Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
26. Pembalasan Budi


__ADS_3

Sudah satu minggu sejak dikeluarkannya Suzuki dari sekolah. Karai merasa masih tidak bersemangat, dia mengingat kenangan-kenangan bersama kawan sebayanya itu.


Setelah Karai babak belur saat berusaha menyelamatkan Suzuki yang dirundung, mereka selalu menjahili orang ataupun memberi semangat dan merangkul orang-orang yang dirundung dan membuat suasana menjadi damai.


Karai masih tidak percaya dibalik wajah polos dan senyuman tulus itu Suzuki melakukan hal yang tidak pernah dia duga. "Sial! " Karai memukul tembok yang berada disampingnya. "Seharusnya aku lebih memperhatikan dia. "


Kouta mengacak-ngacak rambut Karai yang hampir menangis, untuk membuatnya tidak menangis. "Wajahmu jelek sekali. " Kouta terkekeh, namun Karai tidak meresponnya.


"Mungkin dia memiliki masalahnya sendiri. "


"Dia bahkan tidak pulang ke rumahnya orang tuanya sangat mengkhawatirkannya. Teleponnya juga tidak aktif. Sialan, sebenarnya kau kemana? "


"Mau aku bantu cari? "


"Benarkah? " Karai menatap Kouta yang serius. "Terimakasih. " Dia menurunkan wajahnya.


Kouta merangkul kawan pemurungnya itu dan menggoyang-goyangkan tubuhnya Karai. "Jangan lemas begitu, ayo bangun! "


Di laboratorium misterius itu Tsubomi sedang sibuk membuat sebuah formula, dia juga memperhatikan sekitarnya. Banyak penjaga disana. Ternyata benar. Dalam batinnya.


Di ruangan itu Nabari terduduk diam menyenderkan tubuhnya ke dinding yang ada di belakangnya. Sudah beberapa hari tangannya pun di borgol oleh borgol khusus Esper.


Nabari benar-benar disekap, dia sangat kesal dengan ini. Dia terus membayangkan ramen yang enak, Takoyaki dan makanan yang lain yang dia sukai. "Jadi lapar. " Nabari merengek sendiri.


***


"Jadi kau Kiriyama Suzuki? "


"Benar. "


"Uhmm, kau bukan Esper kenapa kau mau masuk kesini? Kau harus memberi kami penjelasan yang bagus. " Kaoh menatapnya tajam.


Suzuki masih berekspresi dingin. "Saya sudah mengaku bahwa saya Esper, mungkin kekuatan saya terlalu lemah sehingga kalian tidak dapat melihatnya. " Dia melirik ke belakangnya, disana ada Kurosoba yang sedang berdiri mengawasinya.


"Begitukah? Wah, sepertinya kami sudah tua ya hahahaha!"


"Jadi, aku akan masuk kelas mana? "


"Biar aku lihat, umm aku fikir kau harus masuk ke kelas 2-2. Kurosoba bisa antarkan dia? Soalnya Akabayashi Sensei sedang keluar."


"Baiklah! "


Kaoh menyemderkan punggungnya ke muka kursi, setelah Kurosoba membawa Suzuki keluar. Sekali lagi, dia melihat kertas berisikan identitas Suzuki.


Arylin datang seperti angin, dan seperti biasa dia masuk lewat jendela. "Kenapa kau memasang wajah jelek seperti itu, Kakak? "


"Sudah kubi... "


"Aku salah, lau memang sudah jelek. " Kepercayaan diri Kaoh langsung menghilang.


"Jahat sekali, jahat! Padahal aku ini kakakmu! "


BRUG!


Kaoh terlempar ke belakang bersama kursi yang dia duduki. Arylin meninjunya dengan kecepatan angin.


"Aduh! " Kaoh berusaha mengkokohkan tubuhnya. "Bokongku! "


"Aku belum menemukan jejaknya."


"Begitu ya. "


"Bukan begitu, begitu! Dia benar-benar menghilang tahu! Ini tidak seperti dia. "


Kaoh mengelus punggung dan bokongnya yang sakit akibat terlempar. "Aku akan mengumpulkan mereka secepatnya setelah masalah ini selesai. Aw, aw, aw! "


"Hah. Sini aku kompres."


"Tolong ya... Atatatah, pelan-pelan dong! "


Di kelas barunya Suzuki duduk menyendiri di belakanng. Beberapa murid kelas itu meliriknya terus menerus. Bahkan dia tidak mau diajak bicara.


***


Pelajaran kelas itu telah selesai dan hari sudah senja, waktunya mereka pulang. Nana merapikan buku-bukunya memasukan mereka kedalam tasnya.

__ADS_1


"Nanachan." Kouta menempelkan dagunya dimeja Nana. "Apa? "


"Bisa tolong aku? Aku membutuhkan bantuanmu."


"Bantuanku? "


"Karai itu, dia masih saja murung karena Suzuki. Katanya dia kabur dari rumah! " Bisik Kouta.


"Bisa tolong aku mencari keberadaannya? Tolong! "


Tentu Nana tahu keberadaan Suzuki dan dia juga tidak mau terlalu dekat dengan lrang-orang disini. Dia fikir dia bukanlah Nabari yang sinting itu.


"Maaf aku tidak bisa. "


"Ya, kenapa? "


"Aku harus mencuci malam ini. " Nana berdalih.


"Bawa saja ke Laundry, aku yang bayar! Tolonglah, aku mohon! " Melihat tatapan itu Nana langsung terenyuh. Dia jadi tidak dapat menolaknya lagi. "Baiklah. "


Kouta memegang tangan Nana. "Terimakasih, kau memang gadis cantik yang baik hati. "


"Bisa mau lepaskan aku? "


"Ah, maaf. "


Di kelas Lucas, Aoi dan Daiji mengajak bermain kartu. "Apa Yuzu masih sakit? " Tanya Aoi.


"Ya. "


"Menutup." Daiji menutup kartunya. "Empat satu lagi? Argh, kau memang hebat! " Aoi mengeluh.


"Aku lapar! " Lucas menurunkan tubuhnya ke meja.


"Bukankah kau baru saja menghabiskan dua mangkuk ramen, satu bento dan beberapa cemilan juga roti isi? Perutmu terbuat dari apa?" Daiji yang terkesima.


"Apa kau Luffy?"


"Luffy? Dia perempuan tahu! "


"Aku tidak tahu siapa yang kau maksud, tapi bukan itu yang ku maksud. Kau tidak tahu cerita one piece? "


"Ehh. "


Nishimiya menghampiri Aoyama yang berdiri tegap diujung atap gedung itu. "Senpai. "


Aoyama yang sedang membaca bukunya melirik ke arah Nishimiya yang baru datang. "Aku tidak menemukan apapun."


"Bagaimana dengan Lu dan Nana?"


"Lu masih ada kegiatan kelas dan soal Nana, aku melihatnya keluar bersama seorang pria. Sepertinya dia teman sekelasnya. "


Aoyama menutup bukunya. "Pergi berdua?"


"Pasti Senpai cembu... Rg! " Aoyama memukul mulut Nishimiya dengan bukunya. "Ikuti mereka. "


"Ba-baik."


***


"Kita akan mencarinya kemana? Kenapa tidak mengajak Karai juga? "


"Sebenarnya ini rencananya, tapi entah mengapa tadi dia bilang tidak enak badan dan pulang. Hah, dia itu! Maaf jadi merepotkanmu ya, Nanachan."


"Aku hanya membantu sekali ini saja."


"Baiklah kita kesana. " Kouta menunjuk ke sebuah jalan kecil yang berada di samping luar gedung sekolah Arisagawa.


Saat baru setengah jalan, Kouta merasa sedilit gugup karena dia hanya berdua dengan Nana saja.


"Oya, Nanachan. " Kouta menghentikan langkahnya. Dia membalikan tubuhnya menghadap ke wajah Nana.


"Hm? "


Tiba-tiba saja Kouta mendorong Nana ke dinding jalan. Wajahnya tertunduk dan matanya terpejam. Nana menyadari sesuatu saat itu. Kouta sontak membuka lagi matanta dan menatap Nana.

__ADS_1


"Kau? " Mereka secara bersamaan.


"Sudah aku duga kaulah pelakunya." Kouta tersenyum kecil sambil menundukan wajahnya. Dia melepaskan gengamannya pada Nana.


Secara tiba-tiba Kouta pun tertawa renyah dengan puasnya. Dia menutupi sebelah wajahnya. "Tidak kusangka. " Dia mundur beberapa langkah.


"Kenapa kau melakukan itu? "


"Kau bertanya kenapa? Sudah jelaskan untuk. memberi mereka pelajaran bahwa apa yang mereka lakukan itu salah, mereka mencuri, memeras dan merundung orang lain ini adalah tugasku sebegai seorang pahlawan... "


Kouta berhenti berceloteh saat melihat ekspresi Nana. "Tolong jangan memberiku ekspresi seperti itu. "


"Kau seharusnya tahu juga kalau perbuatanmu pun tidak ada benarnya. "


"Berhenti! Berhentilah bersikap seakan kau mengasihaniku!"


Nana berjalan maju dan membuat Kouta semakin melangkah mundur. "Jangan mendekat, jangan mendekat!"


Nana berlari dan melompat ke arah Kouta dan memeluknya. Kouta terkesiap dengan itu. "Lepaskan aku, Nanachan! "


"Tidak akan! "


Nishimiya menganga melihat mereka yang sedamg berpelukan . "Maafkan aku!"


"Bukan itu maksudku! " Nana melempar bola api ke Nishimiya. Dia berhasil menghindar. "Hampir saja. " Wajahnya telah berkeringat.


"Hei Nishi, cepat tangkap dia! " Kouta berusaha membuka cengkeraman Nana, namun sulit dilakukan. Kuat sekali!


"Tangkap?"


"Dia pelakunya! Pelakunya! "


"Pelakunya! " Nishimiya merubah tubuhnya jadi besi, dia pun ikut memeluk Kouta dari belakang.


"Kenapa kau juga memelukku? Lepaskan aku!"


"Kenapa aku juga dipeluk ,bodoh!"


Kaoh tertawa renyah mendengar itu, Aoyama menghela nafasnya dan Kento yang menggaruk kepalanya. "Kalian memang jenius! " Jenius apanya? Gerutu Nana dalam hati.


"Ahahha, bukan apa-apa! "


"Nah, Nak Baira kau sudah menyelesaikan kewajibanmu kan? "


"Saya sudah melakukannya. "


"Baiklah, kalau begitu. Aku ucapkan selamat datang di Sekolah kami."


Angin berhembus seperti biasanya, bunga-bunga mulai bermekaran. Musim semi telah tiba.


"Suzuki. " Karai yang telah menunggu kedatangan temannya itu. "Karai, maafkan aku. "


"Tidak usah difikirkan!" Karai terkekeh menepuk punggung sahabatnya itu. "Aku telah mendengar semuanya dari Kouta. "


"Apa kau marah?"


"Tentu saja aku marah padanya, dia telah memanfaatkanmu! Meski itu kemauanmu, tetap sa... " Karai terkejut Suzuki memeluknya.


"Terimakasih, Karai. "


"Ahahahaha, kau terlalu erat memelukku Suzuki!"


Suzuki melepaskan pelukannya. "Tetapi kau jangan membencinya. "


"Tapi... Baiklah, aku tidak akan membencinya! Ya, kau memang pria baik Suzuki. "


"Kalau begitu, mari kita masuk!"


Lima bulan yang lalu. Saat itu, Suzuki yang hendak pulang dari sekolahnya ditodong oleh perampok jalanan. Namun, tiba-tiba sikap ketua perampok itu berubah jadi aneh.


Dia memukuli rekan-rekannya hingga tak sadarkan diri lalu menelpon polisi dan menyerahkan dirinya. Suzuki pun selamat.


Dia melihat pria yang tertidur itu langsung terbangun dengan lebam di tangannya percis seperti yang ada di tangan ketua perampok itu.


Betapa terkejutnya dia, saat melihat lebam. itu menghilang dan berpindah ke tangan Kouta yang sedang mendatanginya. "Namamu Kiriyama Suzuki kan? Aku Baira Kouta, maukah kau jadi rekanku? "

__ADS_1


"Apa kau yang melakukannya?"


"Ya. "


__ADS_2