
Satu bulan berlalu.
beberapa hari ini langit dan Hawa sama sama sibuk hingga kedua nya Hanya bertemu saat di ranjang saja.
Hawa membuang nafas saat merasakan Perutnya keram dan tubuh nya terasa lemas.
gegas Hawa duduk mengistirahatkan tubuh nya setelah dua jam di meja operasi.
"dokter, apa anda baik baik saja?"
ucap Sani yang melihat hawa begitu pucat.
"aku tidak apa-apa sani... hanya sedikit pusing dan lemas..."
ucap hawa merasa ingin sekali berbaring.
hawa mengambil ponsel nya dan menghubungi langit, namun beberapa kali langit tak mengangkat nya.
"dokter hawa....!"
ucap Sani menyentuh tangan hawa yang terasa dingin.
"dokter.....?"
"bantu aku ke ranjang san.....!"
ucap hawa meriah tangan Sani.
"Ayo Sani bantu...!"
ucap Sani mengajak hawa naik ke ranjang.
hawa merebahkan tubuhnya di ranjang, air mata nya tiba tiba mengalir begitu saja.
teringat percakapan nya dengan Sarah kemarin sore yang mengatakan jika Aqila sudah telat beberapa hari ini, sama seperti dirinya. namun beberapa hari ini hawa justru merasa kesehatan nya sedikit menurun padahal ia sudah mengurangi kegiatan nya di rumah sakit.
seperti rencana keduanya, malam ini hawa mengundang keluarga nya dan keluarga Sarah untuk makan malam bersama di rumah nya, mereka akan memberi tahu soal kehamilan hawa pada keluarga.
Awalnya hawa ingin memberitahu tentang kehamilan nya setelah usia kandungan nya berusia dua bulan, namun karena kedua nya sibuk hingga sampai hari ini kandungan nya berusia tiga bulan, hawa berencana memberi tahu tentang kehamilan nya malam ini.
namun saat ini yang terjadi hawa merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam dirinya, apa karena ia terlalu memaksa kan diri.
pagi Tadi.
"sayang... kamu sakit?"
ucap langit menyentuh wajah istrinya yang tampak pucat.
"aku tidak apa-apa bang....!"
ucap hawa duduk di sofa.
"istirahat saja, nanti Abang yang bicara dengan dokter Sanusi...!"
ucap langit merengkuh tubuh istrinya.
"hawa tidak apa-apa bang, hari ini ada operasi..!"
ucap hawa mendongak.
"tapi hari ini Abang tidak bisa menjemput kamu...Abang mau ke Bandung!"
ucap langit dengan berat hati.
"ya sudah, tidak apa-apa bang..Hawa bisa pergi dengan supir!"
"kamu yakin....?"
"ya bang..... nanti kalau ada apa-apa hawa hubungi ya!"
ucap hawa dan di angguki oleh langit.
Hawa tidak menyangka jika hari ini ia akan menghadapi meja operasi hingga tiga kali, sore ini ia benar benar merasa Lelah.
hawa berjalan gontai di koridor rumah sakit untuk pulang, terlihat supir sudah menuggu di halaman parkir.
"non hawa sakit?"
ucap pak supir melihat hawa begitu pucat.
__ADS_1
"tidak pak...!"
ucap hawa masuk ke dalam mobil kemudian bersandar.
"langsung pulang saja...!"
ucap hawa sambil mengambil ponsel yang terdengar berdering dari dalam tas, terlihat langit melakukan panggilan telepon.
"assalamualaikum..sayang ..... kamu dimana?"
"walaikumsalam,mau pulang...di mobil bang?"
"maaf ya tadi Abang Sibuk....Abang juga udah di jalan...!"
"ya tidak apa-apa....!"
ucap hawa sedikit meringis.
"kamu kenapa de?"
ucap langit mendengar suara Hawa membuang nafas.
"bang.... perut hawa keram...!"
"astagfirullah.... kamu balik ke rumah sakit aja, nanti Abang Langsung ke rumah sakit.!"
ucap langit meminta Zaki untuk lebih cepat membawa mobil.
***
Langit berlari dengan cepat saat Sarah mengatakan jika Hawa masuk rumah sakit...
sore itu Sarah datang ke rumah sakit untuk menengok temannya yang sakit dan berpapasan dengan hawa yang keluar dari mobil dalam keadaan pendarahan.
"astagfirullah... Hawa.."
ucap Sarah kemudian berteriak memanggil suster untuk membawa hawa ke IGD, dan Sarah terpaku saat mendengar jika hawa mengalami keguguran.
bagaimana Sarah tidak kaget, ia bahkan tidak tahu jika hawa tengah hamil.
Saat itu Sarah juga tidak sendiri, Aqila mencoba menghubungi Esa dan Rizal untuk memberi tahu soal itu.
begitu juga dengan Sarah yang langsung menghubungi langit untuk segera datang ke rumah sakit.
"langit...."
ucap Sarah langsung menghampiri.
"bagaimana hawa...?"
"Langit Kenapa kamu tidak cerita kalau Hawa sedang hamil..."
ucap Sarah dan langit langsung menelan Saliva nya.
"langit memang berencana akan memberi tahu soal itu nanti malam...apa yang terjadi?"
tanya langit melihat Sarah menitikkan air mata nya.
langit masuk ke dalam ruang perawatan hawa dan melihat perempuan itu terlelap dengan infus di tangan nya, Langit tak kuasa menahan air matanya saat melihat wajah istrinya itu sembab.
langit duduk di tepi ranjang dan menyentuh tangan istrinya itu, kepedihan melingkupi ruang hati nya saat mendengar Sarah mengatakan jika hawa harus kehilangan janin nya.
"sayang...!"
ucap langit lirih di telinga Hawa.
"bang.....!"
ucap hawa membuka matanya terlihat Air mata langsung mengalir di sisi mata nya.
**
Hawa kembali ke rumah sakit seperti perintah langit, hawa terkesiap saat melihat darah mengalir begitu saja pada kakinya hingga membasahi jok mobil,
"astagfirullah...
pak cepat ya, hawa pendarahan.."
"astagfirullah..Non..."
__ADS_1
ucap supir lebih cepat membawa mobil.
pikiran nya langsung tak tenang saat darah terus menerus keluar hingga semakin membuat nya lemas, dan saat sampai di rumah sakit pak supir membantu hawa yang saat itu pula Sarah berada tak jauh dari tempat itu.
*
"bang, Maafkan hawa...."
ucap hawa Terisak.
"apa kamu baik-baik saja!?"
ucap langit menilik seluruh tubuh istrinya itu.
"bang .....!"
ucap hawa,tangis nya semakin pecah saat langit justru lebih mengkhawatirkan keadaan nya.
"maaf kan hawa bang...?"
ucap hawa, Langit memeluk istrinya itu erat sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak salah, tuhan lebih menyayangi calon buah hati kita... Kita masih bisa berusaha.."
ucap langit memeluk istrinya Itu.
***
Hawa membuka matanya dan melihat Dokter Sena berada di hadapan nya, rasa sakit menerpa milik nya.
"maaf dokter hawa, kami tidak bisa mempertahankan janin mu, kandungan mu lemah...!"
ucap dokter Sena membuat hawa langsung tergugu.
"tapi apa saya masih bisa hamil?"
"tentu saja, tapi untuk saat ini lebih baik menunda nya hingga keadaan kandungan dokter hawa benar benar siap..
saya rasa dokter hawa juga paham maksud saya!"
ucap dokter Sena dan di angguki oleh Hawa.
baru saja ia hendak memberi tahu keluarga nya tentang kehamilan nya namun justru kabar duka yang ia berikan.
bahkan ia harus menunda keinginan itu hingga keadaan nya lebih baik,lalu bagaimana ia memberi tahu soal ini pada suami nya.
langit begitu bahagia dengan kehamilan nya bahkan langit begitu memanjakan nya, langit selalu berusaha untuk meluangkan waktu di tengah kesibukan nya mengurus perusahaan, hawa tetap menjadi prioritas utama nya,tapi kini..
mimpi indah itu hilang sekejap mata karena ia tidak bisa menjaga calon buah hati nya, semua terjadi karena ia kelelahan di tambah kandungan nya yang lemah.
*
"Jangan menangis lagi...."
ucap langit menghapus air mata Hawa.
"tapi dokter Sena bilang, hawa harus menunda kehamilan karena kandungan hawa lemah..."
ucap hawa semakin terisak.
"tidak apa-apa...kita harus sabar, yang terpenting saat ini kamu baik baik saja...
Abang tidak menuntut hal itu dari kamu"
ucap langit mengusap punggung Hawa yang bergetar karena terisak.
"aku bisa apa jika tuhan menetapkan keadaan ini.."
ucap langit mencium kening Hawa.
"kita harus sabar, ini ujian..."
ucap langit kembali menghapus air mata yang terus mengalir pada pipi Hawa.
"jangan menangis lagi, Abang sedih lihat kamu seperti ini...mana perempuan yang selalu tabah dalam menghadapi situasi apapun.. bukan kah istri Abang ini perempuan yang kuat"
ucap langit masih memeluk istrinya.
"ikhlas kan.... yang datang dan hilang semua sudah Allah tetapkan.. ujian yang datang itu untuk memperkuat kita...."
__ADS_1
"dan sungguh kami akan berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan,dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar..."(Al-Baqarah,2(155)"
bersambung...