Langit Hawa

Langit Hawa
patah hati.


__ADS_3

satu Minggu berlalu, langit memilih untuk berdiam di rumah dari pada harus berangkat ke sekolah bersama Violla seperti permintaan Dena, langit tak akan sampai hati melihat Hawa terluka melihat nya bersama Violla, namun hari ini seakan ia tidak memiliki pilihan lain selain pergi bersama Violla.


"mami gak main main langit, mami akan sebarkan video tersebut.


kalau soal kamu,mami bisa menyamarkan wajah Kamu tapi tidak dengan perempuan itu, kamu mau seperti itu?"


"mi, kenapa sih maksa!"


"dengar langit, cinta kalian itu hanya cinta monyet!


cinta sesaat,kamu tuh masih sekolah!


Jangan memikirkan hal semacam urusan orang dewasa!"


"langit dan hawa udah gede!"


Dena terkekeh geli mendengar ucapan putra nya itu.


"baiklah..


mungkin kamu memang ingin tahu bagaimana reaksi kepala sekolah, atau teman teman kamu melihat video ini, mami yakin setelah ini hawa akan jadi bahan guncingan orang!"


"mi.....!"


"apa?mami Serius langit!"


"kenapa mami Setega itu sama langit!"


"mami cuma mau yang terbaik untuk kamu, jangan bersama perempuan culun itu!


Violla kurang apa sih langit!?"


langit terdiam mengepalkan tangannya kesal dengan keinginan Dena yang Tetap memaksakan kehendak nya.


"pagi Tante!"


ucap Violla yang baru sampai dan langsung masuk ke dalam rumah.


seperti sebuah kesempatan untuk Violla,ia meraih hati Dena terlebih dahulu.


dengan itu ia akan punya kesempatan untuk dekat dengan langit.


"ayo berangkat sana,tuh Violla Udah datang!"


ucap Dena tersenyum pada Violla.


Violla merupakan salah satu anak konglomerat di kota itu, sekolahan itu juga milik keluarga Violla.


"cepat langit, jangan macam macam sama mami!"


ucap dena menarik tangan langit untuk beranjak dari duduknya.


"jangan cari kesempatan Violla, Karena walau bagaimanapun kamu berusaha, kamu gak akan bisa merubah posisi hawa!"


ucap langit saat mereka berada di dalam mobil,di temani dua body guard yang menjadi suruhan Dena untuk menjaga langit.


"aku gak peduli soal itu langit, karena yang terpenting saat ini adalah restu dari mami mu, percuma kalian mempertahankan hubungan jika mami kamu yang justru akan merusak nya!"


ucap Violla tersenyum menang.


Esa tersenyum saat keluar dari mobil dan melihat hawa yang sudah rapi dengan seragam sekolah nya.


rambut nya di kuncir kuda, tetap cantik dengan kaca mata bulat yang menghiasi wajah nya yang polos namun Putih berseri.


"Hawa...."


ucap esa menghampiri gadis itu.

__ADS_1


"kamu mau berangkat?"


"ya Bang!"


ucap hawa senyum.


"Kamu sekolah di SMA itu?"


ucap esa menunjukkan tempat dimana ia pun dulu sekolah di sekolahan itu.


"ya.... tinggal jalan kaki!"


ucap hawa, hari demi hari ia terus membangun semangat untuk tidak mengharapkan langit yang sudah menghilang seminggu ini.


mengikis Rasa rindu nya terhadap langit.


"ulangan semester ya!"


"ya bang,kok tahu?"


"tahu lah..... semangat ya Hawa?!"


ucap esa sambil mengusap pucuk kepala Hawa.


bukan hanya Hawa yang membeku mendapatkan perlakuan khusus seperti itu dari esa,tapi langit yang juga kebetulan lewat ruko tersebut.


Violla tersenyum melihat adegan itu, keuntungan bagi nya sendiri.


bukan lagi cemburu,tapi dadanya bergemuruh melihat perempuan yang disayangi nya di Sentuh pria lain.


"ya terima kasih bang!"


ucap hawa kemudian beranjak pergi.


antara bingung dan tak mengerti dengan sikap anak majikan nya itu, secepat itu mereka dekat.


pandangan kedua nya bertemu.


seribu tanya memenuhi benak keduanya, namun hawa cepat memalingkan wajahnya dan berjalan menuju koridor sekolah.


rasa sesak menyeruak kembali dalam dadanya, sakit tak terperih..


mengapa disaat aku menemukan mu, justru rasa perih yang ku terima.


**


tak pernah aku membayangkan nya,


bila insan sedang patah hati.


kali ini ku rasakan sesungguhnya.


siang hari ku bagai kan malam.


pelangi pun berwarna kan kelam.


ini kah yang dinamakan patah hati.


tak ingin ku jalani cinta yang begini.


yang ku tahu cinta itu indah.


tak ingin ku rasakan jiwa yang tak tenang.


ku mau kau tetap disisi ku.


(Afgan feat Nagita- yang ku tahu cinta itu indah)

__ADS_1


hawa masuk ke dalam kelas, karena hal itu semua berjalan seperti biasa,tak seperti seminggu yang lalu ia habis di kerjai oleh Violla dan teman teman nya.


Hawa menarik nafas, menahan laju air mata nya yang ingin meluncur bebas.


harus bertanya pada siapa, bukan kah semua terjadi karena kesalahan sendiri.


"wa, kamu sabar ya!


aku tahu kamu pasti kecewa?!"


ucap Erin yang mengetahui langit bersama Violla.


"gak apa-apa Rin,aku emang salah!


seharusnya aku gak bermain api,tapi ya sudahlah permainan juga sudah berakhir.


sekarang cuma mau fokus belajar aja Rin"


ucap hawa mencoba melepaskan kesedihan nya.


"ya semangat Hawa!"


ucap Erin merangkul bahu Hawa.


"lang sebenarnya apa yang terjadi?"


Ibra terdiam melihat langit yang tanpa ekspresi,diam tak sedikit pun ia menjawab pertanyaan nya.


langit mengepalkan tangannya sendiri, kalau tidak ada kedua body guard itu, sudah ia pasti kan saat ini hawa berada dalam dekapan nya.


tapi tidak,ia seperti tahanan yang tak berkutik sedikit pun.!


langit hanya bisa menahan keinginan itu dengan gemeretak gigi nya menahan kekesalan nya.


bukan seperti ini yang ia mau, langit ingin meraih tangan perempuan itu dan mengatakan jika ia begitu merindukan nya.


lalu siapa pria yang tadi bersama dengan Hawa di depan ruko,tak mungkin secepat itu hawa berpaling dari nya.


langit tahu hawa pun sama merasakan hal yang sama dengan nya, lalu pada siapa ia bertanya.


rasanya ingin sekali mengirimkan pesan pada hawa lewat Ibra tapi kedua body guard itu tak beranjak sedikit pun dari sisi nya.


'sialan'


hawa tersenyum melihat lembar jawaban yang sudah terisi, bergegas ia memberikan nya pada guru.tak sia sia belajar nya semalam bersama Mimin.


hawa pun keluar kelas dan melihat langit yang juga keluar bersama dua orang pengawal nya, dari situ hawa tahu jika Dena benar benar ingin menjauhkan langit dari nya.


'sudahlah hawa, langit ibarat kata seperti mimpi yang hilang, sukar menggapai nya'


ingin rasanya berlari menghampiri Hawa yang sedang menatap nya penuh harap,tapi langit benar benar takut dengan ancaman Dena.


'hawa...'


'langit.....'


hawa memalingkan wajah kemudian berlari kecil menuju Ruko, cincin putih itu masih melekat di jari manis nya.


"andai kamu tahu apa yang aku rasakan saat ini.... kenapa mimpi indah itu cepat berlalu,, kenapa langit, secepat itu kamu berubah?


apa selama ini hanya permainan belaka?"


ucap hawa berjalan dengan pikiran nya sendiri.


"halo ayah, hawa mau ikut dengan ayah ke Kalimantan!!"


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2