Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
16. Dua Putri Yang Menyebalkan


__ADS_3

Ikuta, Morita dan Lamia telah tiba di bekas markas Hiu biru, namun belum menemukan Dunki Shen yang sedang di sekap.


"Tidak ada siapapun disini. " Morita sesekali melirik ke arah lorong-lorong kecil diantara ruangan-ruangan yang besar.


"Sensei, ayo kita kesana!" Ajak Lamia. "Kuzuki juga. " Mereka mengikuti Lamia dari belakang. Lamia merasa sangat tertuju pada sebuah ruangan jauh di dalam.


"Sebenarnya kau mau kemana sih? Kita sudah jauh berjalan." Morita berjalan bungkuk. "Kamu tidak pernah berolahraga, jadi lemah. " Sindir Lamia.


Lamia dan yang lainnya menghentikan langkah mereka. Mereka mendengar suara merintih seperti berasal dari tempat yang jauh. Ikuta membawa mereka kesana dengan teleportasi miliknya.


Di dalam ruangan itu terdapat pintu yang memojok berukuran kecil, Morita membuka pintu itu. "Tidak terkunci. " Mereka saling melirik, lalu masuk kesana.


Di dalamnya Dunki Shen sedang meronta-meronta agar terlepas dari ikatan di tubuhnya, mulutnya pun tertutup dengan rapat.


Ikuta bergegas melepaskan ikatan-ikatan itu dari tubuh gadis itu, dan melepaskan lerekat yang tertempel di mulutnya.


"Bwah, hah, hah, hah. " Nafas Dunki Shen begitu berkejaran dengan detak jantungnya. Ikuta menangkap Dunki Shen yang terjatuh lemas ke dalam pelukannya. Lamia dan Morita pun menghampiri mereka.


"Tuan putri Shen? " Tanya Lamia. Dunki Shen mengangguk sekali, nafasnya masih terengap-engap. "Ini minumlah. " Morita menyorongkan sebotol air mineral dan meminumkannya pada Dunki Shen.


"Terimakasih. "


"Tuan putri. "


"Panggil saja aku Dunki."


"Baiklah, Dunki kau mengenal siapa orang yang membawamu? " Dunki Shen menggeleng.


"Terakhir kali yang ku ingat aku di hutan dan tertidur. " Hutan? "Lalu setelah aku sadar, aku telah terikat seperti tadi. "


"Jadi kau baru bangun, maksudmu begitu? " Lamia menyela.


"Ya. Terimakasih, telah menyelamatkanku. "


"Sudah ku bilang kan, kalau rekan-rekanku akan datang. " Nabari datang dari balik kegelapan dengan senyum lebarnya.


"Kau?! " Nabari melambaikan tangannya ke Morita dan Lamia. "Kuzuchan! Layla!"


Mereka berlari ke arah Nabari. "Kalian sudah saling mengenal, rupanya. " Ikuta membopong Dunki Shen. "Tidak, aku membencinya!"


"Layla, kenapa begitu? "


"Kau hampir membunuhku saat itu. " Nabari membuang wajahnya. "Kudengar kau juga telah membunuh salah satu musuhkan? " Nabari makin membuang wajahnya.


"Ehhhh, benarkah itu? " Morita tergemap dengan fakta itu. "Nona muda. " Di dalam hati Dunki.


"Kau tidak tahu?" Lamia yang masih mendekatkan wajahnya ke wajah Nabari. "Tidak. Soalnya dia... Tidak dibilang menyelamatkan juga sih. Bagaimana ya bilangnya? " Morita menyigi kepala belakangnya.


"Hmm? "


"Kau yang membawaku waktu itukan? " Morita melirik sinis Nabari. "Jadi kau mengingatnya ya. Aku tersanjung. "


Lamia menarik kerah baju Nabari. "Kau menyelamatkan dia, tapi mau membunuhku? Aku ini seorang putri! "


"Kukira Layla adalah seorang peramal jalanan." Lamia melepaskan tarikannya. "Aku memang membencimu. " Dia melirik dingin Nabari.


Nabari hanya terkekeh konyol sembari memegang kepala bawahnya.


"Nona muda. "


"Yo, Ketua! " Ehh, Ketua?


"Jadi kau ketua Yakuze? " Tanya Dunki Shen. "Kau mengenalku?" Dunki Shen melenggut.


"Sepertinya orang itu mengatakan banyak hal padamu. " Nabari berjalan mendekati Dunki yang dibopong oleh Ikuta. Orang itu, Jangan-jangan ?! Nabari membalas tatapan Ikuta dan membenarkan prediksinya.


"Sebaiknya Kita keluar dulu dari sini." Ikuta mengangkat tubuh Dunki dan menggendongnya.


"Ayo, Kalian berdua! " Nabari menyogokkan kedua tangannya. Lamia dan Morita memegangi tangan kecil Nabari. Mereka pun keluar dari tempat itu dan kembali ke sekolah.


Kaoh yang sedang asik bersenandung bersama mesin pembuat kopinya. Tetapi jendela kantornya terbuka keras, dan angin yang berhembus sangat kencang menerbangkan topi fedoranya.


"Apa tidak bisa lewat pintu?! " Protes Lamia. Morita tampaknya merasa mual dan pusing.


"Aku lewat pintu. " Sela Ikuta yang masuk lewat pintu bersama Dunki Shen uang berada dalam gendonganya.


Kaoh terkesiap hingga kopinya tertumpah dari gelas. "Kakanda, kopimu!" Nabari berteriak menunjuk kopi yang telah meluap-luap dari wadahnya. "Waaa!"

__ADS_1


Orang-orang disekeliling merea terkesima melihat perilaku adik kakak itu. "Aku akan membantumu, Kakanda! " Nabari mengambil wadah lain yang berada disudut yang lain.


Kaoh menuangkan kopi yang meluap ke wadah itu. "Fyuh!" Nabari dan Kaoh menyeka keringat dikening mereka.


Kaoh duduk dikursi kerjanya, namun tercengung melihat kenyataannya. "Vas ku! "


"Ehhh?! "


Apa yang mereka lakukan?


Ikuta menurunkan Dunki ke sofa yang ada di depan mereka. Lalu dia mendatangi adik kaka yang sedang ribut itu. Menyapa mereka namun tidam dihiraukan, membuatnya gusar.


Ikuta mengambil vas itu dan membuangnya ke jendela. Kaoh tergemap dan berlari ke arah jendela melihat vas kesayangannya sedang melayang di udara.


"Adikku, terimakasih. " Air mata dan ingus Kaoh keluar seperti air terjun niagara. "Tapi, kau harus mencucinya.."


"Hmm, baik. " Nabari Mengembalikan vas itu ke meja Kaoh.


Kaoh membelahak duduk di sofa itu. "Putri Shen, syukurlah kau selamat. " Dia membungkukan setengah tubuhnya. "Bangunlah, tidak usah sungkan begitu. Dan seharusnya aku yang berterimakasih. Terimakasih! " Dunki membalasnya.


"Berterimakasihlah pada mereka."


"Terimakasih. "


"Anu, Putri Shen. Tentang keluargamu. "


"Aku tahu. " Hmm? "Ketua Yakuze dan Noba Nabari telah memberi tahuku, semuanya. " Dunki menundukan wajahnya. Dia tak bisa lagi menahan air matanya untuk waktu yang lebih lama.


"Kakanda, soal orang itu. " Kaoh menoleh dengan wajah dingin. "Jangan berhenti bergerak. " Nabari bergidik cuak melihat ekpresi sang kakak. Dia dengan cepat mengalihkan wajahnya dan terus bekerja membersihkan tumpahan kopi yang berserakan.


Melihat itu tangis Dunki reda dan dia terkekeh.


"Kalian sangat mirip, percis yang dikatakan guru. " Dunki menyeka air matanya.


"Putri." Ekpresi Kaoh berubah.


Dunki bersiap diri dengan pertanyaan yang akan keluar dari mulut Kaoh. "Dimana dia sekarang? "


****


Di kota Osaka yang indah, mereka berjalan-jalan santai menikmati perjalanan ini.


"Karagee, enak! " Lucas yang menikmati makananya.


"Jangan santai terus, Kalian berdua!" Kento mendatangi mereka. "Bagaimana jika Nana marah? "


"Tenanglah, dia tidak akan kembali cepat. " Jawab Lucas. "Jangan membaca masa delan untuk itu. Ya ampun! "


KRUIKG!


Perut Kento berbunyi sangat keras. Telinganya memerah. Lucas dan Nishimiya menyodorkan jajanan milik mereka yang masih bersisa.


"Sebaiknya kau mengisi perutmu juga, Senpai. " Mau tidak mau, Kento duduk dan menuruti mereka. Nana jangan cepat kembali, aku mohon!


Nana mengorek telinganya. "Siapa yang membicarakanku? " Gumamnya. "Nana, ayo kita pergi! " Suruh Aoyama.


****


Tiga hari kemudian.


Nabari datang untuk pertama kalinya lagi ke sekolah. Dia berjalan mengendap-ngendap melewati kantin, menonton ke sekitar.


"Naba! " Hm? Nabari membelokan pandanganya. Itu adalah Ichi dan Kuchisawa yang telah pulih.


"Ichi! Mae!" Dia berlari kecil ke arah mereka. "Selamat pagi! " Nabari begitu sumringah.


"Selamat pagi. "


"Kalian terlihat sehat-sehat saja, untunglah."


Nabari buncah melihat kedua pria didepanya itu membisu memandanginya. "Ada apa? "


Kuchisawa mendadak memegang kepala Nabari dengan tangan panjangnya. Kuchisawa sedikit menurunkan badannya, dan mendekatkan wajahnya ke Nabari dengan tatapan yang seram.


"Kemana saja kau? "


"Aku...Hmm? "

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara yang begitu ricuh dari arah Kantin. "Ku bilang ini tempat duduk ku!" Lamia tidak sudi tempatnya dijamah oleh iramg baru.


"Ini kan bukan punya nenek moyangmu. " Sindir Dunki.


"Ayo cepat pindah! " Lamia berusaha menarik Dunki. Morita kepeningan melihat tingkah dua tuan putri itu. Kenapa harus aku?


"Kau saja yang pergi, pucat! " Otak Lamia semakin mengepul. Dia menggertak. "Kulitku tidak pucat, ini namanya putih bersih tahu! Dan satu hal lagi, kau pantas nya disana saja! " Lamia menunjuk ke arah Kedai.


"Kau kira nama Shen cuma satu? Bahkan namamu ada ribuan."


"Jangan banyak bicara! " Morita yang berada ditengah mereka menutup telinganya. "Sudahlah jangan bertengkar, Hei!"


"Bwolyeh aku duduk?" Seorang bocah yang mulut dan tangannya dipenuhi makanan menghampiri mereka denga. santainya.


"Ah, ya. "


"Kenapa mereka? "


"Tidak tahu. Aku pusing!"


Nabari dan kedua temannya mencari asal kericuhan yang mereka dengar. Nabari mendatangi Morita yang berada diantara para putri yang terlihat tersudut.


"Kalian akur sekali. " Nabari membungkus kedua tangannya ke dalam kantung jaketnya.


"Berisik! " Ehh?


"Kau bodoh ya? Mereka itu bertengkar." Bocah itu menyela sembari menikmati makanannya yang segunung.


"Nabari, keluarkan aku dari sini!" Bisik Morita.


Nabari memindahkannya ke sebelah bocah temaha itu.


"Halo. " Sapa Bocah itu ke Morita.


"Ah, halo. "


"Totsukawa, ini enak ya? " Nabari yang melahap makanan milik bocah itu. "Iya. " Kuchisawa menepuk jidatnya. Dasar!


"Apa boleh buat. Sebaiknya kita juga ikut. " celetuk Ichi.


Totsukawa memanggut. "Apalagi Sushi ini, salmonya sangat besar! "


"Ya. "


Tiba-tiba, kursi yang diperebutkan para putri menjadi dua. Itu membuat mereka tercengung dan menghentikan keributan mereka.


"Uhmm, boleh juga kau Naba senpai. "


"Uhm, nasi goreng ini enak sekali! "


Lamia duduk di kursi baru itu, bersebalahan dengan Dunki. Mereka makan tanpa bersuara.


"Terimakasih, makanannya!


"Senpai , aku duluan. "


"Ya. "


Nabari meregangkan tubuhnya. "Ya, aku kenyang sekali! " Dia mengelus perut buncitnya.


Nabari mendadak menghentikan langkahnya.


"Hitsuziaki, Morita, Beirn, Shen. Pak kepala menyuruh kalian segera pergi ke tempat ini! " Hana menyorongkan sebuah note kecil pada Nabari . Inikan?


"Kalau begitu, kami akan ke kelas. "


"Ichi, Mae, sampai ketemu lagi! " Kuchisawa memberikan senyumannya, lalu memeluk wajah Nabari dan berbisik. "Jangan macam-macam. " Membuat Nabari bergidik.


"Baiklah, Hati-hati kalian semua! " Kuchisawa dan Ichi pergi ke kelas mereka.


"Kalau begitu, kita juga pergi. Ayo Nabari!" Ajak Lamia. Nabari pun menengadahkan kedua tangannya. Ketiga gadis itu memegang Nabari dan menghilang.


"Mereka sudah pergi. " Hana pergi dari tempat berdirinya.


Mereka telah sampai di sebuah lapangan. Seorang bocah yang tertegun menjatuhkan bolanya. Saat Nabari akan menghampirinya, bocah itu mundur lalu berlari dan berteriak. "Mama, ada hantu! " Ehh?


"Anu, Kenapwa akwu jugwa dibwawa? " Zutsuya yang sedang mengisi penuh mulutnya. "Siapa kau? "

__ADS_1


Zutsuya menelan semua roti yang dikunyahnya. "Zutsuya Udon dari kelas satu.. du-a. " Setelah sadar dia telah berada di kamar mandi sekolah. "Kenapa jadi disini, Nabari senpai?! "


__ADS_2