
Sanusi yang Kini menjabat sebagai kepala dokter di rumah sakit itu, mendatangi langsung ruangan di mana Hawa di rawat.
"kami benar-benar minta maaf karena kami tidak tahu jika dokter hawa sedang hamil, Mungkin jika kami tahu, Kami akan mengurangi jadwal Anda di ruang operasi...!"
ucap Sanusi menyesal dengan apa yang terjadi.
"tidak apa-apa, karena kami memang sengaja tidak memberi tahu siapa pun, awal ingin memberikan kejutan tapi malah kami yang di kejutkan.."
ucap langit yang menjawab penuturan dokter tampan itu, hawa sendiri hanya tersenyum hampa.
"sekali lagi kami mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga dokter Hawa..!"
ucap Sanusi lagi.
"ya dokter, ini semua terjadi karena sudah kehendak Nya!"
ucap hawa mencoba ikhlas dengan kejadian dimana ia harus kehilangan janin nya.
"ya sudah, kami pamit !
semoga Allah memberikan kembali anugerah untuk kalian...!"
ucap Sanusi tersenyum kemudian berlalu pergi.
Arumi menghampiri hawa kemudian memeluk nya, Surya dan Arumi begitu kaget saat mendengar kabar dari Esa jika hawa masuk rumah sakit dan mengalami keguguran, saat itu pula kedua nya bergegas menuju rumah sakit dan saat masuk ia melihat dokter Sanusi tengah berbicara dengan Hawa.
"kamu sabar ya sayang....?"
"ya Bun... hawa ikhlas... mungkin bukan rezeki Hawa dan langit..!"
ucap hawa menghapus air matanya, walau bagaimanapun ia merasa sedih karena ia harus kehilangan janin yang baru saja hendak tumbuh dan berkembang.
"berarti perkiraan ayah waktu itu benar... kamu sedang hamil!"
ucap Surya mengingat saat di pondok pesantren.
"kamu sabar ya, ayah selalu berdoa untuk kamu nak...!"
ucap surya dengan netra berkaca-kaca.
menyentuh bahu hawa yang mengangguk, semua memang tak mudah tapi ia harus ikhlas karena semua sudah menjadi kehendak Nya.
kehilangan memang menyakitkan tapi hawa yakin bahwa Allah akan menggantikan nya dengan yang lebih baik.
enam bulan berlalu.
Sarah tengah sibuk mempersiapkan acara pengajian untuk tujuh bulanan kandungan Aqila, Namun Hawa tidak bisa membantu Sarah mempersiapkan acara tersebut karena memang ia juga tengah sibuk di rumah sakit.
Weekend ini keduanya tengah berada di lapangan hijau bersama Ibra dan juga lili.
mereka berempat berencana untuk bermain bola di lapangan hijau itu.
Lili salut pada Hawa yang tampak tegar setelah kejadian dimana ia harus kehilangan janin nya.
"lawan dua aja, cewek sama cewek.. cowok Sama cowok...!"
ucap Ibra membuat lili terperangah.
"mana bisa seperti itu, itu namanya penjajahan... ya kita pasti kalah.."
ucap lili dan hawa tertawa kecil mendengar penuturan lili.
"ya benar... kita pasti kalah..."
"tapi kalau di ranjang mereka yang kalah duluan..."
ucap lili membuat Hawa Terkekeh.
langit Tersenyum melihat hawa yang sejak tadi tak berhenti tertawa karena candaan lili yang lucu.
"ya udah, gue Ama Hawa..."
ucap Ibra membuat lili melotot Seketika.
"ah salah lagi gue....!"
__ADS_1
ucap Ibra Terkekeh kemudian berlari kecil karena lili mengejar nya.
"gini aja kita lomba gendong istri masing masing, siapa yang kalah dia harus traktir.."
ucap langit membuat keduanya terhenti.
"astaga langit jelas Lo menang, Lo enggak lihat badan lili sekarang...."
"ih...Abang...!"
ucap lili menepuk bahu Ibra.
"tapi aku suka.......
oke gue terima tantangan Lo!"
ucap ibra kemudian keduanya berlomba menggendong istri masing-masing sampai ke gawang.
tentulah langit yang jadi pemenang nya karena ukuran badan hawa yang memang kecil.
"traktir ya .....!"
"ah duit Lo banyak minta traktir gue..."
ucap Ibra membuat langit dan hawa Terkekeh.
"ya, gue deh yang traktir.... tapi kita main bola dulu ya!"
ucap langit dan di angguki oleh Ibra.
keempat nya bermain bola sambil bercanda hingga yang terjadi adalah mereka banyak tertawa di lapangan hijau itu.
sore itu setelah makan bersama kedua nya mendatangi rumah Sarah yang kini tengah mempersiapkan acara tersebut selepas ashar nanti.
Hawa terdiam melihat Sarah yang masih bersikap dingin pada nya pasca kejadian itu.
namun hawa mencoba bersikap biasa saja dengan tidak memasukkan nya ke dalam hati.
Acara pengajian pun dimulai, Sarah duduk di samping Aqila yang tampil cantik dengan dress berwarna putih senada dengan dress muslim milik Sarah.
"Langit... bagaimana keadaan hawa...?"
ucap Esa duduk di hadapan keduanya.
"seperti yang Abang lihat....hawa baik baik saja!"
ucap langit merangkul bahu istri nya itu.
"syukurlah kalau begitu!"
ucap Esa kemudian Aqila menghampiri.
"bang....!"
ucap Aqila manja.
"ada Apa Aqila?"
ucap Esa terlihat Sarah memanggil sambil melambaikan tangan nya.
"Mami tuh ....!"
ucap langit dan di angguki oleh Esa kemudian beranjak dari duduknya.
"boleh tidak hawa minta pulang Bang?"
ucap hawa yang semakin tidak nyaman.
"ya udah...kita pulang!"
ucap langit menarik tangan hawa tanpa berpamitan pada Sarah dan yang lainnya.
"bang kita pamit dulu...!"
ucap hawa menghentikan langkah langit.
__ADS_1
"tidak perlu lagi pula keberadaan kita di rumah ini juga tidak di harapkan!
dengar kan Abang, saat ini yang terpenting untuk Abang itu kamu!"
ucap langit menarik tangan Hawa yang kemudian berjalan mengikuti nya.
Sarah menggeleng kan kepalanya melihat mobil Langit keluar dari halaman rumah nya.
"dasar mereka itu tidak tahu sopan santun...!"ucap Sarah dan terdengar oleh Rizal.
"mereka seperti itu karena Mami yang bersikap dingin pada hawa, lupakan semua nya mi.. kasihan hawa kalau Mami Terus bersikap seperti itu?"
"mami kecewa sama Hawa...!"
"tapi kejadian itu sudah berlalu...!"
"ya , tapi kalau Hawa tidak ceroboh mungkin saat ini Hawa sudah melahirkan....!"
"astagfirullah.... Mami tidak ridho dengan ketentuan Allah kalau seperti itu cara nya..."
ucap Rizal meninggalkan Sarah sendiri.
Hawa merebahkan tubuh nya di ranjang, teringat tadi saat di rumah Sarah.
Ia hanya mengenal kan Aqila pada teman teman arisan nya, lalu ia Sarah Anggap apa?
kejadian lalu kembali memutar di benak nya.
"Hawa...mami tidak mengerti dengan Kamu kenapa bisa seceroboh itu?
kamu kan seorang dokter, harus nya kamu tahu kalau sedang Hamil muda itu tidak boleh capek-capek...!"
ucap Sarah saat kembali ke rumah sakit, ia kecewa dengan keadaan ini, ia harus kehilangan calon cucu pertama nya.
"mi... maaf kah Hawa , tapi hawa benar benar tidak menyangka akan seperti ini...!"
ucap hawa menunduk.
"jangan seperti itu mi, semua sudah kehendak Tuhan tidak ada yang bisa merubah ketentuan nya meski hawa seorang dokter, seperti hal nya kematian yang tidak bisa Kita tunda atau cegah.. Langit tidak suka mami bicara seperti itu?
saat ini hawa butuh dukungan bukan cacian!"
ucap langit berdiri dengan tatapan nanar.
"Mami hanya kecewa....!" ucap Sarah beranjak pergi keluar meninggalkan langit dan hawa beserta Rizal.
"jangan di masukkan kedalam hati ya Hawa..
maafkan Mami Sarah...!"
ucap Rizal memijat keningnya sendiri.
sejak saat itu sikap Sarah tak seramah dulu, namun hawa tak menganggap nya, ia bersikap seakan semua baik baik saja.
keduanya pun jarang main ke rumah Sarah, apa lagi setelah Sarah membicarakan tentang kedekatan nya dengan Aqila.
dan entah kenapa Aqila juga seperti sengaja ingin memanas manasi hawa.
namun hawa tetap sabar karena jauh di lubuk hati nya ia pun terluka karena kehilangan namun ia tidak bisa berbuat apa-apa jika pemilik kehidupan menentukan hal itu, meski hawa seorang dokter ia tetap manusia biasa yang juga bisa sakit.
"jangan pikirkan itu, kamu sabar ya!
biarkan mami seperti itu, kita juga sudah berusaha..."
ucap langit mencium kening Hawa dan menghapus air matanya.
waktu terasa cepat berlalu saat kebahagiaan datang menerpa dan waktu begitu lambat berjalan saat kesedihan melanda jiwa.
"ini aku...
aku yang akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu lelah dengan kesabaran ku"
(Ali bin Abi Thalib)
bersambung.
__ADS_1