
Besi tak berkarat itu mengiris sebuah tubuh hingga darah bergelimpang didalam jalan. Wajah itu tersenyum lebar menikmati letusan merah tua itu yang tertempel diwajahnya.
Dia pergi dari jalan sempit yang gelap itu memasuki sebuah hutan menemui panjangnya sungai. Berenang, menyeberang ke tepian.
Malam tlah usai, hari esok dengan mentari yang agak terik menyilau ke arah jalan yang begitu ramai.
Seorang anak yang lesuh dengan tudung compang camping nya berjalan sempoyongan. Seorang wanita yang iba mendatanginya.
"Kau baik-baik saja? " Anak yang bertubuh lemas itu tersungkur kedalam pelukan sang wanita. Namun tiba-tiba, wanita itu mengalirkan air merah dari nadi dilehernya membuat dia terjatuh bersama sang anak.
Semua orang yang melihat berteriak histeris membuat orang-orang lainnya datang memastikan. Mereka melihat dua orang tergeletak ditanah, dan wanita yang mati berlumuran darah dan darah itu masih terus mengucur dari urat nadinya.
Semua orang berkumpul melihat itu semabri menunggu kedatangan polisi dan ambulan. "Aku Hitsuziaki Arylin!" Beberapa dari mereka saling berbisik membicarakan dirinya.
Arylin tak pedulikan itu, dia terus berjalan sambil menggandeng Rui disampingnya. Dia tercengang saat melihat itu. "Arylchan, apa ada yang terluka? Aku mencium bau darah, aku akan menye... " Arylin menghentikan langkahnya.
"Kenapa kau menahanku?! "
"Dia telah mati. " Rui terpaku ditempat.
"Hei, aku dengar ada seorang anak juga.. dimana dia? " Seseorang menunjuk ke arah belakangnya, tapi anak itu telah menghilang.
"Tadi dia disitu. "
"Ya, kemana dia? "
"Sejak kapan dia pergi? "
Semua orang dibuat linglung dan lengah. Arylin dan Rui mencurigai seeuatu. "Kak Rui, tunggu disini. "
"Kau mau kemana? "
"Aku mau memeriksa sesuatu. "
Arylin mendekati dan memeriksa mayat wanita itu dari dekat, dia melihat sebuah simbol yang pernah dia lihat sebelumnya. Itu membuatnya tertegun. Ini...
"Polisi datang! " Seru seseorang disana. Arylin berdiri mundur. Shiroi melihat dua gadis yang ia kenali.
Rui mengenal langkah kaki itu. "Shiroi-san. "
"Rui, sedang apa kalian disini?" Dia melirik ke arah Arylin.
"Kami sedang berjalan-jalan, lalu mendengar keributan. "
"Itu benar." Arylin mendatangi mereka. "Kapten, ambulan telah datang. " Seru Hanao.
"Aku akan kesana. " Shiroi menepuk pundak kedua gadis itu. "Pulanglah, biar aku yang urus. "
Para polisi telah membawa jasad itu dan mengamankan keadaan disekitarnya.
Beberapa menit sebelumnya, di sebuah pinggiran kota yang kumuh. Disebuah tempat sepi dekat pembuangan sampah. Seorang pria tua yang siap menyalakan cerutunya, tiba-tiba saja terpelanting ke depan sehingga keningnya terbentur.
Dia bangkit untuk melawan balik, namun sayangnya dia dikalahkan. Cekikan itu sangat kuat hingga mematahkan lehernya. Lalu dia dibakar hingga setengah kering, lalu ditendang ke sebuah genangan bekas hujan yang baru mereda.
Dipukul oleh kain, pria itu masih dalam keadaan sekarat ditembak tepat dijantungnya. Tubuh yang telah betul mati itu, diangkat dan dimasukan kedalam tumpukan Sampah.
***
"Bagaimana? " Tanya Araumi pada Shiroi. "Dia ditusuk sesuatu yang sangat kecil tepat disini. " Shiroi menunjuk ke urat nadi dilehernya.
__ADS_1
Araumi mendeham pelan. "Tumben sekali, anda yang turun tangan."
"Dia sedang dalam keadaan kalut. Aku tidak ingin ia tahu soal ini, tapi sepertinya mustahil. "
Langit sore yang membiru dengan gradasi jingga dan merah muda. Lawliet kembali ke tempatnya. Ia melihat Chovez dan Nabari yang serius bermain kartu.
"Serius sekali. " Bisiknya pada Oroi yang sedang membaca buku.
"Lae, dimana Wiles? " Tanya Nabari.
"Dia belum kembali? "
"bukankah kalian bersama? " Elize menyela.
"Kami berpisah ditengah jalan, tujuan kami berbeda."
"Memangnya kalian kemana? " Elize menatap Lawliet sinis. Begitupun Oroi, dia melirik tajam mereka.
"Aku ke warung game online, lalu ke bar. Anak itu aku tidak tahu... Arghh, sialan! Aku harus mencarinya? "
"Biar aku saja. " Oroi menutup bukunya.
Saat ia baru saja akan pergi, terdengar tawa anak-anak mendekati mereka.
"Kau dari mana saja, bocah?!"
"Lawliet, kau sudah jelek pemarah lagi. "
"Apa? "
"Diamlah. " Mereka langsung terdiam mendengar keluhan Nabari. "Kyaaa! " Nabari berteriak. Menarik ujung rambutnya.
Dia langsung menoleh ke arah para anak buahnya. Bulu kuduk mereka langsung merinding, kecuali Elize.
"Tuan muda, kau memang lemah. Sebaiknya kau belajar saja, sini aku ajari. " Semua melirik Elize tertegun takjub dengan keberaniannya.
"Tidak... Tidak mau belajar! " Nabari merengek.
Rui dan Arylin telah kembali dikediaman Izanami. "Uhm, kalian baru pulang? " Tanya Nana.
"Nanachan, kau telah menengoknya? "
"Iya kak, tapi dia masih seperti biasanya. "
"Begitu. "
"Nana, apa permainan selanjutnya sudah kau ketahui?" Nana menggeleng.
***
Dua hari selanjutnya...
Pagi yang begiti tenang dengan susu hangat buatan Elize dan juga buah mangga premium dan oyakodon yang wangi. Membuat air liur bocah itu mengalir.
Kanazawa datang dengan wajah muram. Dia membisikkan sesuatu ke telinga Nabari, membuatnya hilang nafsu makan.
Nabari menyuruh semua orang untuk berkumpul. "Dimana mereka berdua? " Nabari mempertanyakan ketiadaan Lawliet dan Wiles.
"Wiles pergi sejak pagi dan Law baru saja tiga puluh tiga menit yang lalu. " Sebastian menjelaskan waktu di arlojinya .
__ADS_1
"Chovez dimana dia? "
"Dia sedang berurusan dengan toilet. " Sebastian membuang wajah. "Ehh. "
"Oroi...Elize , kalian cari mereka berdua. Aku dan Yuri akan mengecek keadaan di tempat kejadian. "
"Kejadian apa? " Nabari baru sadar kalau dia telah keceplosan setelah mendengar pertanyaan Elize.
"Terjadi pembunuhan warga sipil yang memakai tanda simbol kita. Sudah dua orang. " Mereka tercengang mendengar penjelasan Kanazawa.
"Yuri. "
"Mereka harus tahu. "
***
"Saya izin untuk meninggalkan ruangan lebih dulu. " Kai membungkuk.
"Kau orang yang sibuk. Baiklah, bukan masalah bukan, Perdana menteri? " Lirik Araumi.
"Ya. "
Kai pergi meninggalkan tempat itu. Dia memeriksa berbagai tempat kejadian itu dari jauh dan menganalisanya agar tidak ketahuan.
Namun, Shiroi mengetahui niat Kai saat melihatnya di pinggiran kota. Shiroi tiba-tiba mendapatkan panggilan bahwa seorang pemancing di sungai melihat orang yang mengapung di tengah sungai yang besar.
Shiroi pergi ke tempat itu menyusul para timnya. Tubuh pria gemuk ditemukan tewas mengapung disungai.
Setelah jasad itu telah di bawa dan di autopsi, terlihat simbol yang sama tertera dibagian tubuh korban.
Tiba-tiba, alarm permainan baru muncul memanggil. para peserta yang tersisa.
permainan berdarah dimulai!
***
Dua belas jam kemudian..
"Telah muncul korban lagi, apa saja yang kalian lakukan! " Protes Sakaguchi.
"Ini yang ketiga. " Sambung Fubuki.
"Tidak, ini yang ke empat. " Izanami yang baru datang. "Aku baru saja dapat kabar, bahwa ada satu orang lagi seorang gadis berusia delapan belas tahun. "
Mereka semua merenung, hingga Fubuki berbicara. "Apa kalian siap untuk membunuhnya, Klan Hitsuziaki? "
Suara ketukan pintu terdengar. "Permisi... Ada paket untuk tuan Fubuki dan Kaoh. " Fubuki dan Kaoh terbelalak. Paket?
"Masuk. " Fubuki menyuruhnya masuk. Kurir itu membawa sebuah kotak yang besar dan menyimpannya di meja.
"Terimakasih. " Kurir untuk membungkuk memberi salam, lalu pergi.
Mereka dengan penasaran membuka kotak itu, Fubuki membukanya. Dia sangat terkejut dengan isi kotak itu hingga menjatuhkan tutupnya.
Bahkan semua orang tercengang dan tak dapat berkata apapun. Izanami melihat secarik kertas, dan ia mengambilnya. Izanami membacakan isi surat itu ,yang berbunyi. Pembunuhnya telah aku bunuh, Ini adalah bukti dari ujung kepala mereka.
"Kalian sudah menerimanya? " Semua menoleh ke arah pintu.
"Nishi... yama Kai. "
__ADS_1
"Kenapa wajahmu seperti itu, Fubuki? Apa kau tidak senang karena aku masih hidup, tuan perdana menteri? "