
Tiga hari setelah kembalinya Nana ke sekolah. Mereka belajar seperti biasa, dan aula sekolah juga sudah diperbaiki hingga 70%.
"Sudah lama sekali, tidak belajar. Kepalaku rasanya remuk. " Sahut Nishimiya.
"Itu karena kau terlalu pintar." Sindir Asumuri.
"Ya, dia memang bodoh. " Sambung Ichi.
"Dibilang bodoh sama orang bodoh, tuh. " Lamia menutup bukunya.
Nana telah kembali dari ruang guru setelah membantu membawakan buku mereka yang dikumpulkan.
"Sudah selesai mengantar kappa?" Nana membuang nafas. "Tidak ada sopannya. " Gumamnya.
***
"Kami belum menemukannya. " Pria itu menarik kerah baju bawahannya. "Kau harus temukan mereka, mengerti! "
"B-baik. "
Beberapa dari mereka yang tidak berpengaruh walau kemampuan psikis mereka telah direnggut. Mereka kembali dengan tugasnya masing-masing karena mereka tahu kalau Nabari yang telah pergi tidak akan mungkin kembali dalam waktu dekat.
"Senpai. "
"Kouta. "
"Yaahh, kau tidak ajak aku untuk melamun juga? " Kento menggosok-gosok matanya karena tertidur di jam pelajaran Ikuta yang membuatnya dihukum dengan diberi tugas yang menumpuk dalam yamg harus selesai dalam satu malam.
"Padahal aku bukan penyihir. " Gumam Kento.
"Kau dihukum lagi? Oleh siapa sekarang?" Kento melompat, lalu merangkul Yui.
"Kau juga melamun terus. "
Mereka ini. Kouta mengeluh dalam hati. Tiba-tiba, dia memikirkan Nana dan ingin bertemu dengannya. Wajah memerah membuat kedua seniornya penasaran.
"Kenapa dia? " Bisik Kento. Yui menggeleng. "Se-se-senpai, kalian terlalu dekat. "
Kento dan Yui menjauhkan wajah mereka, lalu memandang langit dengan gaya yang sama sambil menyakui satu tangan mereka yang saling berhadapan. "Terlihat damai ya. " Sahut Kento.
"Untuk sekarang. "
"Kenapa para senpai sangat berfikiran negatif? " Gumam Kouta yang berada dibelakang mereka.
Di ruang OSIS, semua kembali seperti semula karena Nana telah kembali. "Syukurlah, kau baik-baik saja. Kita harus kembali menjadi normal. " Hana meletakkan buku catatannya diatas meja.
"Lagian kau sakit apa sampai lama tak datang ke sekolah? " Tanya Sana. Jadi benar-benar dirahasiakan ya? Teman-teman sekelas juga, kecuali...
"Nana? " Sana membangunkan lamunannya. "Ahh, katanya aku terkena anemia. "
"Kalau begitu kau harus banyak asupan gizi,ini...ini... dan ini... ini juga... " Sana mengeluarkan banyak cemilan dari tasnya.
"Senpai, apa tas mu isinya makanan semua? " Sindir Kiyoshi.
Sana menggembungkan sebelah pipinya. "Aku itu tidak rakus! " Tidak rakus ya. Dalam batin semua orang, karena makanan yang menggunung itu membuat tas Sana melempem.
__ADS_1
***
Izanami sangat pusing setelah ia kembali ke kediaman klan. Para orang tua itu terus meributkan perihal penerus, mereka saling bersaing untuk merebut tahta.
Aku ingin sekali dia ceoat mengambil milik mereka! Nana menghela nafas pendek. Untung mereka tidak tahu.
"Nyonya, bagaimana menurutmu? " Izanami tahubmereka juga ingin menyingkirkannya. Sebenarnya, mereka itu senang ataa kematian Orcha tetapi juga merasa rugi tentang banyaknya kerusakan. Apalagi uang yang dimiliki Orcha juga adalah saham mereka.
"Karena aku satu-satunya putri ayahku, jadi bukankah aku yang harus... "
"Maaf menyela nyonya muda, tapi orang yag lebih tua harus didahulukan itulah semboyan klan kita." Sudah kuduga.
"Lalu, siapa diantara kalian yang mau? " Semua mengacungkan tangan, mereka saling bertatap sinis dan tajam. Ini tidak akan mudah.
Malam pun datang, Izanami yang baru saja selesai berendam air hangat dan batu saja akan menjatuhkan tubuhnya ke kasur mendengar suara meluruh seperti guntur dan melihat kilatan cahaya dari luar.
"Sudah dimulai ya. "
Setelah kejadian itu sepertinya klan menjadi sedikit hancur. Setelah mereka kehilangan kekuatan mereka, para ibu hamil yang kehilangan anak esper dalam kandungan mereka. Semua menjadi depresi akan itu.
Dengan itu, mereka pun meminta tolong oada Izanami. Datanglah hari itu, dimana diadakannya sebuah pertemuan besar yang tidak hanya dihadiri oleh para anggota klan Hitsuziaki tetapi juga orang-orang penting yang berhubungan dengan klan mereka.
Araumi, Sakuchi, Fubuki, Kaoh, Lichita, Arykin dan yang lainnya pun datang. Salah satu tetua bilang. "Bagaimana menurut kalian dengan ceritaku tadi?"
"Sebagai orang yang bukan esper, aku turut berduka cita. Tapi, keturunan langsung beliau kan masih ada. " Sahut Fubuki.
"Itu benar. " Sambung Araumi. "Aku sih tidak peduli yang mana, yang penting sahamku tetap maju. " Sela Sakuchi.
"Bila aku boleh menyarankan... " Kaoh mengangkat tangan kanannya. "Kenapa tidak nyonya Izanami saja yang jadi ketua? Karena kalau aku... Ya, aku tidak suka dengan hal merepotkan."
Lichita dan Araumi menghela nafas pendek. Izanami melipat kedua tangannya. "Aku juga merepotkan. "
"Jika wakil perdana menteri mengatakannya, aku tidak bisa menolak. " Fubuki tersenyum puas. "Baguslah. "
"Berarti sudah selesaikan? " Sakuchi menyenderkan punggungnya ke dada kursi.
"Kalau begitu, siapa yang menyutujuinya silahkan angkat tangan kalian! " Suruh Fubuki.
Mayoritas adalah orang-orang yang setuju.
Dengan ini, Izanami menjadi ketua klan selanjutnya.
***
Aoi sedang serius bermain catur dengan Mile. "Kenapa aku tidak diundang, sedihnya.. "
"Itu berarti kau tidak dianggap. Skakmat. "
Aoi menarik rambutnya. "Aku kalah lagi?!" Mile menertawainya. "Kau menakutkan, Isane. "
Mile berdiri. "Sudah dulu, aku harus kembali ke UKS. "
"Isane, kembali ke UKS atau kembali padanya? "
Mile menataonya sinis. "Pada siapa yang kau maksud? "
__ADS_1
"Padaku. Hahahahah...Arkgh! " Wajah Aoi mendapatkan tanda tangan dari tinju Mile dan hidungnya berdarah.
"Kenapa kau memukul pasien? "
"Humph. "
"Hei, obati lukaku dulu!" Mile tak memperdulikannya dan pergi.
"Disana ada kotak p3k! "
"Apa? "
***
Para Osis kembali berkumpul hari ini untuk merundingkan tentang perpisahan kelas tiga yang sebentar lagi akan ujian.
"Bukankah seharusnya Sana senpai dan Hana senpai diusir dari rapat ini? " Kiyoshi menempelkan dagunya di kedua tangannya.
"Benar juga. " Sahut Inomiya.
"Kalian ini... Aku kan ketuanya! " Seru sana.
"Berisik. "
"Hana, kenapa kau juga ikutan?! Sebenarnya kau dipihak siapa? "
"Sudah, sudah...Bukankah akan lebih baik jika mereka ada agar kita bisa meminta pendapat? " Nana menengahi.
"Dengarkan itu. " Sana memasang tampang angkuh.
"Tapi, kalian harus merahasiakannya. " Tubuh Sana bergidik merinding mendengar suara Nana, bulu kuduknya merinding.
"Tenanglaj aku akan merahasiakannya, tapi... " Hana menoleh ke sebelahnya.
"Ke-kenapa melihatku seperti itu? Kalian fikir aku tidak dapat menyimpan rahasia? " Semua mengangguk iya.
Sana pun mulai merengek. "Kalian jahat sekali!"
***
"Jadi begitu ya, para senpai akan segera lulus ya. Waktu berjalan begitu cepat ya. "
"Itu sih karena kau tidak mengikuti pelajaran. " Sindir Kanazawa.
"Mau gimana lagi aku kan murid spesial kehehehe... " Nabari menggaruk kepalanya.
"Apanya yang murid spesial?"
"Kau iri, Yuri... ko? "
"Tidak. "
"Kau iri! " Nabari tertawa renyah. "Kubilang tidak!"
***
__ADS_1
Pria itu masuk kedalam ruangan yang gelap dan bertemu seorang wanita. "Akhirnya, aku menemukanmu. "
"Tuan, selamat datang kembali. "