
sore itu keduanya sampai di Amrik, Langit menuntun tangan Hawa berjalan menuju tempat kediaman nya di negara itu.
Hawa sengaja meminta turun dari taksi dan berjalan kaki menuju rumah mereka yang memang letak nya di pusat kota.
suasana Sore itu ramai pejalan kaki dan pengendara, langit Tersenyum menoleh pada hawa yang berjalan beriringan bersama nya.
"masih jauh.... masih mau jalan?"
tanya langit menghentikan langkahnya.
"Abang capek?"
"bukan, Abang khawatir kamu capek sayang...!"
ucap langit merapikan kerudung Hawa.
"tidak, Hawa suka....!"
ucap hawa tersenyum memeluk pinggang langit.
keduanya berjalan hingga mereka sampai di sebuah kawasan perumahan elit di kota itu, langit menyetop sebuah taksi untuk sampai di kediaman nya.
sebenarnya ada supir khusus di rumah itu, namun seperti permintaan Hawa, ia ingin menikmati suasana kota tersebut dengan berjalan kaki.
tak lama mereka sampai di rumah itu, Amora tersenyum membuka pintu.
"langit....!"
"assalamualaikum..Bu Amora..!"
ucap langit dan di tanggapi senyum oleh Amora.
"walaikumsalam....senang kamu bisa kembali ke rumah ini...!"
"ya,ini hawa..... Bu!"
ucap langit memperkenalkan hawa kepada Amora.
"Halo Hawa....!"
ucap Amora memeluk Hawa, hawa tersenyum pada perempuan paruh baya itu, Amora merupakan non muslim.
"ayo masuk!"
"bagaimana keadaan mu?"
ucap Langit duduk di sofa bersama hawa.
"seperti yang kamu lihat, kesehatan ku sudah kembali !"
"syukurlah... ikut lah dengan ku ke Indonesia..!"
ucap langit langsung pada tujuan nya.
"lalu bagaimana rumah ini....dan mereka?"
tanya Amora menilik ke sekeliling rumah yang cukup besar itu.
Dena memang tidak pernah tanggung membeli rumah.
"aku akan menjual nya, karena aku akan fokus tinggal di Jakarta.....aku akan memberikan Uang pesangon untuk mereka yang bekerja di rumah ini..... maaf kan aku Amora!"
ucap langit dan di angguki oleh Amora.
"aku ingin kamu ikut dengan kami... karena bagi ku, kamu sudah seperti ibu ku sendiri!"
ucap langit membuat Amora termangu.
langit mengajak hawa masuk ke dalam kamar nya, kamar itu cukup besar dan terdapat poto mereka berdua di kamar itu.
__ADS_1
"bang ... kapan kamu mengukir nama hawa di tangan kamu?"
ucap hawa duduk di ranjang.
"saat kita berpisah Tanpa kabar...!"
ucap langit mendekap tubuh hawa erat.
"kenapa....?"
"aku tidak bisa melupakan kamu, aku hampir gila karena tidak bisa menghubungi mu, sosmed kamu juga aku tidak tahu...aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba ingat mengukir nama mu di tangan ku...!"
"bang .....!"
"HM....... kamu tahu, tak terbayangkan jika kamu tetap memilih Esa sebagai suami, dan meninggalkan aku dalam keadaan terpuruk.. mungkin lebih baik mati...!"
"jangan seperti itu bang...... hawa sayang sama kamu..."
ucap hawa mengecup bibir langit.
"aku juga sayang sekali sama kamu Hawa, aku bahkan tidak percaya bisa berada di kamar ini dengan mu..!"
ucap langit mengecup bibir Hawa.
"aku juga dulu berangan bercinta dengan mu di ranjang ini....!"
ucap langit terkekeh kecil kemudian mencium istrinya dengan mesra, merubah angan itu nyata, menyemai benih cinta seperti malam malam indah sebelum nya.
***
Awalnya mereka memang ingin pergi lebih cepat, namun Esa ingin mereka ikut ke pondok untuk melamar Aqila.
"mana bisa seperti itu de, kalian harus ikut?
acara nya tidak akan lama..masa sih kamu adik Abang tidak ikut?
dulu malahan Abang yang melamar Hawa untuk kamu!"
tentu saja hal itu membuat langit bungkam, mau tidak mau Langit menunda keberangkatan nya bersama Hawa ke Amrik.
karena Langit merasa Tak enak bila sudah seperti itu..dulu memang Esa dan Rizal lah yang melamar hawa untuk nya karena saat itu langit masih di rumah sakit.
Acara lamaran berjalan lancar, keduanya akan menikah satu bulan setelah Acara lamaran.
Hawa meras lega karena pria itu kini sudah menemukan calon istri nya,, meski di awal awal sedikit meragukan karena Aqila yang menaruh rasa pada langit tapi sering berjalan nya waktu Esa bisa merubah semua itu.
Pagi...
Hawa dan langit saat ini tengah sarapan bersama Amora.
"kapan kita akan pulang...?"
ucap Amora membuat langit Tersenyum.
"aku sudah memutuskan untuk ikut kalian karena aku tidak punya siapa siapa selain kamu langit, meski aku hanya ibu asuh tapi aku sudah menganggap mu seperti anak ku sendiri... tidak apa-apa kan langit?"
ucap Amora menatap kedua anak muda itu.
"tentu saja Bu.... Langit juga sudah menganggap ibu seperti ibu langit sendiri!"
ucap Langit menyentuh tangan perempuan yang selama ini merawat nya.
siang malam Amora menemani Langit hingga anak itu tumbuh besar, karena Dena sendiri selalu sibuk dengan pekerjaan nya. hingga Dena tak pernah memperhatikan langit, jika tak ada Amora yang mengurus kebutuhan nya.
"kemungkinan Kita pulang lusa, Langit ingin mengajak hawa jalan jalan dulu...."
ucap langit menoleh pada hawa yang tengah tersenyum.
"ya sudah kalau begitu...ibu setuju, ajak lah hawa jalan jalan dulu...!"
__ADS_1
ucap Amora senyum dan di angguki oleh langit.
sebelum nya Amora hanya melihat Poto hawa, dan baru kali ini melihat nya langsung.
pantas saja langit begitu menginginkan perempuan itu, ternyata bukan hanya cantik tapi hawa juga begitu ramah. apa lagi sekarang hawa seorang dokter.
selama beberapa tahun ini Amora lah yang tahu bagaimana keadaan langit yang sering sekali bertengkar dengan Dena lantaran langit menolak untuk di jodohkan karena langit hanya menginginkan perempuan di dalam Poto kamar nya itu, bersyukur karena mereka bisa bersama meskipun harus mengalami inseden yang sempat membuat langit duduk di kursi roda untuk sementara waktu.
sore itu langit mengajak hawa berjalan jalan di Manhattan.
Manhattan menawarkan banyak tempat untuk di kunjungi, mulai dari gedung gedung pencakar langit, patung Liberti dan yang lainnya.
hawa tersenyum menatap tangan yang terus menggenggam nya, pada malam hari tempat itu lebih Ramai.
langit mengajak hawa berjalan jalan di Central park dan yang paling terkenal adalah Times square.
time square merupakan persimpangan komersial besar yang berada di Manhattan.
persimpangan ini di hiasi Billboard Billboard iklan raksasa yang mewah dan megah.
langit dan hawa berpoto di tempat itu, dulu ia sering bermain dengan teman kampus nya menghabiskan akhir pekan berjalan jalan di tempat itu.
"kamu suka kesini?"
ucap hawa sambil berjalan memasuki sebuah restoran mewah di tempat itu.
"suka...sama teman kampus?"
"cewek....?"
"ya, cewek....!"
ucap langit senyum melihat wajah hawa yang langsung manyun mendengar hal itu.
"pacar kamu bang?"
ucap hawa memberangus.
"mau nya seperti itu, kalau mau bukan hal yang sulit mendapatkan wanita seperti apapun yang aku mau, tapi perempuan yang satu ini membuat ku tak bisa memilih satu di antara mereka.....!
malah ada yang berpendapat aku ini gay....!"
ucap langit Terkekeh memeluk hawa.
"itu karena aku selalu Menolak perempuan yang datang menawarkan......!"
"apa?"
ucap hawa menepuk pundak langit kesal.
"hahaha...!"
langit tertawa kecil melihat hawa yang menatap nya nanar.
"Amrik itu negara barat jadi hal seperti itu hal yang biasa terjadi antara laki laki dan perempuan...!"
ucap langit membuat hawa melotot.
"Jangan jangan Abang......!"
"apa?"
ucap langit memangku wajah istrinya itu.
"Abang memang gila tapi masih punya aturan... kamu itu yang pertama yang bikin nagih....!"
ucap Langit lirih di telinga hawa kemudian terkekeh melihat wajah hawa yang langsung memerah.
"kita pesan makanan ya...!"
__ADS_1
ucap Langit memesan beef steak dan pasta untuk mereka berdua.
bersambung....