Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
24. Tidak Tepat Sasaran


__ADS_3

"Kau dengar, katanya semalam ada yang bertemu hantu. " Para siswa saling bercengkrama mendiskusikan kejadian yang terjadi semalam. "Iya, katanya seperti itu. Seram sekali! "


Di sebuah tempat yang tidak terlalu jauh dari kawasan sekolah, kelompok Aoyama berkumpul secara sembunyi-sembunyi.


"Kalian sudah dengar? " Aoyama memulai percakapan. "Ya! "


Aoyama menutup buku bacaannya. "Malam ini kita selidiki. " Aoyama pun melangkah pergi dari tempat itu .


"Baik! " Mereka pun berpisah dan kembali ke kelasnya masing-masing.


***


"Terimakasih ya Kouta, kau telah menyelamatkan nyawaku! " Karai menepuk punggung kawannya itu.


Kouta hanya terkekeh dengan celotehan Karai yang sebentar-sebentar menguap karena baru saja bangun dari tidurnya.


"Kau hanya tidur disaat jam pelajaran. " Suzuki yang berada disebelah mereka datang mengeluh. "Aku jadi ragu, kenapa bisa kau mendapat nilai tinggi padahal kerjamu hanya tidur di kelas. "


"Itulah yang namanya keberuntungan. " Karai tertawa puas. "Oya, hari ini kalian mau makan apa? "


"Uhm, sepertinya aku akan membeli bento saja. " Jawab Suzuki dahulu. "Aku sangat lapar. "


"Kalau kau, Kouta? " Tanya Karai.


"Seperti biasa aku akan membeli roti dan kopi saja. "


"Seperti biasa, seleramu seperti kakekku saja. " Karai menengadahkan tangannya. Dia dan Suzuki menertawai Kouta dengan selera tuanya.


"Lalu, kau sendiri? "


"Aku sedang ingin makan ramen. "


Mereka telah sampai di kantin sekolah. Kouta, Karai dan Suzuki terpisah ke setiap gerai makanan yang berbeda.


Kouta yang sedang sibuk memilih roti, melirik kesebelahnya. Dia melihat seorang gadis berlaras jelita, dengan rambut kepang nya.


"Kau juga suka roti ya. " Nana baru tersadar saat dia mendengar suara itu, ternyata Kouta berada disampingnya.


"Tidak juga." Nana terbelalak satu detik ketika dia melihat nampan yang dibawa Kouta dengan isi roti yang hampir memenuhi wadah. "Kaulah yang mencintai roti. "


Kouta terkekeh renyah dengan sindiran Nana. "Sepertinya kau benar. " Nana tersenyum kecil. "Aku hanya sedang malas makan. " Celetuknya. "Begitu ya. "


Karai yang telah selesai memesan, mendatangi Suzuki yang baru saja selesai membeli bento. Karai menyenggol tubuh Suzuki. "Hati-hati, kau bisa menjatuhkan makananku! " Protes Suzuki.


"Tenanglah, itu tidak akan terjadi... Ah, lihatlah si Kouta itu! " Suzuki mengalihkan pandangannya ke arah Kouta yang sedang asik mengobrol dengan Nana. Mereka masih mengantri di tempat pembayaran.


"Dia tidak bilang kalau dia dekat dengan anak baru itu. " Suzuki menghela nafas. "Memangnya kenapa, kalau mere... "


"Ayo kita kesana! "


"Tunggu, hei Karai! "


Dengan ekspresi jahilnya, Karai datang ke tengah-tengah Nana dan Kouta untuk menggoda mereka. "Nona, apa kau pacarnya Kouta? "


"Tunggu, Karai kami hanya... "


"Apa yang kau sukai darinya? "


"Karai... "


"Dia bukan tipeku." Semua langsung membungkam setelah mendengar penjelasan singkat dari gadis dingin itu.


"Aku duluan. " Nana pergi ke tempat pembayaran dan membayar makanannya, lalu tanpa basa basi dia pergi meninggalkan para lelaki itu.


"Apa kau dito... Aw! Kenapa kau mencubitku? "


"Kau yang telah membuatnya tidak nyaman, ayo kita ke tempat Suzuki. "


"Tadi dia dibelakangku. " Karai membalikan tubuhnya, namun Suzuki tidak berada disana. "Ehh?"


"Dia duduk disana. "


***


Malam pun tiba, Aoyama dan teman-temannya telah berkumpul di atap sekolah. "Apa kalian siap? "


"Ya! "


Mereka masuk ke dalam gedung sekolah menjadi bayang-bayang, untuk menyelidiki hantu yang sering diceritakan oleh para murid disana.

__ADS_1


Mereka memasang alat komunikasi di telinga mereka agar bisa dapat saling berkomunikasi. Mereka pun berpencar ke setiap sudut bangunan. Masih ada beberapa murid yang belum pulang, karena kegiatan klub mereka.


"Disini hanya ada anak-anak yang baru selesai latihan tenis meja. " Kento yang mengawasi ruang klub tenis meja.


"Satoru, kau belum pulang? " Seseorang menghampiri Kento. Gawat, aku ketahuan! "Hatori, permainanmu hebat!"


"Jadi kau menonton latihan kami? "


"Ya. "


"Wah, terimakasih!"


"Kalau begitu aku pergi. " Kento berpamitan dengan teman sekelasnya itu. Hah, hampir saja!


Disisi lain Lucas melihat ada sesuatu yang aneh, dia melihat seorang lelaki bertubuh besar berlari terbirit-birit. Lelaki itu terlihat seperti sedang dikejar oleh sesuatu.


"Kenapa dia? " Lucas mengalihkan pandangannya, namun seketika dia sontak teringat hal itu. Hantu! Lucas cepat-cepat bergerak ke arah lelaki itu.


Lelaki itu bernama Tawamori, dia berlari dikejar Hantu. Dia berlari sambil terus meminta ampunan, namun Sang Hantu tidak menghiraukannya.


Lucas mengejar mereka, dia tidak melihat siapapun kecuali lelaki itu. "Dia kan... " Lucas teringat cerita Ao dan Daiji perihal murid yang suka memeras murid lain, tidak lain tidak bukan itulah Tawamori.


Mengingat hal itu membuat Lucas kehilangan jejak Tawamori. "Sial, aku kehilangan mereka! "


Lucas terus berlari kecil mengikuti jalan yang lurus.


"Lu, ada apa? " Aoyama menghubungi Lucas, dia memiliki firasat bahwa sesuatu terjadi disekitarnya.


"Aku melihat seseorang berlari, tapi aku kehilangan dia. Sial! "


"Berlari? Mungkin saja dia ingin ke toilet." Celetuk Nishimiya.


"Tidak, bukan itu maksudku!"


"Kau dimana? " Tanya Aoyama.


"Aku berada di taman bela... "


GUBRAK!


Tiba-tiba suara benturan yang keras terdengar dari arah ruang olahraga. "Lu, ada apa? " Aoyama yang mulai khawatir.


"Aku akan menyusulmu. "


"Tidak, sebaiknya aku saja aku dekat kesana." Nana menyela. Dia dengan cepat bergerak ke ruang olahraga yang berada dekat dengan taman belakang.


Lucas memasuki ruangan itu, gelap hanya sedikit cahaya yang masuk. Karena tidak dapat melihat apapun, Lucas mencari saklar lampu terlebih dahulu. Saat dia menyalakan lampu ruangan itu.


"Tawamori! " Lucas berlari ke arah Tawamori yang telah babak belur tak sadarkan diri, namun tidak ada lagi siapapun disana kecuali mereka berdua.


"Siapa kau? " Tawamori berbicara dengan suara lemas. "Aku akan membawamu ke UKS. " Lucas memapah tubuh Tawamori dengan tubuh kurusnya.


"Lu! " Nana yang baru datang. "Nami, bisa bantu aku membawanya ke UKS?"


"Uhm! "


***


"Permi... Tidak terkunci. " Nana dan Lucas saling bertatapan. Mereka pun masuk membawa Tawamori ke ruangan itu. Disana terlihat sudah tidak ada siapapun. Nana mencari kotak P3K untuk mengobati memar di wajah Tawamori dan menutupi baret di lengan dan dahinya.


"Bagaimana? " Aoyama datang sendirian.


"Nana telah mengobatinya. Aku tidak melihat siapapun lagi disana, mungkin dia langsung kabur. "


"Begitu ya. "


"Dimana Kento senpai dan Nishi? "


"Aku menyuruh mereka untuk terus mengawasi sekitar. "


Nana yang sedang merapikan kotak P3K tersadar dengan terbangunnya Tawamori.


"Lu, Senpai, dia telah sadar! " Panggil Nana.


Lucas dan Aoyama mendatangi mereka. "Yo! " Lucas mengangkat satu telapak tangannya, memberi salam.


"Dimana ini? "


"Kau berada di ruang UKS, kami menemukanmu tidak sadarkan diri di ruang olahraga . " Sela Aoyama.

__ADS_1


"Aku? Tidak sadarkan diri? " Aoyama menganggukkan kepalanya. "Kau ingat sesuatu? "


Tawamori menoleh ke arah Lucas. "Kau murid baru, terimakasih telah menyelematkanku. "


"Ya, tidak masalah. Kau bisa ceritakan apa yang telah terjadi padamu?"


Disisi lain Kento dan Nishimiya telah bertemu di depan kelasnya Nishimiya. "Jadi ini kelasmu? "


"Senpai, kau disini rupanya. Ya, ini kelasku, untuk saat ini. " Mendengar itu Kento terkekeh. "Benar juga."


"Senpai, kau menemukan sesuatu? "


"Tidak. Bagaimana denganmu? "


"Aku juga. "


"Kyaa! " Tiba-tiba seorang wanita berteriak dari arah toilet wanita. "Umeko, ada apa? "


Umeko menunjuk ke arah kamar mandi di depannya. "Ada hantu! " Raika memberanikan dirinya masuk kesana, tetapi tidak ada apapun disana.


Dia kembali pada Umeko. "Tenanglah, tidak apa-apa. " Raika memeluk sahabatnya yang ketakutan itu. "Ayo, kita keluar."


BRAK!


Umeko dan Raika terkejut karena cermin di toet itu pecah dengan sendirinya, membuat mereka takut. "Aku sudah bilangkan, hantu telah datang!" Teriak Umeko histeris, membuat Raika tidak dapat berkata-kata.


Kento dan Nishimiya yang mendengar itu, berlari ke arah mereka. "Ada apa? " Raika dan Umeko terkejut akan kehadiran mereka berdua.


"Senpai. " Nishimiya menepuk pundak Kento. Mereka menoleh ke arah cermin yang telah pecah sepenuhnya dan dibalik itu ada tulisan ancaman.


Jika kau tidak berhenti, aku akan membunuhmu. Kento dan Nishimiya curiga ancaman itu ditujukan pada gadis-gadis itu.


"Maafkan aku! " Tawamori membungkukkan badannya. "Jangan minta maaf pada kami, minta maaflah pada orang-orang yang telah kalian peras!" Nana memukul punggung Tawamori.


"Nami, apa kau lupa kalau dia sedang terluka? "


"Lalu dimana teman geng mu yang lain? " Aoyama menyakui tangan kirinya.


"Mereka telah beberapa hari tidak bersekolah karena diskor setelah ketahuan oleh pihak sekolah, dan aku mengancan mereka agar tidak menyebutkan namaku. "


Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka. Kento dan Nishimiya membawa Raika yang terluka terkena pecahan cermin. "Tolong obati Raika, gara-gara aku dia... "


"Tenanglah, jangan khawatir. Aku baik-baik saja. "


"Tapi..."


"Kemarilah, aku akan mengobati lukamu! " Suruh Nana.


Nana telah membalut luka di kaki Raika dengan perban setelah memberinya obat merah. "Sudah. "


"Terimakasih. "


"Apa kalian bisa menceritakan hal sebelum itu terjadi, sejujurnya pada kami? " Kento memasang wajah dingin pada kedua gadis itu.


"Baiklah kami akan menceritakannya. "


Umeko dan Raika mengakui perbuatan mereka, bahwa mereka adalah salah satu dari kelompok perundung sekolah yang telah lama diketahui pihak sekolah. Namun karena otoritas mereka , hanya mereka yang tidak ketahuan dan tidam mendapat hukuman.


"Sekarang aku mengerti, semua korbannya adalah murid-murid yang selalu merundung ataupun memeras murid lain. " Celetus Aoyama.


"Kami menyesal. " Kata Raika. Umeko merengek karena masih sangat takut. "Aku tidak mau dibunuh, tolonglah kami! "


"Jadi kalian menyesal? " Seseorang datang menyela percakapan mereka. Aoyama dan yang lainnya terkesiap. Sejak kapan dia...


"Kau? " Nana mengenali wajah itu, itu adalah Suzuki temam sekelasnya. "Suzuki Hanajima. "


"Halo, Nona Nana. "


"Kenapa kau menguping kami? "


"Aku sudah lebih dulu disini ketimbang kalian, aku piket menjaga UKS hari ini hingga jam delapan malam. Ah, sepuluh menit lagi. " Suzuki melirik arlojinya.


"Lalu, kenapa kau tidak membantu? "


Suzuki menyakui kedua tangannya, dan memberikan tatapan dingin. "Karena aku yang melakukannya. "


Dengan cepat Aoyama menangkapnya dari belakang. "Senpai!" Semua tertegun.


"Jadi kau pengguna astrakinesis itu? Aku telah menangkapmu !" Suzuki tersenyum kecil.

__ADS_1


__ADS_2