
"Kau keras kepala." Nabari berhasil melepaskan diri dan menahan Tomoe yang akan menggantikan tubuhnya.
"Anak dan orangtua sama saja."
"Jangan samakan aku dengannya. " Nabari tetap menahan Tomoe agar tetap sadar. "Kau hanya segelintir kepribadian lainku, akuntidak menyangka kalau aku mengidap dissociative indentity."
Tomoe mengangkat sebelah alisnya. "Aku tak mengerti ucapanmu. "
"Mana ada, kau kan manusia purba. " Urat kening Tomoe mengeras. Bocah ini.
TRGK!
Tomoe menyentil kening Nabari. "Akrg! Sakit tau! "
"Hei, bagaimana kalau tubuhmu tetap kau tapi jiwa aku dan... "
"Tidak mau. " Nabari membuang wajah.
"Dengarkan dulu! fyuh. " Tomoe menarik nafas panjang. "Dengan kesadaran kita berdua didalamnya, jadi kita bisa berbagai ingatan dan kesadaran sebagai tukar informasi. Bagaimana?" Pasti dia akan mau, karena dia juga...
"Kau keras kepala ya, nenek. "
"Nenek? "
"Kalau kau mengizinkanku memanggilmu Nene dada, aku akan menyutujui permintaanmu."
Anak ini kurang ajar! "Panggil Nene saja... Jangan pake dada."
Nabari dan Tomoe menyambut kedatangan Aoi, Tora dan Tamao. "Kalian sudah datang. "
"Nenek. " Cetus Tora.
"Nenek? " Aoi mengerutkan dahi.
"Memang anak dan ayah. " Tora mengangkat sebelah alisnya. "Sudahlah, aku mau keluar sebentar. "
"Nene buyut Tomoe ." Yang ini lagi, kenapa harus pake buyut? Diam bocah, jangan tertawa didalam tubuh...Ah, sudahlah!
"Kau lupa Aoi, ayah selalu menceritakan kisahnya pada kita setiap hari. "
"Benar juga. Ehh? " Dia baru sadar. "Aku pergi. " Nabari pergi dengan teleportasi.
"Yang benar saja. "
***
"Kau dibawah perintah siapa? Jangan katakan tidak ada. "
"Aku tidak bisa membohongimu, jadi aku akan mengatakannya. Nabari aku adalah tangan kiri ayahmu. "
"Tora? "
"Nabari, ayahmu sebenarnya sudah mati sembilan tahun yang lalu. Tidak, dia sudah beberapa kali mati. "
"Sudah kuduga. "
***
"Fubuki-san, tidakkah kau terlalu jauh. "
"Nabari. Apa maksudmu? "
"Kau terlalu merepotkan. " Nabari pergi keluar lewat jendela kantor Fubuki.
"Tunggu, benarkah kau nabari? "
"Kau fikir aku siapa? "
***
Dua minggu kemudian...
Saat festival SMA Hanabari berlangsung, Fubuki yang ditemani Shiroi datang kesana.
"Terimakasih Fubuki-san, aku tidak menyangka kau akan datang dan memberi beberapa orangmu untuk melindungi kami. " Kaoh menyambut.
"Ini karena kondisi kita belum stabil. Sepertinya anak-anak sudah bekerja keras ya."
"Seperti yang anda lihat. " Mereka pun bercengkrama dengan tawa lepasnya.
Shiroi keluar untuk berkeliling meninggalkan Fubuki dan Kaoh bersama Lichita dan Araumi yang ditemani Yakuze.
Terlihat Kanazawa datang menghampiri Lamia. "Layla-san."
__ADS_1
"Ada apa, peniru? " Kanazawa diam-diam menyempilkan sebuah flahdisk kedalam saku jaket Lamia yang diikatkan dipinggangnya, lalu dia berbisik. "Dari chovez. "
Lamia melirik sedetik dan pergi, berpapasan dengan Kanazawa. Lamia berhenti ditengah jalan, menoleh ke belakang dan mengitari matanya ke atas langit lorong kelas. Titik buta cctv. Dalam batinnya.
Dia pun pergibke toilet perempuan untuk menyambungkan usb itu ke ponselnya. Dia melihat sebuah kiriman video dari ayahnya yang sedang bernaung dipohon kelapa sebuah pulau yang sepi. "Dimana dia?"
"Halo, my lady. Kau pasti baik ya. Aku merindukanmu juga, tapi ini belum saatnya kita bertemu. Ya, aku dengar festival sekolah? Itu terdengar menyenangkan. Bersenang-senaglah! Hahahaha."
Gadis itu tersenyum sendiri didalam toilet. "Dasar orang tua bodoh. " Gumam Lamia sambil mengelap tetesan air diujung matanya.
Festival ini berlangsung meriah dan yang ditunggu, festival olahraga telah dimulai. Beberapa juga telah masih berjualan di stand luar.
Namun, kebahagiaan itu memudar ketika kedatangan tamu yang tak diundang. Membuat warga sipil yang datang ke festival itu berhamburan, ketakutan dan bahkan ada yang disandera.
Aparat berwenang membantu dan melindungi mereka bersama para murid. Semua kegiatan dihentikan. Semuanya kacau, hancur lebur.
Setelah semua bisa dievakuasi dan para ******* berhasil di tangkap meski sebagiannya kabur ,orang-orang yang disandera juga selamat dan berhasil dibawa ke tempat evakuasi ke gedung luar sekolah.
Beberapa masih bertarung dengan para esper dan berhasil mengalahkan mereka. Para esper itu pun ditangkap dan dibawa keruang bawah tanah.
"Mereka buronan yang hilang sejak tiga tahun yang lalu. " Celetus Fubuki.
"Jadi mereka ya. " Kaoh mengelusi janggut jarangnya.
"Tapi... Seharusnya mereka bukan seorang esper." Semua orang disana tertegun.
"Apa mereka menggunakan alat esper? " Semua menggeleng.
"Mereka jelas esper. " Jawab Hana.
Tiba-tiba, pergerakan mereka menjadi aneh. Para tahanan itu gemetaran hebat, tubuh mereka seketika memerah dan membengkak.
"Awas mereka mau... " Amanda terlambat untuk mengatakannya. Para tahanan itu meledakkan tubuh mereka. Asap mengepul diseisi ruangan, membuat banyak reruntuhan.
Tapi mereka dilindungi oleh sebuah perisai pelindung. "Tuan. " Bisik Lichita. "aku tahu. "
Kaoh melihat ke sekelilingnya, sama dengan yang lain. Orang-orang berjubah hitam yang menutupi wajah mereka dengan tudung itu mengelilingi mereka dan membuat sebuah perisai pelindung.
"Kau mendengar itu? Kita harus cep... " Kuchisawa menahan tangan Arylin. "Kenapa kau menahanku? "
"Aryl-san, mereka akan baik-baik saja. "
"Apa maksudmu? "
Kaoh dan Fubuki menghampiri seorang gadis berjubah yang ada didepan mereka. Para orang berjubah itu terus membelakangi mereka dan hanya diam walau sudah ditanya beberapa kali.
Orang-orang itu pergi setelah mereka ketahuan memakai alat esper, kecuali satu gadis yang berada dihadapan Kaoh, Fubuki dan Lichita.
"Selamat siang, tuan dan nyonya hitsuziaki. " Momo memberi salam.
Anak-anak? Mereka terkejut orang yang dihadapannya adalah seorang gadis smp. "Siapa kalian? " Tanya Fubuki. Momo tersenyum.
"Kenapa kalian menyelematkan kami? Alat itu... " Sela Kaoh.
Angin berhembus kencang diantara mereka yang berada diruangan itu, lalu gadis itu menghilang perlahan seperti debu.
"Kalian akan segera tahu. "
"Apa maksudmu dengan baik-baik saja. " Kuchisawa tetap bungkam. "Aku akan oergi sendiri. " Arylin meninggalkannya disana.
Setelah Arylin pergi, Nabari pun muncul. Dia berdiri dibelakang Kuchisawa sembari menyakui kedua tangannya disaku jaketnya.
"Kau datang, berarti mereka berhasil. " Kuchisawa berbalik ke arah Nabari. "Terimakasih atas kerja samanya. "
Dua minggu sebelumnya, saat pengakuan Kuchisawa dimarkas bangau putih.
"Kalau begitu, bukankah Tora telah mengetahuinya. Kau tidak diberi... "
"Nabari? "
Suara wanita keluar dari mulutnya. "Ini giliranku. "
"Yang mulia ratu? "
"Uhm. "
Nabari duduk menyilangkan kakainya dengan gaya wanita anggun. Kepribadian ganda. Dalam batinnya, Kuchisawa terbelalak.
"Jadi kau yang bernama Mae, si ketua? "
Kuchisawa berdii lalu menjatuhkan setengah tubuhnya memberi hormat. "Maaf terlambat, namaku Kuchisawa Maeta."
"Bukan nama asli kan? " Kuchisawa tersenyum. "Sunnguh luar biasa, Yang mulia. Tapi itulah namaku. "
__ADS_1
Sebelas tahun yang lalu, saat Aoi sedang memiliki misi disebuah desa yang semua warganya mati secara mendadak. Dikatakan ada penyakit mematikan yang menular ,membuat orang dilarang kesana.
Saat itu Aoi menyelidikinya, dia tahu itu adalah kekuatan psikis, tapi dia tidak menemukan satu pun orang yang memilikinya . Hingga dia tidak sengaja melihat seorang balita berusia tiga tahun berjalan ke arah lubang yang mengeluarkan asap panas.
Dengan cepat dia menyelamatkan anak itu dan menggendongnya. "Apa yang kau lakukan? Huh, mau bicara pun kau cuma seorang bayi. " Aoi menggendong bayi itu di ketiaknya.
Bayi laki-laki itu tenang dan tetap diam didalam gendongan itu. Aoi merasa lubang itu harus diselidiki karena memiliki aura yang berbeda. Tapi, karena bayi itu. Dia harus membawa bayi itu terlebih dahulu.
Aoi membawa bayi itu ke desa sebelah, namun karena dia tidak mau orang menolaknya dia pun berbohong dan mengatakan dia menemukannya di hutan dekat desa mereka.
"Ya ampun, ini sepertinya pembuangan anak. Tuan, berikan pada kami. Kami akan memeriksanya. "
"Baguslah, aku hrus pergi sebentar. Ada urusan. "
Aoi kembali ke desa mati itu, dia nkembali melihat tulang belulang dan mayat-mayat yang mulai membusuk dan kering disekitarnya. Namun, tidak berbau. Dia mengira karena kabut panas yang dikeluarkan lubang-lubang kecil disekelilingnya.
Tetapi, lubang paling besar yang didatangi bayi itu terlihat berbeda. Saat dia akan segera tiba, dia melihat sosok pria berdiri mematung disana.
"Kau suruhannya?" Aoi menodongkan pisau ke leher Tora.
"Lubang inilah penyebabnya. "
Aoi menurunkan tangannya dan memasukan pisau itu kedalam lengan bajunya. "Kau selalu mengabaikanku. Ya, aku tahu. Ada kekuatan psikis disana... "
SHUYT!
Aoi menghindari serangan Tora. "Heu, sudah kuduga. "
Mereka pun bertarung untuk memperebutkan batu yang berada di dalam lubang panas panas itu, dan Tora pun kalah.
"Aku membencimu. "
"Kenapa? kau sudah mendapatkannya. " Tora menunjuk ke lubang itu.
"Air menjadi panas karena batu ini. "
"Cepat seperti biasanya. " Sindir Tora. "Hei, kau tidak akan melaporkannya? "
Tora pergi dengan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Aoi pun kembali dengan batu itu ke desa sebelah. Entah mengapa dia terus teringat bayi itu.
Saat dia kembali, orang-orang mengelilingi bayi itu dengan sumringah seperti terpukau.
"Permisi. "
"Tuan, kau sudah kembali. "
"Ya. Bagaimana dengannya? "
"Dia sangat baik!" Aoi memiringkan wajahnya.
"Dia sudah pandai bicara, ayo lihatlah! " Wanita setengah baya itu menarik Aoi.
"Bayi manis, siapa namamu? " Bayi itu membalas. "Takeo. "
"Lihatlah dia juga bergerak cepat. Sayang, ayo jalan kesini."Bayi itu bergerak cepat. Dia...
"Lihat, dia sudah bisa berlari. " Tidak, tidak, jelas itu bukan lari. Dalam hati Aoi.
"Tuan, apa kau akan membawanya? Sejak kau pergi dia menangis, dan baru berhenti sejak kami mengajaknya bermain. " Bayi itu berlari ke arah Aoi dan memeluk kakinya memegang erat Aoi.
"Sepertinya dia menyukaimu. "
"Tapi... "
"Jika kau tidak mau, aku saja! "
"Tora? Kau... " Tora mengangkat bayi Takeo dan menatapnya.
"kau serius? " Tora mengabaikan lertanyaan Aoi dan terus menatap bayi itu hingga Takeo tersenyum dan memegangi tangannya.
"Ayo kita pergi. " Tora menggendong bayi itu yang langsung menempel didadanya seperti memeluk.
"Serius. "
"Nona, aku boleh membawanya? Aku akan membayar perawatannya selama disini. "
"Ah, sebenarnya tuan ini yang menemukannya dihutan."
"Kalau begitu saya pamit. "
Aoi mengikuti dia dari belakang. Hingga mereka didalam hutan, Tora memulai pembicaraan.
"Dia anak desa itukan?"
__ADS_1
"Tora, sebenarnya apa rencanamu? " Tora menghilang dari hadapannya.
Aoi tidak menghiraukannya dan pergi juga ke tempat peristirahtannya. Saat dia menyakui sakunya. Dia menggeledah semuanya. "Batunya... Kart kredit ke sembilan belasku... Tora, Sialan! "