
"Apa kau mau berobat? " Haruko menyambut kedatangan Kuchisawa dan Nishimiya. Para staff yang sebelumnya telah dikalahkan, mereka kembali bangkit dan bersiap untuk menyerang.
"Nona suster, uhm maaf tapi kami harus membawa dia. " Nishimiya menunjuk kearah Nabari.
"Maaf tapi... aku tidak akan membiarkannya! " Haruko menyerang Nishimiya. Kuchisawa menahan para staff.
Mereka agak kewalahan karena harus menahan kekuatan mereka untuk warga sipil. Pertarungan yang berat sebelah.
Nishimiya dan Kuchisawa bertukar tempat, kuchisawa bertarung melawan Haruko. Mereka adu kecepatan.
"
Hei, Kenapa dia diam saja? " "Entahlah. "
Mereka merujuk pada Nabari yang hanya terbaring dan termenung. "Mungkin lukanya masih belum sembuh. "
Pertarungan itu tidak ada habisnya karena setelah mereka dikalahkan, mereka lalu bersemangat kembali.
Entah mengapa mereka memiliki kekuatan, itu sepertinya dari benda kecil yang digenggam oleh mereka. Tetapi tidak ada satupun yang mengetahui mereka mendapatkannya dari mana.
Saat pertarungan itu tidak ada habisnya, datanglah Aoi dan Nana menyusul Kuchisawa dan disisi lain Yakuze bersama Ichi menyusul Morita dan dua lainnya.
Nabari terduduk tetapi tatapannya masih kosong. Itu karena sebelumnya Haruko membiusnya. Nana datang kepada Nabari.
PLAK!
Eh? Para pria terkejut melihat itu. "Aww! Nanashan , kenapa kau menamparku? "
"Itu membuat kau sadar bukan? "
"Ap..."
"Cepat buka matamu! " Lamunan Nbari tertutup dan dia telah kembali sadar. Dia mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya.
"Eh kenapa mereka..." Morita terkejut saat melihat orang-orang yang menyerangnya tiba-tiba tertidur.
"Dia berhasil. " Gumam Yakuze dan Shen.
"Apanya yang...Aw! Kenapa kau memekulku? " Protes Morita pada Lamia yang menepak kepalanya.
"Jangan banyak bicara, kita ambil benda mereka. "
Para staff dibalai kesehatan pun satu per satu mulai berjatuhan tertidur, kecuali Haruko. Wanita itu tampak tidak terpengaruh pada hipnosis yang dilakukan Nabari.
Haruko menyadari bahwa Nabari telah sadar dan memakai kekeuatannya dengan cepat dia mendorong Nana dengan keras sehingga Nana terpental dan Aoi memangkapnya.
Lengan dan paha Haruko terbakar karena Nana melempar percikan apinya saat terdorong. Haruko memiting Nabari dan menodongkan sebuah pisau bedah ke lehernya.
"Jika kalian bergerak satu inchi saja, aku akan membunuhnya. "
__ADS_1
"Haruko-san. Dadamu empuk. " Dia itu. Batin teman-temannya. Haruko memitingnya lebih keras. "Aaaa... Aaaa... Haru... ko-san, ampun! "
Itu sih salahmu. Batin Nana.
"Haru... ko-san, maaf jika lertanyaanku konyol tapi kenapa kau membenci kami? "
"Ya, itu ambigu. Kalian itu monster. "
"Tapi bukankah kau pun sama, jika kau membalas dendam seperti in..."
"Diam! Satu kata keluar dari mulutmu lagi, akan kupotong lehermu. "
"Haruko-san, siapa yang membunuh keluargamu? "
"Aku bilang diam! "
"Bolehkan aku membunuhnya? " Haruko menatap tatapan matanya yang tidak ada kebohongan.
Satu minggu sebelum itu, Saat ramainya berita penyerangan para esper. Keluarga Haruko adalah salah satu korban pembantaian mereka.
saat itu Haruko sedang lembur di akhir pekan , setelah selesai dia pun pulang kerumahnya dikota. Perjalanan otu membutuhkan waktu dua jam.
Ketika itu malam hari dia datang. Dia membel pintu rumahnya namun tidak ada satupun jawaban, Haruko pun membuka kunci itu sendiri dan ketika masuk suasana didalam dalam keadaan gelap. Lampunya tidak menyala, tetapi dia mendengar suara TV.
Haruko masuk sambil memanggil satu persatu nama keluarga, tetapi tidak ada jawaban. Dan saat dia masuk kedalam tubuhnya terjatuh lemas, lidahnya membeku dan mulutnya kaku. Keluarganya telah mati.
Sejak saat itu, Haruko menjadi frustasi. Amarahnya membeludak dan muncul rasa ingin balas dendam, karena dia maupin polisi tidak menemukan pelakunya.
Orang itu pun membawa Haruko bersamanya menemui Malaikat itu dan Haruko pun mendapatkan kekuatan.
***
"Apa? " Kyile membenarkannya. Dia masih menggandeng Totsuki yang telah kalah olehnya.
"Ya ampun. " Kaoh memggaruki kepalanya.
Mereka masih megawasi pergerakan Haruko yang menyandera Nabari. "Haruko-san, bolehkah aku yang membalaskan dendammu? Aku akan cari tahu siapa dia, kau belum mengetahuinyakan? Makanya kau menyandera kami. Kau bekerja sama dengan warga desa ini, kau menghasut mereka setelah ada satu korban dari tempat ini. "
Mata Haruko terbelalak, dia tidak dapat berkata-kata. Kenapa dia bisa... Lagipula dia adalah esper.
"Semua esper adalah penjahat. "
"Berarti kau menganggap semua manusia itu jahat? Termasuk kau dan keluargamu... "
"Beraninya kau! " Haruko melempar pisau itu kearah Aoi tetapi itu menembus. Haruko pun tersadar jika dia tidak lagi menggenggam Nabari ,tapi bantal pasien.
"Apa? " Haruko melempar batal itu dengan kesal. Dimana ini? Sebuah karavan kecil mengelilingi Haruko. Ini bukan rumah sakit, mereka membawaku kemana?
Haruko turun dari ranjang itu, melihat ke sekelilingnya bersiap untuk menyerang. Dia mencari-cari musuhnya yang bersembunyi. Haruko mulai berjalan lamban sambil mengawasi gerak gerik para karavan itu.
__ADS_1
Lagu-lagu masih dimainkan dan karavan semakin ramai. Tiba-tiba lilin-lilin kecil itu terbang ke arah Haruko dari arah timurnya dan pisau bedah yang meluncur dari arah barat Haruko mengarah kepadanya.
Dia menghindari mereka satu persatu. "Berhentilah bermain-main, keluarlah Hitsuziaki Aoi! "
"Hoo, kau sepertinya telah mencari tahu tentang kami. Aku penasaran siapa orang yang membantumu itu. "
Haruko berlari menyerang Aoi. Aoi menahan tendangan Haruko dan menahan semua serangan fisik itu.
Nabari muncul diantara pertarungan mereka dengan tubuh yang bugar tanpa luka. Saat Haruko melirik dia melihat kedatangan Nabari, dia terkejut dengan keadaan Nabari yang tiada luka.
Nabari memiringkan wajahnya dengan tatapan kosong dan senyuman yang sadis, wajahnya seperti badut pembunuh. "Dia... "
"Hahahahah.. " Aoi tiba-tiba tertawa puas. "Kau terkejut? "
Tch! Haruko mengeluarkan benda dari sakunya, betapa terkejut dia benda itu sudah tidak ada padanya dan dipegang dengan Nabari. Sejak kapan?
"Haruko-san." Nabari berjalan mendatangi Haruko.
"Sebaiknya aku pergi. " Aoi pun menghilang.
"Haruko-san. " Sekarang nabari sedang berada tepat dihadapan Haruko.
"Benarkan kau akan membunuhnya? "
"Haruko-san, apakah dengan balas dendam kau yakin akan bahagia? "
"Tentu saja, itu membuatku lega dan keluargaku akan senang."
"Keluargamu akan sedih, Haruko-san. "
"Tahu apa kau!"
"Sebenarnya ada seseorang yang ingin berbicara padamu. "
Sesosok wanita dan pria datang perlahan menghampiri wanita itu. Haruko tidak dapat berkata, matanya meneteskan air mata. "Ayah, ibu. "
"Haruko. " Mereka memeluk Haruko. "Tidak mungkin."
"Haruko, kami tidak apa-apa. " Ucap pria itu.
"Kakak, jangan jadi seperti mereka!" Seru seorang bocah.
"Itu benar. Balas dendam hanya akan membuatmu semakin menderita. "
"Haruko, Lihat ibu. Hiduplah bahagia, lupakan tentang balas dendam. Ikhlaskan kami, kami sudah tidak apa-apa. kau mendengarku kan? " Haruko mengangguk.
"Haruko, kami menyayangimu! " Haruko membuka matanya, dia melihat dirinya terbangun di kasurnya dirumah keluarganya. Dia masih memakai baju yang dia kenakan saat pemakaman. Tampaknya dia tertidur. Mimpi yang aneh. Haruko menangis.
Di atas sebiah gedung. "Tidak apakah kita mengulang waktu seperti ini? Ini berarti kau... "
__ADS_1
"Tidak masalah. "