
Hawa masuk ke dalam kelas dalam keadaan berantakan, hanya Erin yang simpatik terhadap nya.
"wa kamu gak apa-apa?"
ucap Erin yang langsung mengajak hawa duduk.
"punya berapa nyawa sih Lo, berani berurusan dengan Violla?
gue aja males!"
ucap Lidia sambil berjalan mengejek hawa.
"aku ada Kaos nih! aku sengaja bawa buat ganti soalnya aku suka langsung ke toko ibuku kalau pulang sekolah.
kamu ganti baju dulu wa, nanti masuk angin!"
ucap Erin dan di angguki oleh hawa.
hawa beranjak pergi ke kamar mandi bersama Erin, beberapa pasang mata masih menatap nya tak suka, namun hawa tak memperdulikan hal itu.karena mereka tak tahu apapun tentang hidup nya.
"aku tunggu disini ya wa!"
ucap Erin dan diangguki oleh Hawa.
tak lama hawa keluar dari kamar mandi dengan kaos polos yang di pinjamkan Erin.
"Rin , terima kasih!
aku gak akan pernah lupa kebaikan kamu!"
"ya wa, kamu sabar ya!
sebaiknya kamu jauhi langit, karena hal itu akan membuat kamu mendapatkan masalah wa!" ucap Erin yang Iba melihat kondisi Hawa.
"ya Rin.....!"
ucap hawa tak ingin memberikan komentar, karena yang dikatakan oleh Erin benar adanya.
"Hawa.....!"
ucap ibu Yuni, guru sekaligus wali kelas nya.
"bisa bicara sebentar ?"
hawa mengangguk kemudian mengikuti langkah guru tersebut.
"hawa, kamu ada masalah apa dengan Violla!"
ucap Yuni yang ingin menyelesaikan masalah itu, karena Violla meminta kepala sekolah mengeluarkan hawa.
hawa pun menceritakan semuanya pada Yuni,dan mengatakan jika langit itu kakak tirinya.
"oh gitu, jadi Violla hanya salah paham!"
"ya Bu, hawa sama langit dekat karena itu, tapi untuk kedepannya tidak lagi, karena ayah dan mami nya langit sudah bercerai!"
ucap hawa menutup sebagian kisah pilu nya pada Yuni.
"tolong hawa Bu, sampai kenaikan kelas nanti, atau sampai ujian semester Selesai!
setelah itu hawa akan pergi! tapi biarkan hawa menyelesaikan kelas dua di sekolah ini!"
mungkin memang tak seharusnya ia menerima langit begitu saja, benteng kokoh yang ia bangun mampu langit robohkan begitu saja.
Hawa yang tak pernah menginginkan kedekatan dengan siapapun, justru berubah saat ia mengenal sosok langit.
cinta yang hadir begitu saja, apa yang sudah terlewati bersama t'lah membuat cinta itu tumbuh semakin dalam dan mengakar, namun kini Apa Yang tersisa?
ia bahkan tak melihat langit datang kesekolah.
pelajaran telah usai, hawa keluar dari kelas bersama Erin, kemarahan Violla sudah mampu diredam meski ia masih belum puas mengerjai hawa, Violla masih akan tetap menjadikan hawa sebagai mainan nya.
__ADS_1
hawa terhuyung saat tiba tiba seseorang mendorong nya dari belakang,
hawa menoleh ke belakang dan melihat Violla bersama teman teman nya.
"dengar ya hawa, apapun alasannya!
gue tetap gak suka Lo dekat sama langit, gue akan tetap bikin Lo gak betah sekolah disini!"
ucap Violla kemudian mendorong tubuh hawa hingga terjengkang.
"apa Lo? jangan ikut campur kalau Lo masih Betah Sekolah disini? ucap Violla pada Erin yang langsung mematung saat hendak membantu hawa berdiri.
"wa, kamu gak apa-apa?"
ucap Erin saat mereka sudah pergi.
"gak apa-apa... biarkan saja mereka berbuat sekehendak hati mereka, aku bertahan sampai ujian semester Minggu depan yang akan datang!"
ucap hawa kemudian beranjak pergi dari gedung sekolah itu.
Ibra terdiam mendengar penuturan hawa, beberapa kali ia mencoba menghubungi langit, namun nomor nya tidak aktif.
sebenarnya apa sih yang terjadi dengan langit dan hawa.
"hawa.....!"
ucap Surya saat melihat Hawa keluar dari gerbang sekolah.
"ayah.....!"
ucap hawa dalam hati tanpa melihat sosok orang tua yang membuat nya seperti sekarang ini.
"kamu baik baik saja?!"
"hawa gak pernah baik baik saja, saat semua penderitaan yang hawa alami karena ayah!"
ucap hawa berjalan dan di ikuti oleh Surya.
demi tuhan saat ini hawa begitu merindukan almarhum ibu nya.
"kamu dengar kan ayah dulu hawa, ayah akan jelaskan semuanya sama kamu!"
"tapi hawa gak punya banyak waktu, hawa mau kerja!"
"kerja dimana?"
ucap Surya menahan langkah putri nya itu.
"sudah satu bulan ini hawa kerja di laundry, selama ayah pergi dengan perempuan itu!"
"kenapa mesti kerja segala?apa uang yang ayah berikan gak cukup untuk kamu!"
"cukup... tapi hawa mau punya uang sendiri, hawa gak mau bergantung sama ayah lagi!"
ucap hawa menahan air matanya.
"maafkan ayah hawa!"
"apa sih yang ayah cari?
hawa Benar benar gak ngerti dan gak habis pikir!
berapa banyak lagi perempuan yang akan menjadi ibu tiri Hawa?
gak cukup kah dengan semua yang selama ini hawa alami?"
ucap hawa membuat Surya membeku seketika.
"ayah tahu ayah salah, tapi kamu harus dengarkan penjelasan ayah!
Semua ini hanya salah paham!"
__ADS_1
"hawa selalu dengarkan semua penjelasan ayah, tapi gak sekarang!
silahkan ayah datang nanti malam, setelah pekerjaan hawa selesai di laundry!"
ucap Hawa kemudian berlari meninggalkan Surya yang mematung sendiri.
hawa masuk ke dalam Ruko tersebut tergesa hingga menabrak seseorang yang hendak keluar dari dalam.
"ah....!"
ucap Hawa terhenyak namun Cepat esa menarik tangan gadis itu.
"maaf pak!"
ucap Hawa menunduk, pria yang waktu itu bersama ibu Sarah.
"kamu gak apa-apa hawa?"
ucap esa tersenyum melihat seragam yang melekat pada tubuh gadis itu.
"kamu masih sekolah?"
"ya... pak!"
"masa panggil bapak, emang aku kelihatan udah tua?"
hawa langsung menoleh pada Mimin dan yang lainnya, terkekeh mendengar obrolan mereka berdua.
"panggil Abang,Bang Esa... semua disini gak ada yang manggil bapak terkecuali kamu!"
ucap Esa terkekeh.
hawa terdiam entah kenapa ia melihat langit dalam diri pria yang kini terkekeh mentertawakan nya.
langit...aku rindu kamu!
"ya maaf bang Esa!"
"kelas berapa kamu?"
"kelas Dua!"
"oh .....apa gak mengganggu pelajaran kamu, kalau kamu kerja?"
"gak, hawa bisa mengatur waktu untuk belajar dan yang lainnya.!"
"oh gitu... pintar juga kamu!
ya sudah lanjut!"
ucap esa kemudian pergi, merasa simpati dengan gadis itu.
seharusnya di usia nya yang menginjak belia, ia lebih banyak belajar dan bermain dengan teman sebaya nya, namun tidak dengan gadis itu, justru ia bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri.
"ya Allah panas....!"
ucap hawa terkesiap saat ia memegang setrikaan yang sedang panas.
pikirkan nya tak lepas dari sosok langit hingga ia tak menyadari jika yang ia pegang itu bukan gagangnya Melainkan bawah setrikaan.
"hawa.... kamu kenapa pegang bawah nya?"
ucap esa yang memegang tangan Hawa yang memerah akibat panas setrikaan itu.
"uji nyali?"
ucap Mimin terkekeh.
hawa terdiam, ya seperti nya Begitu.
hawa sedang menguji nyali membiarkan hatinya menerima cinta langit tanpa memikirkan resiko yang akan ia hadapi seperti sekarang ini.
__ADS_1
bersambung