
Tahun ini adalah tahun kebahagiaan sekaligus tahun kesedihan bagi Tomoe, karena dia telah melahirkan bayi mereka namun harus kehilangan satu buah hatinya.
Sang adik laki-laki telah meninggal karena sebuah kelainan, sedang Sang kakak perempuan lahir dengan sehat. Kerajaan bersedih karena telah kehilangan putra mahkota mereka.
Enam tahun kemudian, saat itu Tomoe dan Son mulai melihat keanehan putri mereka. Tomoe merasa dia menurunkan kekuatannya. Maka untuk mrlindungi Sang Putri, mereka pun menyembunyikanya ditempat yang hanya mereka ketahui.
Banyak orang yang bertanya kemana Sang Putri, mereka hanya bilang bahwa putri sedang sakit dan dibawa untuk diobati.
Sebelas tahun kemudian. Seorang prajurit diantara prajurit baru di kerajaan dipanggil karena telah mengalahkan jenderal dari pihak lawan sendirian.
"Saya Sasaki , memberi hormat pada Yang Mulia dan Permaisuri."
"Berdirilah. Sasaki, aku dengar kau telah mengalahkan pemimpin musuh. "
"Benar, Yang mulia. "
"Kalau begitu aku harus memberimu sebuah penghormatan. Apa yang kau inginkan? "
"Saya akan menerima apapun Yang Mulia beri pada saya."
Raja terdiam, berfikir sejenak. "Kalau begitu aku akan memberimu jabatan. Apa kau bersedia menjadi jenderal pasukan kita di pertempuran selanjutnya? "
Semenjak itu Sasaki sering memenangkan peperangan di kerajaan mereka. Dan setelah bertahun-tahun, akhirnya Sasaki menjadi tangan kiri Sang Raja.
Di kala itu pun, sesuatu terjadi. Banyak pembunuhan misterius didalam kerajaan. Ratu sangat khawatir melihat Sang Raja yang kebingungan, dia pun berinisiatif untuk mencari tahu kebenaran. Ditemani oleh Sasaki, mereka menelusuri setiap tempat kejadian.
Tetapi di tempat yang terakhir ternyata Ratu telah dijebak, dengan spontan Ratu mengeluarkan kekuatannya untuk menyelamatkan seorang anak yang akan diculik dan membuat gentar seisi kerajaan.
Semenjak itu, banyak sekali rumor yang mengatakan bahwa Ratu adalah seorang penyihir bahkan dia dituduh sebagai dalang pembunuhan. Itu langsung diyakini oleh para penduduk, karena wajah Ratu yang tidak pernah menua.
Ratu sangat sedih, bahkan Ibu Suri mulai tak mempercayainya dan menyuruh Raja untuk menjaga jarak. Namun, Raja membantah dengan lembut.
"Ibu tenanglah, tidak mungkin istriku melakukan hal itu. Maaf jika selama ini kami menyembunyikan bakatnya. "
"Bakat katamu? Itu bisa menjadi petaka! Lalu bagaimana dengan semua berita yang menyebar itu? "
Tiba-tiba, Sasaki datang. "Maaf bila saya menyela."
"Sasaki, kau telah datang? "
"Ya, Yang Mulia. Saya telah menangkap orang-orang yang telah menyebarkan rumor palsu tersebut. "
"Rumor palsu? Itu sama sekali bukan palsu!" Protes Ibu Suri.
"Aku hanya menangkap orang-orang yang telah menuduh Ratuku sebagai pembunuh. Ini demi kebaikan kita. Percayalah padaku, ibu. " Son merangkul ibunya.
"Baiklah, kalau begitu. "
"Sasaki, kau bisa kembali ke tempatmu. Terimakasih! "
"Salam, Yang Mulia. "
"Aku juga akan kembali ke kamarku. " Ibu Suri meninggalkan tempat itu.
Di beranda, Tomoe melamun menatap bulan yang kosong itu. Dia merenungkan semua hal yang terjadi. Baru kali ini dia merasa tidak senang dengan kekuatannya.
Tomoe menatap kedua tangannya, lalu meremas keduanya. Tiba-tiba, Son memeluknya dari belakang.
"Kau masih mengkhawatirkannya? "
"Sedikit. "
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. "
***
"Tuan putri, sarapan telah disediakan. " Airi dengan senang menghirup udara paginya. Dia menatap langit biru dan burung-burung yang bertengger di pohon didepan jendela kamarnya.
"Aku akan pergi sekarang. "
__ADS_1
"Baik, Tuan Putri. "
Dimalam sebelumnya...
Malam itu begitu hening, Shio sedang menyisiri rambut panjangnya. Tiba-tiba, seseorang mendatangi kamarnya. "Kau... " Seketika hening.
Keesokan paginya, Raja dan Ratu mendengar teriakan dari seorang pelayan yang mendatangi kamar Ibu Suri. Mereka bergegas pergi kesana.
Ibu Suri telah ditemukan tewas, tak ada luka apapun hanya seluruh tubuh yang menghitam sama seperti para korban pembunuhan sebelumnya.
Ratu sangat terkejut, dan Son langsung menjatuhkan dirinya memeluk tubuh Sang Ibu yang telah mendingin. Dia menangis begitu pilu. Tomoe memeluknya dari belakang.
Seseorang mengambil sebuah tusuk rambut yang tergeletak di lantai kamar itu. "Bukankah ini milik Ratu? " Tomoe heran saat melihat tusuk rambutnya berada disitu. Son menatapnya agak lama.
"Kenapa ada disini, aku sudah mencarinya selama tiga hari. Aku pernah menceritakannya pada... "
"Yang Mulia, sepertinya penyihir ini yang membunuh Ibu Suri!" Celetus pelayan itu.
"Beraninya kau... "
"Tomoe, apa saat aku tertidur kau kemari? "
"Yang Mulia, kau menuduhku? Aku tidak percaya ini. "
Tomoe berdiri menahan air matanya. "Aku bersamamu semalaman, Yang Mulia. "
"Lalu, kenapa barang milik Ra... " Tomoe yang marah tidak sengaja mengeluarkan kekuataanya, membekukan semua orang dengan es nya.
Pelayan dan beberapa orang yang tidak terkena berteriak ketakutan. Tomoe pun terkejut sendiri. Dia langsung mencairkan semuanya, namun terlambat . Orang-orang itu telah mati.
"Iblis! "
Tomoe menjatuhkan dirinya, lalu menatap ke arah Raja. "Maafkan aku, aku... "
Raja mencium mayat ibunya, lalu berdiri. "Tangkap dia! "
Tomoe tak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia langsung kabur dari sana, dia pergi ke gua miliknya. Lalu dia menangis.
"Aku tahu dia kemana. "
Pemakaman Ibu Suri telah berlangsung. Raja pun langsung memerintahkan penangkapan Tomoe.
Para prajurit itu datang ke gua mata air bulan, namun tidak menemukan apapun disana. Tidak ada Tomoe dimanapun.
Kabar kerajaan telah terdengar ke telinga Sang Putri, dia tidak percaya dengan itu. Airi hanya mengurung diri di kamarnya. Matanya terbelalak melihat sosok yang mendatanginya.
"I... " Tomoe menempelkan telunjuknya dibibir putrinya itu. "Sst. Diam dan dengarkan aku. " Tomoe mengelus wajah putrinya dan tersenyum manis.
"Maafkan aku tidak dapat melindungimu. " Airi membuka matanya, dia baru sadar jika dia tertidur di depan jendela. "Mimpi. " Gumamnya. Dia hanya teringat saat Tomoe mencium keningnya.
***
"Yang Mulia, kami tidak menemukannya dimanapun. " Kemana dia? Son bangun dari singgah sananya.
"Cari dia ke bukit bintang, mungkin saja dia berada disana. " Son teringat pondoknya saat dia berkenalan dengan Tomoe.
"Baik!"
Betul saja, Tomoe berada disana. Para prajurit itu menyerang Tomoe dan mereka semua kalah tanpa Tomoe harus menyentuh mereka.
Sebelumnya, saat dia tiba di gua mata air bulan. Tomoe menangis sangat lama, dia mendengar suaru-suara di kepalanya. Suara-suara itu membuatnya menjadi tidak karuan, seakan dia memang harus membunuh semua manusia.
Semua prajurit yang datang kepada Tomoe, tidak pernah kembali. Mereka semua telah mati, dan hanya tersisa pasukan milik Sasaki. Sasaki memerintahkan mereka untuk ikut dengannya, namun mereka semua mati.
Sasaki yang terluka kembali kepada Raja. "Yang Mu... lia. "
"Sasaki!" Son menangkap tubuh lemah Sasaki. Dia membawa Sasaki kembali ke kerajaan untuk mengobatinya.
Tiga hari telah berlalu. Sasaki sudah mulai pulih. "Tubuhmu memang kuat. "
__ADS_1
"Yang Mulia... Erg!" Sasaki meringis.
"Jangan paksakan tubuhmu. "
"Terimakasih , Yang Mulia... "
***
Malam yang menusuk itu adalah malam hening yang sangat kosong. Tomoe datang karena dia menerima pesan bahwa Son ingin menemuinya. Tomoe datang ke kamar Raja, dan betapa terkejut dia melihat tubuh Son yang terbaring berlumuran darah.
"Yang Mulia! Son! " Tomoe berlari ke arah Son dan memeluknya. "To... moe. "
"Jangan bicara! Aku akan memanggil pertolongan! " Son menahan Tomoe pergi. Dia menarik tubuh Tomoe ke wajahnya.
Son membisikkan sesuatu padanya. "Ma... afkan... a... " Son telah mati.
Beberapa orang meneriaki nama Son dari luar. Tomoe bergegas pergi meninggalkan Son dengan berat hati.
Airi telah datang menjadi saksi pemakaman Sang Ayah, Raja Son. Setelah pemakaman itu, Sasaki yang masih setengah terluka mendekati Sang Putri.
Satu minggu telah berlalu, Sasaki kini telah pulih. Dia sedang berlatih pedang didalam hutan sembari berburu. Tiba-tiba, angin berhembus kencang ke arahnya.
Sasaki menyeringai. "Kau telah datang. " Tomoe memasang wajah dingin. Tomoe langsung menyerangnya dengan sabit angin, namun dapat dihalau oleh Sasaki.
"Kekuatanmu tidak akan berpengaruh padaku. " Tanpa bicara Tomoe terus melempar kekuataannya pada Sasaki hingga Sasaki kelelahan.
Saat Tomoe akan membunuh Sasaki, Tomoe terkesiap dengan kedatangan Airi yang melindungi Sasaki. Sontak Tomoe menghentikan serangannya.
"Airi... Apa yang kau lakukan? " Tomoe perlahan melangkah maju ke arah putrinya. Tetapi, Tomoe terjatuh dan sebuah tali mencekik lehernya. "Ai... ri. "
Sasaki yang berada di belakang Airi bangkit, dia tertawa puas. "Bagaimana rasanya di serang putri sendiri? Hahahahha! "
Tomoe tidak dapat menggerakan tubuhnya. "Putri Airi, mari kita lakukan."
"Ka... lian mau a... pa? "
"Kenapa tidak lihat sendiri. " Sasaki menyindir.
Tomoe melihat kebawah tubuhnya, muncul sebuah lingkaran dengan simbol penyegelan. Mereka mau menyegelku?
Saat Airi akan menyegel Tomoe, tiba-tiba dia membelokkannya ke tubuh Sasaki. "Apa? Apa yang kau lakukan? "
Airi tak membalas celotehannya. Dia terus berusaha menyegel Sasaki, namun tangan Sasaki berhasil menembus perut Airi.
Tomoe berteriak dari seberang mereka. "Airi... Tidak! "
Airi terjatuh ke tanah dengan lubang ditubuhnya. "Hahahah! " Sasaki menatap ke arah Tomoe dan mendatanginya. "Sekarang giliranmu."
Tomoe hanya mematung menatap tubuh putrinya yang tergeletak ditanah, dia masih tidak bisa bergerak dari sana. Sasaki telah berada dihadapannya, mencekiknya.
Tomoe memegang tubuh Sasaki dengan keras. "Hmm, kau tak akan bisa membalasku. " Sasaki semakin mencekik Tomoe dengan keras.
Tanpa dia sadari, Tomoe telah mengambil alih tubuh Airi dan mengendalikannya. Membuat Sasaki terbelalak. "Apa? Ti... tidak! " Mereka pun menghilang. Airi pun membuka matanya.
***
"Cerita yang membosankan. "
"Hei Nabari, kenapa Airi yang jadi Ibu klan bukannya Tomoe?"
"Aku tidak tahu. "
"Nabari, Asiachan, apa yang kalian lakukan dijendela? Dimana Lichita? " Mereka menghiraukan pertanyaan Kaoh.
Nabari turun dari jendela itu, menyakui kedua tangannya. "Kau itu selalu saja! " Protes Eurasia.
"Hei? "
Tiba-tiba, Nabari bergerak cepat mendorong Tsubomi ke seberang dan meletakkan tangannya di leher Tsubomi.
__ADS_1
"Nabari apa yang... " Eurasia menahan mereka dengan tanamannya. "Maaf, tapi kalian harus diam. "