Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
82. Pengkhianatan


__ADS_3

"Kalian pergilah, biar aku dan Yuri yang mencari mereka. "


Anak berusia sepuluh tahun itu telah membunuh tiga orang remaja jalanan yang merundungnya.


Dia pergi setelah membunuh seorang wanita yang bekerja digedung itu. Dia naik ke atap gedung itu. Menggoyangkan kakinya kebawah, duduk bersenandung.


Lima belas menit dia menikmati pemandangan kota dari atas sana. "Rupanya kau disini." Lawliet datang menemui Wiles.


"Kenapa kau selalu mengangguku?"


"Kita sudah mendapat misi baru. "


"Tidak... Aku tidak mau melakukannya! "


"Kali ini sampai mati juga. "


Anak itu menyeringai, berdiri dengan semangat. "Waahh!"


"Ayo kita per... " Lawliet tercengang ketika dia membalikkan badannya. "Uhm, kau kena... pa."


Nabari telah berdiri menghadap mereka. Mata Wiles membesar dan berbinar, dia berlari kearah Nabari. "Kakak tuan! " Nabari menangkap kepalanya. Wiles tersenyum lebar karena senang bertemu dengan Nabari.


Berbeda dengan Lawliet yang menyembunyikan ketakutannya. "Sedang apa kalian disini? " Nabari membungkukkan sedikit tubuhnya menghadap wajah Wiles.


"Kami sedang mendapat... "


"Wiles, jangan... "


Wiles tersenyum lebar menengadahkan wajahnya ke Nabari. Nabari mengeluarkan setetes darah dari mulutnya. Dia melihat ketubuh bawahnya.


Perutnya telah tertusuk oleh sebuah pisau khusus, ditusuk oleh sebuah tangan kecil yang berdiri didepannya.


Wiles mencabut pisau ditangannya dan melompat mundur. Dia mengangkat pisau itu menjilat darah Nabari yang masih melekat dipisau miliknya.


Tiba-tiba, Elize dan Oroi datang tepat di tengah mereka. Elize mengerti maksud dari semua kondisi ini. Dia masih sedikit pusing berlari menyerang mereka. Wanita itu mengeluarkan kedua pistolnya dari bawah roknya.


Dia menembak kedua orang itu. Oroi mendatangi Nabari yang terluka. "Tuan! " Nabari memegang erat tangan Oroi, lalu melepasnya.


"Kau sudah mengerjakan tugasmu dengan baik. " Melihat senyuman tulus bocah itu, Oroi tersentuh dan mulai menahan tangisnya. Namun, air matanya tetap basah.


"Ya, dia lawan yang cocok untuk saya. "

__ADS_1


"Oroi, cepat bantu Elize. Lukaku sudah mulai menutup. " Regenerasi Nabari sedikit lebih cepat dari dulu.


Oroi berdiri meninggalkan Nabari yang terduduk lemas. Dengan tubuhnya yang masih sedikit lemas karena baru saja selesai dari pertandingan sebelumnya, pertarungan dia dengan Kento dipermainan terakhir.


Oroi teringat akan detik-detik terakhir pertarungannya dengan Kento. Disaat dirinya tertusuk oleh dirinya sendiri, saat Kento memanjangkan semua tulang-tulang didalam tubuhnya keluar menembus cangkangnya.


Kala itu dia sedikit tersenyum karena sangat menikmati pertandingan itu. "Heuh, jadi begitu." Gumam Kento. Tubuh Oroi pun menghilang dari hadapannya.


Kento melihat keatas dan mulai mengeluh lagi. "Kau sangat licik, Naba. Merepotkan! "


***


Oroi mulai menyerang Lawliet dengan tendangannya. Membuat senjatanya terlempar jauh kebawah.


Oroi menantangnya adu jotos, mengadu kemampuan bela dirinya. Dia dan Lawliet mulai saling mengadu kekuatan fisik mereka.


Sedangkan, Wiles yang terus berlari dengan senjatanya terus ditembaki oleh Elize. Wiles mendekat untuk menyerang Elize. Wanita itu mengubah senjatanya.


Kedua pistol yang dia pegang, dia tebas dan berganti jadi sebuah belati. Elize menahan serangan dari anak itu. Mereka saling adu belati.


Nabari yang telah sembuh lukanya mulai menyusul pertarungan itu, dia membantu dari belakang. Nabari mengirim angin yang sangat kencang beserta gelombang suara yang menganggu pendengaran.


Tak hanya musuh tapi anak buahnya pun terkena serangannya itu, dan dia tak mempedulikan itu. Mereka semua tahu itu resiko yang harus diterima.


Nabari mengikat tubuh keduanya oleh sebuah air, membelenggu tangan dan kaki Lawliet dan Wiles. Lalu, membekukan mereka.


Nabari berjalan ke arah mereka, tetapi secara mendadak Nabari terjatuh. Gejala itu mulai menggerogoti lagi tubuhnya. Rasa berat dikepala dan sakit yang menyiksa. Rasa sesak yang menekan dan mencekik.


Dia tak dapat bergerak. Wiles dan Lawliet memiliki kesempatan. Mereka melepaskan diri dari gencatan itu. Wiles langsung menyerang Nabari, Oroi yang ingin menghentikan itu tiba-tiba tubuhnya begitu lemas. Elize mendesis, dia berlari menghalangi Nabari dan akhirnya tertusuk.


Nabari terbelalak begitupun Oroi yang berada agak jauh di belakang. Elize jatuh dan tergeletak. Tidak hanya tubuhnya yang tertusuk, namun lehernya telah ditebas hingga dia bergelimang darah.


Nabari pun merasakan urat Nadinya dirobek oleh sesuatu yang kecil. Membuat seluruh tubuhnya kaku, kram dan mati rasa. Dia terjatuh dengan mata besar yang menahan rasa sakit.


"Untung saja aku menyisakan satu. " Ucap Lawliet.


"Tu... Tuan! " Oroi terjatuh saat ingin berlari kearah Nabari. Wiles akan mendatanginya untuk menghabisinya.


Tiba-tiba, tanah yang mereka pijak bergetar. Seseorang jatuh dari atas langit. "Kanazawa Yuriko. " Gumam Lawliet.


"Waaaahhh! " Wiles semakin sumringah, gula darahnya bertambah. Saat ia akan menyerang Kanazawa , bocah itu tiba-tiba langsung tersetrum tubuhnya dilangkah ketiga.

__ADS_1


Wiles tersetrum hingga dia lemas dan tergeletak ketanah. Lawliet melawannya dengan kekuatan fisiknya, namun selalu dapat dilawan oleh Kanazawa.


Kanazawa menendang dan memukul Lawliet hingga terpental, membuatnya babak belur. Mereka berdua tak dapat bergerak untuk sementara.


Kanazawa mendekati tubuh Nabari yang tergeletak. " Yuriko, cepat buang racunnya!" Suruh Oroi.


Kanazawa melirik ke arah Elize yang telah mati. Kanazawa memegang kepala Nabari, lalu sebuah cahaya dan tekanan yang sungguh kuat muncul diantara mereka.


"Apa yang kau lakukan, Kanazawa yuriko?! " Teriak Oroi.


"Maafkan aku." Kata terakhir yang terucap diantara mereka.


"Yuriko!" Oroi berusaha menghentikannya dengan merangkak lemah kedepannya. Namun ia berhenti ketika melihat pemandangan itu.


Tubuh Nabari dan Kanazawa berubah sedikit demi sedikit seperti bertukar tubuh. Tubuh yang tergeletak itu pun menghembuskan nafas terakhirnya.


Nabari menahan sedihnya atas kematian rekan dan sahabatnya itu. "Terimakasih. " Dia berdiri dan melihat ke arah dua orang penghianat itu.


"Apa...yang terja... Ugkh! " Oroi menahan sakit dari hasil kekalahannya dari Kento dipermainan maut.


"Begitu ya. Jadi, kalian selama ini... "


"Tuan?! A... ku. " Nabari bergerak cepat dan menotok leher belakang Oroi hingga pingsan, lalu mendatangi kedua orang didepannya yang masih belum bisa bergerak.


Seorang bocah bertudung datang ketengah suasana yang panas. "Noe! " Panggil Wiles dengan senyuman lebarnya. Bicah itu mengacuhkannya.


"Bawa dia. " Suruh Nabari. Bocah itu pun membawa Oroi yang pingsan pergi dari tempat itu.


"Tak kusangka ada yang masih... Kenapa kau tidak mengambil kekuatannya? "


"Aku sudah mengambilnya. "


Nabari menjetikkan jarinya. Tubuh Lawliet dan Wiles membeku kaku tak dapat bergerak, dada mereka serasa tertekan hingga mereka terjatuh ketanah.


Nabari membawa mereka ke sebuah dimensi ruang yang kosong dan hanya ada mereka bertiga juga sebuah layar yang menampilkan siaran ulang permainan maut terakhir.


Mereka diikat oleh Nabari dengan seutas tali yang terbuat dari kuantum kekuatan psikis yang tidak dapat dibuka oleh orang biasa.


"Waahh, aku juga ingin ikut bermain! " Seru Wiles yang sumringah.


Nabari mengangkat telunjuk kanannya satu detik. Dia membuat kedua orang itu terikat disebuah kursi menghadap ke layar yang sedang berputar.

__ADS_1


Nabari merangkul mereka berdua dari belakang. "Mau ikut bermain? "


__ADS_2