menurunkan kaki jinjitnya, lalu menundukan kepala. "Apa yang sedang kau lakukan, hmm? " Kakek tua itu melipat kedua tangannya.


"Ka... kek... "


"Bicara yang tegas dan jelas! "


"Aku ingin segera melihat adikku!" Kaoh berteriak lantang. Jantungnya berdegup sangat cepat. Kaoh menunduk, sesekali melirik ke wajah kakeknya.


"Bwahahahah! "


"Ehh? "


Kakek tua itu mengangkat Kaoh ke atas. "Aku juga begitu. " Dia tersenyum lebar sebentar, lalu wajahnya mengkerut lagi. Kaoh terlihat bingung dengan ekspresi kakeknya itu.


Tak lama terdengar suara tangisan bayi, wajah mereka mulai mencerah kembali. Dia menurunkan Kaoh.


Kaoh kecil berlari riang masuk ke dalam ruangan itu diikuti Sang Kakek. Terlihat disana Tamao menggendong bayi merah yang sangat cantik.


"Ibunda! " Kaoh berlari lalu memeluk Tamao yang duduk di kasurnya.


"Lihatlah Tuan muda Kaoh, ini adalah adikmu. " Wajah Kaoh begitu berseri, dia mengelus pipi berwarna persik itu dengan satu jari kecilnya.


Kaoh tersenyum lebar menatap ibunya. Tamao membalasa senyuman itu. "Hahahha, kau senang?" Tanya Orcha.


Kaoh mengangguk dengan senyum lebarnya. "Apa aku boleh menggendongnya?"


"Tentu, ayah. " Tamao menyodorkan bayi Arylin ke dalam dekapan Orcha. Kakek itu mengimang-ngimang sang cucu perempuan pertamanya.


"Ayah juga pasti senang!" Mendengar perkataan bocah kecil itu, semua jadi terdiam. Kaoh mengerutkan dahinya.


Seketika lamunan mereka buyar karena tangisan bayi kecil itu. "Ohohoho, mau kembali pada ibu? Iya, ini ibumu. "


Tamao termenung untuk beberapa saat. "Ayah, aku... " Tiba-tiba pintu kayu itu terbuka. Seorang pria muncul dari balik pintu. Kaoh berlari menghampirinya. "Ayah! "


"Okkun. " Tora memeluk lalu menggendong putranya itu. Dia pun memberi salam pada ayah mertuanya.


Orcha tak membalas dan hanya terdiam. "Ayah, lihat adik sudah lahir! " Tora terenyuh melihat putranya. "Hm, ayo kita lihat betapa cantiknya dia. "


"Dia sangat cantik ayah, sangat cantik! " Semua terkekeh mendengar itu. Tora mendatangi istri dan bayinya bersama Kaoh.


Tora menurunkan Kaoh dari gendonganya. "Lihatkan, dia sangat cantik! " Tora mengiyakan putranya, dia mencoba menggendong putri mungilnya.


"Ayah, apa kali ini boleh saya yang memberonya nama? "


"Kau adalah ayahnya. "


"Namanya Arylin karena dia lahir saat udara yang sejuk di musim panas ini."


"Arylin, nama yang bagus. Iyakan, ayah? "


"Hm."


Disisi lain Tsubomi termenung menyender di pohon itu, menatap langit yang biru. Aoi yang sedang lewat hutan itu tak sengaja melihat Tsubomi sendirian dibalik pohon itu, dia pun mendatanginya.


"Senpai?"


Tsubomi yang mengenali suara itu menoleh. "Aoi, rupanya kau. "


"Apa yang kau lakukan disini? Jangan melamun seperti itu!" Tsubomi terkekeh. "Jangan tertawa! " Aoi menggaruk kepalanya.


Tsubomi mendekatkan dirinya ke tubuh Aoi. "Lalu, apa kau mau menemaniku? " Didalam hati, Tsubomi sebenarnya merasa sedih. Beberapa jam yang lalu...

__ADS_1


"Sensei." Tsubomi meremas baju pria itu untuk menahannya pergi. "Aku sangat, sangat, mencintaimu." Pria itu melepaskan genggaman Tsubomi. "Aku harus pergi. "


Namun dia dapat menahannya dengan sangat baik. "Kenapa aku harus menemanimu? Sebaiknya kau pulang saja, aku juga mau pulang!" Aoi membenarkan tali ransel yang terkait dibahunya.


"Bukankah kau menyukaiku? " Ehh? Wajah Aoi telah masak. Tsubomi tertawa nakal. "Senpai! "


***


Sudah lima bulan ini, kondisi Tamao nampak memburuk. Padahal beberapa hari lagi adalah ulang tahun keenam Arylin.


"Kakek, apakah aku bisa menemui ibu sekarang? " Tanya Arylin kecil.


"Maafkan aku putri kecil, tetapi ibumu masih sakit. "


"Tapi... "


"Arylin, turuti kata-kata kakek! " Gertak Kaoh. Arylin menunduk sedih, dia pun berlari kembali ke kamarnya.


Telah enam bulan berlalu, setelah bayi Nabari terlahir. Dia diasuh oleh pengasuh di keluarga Orcha. Dia adalah bayi Tsubomi bersama Tora. Namun, Tsubomi meninggal usai melahirkan.


Hal itu membuat Aoi sangat marah. Dan membuat Tamao yang sangat mencintai Tora menjadi depresi.


Seorang wanita masuk ke kamar Tamao. Wanita yang memiliki wajah yang sama dengannya. "Aku jadi tidak begitu sakit karena telah kehilangannya hanya untukmu, terimakasih karena telah membuka mataku. " Tamao tak menghiraukannya. "Tch. Lupakan saja orang itu, palingan dia sudah mati sekarang! "


Tiba-tiba Tamao menyerang Izanami, namun berhasil menghindar. "Aku mengatakan hal bagus... "


"Izanami! " Teriak Orcha.


"Ayah? "


Orcha berjalan tegap dengan tatapan yang tajam, menghampiri Izanami. "Hentikan, Izanami! "


"Ayah selalu saja membelanya, hanya ibu yang menyayangiku! Kalau saja... Kalau... Kalau saja kau yang mati! " Izanami pergi dari tempat itu.


Ditengah malam Arylin diam-diam masuk ke kamar Tamao, dia melihat ibunya sedang duduk disisi kasur. "Ibu, tebak ini hari apa? " Tamao hanya terdiam, menatap kosong putrinya.


"Ibu, kau dengar ti..."


BRK!


Semua orang panik dan segera ke kamar Tamao. Mereka melihat pemandangan yang mengejutkan. Tamao terlihat begitu ketakutan dan dihadapannya Arylin telah tergeletak dilantai dengan wajah yang telah rusak.


Arylin bangkit dari tempat duduknya. "Aku mau ke toilet. " Dia pun keluar dari ruangan itu.


Nabari masih pura-pura tertidur dipangkuan Tsubomi. "Dan dua tahun yang lalu, ada seseorang yang berusaha membangkitkan Tomoe, lalu Tora Sensei yang ingin membangkitkan Nyonya Tamao, tetapi entah kenapa aku yang hidup kembali. Saat itu sangat menakutkan. Hingga seorang wanita menyelematkanku, dia adalah ilmuwan yang cukup gila. Dia bernama Han shuji. "


"Han... Shuji... Katamu? " Tsubomi mengangguk.


Di balik pintu, Arylin menyenderkan tubuhnya berusaha mengatur nafasnya. "Arylin." Seketika matanya terbelalak mendengar suara itu, dia pun mengangkat wajahnya. "Bibi Izanami... "


Saat itu, setelah dirinya tersadar bahwa dia telah melukai putrinya dia merasa mati rasa. Tora kembali secara sembunyi-sembunyi, namun tetap diketahui oleh Orcha.


"Mau apa lagi kau kemari?! "


"Aku harus menemui Tamao. "


"Pergilah! Tidak ada yang harus dia katakan kepadamu. "


"Aku ingin... "


Tiba-tiba suara benda jatuh terdengar dari kamar Tamao, dan betapa terkejutnya mereka saat Orcha dan Tora membuka mata mereka. Tamao telah mati.

__ADS_1


__ADS_2