
"Tuan, kita harus memilih sekarang juga. " Orcha nampak sangat kalut dan bingung. Sakari menarik lengan bajunya.
"Suamiku, tolong selamatkan...An.. nak kita. Aku mohon!"
Lahirlah seorang bayi laki-laki yang bertubuh kecil dengan detak jantung yang lamban. Dia tumbuh dengan lemah, bicara dan berjalan lamban.
Semua orang menganggapnya sebagai anak keterbelakangan, tapi dia sangat cerdas dan jenius tanpa orang ketahui.
Dia menjadi dijauhi tanpa perhatian dari oara orang tua, kecuali kedua kakak perempuannya. Tamao dan Izanami, mereka adalah sepasang kembar yang tidak seiras.
Sang kakak Tamao terlahir lebih cantik dari adiknya, sangat cantik dan kulit putih seperti porselen. Membuatnya tidak dibebaskan dan hanya boleh berdiam disekitar kediaman keluarga besar.
Diam-diam dia selalu keluar untuk menemui adik laki-lakinya ,mereka selalu berebut soal hak pengasuhan sang adik.
"Kau mau membawa bayiku kemana? "
"Dia bukan bayimu, adik. " Suara Tamao yang lembut.
"Berengsek, dia ba... " Tangisan bayi Aoi muncul. "Kau membuatnya menangis. Sayang, tenanglah... " Tamao mengimang-ngimang bayi Aoi.
"Tch. "
"Malam ini giliranku, kita sudah berjanji. Kau harus menepatinya. "
"Tach. " Izanami pergi dari ruangan itu, namun langkahnya terhenti dan dia kembali mundur.
"Ada apa? "
"Cepatlah pergi, ayah datang. "
"Eh? Kenapa aku harus pergi, hei! " Izanami mendorongnya ke pintu belakang untuk keluar bersama. Dia mengantar putri Tamao ke kamarnya.
"Tidurlah bersama bayiku malam ini, besok pagi-pagi sekali aku akan membawanya kembali. " Izanami pergi dengan wajah yang cemberut.
Tamao hanya tersenyum jahil dengan itu. Dia pun masuk bersama adik bayinya untuk beristirahat.
"Tuan, ini... " Orcha menengadahkan telaoak tangan kanannya, lalu dia mengelus janggutnya.
"Hmm, sekarang siapa? "
Mereka selalu bergantian hingga Aoi tumbuh besar. Aoi yang kurang diperhatikan apalagi semenjak Tamao sibuk belajar menjadi penerus dan Izanami yang masuk militer.
Dia memiliki banyak waktu liang sendiri. Dia selalu memata-matai orang-orang disekitarnya dengan menyembunyikan hawa keberadaannya.
Hingga suatu hari, dia tidak sengaja mendengar sepenggal pembicaraan dari orang-orang yang masuk kedalam sebuah tempat yang jauh berada dibawah kediaman mereka.
"Kita harus membunuhnya. " Aoi memundurkan langkahnya. "Siapa itu? " Gawat aku ketahuan! Aoi pergi dari sana, dia tak sadar jika dia telah menggunakan teleportasi.
Karena Aoi tidak bisa menggunakan kekuatan psikis sebelumnya, setelahnya pun dia tidak bisa memakainya didepan orang-orang sehingga sering dianggap membual.
Semenjak itu, dia selalu memata-matai mereka dari tahun ke tahun hingga akhirnya dia dapat memasuki tempat rahasia itu. Saat itu dia berusia tujuh belas tahun.
Pada awalnya dia nampak terkejut, namun berusaha tetap tenang dan berfikiran dingin. Apalagi dia baru saja patah hati saat itu, karena kekasih hatinya yang memilih pria lain. Ditambah pria itu adalah keluarganya sendiri.
Merasa dikhianati, dia pun diam diam menyelidiki seisi keluarganya. Dia semakin jauh dengan para kakaknya.
Setelah sepeninggal Tamao dan Tsubomi dia masih mengawasi keluarganya termasuk ayahnya. Suatu hari, saat Aoi tengah berada disekitar tempat rahasia itu dia mendengar suara jeritan lalu padam begitu saja.
__ADS_1
Dengan terburu-buru dia masuk tanpa berfikir untuk memeriksa, saat Aoi masuk dia dikejutkan dengan kematian seorang oenjaga kuil yang bekerja sebagai tangan kanan ayahnya.
Dia berencana untuk mencari bantuan sembari mencari pembunuhnya, namun karena darah itu telah menodai tangan l
polosnya, dia pun dijadikan dalang dan dikejar.
Saat dia ingin menjelaskan tidak ada yang mendengarkannya. Dia pun lari dan menghilang selama sepuluh tahun dan kembali bersama organisasi ******* Kadal hitam.
Saat kejadian sepuluh tahun lalu itu, Izanami tidak mempercayai cerita itu. Dia mencari jejak adiknya itu, tetapi tidak menemukannya dimanapun hingga sepuluh tahun berlalu mereka menjadi musuh.
***
"Bukankah kau yang membunuh... " Izanami datang secara tiba-tiba dan berteriak. "Ayah! Aoi! "
"Bisakah kau tidak berteriak? Aku baru saja mau... "
Tiba-tiba Izanami menodongkan senjatanya kepada Orcha. "Nechan? " Aoi terkesiap.
"Ayah, apa yang sebenarnya kau rencanakan? "
Tiba-tiba seseorang yang dapat menjatuhkan mereka datang dengan tidak disangka. Izanami tanpa sadar telah membuang senjatanya yang terjatuh sendiri dari tangannya, dan Orcha yang mematung seperti patung es.
"Berhenti! " Teriak orang itu. Terlihat Tora bersamanya, berjalan sambil menyakui kedua tangannya.
"Yo. " Dia menyapa Aoi yang berbaring lemah dengan kedua borgol ditangannya.
"Jangan bilang... "
"Hm, aku merindukanmu. "
"Sialan."
Aoi mengangkat kedua bahunya. "Kenapa tidak tanyakan pada mereka saja? "
Mata Izanami tak bisa tertutup, tubuhnya gemetar dan tanpa dia sadari terus berjalan maju hingga mengabaikan Tora.
Izanami menarik wanita itu, meraba seluruh tubuhnya lalu memegang kedua wajahnya. "Kau asli? "
Tamao memasang ekspresi sebal, memiringkan ujung bibit kirinya dan mengangkat alis sebelah kanannya.
"Kau gila? "
PLAK!
Dengan kepala panas Izanami menampar wanita yang ada didepannya, itu membuat Tamao tambah kesal.
"Kau sudah gila? "
"Kau yang gila! "
Para pria hanya dapat menonton mereka yang sedang bertengkar dengan ribut. Disisi lain, Mile, Kyile dan Kurosoba mencoba memperbaiki pc dan monitor diruang kendali yang tiba-tiba tak bekerja.
"Bagaimana? "Tanya Kyile. Kurosoba menggeleng tanda dia tak berhasil memperbaiki itu.
"Sepertinya kita harus kesana, ayo Mile! Kuro, kau jaga disini! "
"Kenapa jadi aku, fyuh. " Kurosoba memggaruki kepalanya.
__ADS_1
Di ruang bawah tanah mereka masih saling ribut hingga lelah sendiri, dan tiba-tiba tertawa bersama.
Kenapa dengan mereka? Dalam hati para pria kecuali kakek tua yang tiba-tiba mendeham, memeberhentikan mereka.
Orcha mendatangi kedua wanita itu, lalu memandangi terus Tamao. "Lihat apa, pak tua? " Orcha tertegun dengan perkataan dari mulut Tamao.
"Kau benar-benar berubah setelah mati, kelembutanmu bagai debu yang terbang. Wah! " Sindir Izanami.
"Kau sudah jadi wanita tua. "
"Apa? "
Mereka ribut kembali. Disisi kain, Orcha masih terdiam karena perkataan putrinya uang terkenal lembut itu.
"Huh! " Aoi dan Tora membuang nafas.
"Kenapa kalian begitu terkejut, bukankah ini kemauanmu ayah? " Izanami kangsung menoleh. "Jadi, ini rencanamu? "
"Kau tidak tahu? "
"Tidak!"
"Ayah? "
Orcha tetap bungkam. Tora menepuk kedua tangannya bersama Aoi. "Waktunya pamit. " Para badut berdatangan, sangat banyak hingga mendesak Izanami dan Orcha.
Tamao memegangi tali yang mengulirnya ke atas. "Kita bertemu lagi saudariku...Dan Ketua klan. " Mereka berhasil membawa Aoi kabur.
Setelah dua puluh menit kepergian mereka, para badut itu pun menghilang. "Ayah, kenapa tidak kau henti... " Orcha menengadahkan telapak tangannya.
"Ayah? " Dia pun pergi diikuti Izanami. Mereka bertemu dengan Mile dam Kyile yang berlari dilorong.
"Tuan, Nyonya muda? "
"Kalian datang. "
"Ada apa? "
"kalian terlambat! Aoi kabur! "
"Kabur? "
"Cepat buat pengejaran untuknya! "
Kedua wanita itu pun menuruti perintahnya Izanami dan pergi meninggalkan mereka. Kaoh setengah menoleh ke wajah Izanami.
"Kenapa kau emosi sekali? "
"Aku? Ayah, apa yang kau katakan ? Kenapa kalian selalu menganggapku tidak ada! " Izanami membuka sepatu hak tingginya, lalu pergi dengan amarahnya.
"Putriku memang keras kepala. "Orcha terkekeh sendiri sembari mengelus janggut putihnya.
***
"Izanami. "
"Uhm. "
__ADS_1
"Rahasiakan ini kepada yang lainnya. "