Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
51. Dimulai


__ADS_3

"Ya ampun, ini merepotkan. " keluh seorang polisi bawahan Shiroi.


"Igarashi, bagaimana? "


"Kapten Fubuki. " Igarashi memberi hormat. "selesai dilaksanakan!"


"Tapi aku tidak yakin, kalau masalah ini telah selesai. "


Telah satu bulan setelah maraknya kasus para esper liar yang membuat kericuhan di pemerintah dan juga warga sipil.


Kaoh begitu kalut dengan keadaan saat ini. "Aku memberimu perintah untuk membiarkan kami menangkap mereka, dan sekolahmu akan kami awasi!"


"Ya ampun! " Kaoh menstempelkan eajah ke meja kerjanya.


Disisi lain, para murid masih melakukan misi diluar sekolah dibawah pengawasan intelijen. Bahkan Orcha dan keluarga hitsuziaki yang lain pun diawasi. Meski mereka telah membuat janji dan kesepakatan dengan Perdana menteri, tetapi karena bagian pemerintah yang lain telah mengetahuinya, ini menjadi rumit.


Mereka bekerja keras untuk ini. Ini membuat Sana yang semakin tertekan hingga berat badannya naik.


"Hana, kenapa kau membawa itu kesi... ni? "


"Inikan hari pemeriksaan kesehatan untuk para siswa, kita ditugaskan untuk itu. "


"Tapi mereka semua tidak ada! " Teriak Sana yang ketakutan melihat timbangan badan.


"Mereka akan segera datang. "


"Apa? Kapan? "


"Satu bulan lagi. " Hana menghindari serangan dari Sana dan keluar dari ruangan itu.


Satu bulan pun berjalan. Mereka telah menangkap semua esper liar, pemerintah lah yang menangani kasus ini. Mereka akan mengirim anak-anak ke sekolah Kaoh dengan pengawasan yang ketat.


Setelah semua selesai melakukan pemeriksaan kesehatan rutinan sekolah, mereka masuk ke kelasnya masing-masing.


Terdengar suara ketukan lantai. Kuchisawa datang digandeng Nana dengan tongkatnya.


"Mae, kau sudah diperbolehkan masuk? " Tanya Ichi.


"Ya. "


"Syukurlah. "


"Uhm, maaf selalu merepotkan. "


Nishimiya merangkul kawannya itu. "Seharusnya kau bilang begitu pada Nana-chan. " Bisik Nishimiya.


"Nana-san, kau sudah baikan? " Tanya Shen. Nana mengangguk. "Ya. "


"Ngomong-ngomong, aku belum melihat Nabari belakangan ini. " Celetus Morita yang memepercanggung keadaan. Ah, apa yang telah kukatakan?!


"Aku sudah tidak tahu jalan fikirannya! " Kesal Nana. "Aku mau ke toilet dulu, jika sensei datang tolong beritahu ya. " Lamia dan yang lainnya mengangguk.


"Sebenarnya... Dia menghilang dan belum kembali. Itu yang aku dengar. " Bisik Nishimiya.


"Dengar apa? "


"Aaaa! " Teriak mereka yang terkesiap dengan kedatangan Kurosoba. "Se.. sensei? Ih!"


"Kenapa kau begitu takut padaku, Dunki Shen? "


"Anu... Itu... "

__ADS_1


Kurosoba menghela nafas. "Ayo kita mulai pelajaran! "


"Sensei, Ketua kelas sedang..."


"Aku tahu."


***


"Sudah satu bulan setelah itu ya, Nabari. "


Di sebuah villa Di Mauritania, wanita itu mengundang si bocah untuk datang menemuinya.


Nabari membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat. "Kenapa anda memanggil saya? "


"Sebelum itu... "


"Nabari. " Matanya terbelalak ketika mendengar suara yang datang dari belakangnya.


Nabari menoleh kebelakang. Disana tengah berdiri seorang pria tinggi berambut hitam. Pria itu menghampirinya dan berdiri didepan matanya. "Kau tumbuh besar. "


Nabari menurunkan kedua kelopak matanya. "Jangan menyindirku, aku tau aku kalau aku pen..." Nabari tertegun ketika Tora memeluknya.


"Apa reuni anak dan ayahnya sudah cukup? " Tora melepaskan pelukannya dari bocah yang berdiri tegap wajah dinginnya.


"Maaf, tapi ini bukan reuni. Aku suka bertemu dengannya untuk bertarung. "


"Kau memang anak yang keras kepala. Hah, kau sudah mengetahui kenapa aku mengundangmu kan? "


"Sebenarnya... " Beberapa jam sebelumnya, Aoi mengajak Nabari untuk naik pesawat.


"Aku bisa memakai kekuatanku. "


"Ayolah, ini pertama kalinya kan? Ini baik untuk pengalamanmu. Nanti juga kau senang. "


"Waah!" Nabari begitu terkesima dengan pemandangan langit dari jendela pesawat. Dia terus menempelkan wajahnya ke jendela. Apa dia tidak lelah? Aoi meminum minumannya.


"Sampai!" Akhirnya mereka sampai ditujuan. Namun, hal itu pun terjadi. Aoi meninggalkan Nabari, dan membuatnya diculik lalu dilempar didepan sebuah rumah dihadapan seorang wanita.


"Anak itu! " Gerutu Tamao. "Anak itu. " Disambung oleh Tora.


"Makanya aku ingin membunuh si bodoh itu. "


"Nabari." Nabari mengangkat wajahnya. "Apa kau tau apa yang dilakukan Aoi ketika dia menghilang? "


"Dia membeli dan membaca majalah wanita seksi. "


Ehh? Tamao dan Tora terkesiap mendengar jawaban itu. "Tentu saja bukan itu bodoh! "


Bibir bawah Nabari mulai berjalan kedepan, matanya berembun. "Hah. Dia... "


***


"Kalian belum menemukannya? "


"Belum, kakek. Tapi, aku akan terus mencarinya. "


"Bagaimana dengan Kaoh?" Orcha sedang menikmati teh buatannya.


"Kakak masih sibuk mengurusi itu. "


"Begitu. Kembalilah, Arylin. "

__ADS_1


"Baik, kakek. "


Setelah Arylin pergi, Orcha bangkit dari tempatnya dan pergi.


"Maka itu kami belum tahu kenapa aku dan ibumu terhubung, Aoi dia memiliki keterbatasan."


"Jadi, kalian ingin aku menyelidikinya?"


"Benar. "


"Aku menolak."


"Apa? "


"Itukan tugas kalian, aku itu hanya bocah biasa yang keras kepala. Lalu, apa yang kalian harapkan dariku? "


Tiba-tiba, Tamao mendapatkan pesan dari Aoi. Eksperinya berubah. "Aoi, dia dimana? " Tamao tiba-tiba mendesak Nabari.


"Ada apa dengannya? "


Tak fikir panjang Nabari pergi dari genggaman Tamao untuk mencari Aoi. Dia telah mengetahui keberadaan Aoi dan menuju tempatnya. Inikan?


Nabari bergerak cepat kesana. Betapa tercengangnya ia saat melihat apa yang ada didepannya. "Totsuki niichan?"


"Kau..." Langkah Nabari terbata-bata, ia berjalan menuju tubuh dingin yang tergeletak. Dia mengepal keras tangannya. Aoi memperhatikannya dari tempatnya. "Na... ba... "


Nabari tidak mendengar dan memeperdulikan perkataannya. Nabari menjatuhkan tubuhnya dan mulai hilang arah.


"Tidak! Tidak! Tidak! " Dia menangis seperti anak kecil. Totsuki tidak dapat menahannya.


DBUK!


Nabari tersungkur mundur ke belakang. "Kau fikir hanya kau yang bersedih?"


"Niichan. "


"Bagaimana denganku? Aku adalah saudaranya! Dia sudah mati...Kita harus membawa yang masih hidup! "


"Hi...dup? " Totsuki menyuruhnya untuk membuka mata. Nabari melihat Aoi yang terluka cukup parah. Darahnya terus mengalir dan membasahi baju hitamnya.


"Aoi. "


"Naba, ce... pat ba... wa pergi Tot... " Nabari merasakan hawa keberadaan yang mencekam. Dia memberi isyarat pada Totsuki untuk membawa Totsuka, dan ia pun membawa mereka pergi.


Karena Nabari tidak dapat berfikir, fia hanya terfikir dengan Kaoh yang membuat mereka muncul di kantor kepala sekolah. Namun, Kaoh tidak ada disana melainkan hanya ada Sana, Hana, dan anak Osis lainnya.


"Kalian... " Mereka sontak berdiri dan terkejut. Nana mendatangi Nabari dengan cepat dan menariknya. "Darimana saja ka... "


"Nanashan, jika kau ingin memarahiku nanti saja! cepat panggil kakak dan Mile Sensei sekarang! " Nana terbungkam.


"Dia... mati? " Inomiya memeriksa Totsuka, membuat yang lainnya terkejut. Kiyoshi dan Sana bergegas berlari keluar untuk memanggil yang lain.


"Totsuki. " Hana merangkul punggung Totsuki. "Apa yang sebenarnya terjadi? "


***


Langkah kaki itu masuk kedalam gua yang dalam. Han shuji terus mengawasi Sasaki yang akan terbangun. Setelah ia bangun, Sasaki langsung keluar dari tempatnya. Berjalan turun menghadap seseorang yang telah ia tunggu.


"Kau datang juga. Lihatlah semuanya sempurna aku telah menjadi abadi. Bwahahaha! " Sasaki tertawa puas.


"Sekarang kau akan menjadi bawahan... Ungkh!" Sasaki merasa tersedak, tubuhnya tidak dapat digerakkan. "Apa...apa-an...Ungkh! "

__ADS_1


Shuji bertepuk tangan bangga setelah melihat eksperimennya berhasil. Kini Sasaki telah tiada.


__ADS_2