Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
42. Air Mata


__ADS_3

Nabari membuka matanya mendapati dirinya yang terbaring disebuah ruangan yang tidak asing lagi baginya.


"Kau sudah sadar? " Dia melihat Arylin melipat kedua tangannya, menyender ke dinding samping jendela.


"Mbayu. "


Arylin menghampiri Nabari yang memaksakan diri mengangkat tubuhnya. "Atch! " Nabari meringis. Arylin menyentil kening Mbari yang baru setengah bangun. "Mbayu?! "


"Beristirahatlah dengan tenang. " Arylin menempelkan kedua telapak tangannya, itu membuat Nabari jengkel.


"Kau fikir aku orang mati?"


Saat Arylin ingin menggoda adiknya lagi, beberpa orang masuk keruangan mereka. Araumi bersama Lichita datang ke hadapan mereka.


"Bagaimana keadaanmu? " Tanya Araumi.


"Baik, Pak. " Mendengarnya, membuat Araumi terkekeh. "Kau masih saja kaku kepadaku. Panggil aku ayah.. " Araumi mengacak-ngacak rambut ikal Nabari.


"Ya, a-yah. " Ucap Nabari malu-malu.


"Nabari-chan, bisakah kau bercerita padaku? "


Disisi lain, Kaoh masih bekerja dikantornya. Banyak surat maupun surel yang masuk dari meminta tolong ataupun hanya iseng hingga pesan kebencian. Ini membuat para anggota OSIS dan guru-guru pun kewalahan.


"Bagaimana ini... " Kiyoshi terus menerus menahan nafas. Nana mengelus punggungnya. "Apa yang harus ki... "


"Apa kaliam bisa diaaam?! " Protes Sana.


"Tenanglah! " Hana menepuk kening Sana.


"Sakit tahu!"


"Aku....Aku tidak tahu harus bagaimanaaa! " Hana menjatuhkan wajahnya ke meja. Ehh? Dia yang paling tidak tenang, tuh!


***


"Aku tidak menyangka rencana itu pun gagal. Lalu, apa kau mengetahui siapa wanita itu? " Nabari menggelengkan kepalanya.


"Tapi bibi itu seperti membenciku. " Tiba-tiba Arylin bergetar tubuhnya dan menatap Nabari tajam.


"Mbayu, ada apa? "


"Apa rambutnya berwarna persik? " Nabari mengiyakan. Sontak Arylin tertegun dan membuatnya melangkah mundur sambil gemetar.


"Mungkinkah? " Ketika Nabari mendengar dugaan yang ditunjukkan wajah mereka, dia semakin bingung. Hingga dia pum teringat dengan itu.


"Mbayu? " Nabari menatap kakaknya dengan bertanya-tanya.


"Nabari. " Arylin mengangkat wajahnya. "Uhm? "


"Tsubomi telah mati. " Nabari terbelalak dalam diam, lalu memejamkan matanya beberapa detik.


Dia menoleh ke atas langit kamar itu, menatapnya. "Begitu ya. "


Karena respon Nabari yang biasa saja, itu membuatnya kesal yang tidak dia sadari. Arylin menampar diantara kedua sisi ranjang Nabari diantara kedua telinganya.


"Arylin-chan? " Itu membuat Lichita dan Araumi terkejut.


"Kenapa ekspresimu begitu, yang mati adalah ibumu! "


"Lalu? "


"Lalu? Heuh, apa kau waras? " Araumi menghentikan langkah Lichita yang ingin melerai kakak beradik itu.


"Aku menangis darah pun, orang mati tidak akan hidup lagi! Ahh, aku lupa dia sudah pernah mati."

__ADS_1


Arylin menggebrak kasur itu, bangkit dan pergi. Sedangkan Nabari , dia menutupi wajahnya. "Ayah, Ayunda. Boleh kalian keluar? Sepertinya lukaku sedikit terbuka, aku ingin tidur sebentar.


"Ta... " Araumi memahannya. "Baiklah, kami akan keluar. Ayah bikinkan bubur ubi kesukaanmu ya? "


"Uhm. Terimakasih. "


Araumi membawa Lichita keluar dari sana, meninggalkan bocah itu sendirian. "Lebih baik kita cepat memasak. " Ajak Araumi. Lichita menurut.


Dikasurnya Nabari mulai menderaikan banyak air matanya. Di awal dia tidak begitu sadar, namun semakin dia menahan semakin tangisnya jadi.


***


"Sial! " Arylin memukul tiang listrik itu, lalu menghilang. Dia pun muncul di depan Kaoh yang sedang sibuk di berkas-berkasnya.


"Bagaimana? Dia sudah bangun? " Kaoh yang sedang sibuk menanda tangani berkas.


Arylin tidak menjawab pertanyaan Kaoh. Dia duduk disofa tamu dengan ekspresi marah. "Ada masalah? "


"Tidak."


"Uhm, jadi masalahnya apa? "


"Kubilang tidak ada!"


Kaoh menghentikan pekerjaannya, dan mendatangi Arylin. Dia duduk disebelah adiknya itu lalu mengelus kepalanya.


"Diamlah, aku bukan anak kecil. "


"Tapi bagiku kau adalah gadis kecilku. "


"Kenapa kau selalu bilang begitu kepada semua perempuan? Menggelikan! " Kaoh tertawa renyah mendengar sindiran itu.


"Kau senang?" Kaoh berusaha menghentikan tawanya. "Ya, aku sedikit terhibur. Aku benar-benar stress belakangan ini. Aku gabisa ketemu Asianyan dan berduaan dengan Lichinyan." Arylin menatapnya geli.


"Hah. " Arylin menghela nafas.


"Sudah ku... Aku keceplosan. "


"Begitu ya. Itu bukan masalah, dia memang harus tahu."


"Tetapi, responnya..."


"Kau tahu, mungkin sekarang dia sedang menangis."


"Ehh? "


"Anak itu, dia memang tidak mau kelihatan lemah didepan siapapun. Yahh, enaknya jadi anak ABG!" Enaknya apanya? protes Arylin dalam hati.


"Bukankah kita juga. Manusia itu kebanyakan tidak mau terlihat kelemahannya."


***


"Ah, kau sudah bangun? " Araumi membawa semangkuk bubur ubi hangat untuk bocah itu.


"Aku sudah lebih baik."


"Ini makanlah. "


Wanita itu berjalan membungkuk memegangi sekitaran perutnya. Dia berjalan menyusuri pepohonan hingga masuk kedalam.


Tora yang duduk dihadapan api unggun menyadari adanya geral gerik disekitar perkemahan kecilnya.


Saat kedua pasang mata itu saling berpapasan, Tora berdiri dengan cepat melihat sosok wanita didepannya. Tamao meremas kepalannya, berlari ke arah pria yang dia benci dan akan menyerang. Namu, luka itu mengahalangi Tamao. Tora pun menangkap tubuh Tamao yang oleng dan tak sadarkan diri.


Disebuah villa disatu negara. Aoi yang baru saja datang kemarin untuk berlibur, tiba-tiba saja dia merasa kepalanya seperti tertindih. Mata kirinya berputar tak karuan.

__ADS_1


"Tidak mungkin!" Bisiknya.


"Tuan, kau baik-baik saja? "


"Ah, iya. Saya hanya sedikit pusing."


"Biar saya membantu. "


Pelayan itu menggandeng Aoi ke tempat tidurnya. Saat Aoi melirik lagi dia merasa itu disengaja.


***


"Enak? " Nabari mengannguk dengan senyum kecilnya. "Aku menghabiskannya. "


"Apa mau tambah? "


"Tidak, terimakasih, a-yah. " Araumi terkekeh.


"Kenapa anda selalu menertawaiku? " kesalnya.


Araumi mengelus kepala Nabari. "Apa mau kuantar? " Nabari tidal menyadari bahwa matanya mulai berkaca-kaca.


"Biar aku saja, ayah mertua. "


"Kakanda? "


"Oh Kaoh, kau telah kembali? "


"Ya, jadi beristirahatlah biar aku yang mengantar... "


Kaoh terkejut karena Araumi menodongi dia pistol. Nabari pun terkejut. "Kau fikir bisa... " Mata Nabari terbuka lebar, lidahnya kaku, badannya bergetar melihat apa yang terjadi didepan matanya.


Nabari mulai emosi, dan mengamuk. Sasaki tertawa senang dengan itu. "Ayo lawan aku. "


Nabari menyeretnya keluar untuk mengamuk meninggalkan Araumi yang sekarat.


Lichita dan Eurasia juga para pelayan berdatangan, Lichita lamgsung berlari ke arah Araumi. "Cepat panggil ambulan! " Suruh Eurasia. Dia pun menyusul Lichita menemui Araumi yang terbaring dilantai.


"Ayah. " "Kakek."


"A...sia, Lichi... ta."


"Diamlah ayah, nanti lukamu semakin terbuka. "


"Kakek. "


Araumi meremas tangan putri dan cucunya dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Se... lamat... kan Naba... "


"Ayah! "


"Kakek! "


Diluar sana Nabari masih bertarung dengan Sasaki. Sasaki sangat menikmati pertarungan ini. Dia sangat senang melihat emosi Nabari yang meledak-ledak.


Mereka benar-benar adu kecepatan, ini tidak bisa ditandingi. Nabari berada dibawah alam sadarnya, bahkan dia tidak merasakan apapun mesko darahnya terus mengucur dan terus melawan Sasaki.


Hingga luka itu membangunkan kesadaran Nabari. "Akgh!" Tubuh Nabari berhenti bergerak. Dia mulai kehabisan darah.


"Sudah menyerah?" Sasaki tidak sedikit pun tergores. Sial!


TRBGK!


"Siapa kau? " Teriak Sasaki. Sosok itu membuatnya gemetaran. Kenapa aku...


"Berani-beraninya ."

__ADS_1


"Hei, kau membawa ke tempat ap... Geukh! " Tubuh Sasaki berlubang ditangan Aoi.


"Beraninya kau melukainya. "


__ADS_2