
Hawa membuka matanya dan melihat seorang wanita memakai kerudung berwarna merah maroon duduk di hadapan nya,hawa beranjak untuk bangun dan menilik seorang perempuan yang seperti nya seumuran dengan nya duduk di samping wanita itu.
"kamu baik baik saja?"
ucap wanita itu bertanya pada Hawa yang masih bingung dengan keadaan sekitar.
"saya Arumi dan ini Winda anak saya, kamu pingsan hawa, ayah mu sedang keluar membeli obat....!"
ucap Arumi menjelaskan dan di angguki pelan oleh Hawa.
kepala nya terasa pusing, rasanya ingin kembali merebahkan tubuhnya di sofa itu.
**
Arumi bergegas mengoleskan minyak angin pada hidung gadis berambut keriting yang terbaring lemas, beberapa kali mencoba namun hawa tak kunjung sadar hingga membuat Arumi khawatir dengan keadaan gadis itu, namun berkali kali Arumi mencoba mengoleskan minyak angin di pelipis dan hidung hawa hingga beberapa saat kemudian hawa tersadar namun kembali memejamkan matanya karena rasa pusing yang teramat hingga tak kuasa membuka matanya.
Arumi menelpon dokter yang biasa memeriksa keluarga nya, tak lama dokter pun datang.
"bagaimana dokter..?" tanya Surya saat dokter selesai memeriksa keadaan hawa.
"hanya demam biasa,tapi tadi demam nya cukup tinggi, putri anda juga mengalami anemia, perbanyak istirahat dan makan makanan yang bergizi...."
ucap dokter Setelah memeriksa keadaan Hawa, lalu meresepkan obat untuk Surya beli di apotek.
Surya terdiam menatap hawa yang masih memejamkan matanya, wajah nya pucat.
ia tidak menepati janjinya untuk lebih memerhatikan keadaan putri nya itu.
"ya, terima kasih dokter...."
ucap Surya menerima resep obat tersebut.
setelah itu dokter pun pamit meninggalkan rumah itu.
"pak Surya, biar kami tunggu putri anda.
Anda beli obat nya saja dulu..... siapa nama Putri anda..."
ucap Arumi menanyakan perihal Hawa.
"nama nya Hawa, maaf nama ibu siapa ya....!?"
tanya Surya sedikit sungkan jika menilik penampilan Arumi.
"saya Arumi.....!
ini Winda....!"
"ya sudah,saya titip hawa sebentar.....!"
ucap Surya gegas pergi.
**
tak lama kemudian Surya kembali dan melihat hawa sudah membuka matanya.
"hawa... Kamu sudah sadar nak..?
ayah khawatir sekali sama kamu"
ucap Surya mendekati putri nya itu.
"ya, maaf ayah! hawa sudah merepotkan..."
ucap hawa sendu.
"tidak apa apa...ini ada ibu Arumi dan Winda, mereka ini tetangga kita..!"
ucap Surya menoleh pada Arumi dan Winda.
"mereka tadi membantu ayah, menyadarkan kamu!"
ucap Surya menimpali.
"ya, Terima Kasih Bu, mba Winda!"
"ya, sama sama Hawa, lain kali kalau ada apa-apa kamu minta tolong sama bunda, kalau sakit juga jangan sendirian dirumah!"
ucap Arumi yang mengetahui perihal ibu hawa yang sudah tiada.
__ADS_1
**
"pak Surya kemana ibu nya hawa?"
ucap Arumi saat mengoleskan minyak angin pada Hawa.
"sudah meninggal saat hawa masih kecil...!"
"oh... maaf pak Surya, istri anda?"
"saya tidak punya istri... jadi hanya hawa yang berada di rumah ini kalau saya pergi bekerja!"
ucap Surya tersenyum melihat Arumi yang berbicara sambil fokus berusaha membuat putri nya itu sadar kan diri.
**
"hawa,pak Surya, saya pamit dulu...kalau ada apa-apa kerumah saja ya"
ucap Arumi beranjak bersama Winda.
"ya hawa, semoga kita bisa menjadi teman ya..." ucap Winda tersenyum mengelus tangan hawa yang dingin.
"ya Terima kasih mba..."
"jangan panggil mba, panggil Winda saja.."
ucap Winda berdiri di samping Arumi.
"ya...Winda" ucap hawa senyum, Winda cantik dengan kerudung instan yang di pakai nya.
karena waktu sudah larut malam,Arumi dan Winda kembali ke rumah.
"sayang, kamu sudah makan belum?
ayah beli pecel ayam? kamu mau?"
ucap Surya duduk di hadapan hawa.
"belum yah, tadi hawa sengaja tunggu ayah pulang.. supaya bisa makan bersama!"
ucap hawa menatap sang ayah yang sedang menyiapkan makanan.
"besok kan weekend, ayah libur!
kita jalan jalan ya... sekalian kita beli kebutuhan rumah yang belum ada!"
"ya yah....!"
ucap hawa singkat, termenung sendiri mengingat kapan terakhir ia sakit.dan itu saat bersama langit.
"hawa...aku mau nikah sama kamu!"
ucapan itu entah kenapa terngiang di telinganya, matanya langsung memanas perih mengingat semua itu.
"kamu kenapa sayang?"
ucap Surya melihat hawa menghapus air matanya.
"tidak apa apa yah...hawa mau istirahat ya!"
ucap hawa kemudian beranjak membawa air minum dan obat yang di beli oleh Surya tadi.
"aku akan jagain kamu Disini, sekarang kamu tidur ya!"
kejadian dulu kembali teringat membuat hawa Terisak.
"aku pikir aku akan baik baik saja jauh dari kamu langit... tapi ternyata aku salah, aku baru sadar aku butuh kamu Disini.
aku rindu kamu........ langit.
aku sakit...... langit!"
ucap hawa menangis meringkuk sendiri.
Surya membuka pintu kamar hawa dan melihat putrinya itu tergugu sendiri, sebenarnya apa yang terjadi dengannya?
langit sendiri beberapa hari ini disibukkan dengan kuliah nya, Dena senang melihat langit yang fokus dengan kuliah nya.
namun malam ini langit merasa gelisah mengingat Hawa, entah apa yang terjadi dengan perempuan itu.
__ADS_1
"rasanya Abang rindu sama kamu de...!"
ucap langit menatap langit yang gelap.
"rasanya ingin cepat pulang, Abang tersiksa jauh dari kamu......!"
ucap langit masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang.
banyak perempuan cantik yang berusaha mendekati nya di kampus, namun langit tak menghiraukannya, nama hawa tetap menaungi hatinya.
"keadaan memaksa ku untuk bersabar...!"
ucap langit memejamkan matanya kemudian terlelap.
pagi itu keadaan hawa sudah lebih baik dari semalam, Surya mengajak hawa jalan santai di sekitar kompleks perumahan tersebut.
"sebenarnya apa yang mengganggu pikiran mu sayang...?"
ucap Surya sambil berjalan.
hawa menoleh menatap wajah Surya yang menatap ke depan.
"ayah... apa ayah bisa telpon mami Dena?"
ucap hawa membuat Surya membulat kan matanya.
"langit....? kamu mau bicara sama anak itu?"
ucap Surya lirih mengehentikan langkah nya.
"hawa, sudah berapa kali ayah mengingat kan mu untuk melupakan anak itu?"
hawa diam tak menjawab penuturan Surya, karena jika hawa mengatakan bahwa ia tidak bisa melupakan langit, Surya pasti marah.
menyesal tak seharusnya ia meminta Surya menghubungi Dena.
"maaf ayah....!"
ucap hawa kemudian berlari kecil meninggalkan Surya, menghapus air matanya yang mengalir di pipi.
Surya terpaku melihat putrinya berlari menjauh dari nya.
"Hawa.....!"
panggil Arumi menghentikan langkah hawa.
"Bu Arumi...?"
ucap hawa menunduk menghapus air matanya.
"kamu sudah sehat?"
hawa mengangguk tanpa menatap wajah Arumi yang sedang menatap nya.
"ada Winda di dalam...ayo mampir ke rumah bunda!"
ucap Arumi merangkul bahu hawa mengajak nya masuk ke dalam rumah.
"hai... Hawa?"
ucap Winda yang sedang duduk di kursi makan.
"kita sarapan sama sama ya!"
ucap Arumi mengajak hawa untuk duduk di samping Winda.
hawa terdiam menatap meja makan tersebut, benda itu selalu mengingat kan nya pada sosok yang saat ini jauh dari pandangan nya.
Arumi menatap wajah hawa yang seperti mengguratkan kesedihan, entah apa yang terjadi dengan gadis itu?
bersambung
saat sakit pasti lah orang terkasih yang diharapkan berada di sisi..
😍😍
sekarang lagi musim sakit, termasuk author yang kurang sehat, di grup... status wa dan yang lainnya hampir temen author semua sakit.
semoga para reader dan kita semua diberi kan kesehatan ya😍
__ADS_1
Terima kasih yang udah kasih like.